
"Kinanti, apakah sekarang kamu sudah tahu kenapa saya selalu berbuat lebih sama kamu?" Tanya Xander saat pembacaan do'a telah selesai. Kinanti menggelengkan kepalanya kemudian ditundukkannya wajahnya. Xander menarik nafasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya dengan cepat.
"Kinanti, Kinanti. Sebenarnya kamu terlalu lugu, atau bagaimana sih? Dengar baik-baik ya Kinanti, saya suka sama kamu, dari awal saya menerima kamu sebagai sekretaris saya, itu adalah cara awal saya untuk mendapatkan hati kamu.
Kamu tahu alasannya kenapa? Karena pertemuan keduaku dengan kamu saat interview penerimaan pegawai baru, mengingatkanku pada sosok gadis tangguh yang mau bekerja sampai begitu larut sebagai pegawai katering pernikahan kakak aku waktu itu, yang tak sengaja membuat pakaianku menjadi basah." Xander bercerita tentang isi hatinya yang sebenarnya.
"Saya pun begitu terpesona kepada anda saat pertama melihat anda dengan tidak sengaja menumpahkan air ke pakaian anda, dan anda tidak marah kepada saya dan malah menasihati saya untuk segera istirahat, saat itu saya menjadi begitu mendamba sosok lelaki seperti anda.
Dan pada saat pertemuan kedua dengan cara yang hampir sama dengan pertemuan pertama, membuat saya sangat takut kalau saya tidak diterima sebagai karyawan diperusahaan.
Tetapi kekhawatiran saya tak beralasan karena ternyata saya diterima, dan yang membuat saya tidak habis pikir, kenapa malah saya yang jadi sekretaris bapak, padahal banyak pelamar yang lebih cocok dibanding saya." Kinanti mengakhiri ceritanya.
"Jadi kamupun ada ketertarikan kepadaku Kinanti?" tanya Xander antusias.
"Tapi saya harus sadar diri siapa saya pak, saya tidak mau menjadi pungguk yang merindukan bulan, saya dan anda bagaikan bumi dan langit, dan itu adalah hal yang mustahil untuk dipersatukan." senyum kecut menyertai perkataan yang diucapkan Kinanti. Kinanti sadar pada keadaannya, jadi ia menepis rasa yang membuncah dalam dadanya, karena diantara mereka masih ada orang tua, terutama orang tua Xander yang belum tentu akan merestui hubungan mereka karena status sosial mereka yang bertolak belakang.
"Aku dan kamu sama-sama manusia yang saling memiliki ketertarikan satu sama lain, bukan bumi dan langit seperti yang kamu katakan tadi, jadi jangan pernah beranggapan kita akan susah menyatukan hati kita." Xander menatap Kinanti dengan intens untuk meyakinkan Kinanti bahwa tak ada yang perlu Kinanti khawatirkan bila mereka ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius.
"Mungkin anda bisa menerima apa adanya saya pak, tapi apakah orangtua anda bisa menerima saya? Gadis yatim piatu miskin yang hanya sedang berusaha untuk bertahan hidup dengan menumpang dirumah om dan tante yang juga cuma keluarga sederhana. Kinanti kembali mengingatkan status sosial mereka, karena bagaimanapun perasaannya ke Xander, dia tidak akan memaksakan bila orang tuanya tidak merestui. Kinanti sadar diri.
"Kami tidak pernah melarang anak-anak kami untuk mencintai siapapun dan dari kelas manapun sejauh dia adalah perempuan baik yang akan selalu memberikan kebaikan pula bagi putra kami, karena kita sama di mata Tuhan, bukan kasta sosial seperti yang kamu khawatirkan itu nak." tiba-tiba ada suara perempuan setengah baya menyahuti kekhawatiran Kinanti.
Kinanti begitu terkejut saat menoleh ke belakang dia telah berdiri berjajar beberapa orang keluarga Xander. Mama Mira, papa Yudha, Arshlan serta Andrea.
"Ibu dan bapak Daniswara!" seru Kinanti seraya bangkit dari duduknya, lalu berdiri dengan membungkukkan badannya sebagai rasa hormatnya kepada keluarga atasannya tersebut. Lalu Kinanti hanya mampu menundukkan wajahnya tanpa berani menatap ke arah keluarga Xander yang berdiri di depannya.
Kinanti melihat langkah mama Mira yang perlahan menghampirinya, dan ia semakin mengerutkan badannya karena takut.
Perlahan mama Mira meraih wajah Kinanti dengan dua telapak tangan yang menangkup kedua pipi Kinanti untuk dihadapkan ke wajahnya.
"Nak, jika kamu memang gadis yang dipilih Xander untuk dijadikan pendamping hidupnya, kami sebagai orang tua hanya bisa merestui, apalagi kamu pun memiliki ketertatikan yang sama kepada Xander. Dan jika mama perhatikan, kamu gadis yang sangat sopan jadi tidak ada alasan bagi kami untuk tidak menerimamu menjadi bagian dari keluarga Daniswara." penuturan mama Mira bagaikan seteguk air di tengah dahaga. Begitu melegakan dan mengharukan Kinanti.
Ia tidak menyangka keluarga Daniswara bisa sangat terbuka menerima Kinanti yang berasal dari kelas sosial dibawah mereka.
"Justru kami yang khawatir, apakah keluarga kamu mau menerima Xander sebagai menantunya." Lanjut mama Mira membuat Kinanti terkejut karena kerendahan hati keluarga Daniswara.
Siapa yang akan menolak menjadikan Xander sebagai menantunya? Selain tampan, ia juga dari keluarga berada dan sudah dipastikan menjadi salah satu pewaris usaha yang didirikan oleh orang tuanya.
Tetapi bukan itu inti dari keinginan Kinanti, karena bagi om dan tante dari Kinanti sebagai kelauarga satu-satunya, bukanlah ambisi untuk menaklukkan lelaki kaya dan mapan. Bahkan jikalaupun lelaki pilihan Kinanti berasal dari keluarga sederhana, om dan tantenya akan selalu mendukung asal keponakannya itu bisa hidup bahagia.
"Dapatkan restu keluarga Kinanti nak, agar kita bisa segera menjadikakan gadis manis ini sebagai menantu kedua di keluarga ini." mama Mira menautkan tangan kedua insan yang sedang berbahagia itu, dan keduanya pun hanya saling menatap dengan rona bahagia karena telah mendapat restu dari keluarga Daniswara.
***
Seiring berjalannya waktu, Xander dan Kinanti semakin dekat dengan keluarga masing-masing. Hani sebagai sepupu Kinanti satu-satunya yang Kini sudah senang bekerja di luar negeri juga turut bahagia mengetahui Kinanti telah mendapatkan tambatan hatinya.
Selama masa cuti kerja menjelang kelahirannya, Andrea lebih memilih tinggal bersama keluarga Daniswara daripada berdekatan dengan Arshlan yang mengurusi usahanya sekaligus usaha Andrea yang di tinggal cuti oleh pimpinannya. Jadilah Arshlan selalu pulang ke rumah utama keluarga Daniswara di akhir pekan. Apalagi mama Arini juga lebih banyak menghabiskan waktu di panti bersama ibu Rima.
Andrea yang telah berada dalam waktu menghitung hari menuju kelahirannya sedang menunggu kedatangan suaminya yang akan kembali dari kota sebelah karena ini adalah akhir pekan, sudah dari siang merasakan mulas yang tidak biasa.
Saat awal merasakan, mulas itu datang dengan tempo agak lama, tetapi sore ini rasa mulas yang di rasakannya semakin sering dia rasakan.
"Ma." panggil Andrea kepada mama Mira.
"Ada apa nak?" tanya mama Mira dengan lembut, dan saat Andrea hendak mengutarakan apa yang ia rasakan dari siang, mulas itu datang lagi membuat Andrea spontan meringis menahan ngilu sambil mengelus perutnya.
"Apa yang kamu rasakan nak? Apakah kamu sudah waktunya melahirkan?" tanya mama Mira sedikit panik.
"Sepertinya begitu ma, tapi ini masih kurang lima hari dari tanggal perkiraan lahir." jawab Andrea yang sudah hilang rasa mulasnya.
"Sejak kapan kamu merasakan mulas nak?" tanya mama Mira yang sudah tenang karena Andrea tak kesakitan lagi.
"Sejak siang tadi, tapi sangat jarang, dan sekarang rasa mulas datangnya lebih cepat ma." Andrea menceritakan apa yang ia rasakan beberapa waktu terakhir ini.
"Ayo bersiap ke rumah bersalin! Sepertinya kamu memang sudah waktunya melahirkan." mama Mira beranjak dari duduknya, dan menelpon sopirnya untuk menyiapkan mobil, lalu ia berjalan menuju kamar Andrea untuk mengambil tas perlengkapan melahirkan yang sudah Andrea persiapkan jauh-jauh hari.
Setelah driver mengabarkan kalau mobil sudah siap, mama Mira segera memapah Andrea dengan ditemani asisten rumah tangga yang membawakan tas keperluan milik Andrea dan calon bayinya.
Mobil sudah siap di depan beranda rumah dan bersamaan dengan itu Xander pulang dari kantor beserta Kinanti. Meliha mamanya memapah Andrea ia begitu terkejut dan langsung mengajak Kinanti turun untuk membantu mamanya.
"Mbak Andrea kenapa ma?" tanya Xander panik.
"Sudah waktunya melahirkan, ayo kalian ikut mama ke rumah bersalin sambil menunggu Arshlan yang masih dalam perjalanan pulang!" ajak mama Mira kepada Xander juga Kinanti. Tanpa diperintah dua kali, Xander mengajak Kinanti masuk ke mobil van yang akan membawa Andrea.
...****************...