
" YURAA." teriak seseorang di balik pintu depan kontrakan Al dengan begitu kerasnya.
" Yura, Alrich buka pintunya cepat!!" teriaknya lagi saat tidak ada sahutan dari dalam.
Yura pun langsung terjaga dari tidurnya dan segera membangunkan Al yang masih saja terlelap.
" Al ada seseorang di luar sana." serunya sembari menepuk pelan sebalah pipi Al.
Membuat Al mengeliat, perlahan membuka kedua matanya." Hemm kenapa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Yura hanya menggelengkan kepalanya." Itu di luar ada seseorang yang dari tadi menggedor pintu." seru Yura kembali sambil melilitkan selimut di seluruh tubuhnya.
Al pun beringsut bangun dari atas ranjang dan lamgsung berdiri tak lupa ia memakai pakaiannya yang semalam ia pakai, kemudian berjalan ke depan untuk membuka pintu itu untuk melihat siapa yanh datang pagi-pagi begini.
Al tidak sadar bahwa sekarang hari sudah menjelang siang, entah karena terlalu lelahnya bertempur dengan Yura semalaman ataukah memang karena alasan lain.
Ceklek...
" Lama sekali kalian ini, mana Yura?" tanya Prita, ya memang Prita yang sedari tadi teriak-teriak di luar sana.
Sementara Al masih menyadarkan dirinya yang baru saja bangun tidur sembari menahan daun pintu agar tidak terbuka lebar, melihat Al yang seolah menyembunyikan sesuatu di dalam Prita justru penasaran dan ingin menggodanya.
"Kau sudah bawakan pesananku. berikan padaku!" titahnya pelan.
" Ini pakaianku kenapa harus memberikannya padamu?" goda Prita sambil melirik ke dalam.
" Akan aku berikan padanya, berikan saja padaku." pinta Al lagi.
Namun Prita ingin melihat keadaan sahabatnya itu, karena semalam Al sudah menceritakan segalanya padanya dan juga pada Davin. ia masih berusaha ingin masuk dan terus saja meneriaki Yura yang masih berada di dalam.
" Yura, aku sudah datang.!"
" Prita berikan saja padaku."
" Kenapa? biar kulihat dulu Yura, seperti aku tidak pernah kesini saja." keluh Prita sedikit kesal kepada Al yang terus saja menghadangnya.
" Sini, akan aku berikan padanya." keukeuh Al lagi.
" Kenapa? Yura tidak punya pakaian atau dia sedang tidak memakai pakaian?" tebaknya menyeringai menatap Al.
Namun Al tidak menjawab dan justru menghiraukan Prita." Berikan saja padaku."
" Oh, baiklah." akhirnya Prita mengalah ia menyodorkan paper bag berwarna merah tersebut kepada Al.
Dan saat kedua tangan Al menerimanya. Prita langsung menerobos masuk begitu ada celah, membuat Al sedikit terdorong ke belakang.
" Astaga." desahnya sambil menutup pintu itu kembali.
" Wuaaahh,, Yura tidak memakai apapun!" pekik Prita begitu ia melihat sahabatnya itu duduk di atas ranjang hanya dengan terbungkus selimut tebal.
Membuat Yura menunduk menahan rasa malu, karena baru kali ini ia terlihat seperti itu di hadapan Prita dan juga kekasihnya.
" Hay, jangan teriak-teriak seperti itu, nanti semua penghuni kontarakan bisa datang kemari karena mendengar teriakanmu itu!!" tegur Al sambil membuka isi paper bag yang di bawa oleh Prita tadi.
" Baiklah, apa kalian semalam_
Prita sengaja tidak melanjutkan ucapannya hanya menempelkan dua jari telunjuknya ke depan wajahnya itu sambil menatap Al dan Yura bergantian.
Yura hanya bisa menunduk malu, namun berbeda dengan Al ia hanya menggaruk kepalanya ynag tidak gatal, karena pertanyaan dari Prita memang benar adanya.
" Iishh, Kenapa harus malu Yura, kalian 'kan memang sepasang kekasih, jadi wajar jika kalian melakukan hal seperti itu bukan?." celetuk Prita sembari tersenyum menatap Yura.
" Yura bersihkan tubuhmu dan cepat berpakaian, aku akan menunggumu disini bersama Prita." titah Al membuat Yura beringsut turun dari ranjang.
Prita hanya bisa melirik sambil tersenyum geli menatap keduanya. baiklah aku tidak akan mengganggu kalian, aku pergi. " setelahnya Prita pun pamit pulang dan beralasan akan pergi bekerja.
...----------------...
Di tempat lain seorang pria sedang mengemudikan mobil box nya menuju ke sebuah perumahan elit, mobilnya pun masuk begitu penjaga depan membuka pagar depan, guna untuk menjaga keamanan seluruh penghuni perumahan tersebut.
Mobil pun berhenti di depan rumah yang cukup besar, siapa lagi kalau bukan si Felix. Ia bekerja seorang diri pagi ini, karena temannya mendadak meminta ijin tidak masuk kerja, sehingga membuatnya harus berangkat sendiri mengantar beberapa barang paketan yang lumayan banyak masuk tadi malam.
Felix pun turun untuk menekan tombol yang terdapat di depan pagar, setelah menunggu sepuluh menitan akhirnya ada seorang wanita paruh baya yang membuka gerbangnya.
" Iya, ada apa?" tanya wanita tersebut begitu gerbang itu sudah terbuka.
" Selamat pagi, ini ada barang paketan atas nama nona Jhenie." ucap Felix sambil membaca nama penerima barang.
Wanita tersebut ikut menatap nama yang tertera di kertas yang di sodirkan oleh Felix, " Baiklah dimana barangnya?" tanyanya sambil melihat di depan dan di samping pagar tidak ada barang yang di maksud oleh Felix.
Felix pun mengerti, ia tidak bermaksud meremehkan atau hal lainnya, namun ia kembali bertanya.
" Apa Bibi bisa membawanya ke dalam, karena ukuran barangnya ini cukup besar. kalau begitu aku ambilkan dulu barangnya, silahkan tanda tangan disini." pintanya sambil menyodorkan sebuah bolpoin dan kertas tadi yang ia bawa kepada wanita tersebut.
Saat Felix sudah berada di depan pagar kembali bersama barang paketannya, wanita itu terlihat terkejut menatap Felix, karena apa yang di katakan oleh Felix benar adanya. barang itu memang sangat besar.
Lalu dengan terpaksa ia pun meminta Felix untuk membawanya masuk ke dalam rumah. karena ia tidak mungkin kuat untuk mengangkatnya, walau sebenarnya sang majikan tidak mengijinkan siapa pun masuk ke dalam rumah ini kecuali orang-orang tertentu saja.
Felix pun berjalan masuk dengan arahan wanita tadi, begitu ia selesai meletakkan barang tersebut di dekat sofa tengah, ia pun berjalan ke arah wanita tadi untuk meminta kertas dan bolpoinnya kembali.
" Siapa yang datang Bi?" tanya seorang wanita muda yang baru keluar dari dalam kamarnya.
" Ini ada paketan barang Nona." jawab wanita tua tadi yang ternyata adalah asisten rumah tangga.
Mendengar suara yang begitu familiar membuat langkah Felix terhenti dan menoleh ke arah wanita tersebut, begitu tatapan mereka bertemu Felix langsung tercengang dan kedua maniknya pun membola.
" Jhenie." gumamnya begitu pelan, bahkan nyaris tidak terdengar.
Felix tidak menyangka akan bertemu kembali dengan wanita itu untuk sekian lamanya, dan ini sudah tujuh tahun berlalu mereka tidak pernah berjumpa.
" Fe-Felix." ucap wanita yang bernama Jhenie itu tak kalah terkejutnya begitu melihat siapa pria yang ada di hadapannya ini.
Keduanya di landa rasa canggung yang luar biasa, seolah mengerti jika kedua orang ini saling mengenal sang bibi pun undur diri ke belakang untuk melanjutkan pekerjaanya kembali.
Dan kini tinggal mereka berdua yang masih diam berdiri mematung, bak dua orang yang baru saja bertemu untuk pertama kalinya.
" Apa kabar Jhen?" tanya Felix dengan perasaan campur aduk.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..