Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Bak Peluru Yang Di Tembakkan.



" Tahu tidak yang mana aku?" goda Al mengejek.


" Tentu saja aku tahu! yang ini pasti kau dan ini Erick, benar bukan?" tebaknya dengan rasa bangga.


Sebab tebakannya memanglah benar, " Kau benar-benar tahu ya!"


" Inilah yang di sebut cinta, benar 'kan?!" goda Yura balik, hingga keduanya tertawa lepas.


" Menajubkan ya! Apa kau seorang cenayang?" goda Al kembali.


" Hei aku masih bisa membedakan kalian berdua ya meskipun aku belum pernah bertemu dengan Erick. Dan kalian berdua memang terlihat sangat mirip. Tapi aku tahu kau berbeda." Yura sedikit tidak terima jika Al selalu menganggapnya remeh.


" Al ini foto siapa?" tanya Yura yang terus menatap seorang pria muda yang kelihatan sangat tampan.


" Oh itu adalah Ayah kandung kami." jawab Al dengan raut wajah yang tidak bisa tergambarkan.


" Jadi ini adik Paman?" Al mengangguk lemah.


" Foto ini juga yang kau tunjukkan pada Erick dulu?" Al kembali mengangguk.


" Kau bisa merasakan hubungan itu?" pinta Al tanpa menatap Yura.


" Jadi dia benar-benar Ayahmu? Kalian banyak kemiripan."


" Tidak, bukan aku, tapi Erick yang memiliki karakter sama dengannya! Sedangkan aku kami hanya mirip karena suka dunia balap motor saja." jelasnya.


Yura hanya mengangguk mendengarkan saja, " Jadi aku tidak heran jika Ibu tengah melihat Erick, dia akan mengatakan 'Kau sangat mirip dengannya'. Jadi itulah yang Ibuku maksud, hal kecil seperti itu mengingatkannya pada orang itu yang telah meninggal." jelas Al menampilkan wajah sendunya.


" Aku pikir Ibumu benar-benar mencintai pria yang ada dalam foto ini, mencintainya sampai titik dimana ia ingat setiap detail kecilnya. Tidak peduli apa situasinya, mereka pasti mencintai satu sama lain sehingga mempunyai kalian berdua." jelas Yura mencoba mengambarkan.


Hingga Yura tidak sadar bagaimana raut muka Al saat ini, yang terlihat begitu kecewa, tapi entah pada siapa.


" Oh iya apa kau sudah makan malam?" tanya Al mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun ia memang baru ingat, Al tidak ingin Yura menahan lapar, disaat dirinya sibuk bekerja.


" Aku sudah makan malam tadi sehabis mandi, lalu bagaimana denganmu?!"


" Aku tadi makan di luar dengan clien Papa."


" Apa kau begitu lelah, ayo kita istirahat saja, pasti ini juga sudah sangat larut." ajak Yura yang menutup album foto dan menyimpannya kembali ke tempat semula saat Al mengambilnya tadi.


Yura dan Al berbaring berdampingan sambil menatap langit-langit kamar, " Kau tahu Al, kupikir kita tidak akan bisa sampai sejauh ini, mengingat Ibuku yang tidak menyukaimu. kau pasti juga tidak menyukainya bukan.!" ucap Yura pelan tanpa menatap Al.


Al masih tampak bergeming mungkin sedang memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Yura, agar wanita itu tidak tersinggung. walau sebenarnya ia sama sekali tidak ada rasa benci pada Ibu Yura.


" Apa yang kau katakan? aku tidak pernah mempunyai_


" Ssstt," Yura langsung meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Al, " Ya aku tahu. sebaiknya kita istirahat." ajak Yura sambil menarik kembali jemarinya.


" Berikan aku satu ciuman, setelah itu baru kita tidur." pintanya memohon. dan Yura pun memberikan yang Al minta, bukan hanya ciuman tetapi cumbu4n yang panas yang Al berikan dan berakhir dengan keduanya saling menuntut.


" Al, sudah cukup! aku tidak tahan lagi." lirihnya, begitu dua jari Al terus saja menghujami tubuhnya. sementara Al hanya menyeringai di sela kegiatan favoritnya yang sedang mengul*m bergantian puncak kembar yang sudah menjadi candunya.


" Apa yang kau inginkan sayang?" ucap Al sambil menggeram, saat tangan nakal Yura menggenggam erat bumblebee miliknya yang sudah menegang.


Yura tidak menjawab, ia balik menggoda kekasihnya itu. membuat Al tidak tahan lagi." Ougghh, baiklah-baiklah. aku akan berikan apa yang kau minta." jawabnya tersengal saat miliknya terus meronta ingin segera di puaskan.


Dan sedetik kemudian Al langsung melesakkan bumblebee nya ke dalam inti tubuh Yura, yang membuat keduanya melenguh nikmat. Al semakin cepat menghujami, menyentak miliknya semakin dalam, membuat Yura meringis juga mendes4h.


...----------------...


" Jadi kau merasa Al sedikit aneh akhir-akhir ini?" tanya Prita begitu akhirnya Yura menceritakan masalah yang ia pendam beberapa hari terakhir ini.


" Ya tapi tidak terlalu, dan aku rasa keputusan Al untuk berhenti balapan adalah keputusan yang salah." jelas Yura.


" Tapi bukankah itu Al sendiri yang sudah memutuskan seperti itu?" tanya Prita, belum paham.


" Iya benar, tapi sebenarnya itu karena aku. dia membuat perjanjian dengan Ayahnya. dia dan Ayahnya ingin aku terus melukis, sedangkan dia sendiri justru menyerahkan mimpinya untuk menjadi pembalap. benar-benar tidak adil bukan?!" ujar Yura meminta solusi pada sahabatnya.


Yura tidak langsung mengetahuinya sewaktu mereka memutuskan untuk tinggal di rumah besar Ayahnya, butuh beberapa minggu untuk menyelidikinya terlebih dahulu bagaimana sikap Al juga Ayahnya.


" Ya tidak adil jika ia harus melepaskan mimpinya, tetapi aku pikir itu jalan terbaik, bukankah menjadi seorang pembalap resikonya sangat besar, kita tidak tahu kapan bahaya akan menanti. ibarat sebuah peluru yang di tembakan seperti itulah kecepatan para pembalap, cara mereka balapan untuk menjadi pemenangnya. bisa kau bayangkan! biarpun itu impiannya, bukankah itu sangat menakutkan? Melihat orang yang kau cintai melakukan itu, dan mempertaruhkan nyawanya. Mungkin saat Al mengambil keputusan itu, ia sudah memikirkannya dengan sangat matang. jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya, justru aku merasa Al sedang mengkhawatirkanmu, ia tidak ingin jauh darimu." terang Prita panjang lebar, ia yang sudah lama mengenal Al pun bisa merasakannya.


Yura masih terdiam memikirkan kata demi kata yang Prita ucapkan, dan semua itu memanglah benar, namun kenyataannya ia tidak bisa jika melihat Al saat ini merasa tertekan.


" Aku juga memikirkan masalah itu, aku hanya tidak ingin Al melepaskan impiannya begitu saja. di samping itu aku juga takut mimpinya akan membahayakan nyawanya." sahut Yura begitu serius.


Di tempat lain.


Al baru saja tiba di sebuah restoran yang cukup besar di negara sana, dengan pakain formalnya ia berjalan masuk dengan di antar oleh seorang pelayan menuju ke tempat VVIP yang disana sudah ada Melly asisten Ayahnya juga beberapa koleganya.


" Alrick kau sudah datang?" seru Melly begitu Al memasuki ruangan tersebut.


Al hanya berdiri saja sambil memberikan senyum terpaksanya itu kepada mereka semua yang sudah duduk di sana." Kemari, akan kuperkenalkan kau pada mereka." seru Melly kembali.


" Sebelah kanan ini adalah Presdir Gio dan istrinya, ini Presdir Yuka dan istrinya dan yang itu adalah presdir Lee dan juga istrinya mereka masih muda bukan? tetapi sudah bisa mengembangkan perusahaannya sendiri, kau harus belajar banyak darinya. dan semuanya perkenalkan ini adalah Alrick putra Presdir kami. " Melly mengenalkan Al pada mereka.


" Jadi kau anak dari Tuan Alexander?" tanya pria yang bernama Lee yang tidak lain adalah Jupiter.


Al hanya mengangguk pelan, " Sepertinya usia kita tidak berbeda jauh." lanjut Piter lagi.


" Ya dan kau sangat tampan sekali, kenapa kita tidak pernah bertemu selama ini. dia bahkan lebih tampan dari Ayahnya." celetuk pria yang bernama Gio yang seumuran dengan Ayahnya.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..