
Yuan yang sedang terbaring di atas ranjangnya itu merasakan sakit di kedua lututnya yang sempat membentur di dinding saat ia bergelantungan tadi, ia sedikit bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan hidup.
Padahal tadi saat ia bergelantungan di atas sana, ia sempat melihat ke arah bawah jalan raya, ia amat merasakan ketakutan yang luar biasa. bahkan ia mengira hari ini adalah hari terakhirnya hidup di dunia.
Ternyata Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menikmati hidup, dan itu adalah suatu peringatan untuknya agar berbuat lebih baik lagi mulai sekarang.
Bahkan rasa ingin memiliki Yura seutuhnya seolah lenyap begitu saja di dalam benaknya, ia ingin kembali menjadi orang yang baik seperti dulu lagi.
Sementara Yuan sudah menyesali perbuatannya, lain halnya dengan dua insan yang saling berpelukan di atas ranjang tempat tidur itu.
Al mengajak Yura untuk menginap di hotel malam ini, sebab ia tidak mungkin mengajak Yura untuk kembali ke kontrakan saat rasa khawatir masih menyelimuti hati mereka.
" Al bagaimana jika kau kembali pulang ke rumah Ayahmu? itu lebih baik daripada kau harus tinggal di kontrakan sendiri." usul Yura tanpa menatap Al yang sedang memeluknya.
" Aku tidak akan pulang ke rumah itu, kenapa kau sangat bersikeras menyuruhku untuk pulang? apa kau masih meragukanku, aku masih sanggup untuk bekerja dan itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kita berdua." sahut Al merasa jengah, seolah Yura tidak percaya padanya dan juga menganggapnya remeh.
" Bukan begitu maksudku, aku tidak pernah meragukanmu, sungguh! bahkan aku selalu percaya padamu lebih dari diriku sendiri. tetapi ini berbeda Al, status kita masih mahasiswa, masih membutuhkan banyak biaya, aku tahu kau mampu, namun aku juga masih mempunyai Ibu satu-satunya orangtuaku yang tersisa. dan aku ingin jika kita menikah nanti, Ibu dan juga Ayahmu memberikan restunya pada kita. aku yakin mereka akan memberikan restu namun kita harus lebih sabar lagi, kau bersedia untuk pulang ke rumah Ayahmu. dan aku pun akan kembali pulang ke rumah kakakku, sebab Ibuku pasti sedang mencariku." terang Yura panjang lebar.
Hingga beberapa menit tak ada tanggapan dari pria itu. " Al, kau dengar aku bukan?" tanya Yura sambil mendongak untuk menatap wajah Al, yang ternyata sudah tertidur.
" Astaga kau sudah tidur? ternyata sedari aku bicara sendiri. kau pasti lelah sepulang bekerja tadi, hingga cepat sekali tertidur. baiklah selamat malam." ucap Yura pelan sembari mengecup sebelah pipi Al, kemudian ia pun ikut terpejam.
Di saat Yura baru saja tertidur Al dengan perlahan membuka kedua netranya, lalu menatap kekasihnya yang sudah terlelap itu, walaupun kedua matanya terpejam, tetapi sebenarnya Al sedari tadi belum tertidur, ia hanya memejamkan matanya lelah sembari mendengar Yura berbicara panjang lebar.
Sebenarnya Al pun juga memikirkan hal itu, namun ia yakin ia pasti bisa dan sanggup jika menikahi Yura dalam waktu dekat. masalah biaya kuliah Yura, ia yang akan mencarinya dengan mencari pekerjaan tambahan lainnya.
...----------------...
Keesokan harinya Al mulai terjaga dari tidur panjangnya, padahal hari masih gelap di luar sana, namun seseorang yang sedari malam berada di dalam pelukannya itu sudah tidak ada.
Al pun beringsut bangkit akan mencarinya di dalam kamar mandi, siapa tahu kekasihnya itu sedang berada di dalam sana.
" Yura apa kau ada di dalam?" hening tak ada jawaban dari dalam, membuat Al segera membuka pintu tersebut. dan ternyata tidak ada seorang pun berada di sana.
Al berjalan sedikit panik, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, apalagi mengingat ucapan Yura semalam yang masih menancap di pikirannya.
Saat Al meraih ponselnya yang tergeletak di nakas samping ranjang itu, ia melihat ada secarik kertas yang di lipat rapi, membuat Al segera meraihnya juga, yang ternyata adalah sebuah surat, ia yakin itu Yura yang menulisnya.
Al pun segera membaca isi surat tersebut, yang ternyata benar dugaannya jika Yura kembali pulang ke rumah pria bajing4n itu, sama persis seperti apa yang ia ucapkan semalam saat ia pura-pura tertidur.
"Aaaahhh." desahnya sambil duduk di atas ranjang dan meraup wajahnya dengan kasar.
Kalau sudah begini, apalagi yang harus ia lakukan setelah ini, selain mengikuti keinginan dari kekasihnya tersebut.
Al pun bergegas pergi meninggalkan kamar tersebut dan menuju ke parkiran untuk mengambil motornya yang masih berada di sana dari semalam. setelahnya motor pun melaju dengan kencang menuju ke suatu tempat yang sudah tidak asing lagi baginya.
Kurang lebih satu jam-an di dalam perjalanan akhirnya motor yang di kendarai oleh Al pun memasuki sebuah pelataran yang begitu luas, motor pun berhenti di tempat parkiran khusus kendaraan bermotor.
Melihat penampilan Al dari atas hingga bawah yang hanya memakai kemeja lusuh yang di lapisi jaket tebal dan juga memakai celana jins yang dimana-mana banyak robekannya itu membuat sang petugas pun langsung menghadang jalannya.
" Ada perlu apa datang kesini? jika hanya ingin bermain-main silahkan pergi dari sini." seru sang petugas dengan suara tegasnya.
Namun Al sama sekali tidak ada rasa takutnya, ia justru akan menerobos masuk tanpa ingin menggubris ucapan petugas itu, yang akan membuatnya kehilangan banyak waktu.
" Maaf anda cari siapa sebenarnya?" cegah petugas tadi, masih berusaha mempertahankan posisinya.
" Minggir, aku ingin menemui Ayahku." bentak Al dengan menatap tajam pada petugas tersebut.
Membuat beberapa menoleh ke arah keduanya, bahkan salah satu petugas yang lain ikut berjalan mendekat berusaha menolong temannya itu.
" Maaf anda di larang masuk. silahkan pergi dari sini." ucap petugas yang baru saja mendekat pada mereka berdua.
Mereka mungkin adalah petugas yang baru bekerja disini, sehingga belum mengenal siapa Al yang sebenarnya, dan itu membuat Al begitu frustasi, karena semakin membuat waktunya terbuang sia-sia, hanya untuk meladeni dua petugas yang sangat tidak penting itu baginya.
Hingga pada akhirnya ia berusaha menerobos lagi, namun karena dua petugas tadi berbadan cukup besar dan hampir sama dengan tubuh Al, membuat Al sedikit sulit bergerak maju.
Mereka pun menjadi pusat perhatian di lantai bawah sana, hingga salah satu petugas yang sedang berada di depan meja resepsionis menghubungi seseorang yang tidak lain adalah sekretaris sang big boss.
" Hallo Bu Melly ada seseorang yang membuat keributan di bawah, kami sudah berusaha mencegahnya, namun dia terus saja memberontak. dia bilang ingin bertemu dengan Ayahnya." ucap sang Resepsionis tersebut melalui sambungan telepon. tak lama telepon pun terputus setelah mendapatkan sebuah jawaban.
" Siapa lagi yang membuat keributan di bawah!" gumam sang sekretaris tadi dengan sedikit tersenyum, seolah tahu siapa orangnya, lalu meletakkan gagang telepon itu kembali dan akan bergegas turun ke lantai bawah untuk melihat orang yang sudah ia yakini itu.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..