
Kini mereka berempat baru saja masuk ke ruangan bioskop yang masih tampak sangat terang, mereka berjalan masuk untuk mencari bangku tempat duduk yang sengaja bersebelahan.
Tak lupa mereka membawa minuman di tangan masing-masing dan dua popcorn berukuran besar di tangan Al dan Davin.
Hingga dengan perlahan lampu ruangan meredup, pertanda film di layar depan sana akan segera di putar.
" Yura, kau sudah men-silent ponselmu?" bisik Prita yang memang duduk di sebelah Yura.
" Sudah, kami sudah mengganti mode nya." balasnya tersenyum.
Tak lama Film Romance yang mereka tonton pun sudah mulai dan mereka berempat sangat fokus menontonnya.
" Yura, kenapa dalam kegelapan kau jadi semakin cantik." bisik Al mulai menggoda.
Yura yang sedang fokus menonton langsung menoleh dan bertepatan wajah Al yang mencondong ke samping membuat kedua bibir mereka bersentuhan.
Yura sedikit terkejut tak menduga jika wajah Al sangatlah dekat dengan wajahnya, justru Al tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Ia sedikit mengul*m bibir ranum milik Yura, hingga beberapa menit kemudian terdengar suara deheman dari samping mereka.
"Eekhheemm.."
Spontan Yura langsung melepaskan ciuman bibir dari Al, dan sedikit salah tingkah, terdengar cekikikan dari sampingnya.
Siapa lagi kalau bukan Prita dan Davin, " Mentang-mentang tempatnya gelap jadi bisa buat tempat bermesraan begitu." bisik Prita sedikit mencondong ke samping agar Al mendengar bisikannya.
Tempat duduk yang mereka pilih memang di urutan paling belakang dan juga paling pojok, dan ini semua Al-lah yang memilihnya.
Ternyata di balik ini semua ada maksud tersembunyi. dan inilah jawabannya, membuat Davin menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu. sampai-sampai tak tahu tempat untuk mengajak kekasihnya ber*umbu.
Davin tahu diri, mungkin karena Al memang sangat rindu dengan Yura karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.
Namun Al tetaplah Al, sifat jahil dan tingkat kemesumannya sudah melekat di jiwanya, tak heran sifatnya akan keluar jika sudah berada di dekat Yura.
Hingga hampir dua jam-an akhirnya mereka berempat keluar dari pintu berbeda dan langsung menuju ke sebuah food court yang dekat dengan ruangan bioskop.
" Kau ingin makan dan minum apa?" tanya Yura sambil memperlihatkan daftar menu kepada Al.
" Samakan saja denganmu." balasnya cepat dan kembali mengobrol dengan Davin.
" Jadi beberapa hari ini kau terus bekerja lembur hingga lupa waktu dan melupakan kuliahmu juga?" tanya Davin.
Al mengangguk membenarkan itu, memang ada proyek pembangunan gedung perkantoran yang ia kerjakan bersama banyak orang, karena ia sudah mendatangi kontrak kerja dengan atasan di sana.
Hingga membuatnya ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dan setelah itu akan kembali fokus belajar, ternyata satu timnya pun ingin cepat menyelesaikannya juga jadi ia pun bersemangat bekerja.
Hingga ia melupakan sejenak hal lainnya, pulang ke kontrakna hanya untuk beristirahat dan mandi itupun hanya sebentar lalu kembali ke tempat ia bekerja.
Walau ia mempunyai saudara yang bisa memberi uang berapapun yang ia butuhkan, namun Al tak ingin menyusahkan saudarnya, selagi ia masih bisa bekerja sendiri, ia akan berusaha mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Dan masih tetap sama biaya kuliahnya masih di biayai oleh Ayahnya, walau kadang ia sering membolos sekolah.
" Maaf aku terlalu sibuk dan fokus bekerja hingga melupakan kalian sejenak, tapi sekarang proyek itu sudah selesai, dan seterusnya aku akan fokus untuk belajar agar bisa lulus." terangnya pada semua.
" Kau ini membuat kami semua cemas dan bingung, kami sempat mendatangi kontarkanmu beberapa kali sepulang kuliah , tapi pintunya selalu kau kunci dari luar, membuat kami kembali pulang tanpa bertemu denganmu." jelas Prita sedikit kesal menatap Al.
" Terutama Yura, kau lihat dia selalu murung di dalam kelas, tidak ceria seperti biasanya." imbuhnya menggenggam jemari Yura.
" Benarkah seperti itu Yura? maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji." ujar Al bersungguh-sungguh menatap kekasihnya.
Padahal bukan karena itu Yura jadi tidak bersemangat belajar di kelas, mereka berdua tahu betul apa yang tengah di pikirkan oleh Yura, tanpa sepengetahuan Al tentunya.
Apalagi kalau bukan, masalah perpindahannya, pasti Yura masih bingung bagaimana caranya ia memberitahu Al tentang itu semua.
Setelah nonton dan makan dan berjalan-jalan sebentar, akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang.
Prita dan Davin sudah lebih dulu pamit dan berjalan ke arah stasiun bawah tanah, sedangkan Yura dan Al berjalan menuju kampus untuk mengambil motor Al yang masih berada di sana.
'jika sampai Al bertemu kembali dengan Yuan kakak tirinya itu ia akan menghajarnya tanpa ampun'.
Begitulah yang Al ucapkan padanya. mengingat itu Yura semakin takut, bukan takut karena Yuan akan menerima pikulan bertubi-tubi dari Al, melainkan takut jika sampai Al tak terkontrol hingga bisa saja membunuh Yuan.
Kemudian sudah pasti Al akan di bawa ke pihak berwajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, walau itu bukankah kesalahan Al karena berusaha membelanya.
Namun mana mungkin pihak berwajib akan memberi pengertian seperti itu, mungkin Fendy salah seorang dari mereka bisa memahami karena memang sudah mengenal Al dari sejak lama. tapi yang lain belum tentu.
" Yura."
" Al."
Panggil mereka secara bersamaan saat mereka baru saja sampai di tempat parkir dan bisa melihat motor Al yang masih sama persis posisinya seperti semula.
" Ya, ada apa Yura? aku melihat kau jadi pendiam kembali, apa kau masih marah karena aku melupakanmu? maafkan aku, bukankah tadi aku sudah meminta maaf padamu berkali-kali." jelas Al sambil memberikan helm berwarna pink yang biasa Yura pakai.
" Tidak apa, bukan karena itu. dan aku tidak mempermasalahkan tentang pekerjaanmu. sepertinya aku terlambat pulang hari ini, pasti Ibuku sudah menungguku di rumah." terang Yura mengalihkan pembicaraannya.
Karena ia benar-benar bingung dan takut, belum siap memberitahu Al untuk saat ini, ia pun langsung naik ke atas motor saat Al sudah siap untuk melajukan motornya.
" Baiklah, pegangan yang kuat, aku akan sedikit mengebut agar kita cepat sampai." sahut Al tanpa memikirkan hal yang lainnya.
Hingga tiga puluh menit kemudian motor Al sudah sampai di depan rumah Yura.
Al melepas helm yang ia pakai dan tersenyum menatap Yura yang masih kesusahan melepas kaitan helm yang di pakainya itu.
"Aku sangat bahagia hari ini, terima kasih, selamat malam." ujar Yura tersenyum lebar sambil berlari ke teras rumah.
Namun Al memanggilnya, membuat Yura kembali berlari mendekat pada Al.
" Iyaa aku juga, aku senang melihatmu bahagia, bolehkah aku mendapatkan ciuman." pinta Al dengan wajah mesumnya.
Yura langsung mencium Al sekilas tepat di bibirnya, setelah itu Al justru memeluknya sedikit erat.
" I love you." bisik Al begitu mesra, kemudian mengurai pelukannya menatap Yura dengan tatapan cinta.
" I love you too. bye" balasnya sambil kembali berlari.
" Kenapa lampu teras tidak di hidupkan?" teriak Al sedikit curiga.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..