Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Sifat yang tersembunyi



Habis makan nanti kau bisa keluar sebentar." pinta Yura tampak malu-malu.


Membuat Al langsung menoleh tidak mengerti, " Kenapa?"


"Emm,, karena dari semalam aku masih belum ke toilet." cicit Yura semakin menunduk.


Membuat Al langsung melihat toiletnya yang memang tidak ada penutupnya itu, akhirnya ia paham " Oh baiklah aku mengerti." ucapnya sambil tertawa.


"Aahh, penuh sekali perutku, tidak di sangka kau juga pintar memasak walaupun hanya omelet saja, tapi membuatku kenyang." seru Al begitu ia masuk kembali ke dalam.


Dan melihat Yura yang sudah duduk di atas karpet, " Karena Ibuku kerja di luar, jadi aku sering masak untuk diriku sendiri yang aku bisa."


"Jadi ini yang disebut berbau Ibu, karena aku tidak pernah merasakannya jadi aku tidak tahu, dua tahun setelah melahirkan kami Ibuku masuk ke rumah sakit, walaupun dia tidak di opname, aku rasa dia bukan Ibu rumah tangga yang baik. jadi walaupun ia masih hidup, kami bisa makan masakannya atau tidak, itu tidak masalah bagi kami." terang Al mengingat masa lalunya yang kelam.


"Al kau mau terus begini? tinggal sendirian?" tanya Yura kemudian setelah Al terdiam.


"Memang kenapa? kau ingin menemaniku di sini?" goda Al sambil tersenyum penuh makna.


"Bukan begitu? kau tidak mau tinggal bersama Ayahmu? bukankah Ayahmu tinggal di kota yang sama dengan Yu Jie.?" tanya Yura hati-hati.


"Misalnya, jika aku menikah, suatu hari aku menyadari anak ini semakin tidak ada kemiripan dengan diriku, tapi demi jaga muka, aku tidak bisa menceraikan istriku, bahkan istriku mati lebih dulu." Al mengumpamakan dirinya itu adalah Ayahnya.


"Akhirnya, setiap hari aku harus berhadapan dengan anak orang lain, masih harus berpura-pura masih akur, tetap jadi Ayah dan anak. kalau aku jadi dia, aku ingin sekali orang itu segera menghilang dari hadapanku." lanjutnya


"Apa Erick juga berpikhir begitu, makanya ia langsung pergi menghilang dari Ayahmu dulu." tanya Yura sedikit paham.


" Kalau waktu itu dia tidak tahu rahasia ini, maka semua ini tidak akan terjadi." Yura melanjutkan ucapannya.


"Siapa yang tahu." sahut Al sambil tersenyum sumbang.


"Tapi bagaimana Erick bisa tahu? kalau kalian bukan anak kandung Ayahmu? kalau tidak ada yang bilang, dia tidak mungkin tahu, lantas siapa yang memberitahunya?" Yura nampak menatap bingung.


"Al, bagaimana kau juga bisa tahu?" tanya Yura kemudian.


"Tidak lama setelah kami selesai ujian akhir sekolah, aku menemukan sepucuk surat di tumpukan rak buku milik Ibuku, itu adalah surat cinta yang di tulis Ibuku untuk seorang pria, yang aku duga adalah Ayah biologis kami." terang Al dengan wajah datarnya.


"Kalau kau lihat isi suratnya pasti akan merasa malu, aku rasa itu adalah surat penyesalan yang tidak bisa sampai ke tangan pria itu. di dalam surat itu juga ada selembar photo seorang pria yang mirip sekali dengan kami, bukan, tapi sangat mirip dengan Erick bahkan senyum mereka sama persis dan aku yang memberitahu dia." lanjut Al saat teringat kejadian itu.


" Hei, Rick aku menemukan sesuatu yang menarik, lihat." Al menyodorkan sebuah amplop berwarna dan juga selembar photo pada Erick.


"Lihat, pria itu mirip sekali dengan kita ya? kau tahu dimana aku menemukannya? Ibu kita selingkuh, jadi sebenarnya kita bukanlah anak kandung Ayah yang kita hormati itu." lanjut Al sementara wajah Erick sudah pias merasa kecewa pada sang Ibu.


"Kenapa kau berbuat begitu? jelas-jelas kau paling memahami Erick, dan lebih memperhatikan dia dibandingkan orang lain, kenapa kau berbuat begitu?" gerutu Yura menatap kesal pada Al.


"Karena aku membenci Ibuku dan juga Erick yang memilih pergi dariku, sejak dia suka memasang wajah malaikatnya itu, aku semakin mual. terlihat diam, sopan tapi ternyata ia begitu lemah dan cengeng, mereka mempunyai sifat yang sama, yaitu egois. aku membenci mereka berdua. seperti Ayahku yang membenci kami, dia ingin sekali kami menghilang dari hadapannya." sarkas Al membuat Yura semakin tidak percaya.


Al tidak menyadari kalau ia sedikit menyindir Yura yang ada kesamaan sifat dengan saudara kembarnya itu.


"Kami dulu tidak mempunyai pilihan lain, Ibuku hampir mati dan Ayah membenci kami, aku hanya memilikinya, begitupun sebaliknya, kami saling bergantung. kami tidak punya kemampuan untuk memilih mau atau tidak, kami harus selalu bersama. dan hubungan kebersamaan ini berubah setelah kami pindah ke negara ini." terang Al panjang lebar, membuat Yura diam tak bisa berkata-kata lagi.


" Erick berubah menjadi selalu mengikuti perintah Ayah, sedangkan aku hampir setiap hari bertengkar dengan Ayah. akhirnya suatu hari kami bertengkar, pertama kali saling mencurahkan rasa ketidakpuasan kami, dulu kami tidak pernah saling membenci seperti itu." Yura masih diam mendengarkan.


"Saat kami kecil kalau hanya sebentar saja tidak bertemu, hati kami menjadi tidak tenang, karena kami tumbuh saling bergantung satu sama lain, hasilnya malah, aku yang membuatnya pergi." tanpa terasa iar mata sudang menggenang di pelupuk matanya.


"Psikiaterku pernah bilang, manusia paling mudah melupakan semua hal yang merugikan dirinya, ini aku sedang membicarakan diriku sendiri, yang tidak bisa mengontrol emosiku, jika sudah terpancing." dua bulir itu pun jatuh yang langsung di usap kasar olehnya.


" Sekarang aku sudah mengingat semuanya, kami harus bicara untuk meluruskan masalah yang lalu, mereka tidak pernah membicarakan apapun padaku selama ini, mungkin mereka berdua mengira aku akan semakin gila jika terus mencoba mengingat semua peristiwa masa lalu itu." Yura pun mendekat sambil menggenggam tangan kekar Al.


"Itulah kenapa aku sekarang sedikit menjaga jarak pada Erick, takut jiwaku kembali sakit. dan akan menyakitinya lagi, sebenarnya bukan karena kesedihan dan tanggungjawab, karena aku tahu dengan jelas sikap menyimpangku yang sebenarnya." membuat Yura mengkerutkan keningnya bingung.


"Sifat yang menyimpang?" Yura membeo.


"Sebenarnya sembunyi-sembunyi, aku sendiri juga mengetahuinya, di sisi jiwaku ada bagian yang sangat kejam dan sadis, seperti psikopat. dan aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap bagian ini, menyebabkan kendala pada kejiwaanku sama seperti Ibuku yang dulu masuk ke tempat Rehap juga sebelum ia meninggal, mungkin ini yang di turunkan Ibuku padaku." terangnya.


" Walaupun aku ingin kembali normal, tapi setiap kali bersama Erick pikiran ini langsung menghilang, karena dia begitu polos, setiap bersamanya dia yang yang selamanya benar, sedangkan aku? selamanya sudah di takdirkan untuk memerankan peran yang menyimpang. setiap kali sikapnya keluar aku langsung mual, saat dia menangis aku selalu emosi, saat dia berusaha menyenangkan Ayah dengan wajah yang mirip denganku, menjadi anak yang baik, aku langsung membencinya jadi_


"Jadi kau menunjukkan surat Ibumu padanya? apa kau begitu membencinya? sungguh?" potong Yura menyela ucapan Al.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..