Andrea

Andrea
Realita



Kak Andra masih menenangkan Andrea yang masih menangis sesunggukan karena mendengar percakapan Arshlan dan Daniel dikafe tadi.


"Udah dong Dre nangisnya, iyaa kakak tau itu menyakitkan banget, tapi setidaknya kamu tau dari awal sebelum kamu bener bener menerima cowok brengsek itu jadi pacar kamu"


"Tapi kenapa harus Dre kak, aku gak pernah dengan sengaja jahatin orang, tapi kenapa sih orang orang jahatin aku?" sesal Andrea dengan tangis pilunya. Dan sang kakak hanya bisa menenangkan Andrea dengan mengelus pungung adiknya yang menangis dipangkuannya.


......................


Andrea POV


Aku dan kakakku masuk ke kafe untuk mengisi perut setelah selesai menonton film action kesukaan kakakku, saat ditengah makan, aku mendengar suara cowok yang tak asing buatku, aku cari sumber suara yang sedang bicara riang dengan lawan bicaranya, yah! ternyata benar Arshlan pemilik suara itu dan Daniel sepupunya, aku hendak memanggilnya untuk bergabung tapi justru aku mendengar kata kata yang begitu menusuk perasaanku, walaupun mereka bicara tidak terlalu kencang, tapi telingaku masih sangat jelas mendengar pembicaraan mereka.


"Selamat bro, kamu berhasil menaklukkan cewek overweight dalam jangka waktu kurang dari dua bulan, bersiap siap kamu duduk dikursi direktur yang ditinggal pak Mansyur karena pensiun" Daniel memberi selamat kepada Arshlan, dan aku lihat mereka melakukan highfive dengan tanpa beban dimuka Arshlan.


"Gila kamu, mau ngasih naik jabatan aja syaratnya berat banget untung aku deketin Andrea mudah banget, jadi aku bisa macarin dia sebelum jatuh tempo yang kamu berikan, yahh walaupun kami belum resmi pacaran sih, karena Andrea masih minta waktu, tapi setidaknya dengan sikap dia ke aku itu sudah menunjukkan kalau dia ada rasa juga sama aku." kata Arshlan


"Yaa jelas mudah lah, coba waktu itu aku ngasih syaratnya anak pengusaha terkenal jadi lebih menantang gak segampang ini kamu nyelesaiin tantangan aku" sahut Daniel tergelak senang hingga lebih memperparah sakit hatiku.


Kak Andra yang juga mendengar percakapan mereka terlihat sangat marah dan hanya bisa mengusap punggung tanganku untuk menenangkanku


Tak menunggu lama lagi kak Andra menarik tanganku untuk segera meninggalkan kafe itu, kak Andra menghentikan langkahnya tepat disebelah meja Arshlan, tanpa banyak bicara ditinjunya muka Arshlan berkali kali hingga dia jatuh tersungkur, setelah memberikan uang kepada manager kafe sebagai ganti rugi, kakak segera mengajakku pulang.


POV berakhir


......................


"Dek, sudah cukup kakak melihat kamu terhina seperti ini, ayo kita balik kerumah utama, cukup bagimu untuk mencari teman yang tulus dengan kehidupan kamu saat ini, bullshit dengan prinsip kamu itu, andaipun kamu hanya mendapatkan teman penjilat saat kamu kembali ke realita hidup kamu, itu tidak masalah, yang penting kamu bisa mengendalikan mereka bukan sebaliknya, agar kamu tidak dijadikan tambang keuntungan mereka" nasehat kak Andra begitu dalam masuk ke relung kalbu Andrea, dan Andrea hanya bisa memandang kakaknya untuk lebih memantapkan hatinya.


"Ayo kembali ke realita kamu dek, tunjukkan kepada dunia siapa kamu sebenarnya, jangan biarkan orang orang kembali menghina kamu, kakak sudah tidak tahan melihat kamu selalu direndahkan" kata kak Andra dengan memohon


Andrea sebenarnya adalah anak seorang pengusaha terkenal di negeri ini, tapi Andrea tidak mau mendapatkan teman yang hanya memanfaatkannya karena dia anak orang kaya, maka dari itu, sejak masuk SMP ia keluar dari rumah utama orang tuanya dan memilih menetap di panti asuhan milik ibu Rima, dilingkungan baru itu Andrea bertemu dengan Danisa yang sangat tulus bersahabat dengan Andrea, sementara teman yang lain, memilih menjaga jarak hanya karena Andrea anak panti asuhan. semula mamanya tidak bisa menerima keputusan Andrea, tetapi mengingat ia lebih sering mengikuti papa mengurus bisnis diluar negeri, mamanya akhirnya setuju dengan keputusan Andrea, dengan syarat Andrea harus pulang saat orang tuanya pulang.


Dan sampai saat ini, Danisa tidak tau siapa Andrea sebenarnya, hanya ibu Rima saja yang tau tentang realita hidup Andrea.


Ya, orang tua Andrea merupakan donatur tetap untuk yayasan Kasih Ibu, dan kebetulan papa Andrea adalah sahabat pak Haris sejak SMA, Jadi orangtua Andrea tenang menitipkan anak gadisnya pada sahabatnya itu.


Karena Andrea memilih tinggal dipanti, kak Andra juga tidak mau pulang kerumah utama, ia tinggal di apartemen dekat panti agar bisa mengawasi Andrea. selesai kuliah di negeri tetangga, papa menyerahkan tanggung jawab perusahaan di negeri ini kepada kak Andra,


......................


Aish dan Riri menangis dalam pelukan Andrea saat Andrea berpamitan untuk tak lagi tinggal di panti asuhan ini lagi, ya Aish dan Riri adik termuda dipanti asuhan Kasih Ibu ini, Aish duduk dikelas lima dan Riri kelas empat.


"Udah dong nangisnya, kakak janji akan sering sering datang menjenguk kalian semua, atau kalau enggak kalian bisa minta tolong pak Wardi untuk mengantarkan kalian semua main ke tempat tinggal kakak yang baru, dan kalian juga bisa telpon atau videocall kakak saat waktu senggang" Andrea memberi pengertian kepada adik adiknya, dan akhirnya mereka bisa mengerti dan merelakan kepergian Andrea dari panti ini.


Andrea kembali memeluk ibu Rima sebelum naik kemobil kak Andra, ia begitu berat meninggalkan orang yang mengasuhnya sejak SMP


"Dre janji akan sering sering mengunjungi ibu, terimakasih untuk semua yang ibu berikan kepada Dre selama Dre tinggal disini" kata Andrea sambil memeluk erat ibu Rima dengan linangan air mata, begitu pula ibu Rima tak bisa menyembunyikan keharuan itu,


"Kamu akan menemukan jati diri kamu yang sebenarnya di dilingkungan kamu yang seharusnya nak" kata bu Rima dan diangguki sungguh sungguh oleh Andrea.


Setelah itu Andrea segera masuk ke mobil kak Andra dan Danisa diajaknya serta, karena Danisa ingin tau tempat tinggal Andrea yang baru dan ia tidak keberatan untuk itu dan kak Andra segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat yang begitu berkesan bagi Andrea selama beberapa tahun ini.


......................


Sebelum mereka semua turun dari mobil, ada beberapa orang telah berjajar rapi dengan menunduk hormat didekat mobil kak Andra berhenti.


"Selamat datang kembali dirumah utama tuan, nona" sambut semua orang yang berjajar rapi yang ternyata pegawai dirumah tersebut


"Terimakasih" jawab Andra dan Andrea bersamaan setelah itu kak Andra segera mengajak kedua gadis itu masuk ke dalam rumah tersebut.


"Dre, ini rumah siapa? kak Andra?" tanya Danisa yang berjalan disamping Andrea sambil bisik bisik.


"Ngomongnya biasa aja gak usah bisik bisik" kata Andrea dan itu membuat Danisa tersipu.


"Kenapa Dan, kok bisik bisik?" tanya kak Andra.


"E-Ehhmm nggak kok kak, aku cuma tanya ini rumah siapa, apa rumah kak Andra?" Danisa meniru pertanyaan yang diajukan ke Andrea tadi dengan ragu ragu, karena ia seperti hidup didunia lain dengan keadaan yang dialaminya saat ini. Bangunan besar dan megah, perabotan luks dan banyaknya pegawai dan pelayan seolah membuat Danisa ada di negeri dongeng


"Ya ini rumah kakak Dan, rumah orang tua kakak." jawab kak Andra.


Bersamaan dengan itu, Danisa memandang seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia melihat foto keluarga yang terpampang sangat besar saat memasuki ruang keluarga.


"Maaf, kok dalam foto keluarga kakak ada Andreanya juga ya kak?" tanya Danisa penuh penasaran.


"Karena Andrea emang bagian dari keluarga ini" jawab kak Andra


"Maksudnya Andrea itu adik angkat kakak gitu?! Ehh, kan memang kakak angkat ya, kan kaka Andra anak dari donatur tetap yayasan." Danisa belum bisa mencerna jawaban kak Andra, dan itu hanya membuat kakak beradik yang ada di depannya tersenyum.


"Andrea adik kandung kak Andra Dan." Danisa malah terbeliak tak percaya dengan jawaban kak Andra.


" K-Kok bisa sih??" tanya Danisa terbengong.


Tidak menjawab rasa penasaran Danisa, Andrea segera menarik Danisa untuk duduk, karena saat itu ada pelayan yang sedang menyediakan minuman untuk mereka.


"Terimakasih bi" kata Andrea dan kak Andra bersamaan setelah sang pelayan selesai menaruh minuman,


"Udah bengongnya, minum dulu biar plong" kata Andrea sambil menyodorkan secangkir teh kepada Danisa.


"Sekarang bisa minta tolong kasih saya penjelasan?" Danisa langsung bertanya lagi setelag selesai minum.


"Ayo kakak ceritain, sambil kita duduk digazebo belakang aja, pemandangannya lebih asyik" ajak kak Andra lalu ketiganya beranjak menuju belakang rumah yang ternyata sangat luas, terdapat kolam renang, juga kolam ikan bahkan ada lapangan juga.


Mereka duduk di gazebo dekat kolam renang, angin begitu semilir bertiup, karena banyak pohon pohon peneduh dipinggiran halaman. Kak Andra dan Andrea pun segera menjawab rasa penasaran Danisa, tentang siapa Andrea sebenarnya.


Betapa salut dan terharunya Danisa mengetahui kisah Andrea setelah kakak beradik itu selesai bercerita.


"Hanya kamu yang lolos seleksi hidup Andrea Dan" kelakar kak Andra membuat mereka tertawa bersama, yah karena memang hanya Danisa yang mau menerima Andrea dengan tulus, yang hanya anak panti waktu itu, benar benar menjalani hidup sederhana tanpa menggunakan fasilitas yang disediakan orang tuanya kalau tidak benar benar terpaksa.


...****************...