
"Ya ampun Dre, kamu kenapa berantakan seperti inii?!" seru Danisa khawatir melihat keadaaan Andrea saat ia membukakan pintu untuk Andrea.
"Dan, aku ganti baju dulu ya ceritanya nanti, dingin banget nih." pinta Andrea sambil berjalan menuju kamar Danisa, sementara Danisa mengikut dibelakang Andrea penuh penasaran
Yah, Andrea sudah sangat akrab dengan keluarga Danisa bahkan orangtua Danisa sudah menganggap Andrea seperti anak sendiri.
Begitupun sebaliknya.
Setelah Andrea berganti pakaian kering, ia segera menemui Danisa diruang keluarga sambil meringis menahan sakit dipipinya.
"Ini minum dulu Dre" Danisa menyodorkan teh hangat dan segera disambut oleh Andrea dan dia segera menyeruput teh pemberian Danisa...
"Hmmmm..." gumamnya saat seteguk teh meluncur dikerongkongannya. Setelah puas minum beberapa teguk Andrea meletakkan gelas yang dipegangnya.
"Sekarang cerita!" todong Danisa tidak sabar
"Iya-iya gak sabaran amat" sahut Andrea dibalas helaan nafas dalam oleh Danisa, lalu Andrea menceritakan semua kejadian yang dialaminya membuat Danisa langsung khawatir dengan keadaan Andrea saat Andrea mengakhiri ceritanya.
"Pantas saja dari tadi kamu meringis sambil mengelus pipi kamu, coba lihat!" Danisa menarik tangan Andrea yang menutupi pipinya, dan terlihat pipi Andrea merah kebiruan.
"Ini pasti kenceng banget nonjoknya" seru Danisa hanya dibalas kedikan bahu dari Andrea.
"Ini ada apa kok pada berisik" bu Indah ibu Danisa menghampiri mereka berdua dan melihat interaksi kedua gadis itu.
"Ini bu pipi Andrea kena tonjok penjahat" lapor Danisa
"Kok bisa sih? Dan ambil es sama handuk kecil buat mengompres lebamnya Andrea" perintah bu Indah dan Danisa langsung pergi tanpa disuruh dua kali, tak lama Danisa datang membawa wadah berisi es, kemudian segera mengompres pipi Andrea sedang yang dikompres hanya meringis menahan sakit sambil bercerita kembali hal yang dialaminya tadi kepada bu Indah.
"Untung aja kamu tu jago beladiri Dre, jadi bisa selamat dari gangguan para penjahat itu" kata Danisa saat Andrea selesai bercerita.
"Walau begitu tetap harus hati-hati, untung kamu masih dilindungi, dan juga kenapa kamu kesini malam malam gak dari sore tadi?" tanya bu Indah.
"Laptop Dre ketinggalan waktu kesini tempo hari, besok Dre mau ke kampus jadi mau gak mau harus Dre ambil, tadi juga ibu udah ngelarang karena udah malam, tapi daripada besok harus kesana sini, mending aku ambil aja sekarang, tadi sore adik adik pada minta ditemani belajar, ya udah kemalaman deh kesininya" terang Andrea pada Danisa dan ibunya, dan mereka hanya manggut manggut mengerti.
"Kalau gitu pulang besok aja, ini udah malam dan juga diluar masih hujan, kamu telpon ibu kamu biar beliau tidak khawatirin kamu" saran bu Indah dan dijawab anggukan oleh Andrea, dan segera menelpon ibu Rima agar tidak menunggunya pulang.
Setelah selesai berbincang bincang sebentar mereka segera masuk kamar untuk istirahat karena waktu sudah sangat malam
......................
"Dan temani aku ke gym sekarang yuk, aku udah pulang dari kampus, tapi mau langsung ke gym, lagi males jalan sendiri nih" pinta Andrea pada Danisa lewat ponselnya, karena hari ini Danisa tidak berangkat kampus.
Terlihat raut gembira diwajah manis Andrea, pertanda orang diseberang telpon sana menyetujui ajakannya, selesai berbincang, Andrea segera memacu ke tempat latihan gym langganannya. Ternyata Danisa sudah samapai lebih dahulu,
"Dah lama nunggu Dan?" tanya Andrea sambil cipika cipiki
"Baru datang juga kok" jawab Danisa, kemudian mereka segera masuk ke sanggar.
Saat keduanya keluar dari ruang ganti mereka berpapasan dengan beberapa, saat mereka sudah saling melewati, terdengar ada salah satu cewek yang memanggil Andrea.
"Eh! bentar bentar kamu cewek gendut!" seru salah satu cewek itu, karena merasa tidak ada yang lain selain dia Andrea menengok ke sumber suara yang memanaskan hati dan telinga tersebut.
"Aku?!" tanya Andrea sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya kamu lah, siapa lagi yang gendut disini selain kamu" seru sang gadis dengan sikap sok cantiknya, sementara teman temannya hanya senyum senyum mengejek ke arah Andrea.
"Jaga mulut kamu ya!" seru sang gadis tidak terima, tapi hanya ditanggapi senyuman miring dari bibir Andrea.
"Kamu yang mulai gak sopan sama aku, gak kenal ketemu juga belum pernah main panggil seenak jidat sendiri, kaya gak diajari sopan santun aja" Andrea menjawab dengan santai tanpa terpancing emosi.
"Aku tau kamu lah, kalau kamu gak tau aku dan bilang belum pernah ketemu, karena kamu begitu terpesona sama ketampanan Arshlan sampai kamu gak memperhatikan sekitar kamu" kata gadis itu yang membuat otak Andrea menyadari sesuatu.
"Oohh, kamu salah satu dari mereka yang memandang sinis kepadaku? memang ya serigala berbulu domba tuh gampang banget dibedain, sayang banget Arsh dikelilingi orang orang bermuka dua tanpa disadarinya" sindir Andrea.
" Kamu tu gak pantas ada disamping Arshlan, apalagi bergaul sama kita kita yang nota bene jauh derajatnya diatas kamu"
sang gadis mulai mengeluarkan kata kata yang membuat down, dan teman temannya pun ikut ikut memanaskan suasana dengan kata kata provokatif mereka.
"Pantas atau enggaknya aku ada dilingkungan kalian itu bukan kalian yang nentuin, aku pikir justru kalianlah yang harusnya berkaca, apa pantas kalian ada disekeliling orang sebaik Arsh..." kata kata Andrea semakin tajam tapi masih tetap menahan emosinya.
"Punya nyali juga kamu ngomong begitu sama kami, kamu tu yang harusnya berkaca, harusnya kamu tu curiga, Arshlan seorang yang nyaris sempurna mau sama cewek jelek gendut kaya kamu, kamu gak merasa kalau kamu sedang dimanfaatkan sama Arshlan!" seru sang gadis
Deg
Hati Andrea berdesir, lalu menatap ke arah Danisa, dan Danisa hanya bisa menguatkan Andrea, digenggamnya tangan sahabatnya dengan erat, dan itu juga sebagai tanda kalau Andrea harus bisa mengontrol emosinya.
"Hehh!! ngomong tuh pake otak. Apanya yang mau dimanfaatkan sama cewek miskin jelek seperti aku ini, kalau bukan karena hati Arshlan emang baik dan tulus sama aku" kata Andrea masih bisa bicara dengan akal sehatnya sehingga dia tidak terprovokasi.
"Kalau menghayal itu jangan setinggi langit, kalau jatuh sakit.
itu kamu sadar kalau kamu tuh jelek, miskin. Anak panti jelek, bermimpi jadi cinderella" sindir sang gadis dan disambut tawa teman temannya.
"Sudahlah Dre, gak usah kamu tanggapi lagi omongan mereka, mereka cuma iri sama keberuntungan kamu" Danisa yang sedari tadi diam mengajak Andrea untuk menyudahi perdebatan itu.
"Lalu apa urusannya sama kamu, toh kalau ada yang rugi dari hubunganku sama Arshlan, itu bukan kamu kan? jadi gak usah ikut campur urusanku" ketus Andrea pada sang gadis dan menghiraukan ucapan Danisa.
"Hey girls!! dia tanya urusanku apa, ada yang mau jelasin ke cewek gendut ini??" tanya sang gadis kepada teman-temannya dengan gaya songongnya.
"Ehhmmm, sebelum kita kasih tau siapa dia, aku mau tanya dulu deh, apa selama kamu menjalin hubungan sama Arsh, kamu sudah pernah bertemu sama keluarganya Arshlan?" tanya teman gadis itu.
Andrea dan Danisa hanya saling pandang.
"Melihat gelagat kalian sih pasti kamu belum pernah sekalipun bertemu sama ortu Arshlan" ejek gadis itu.
"Ini kenalin Raisa calon istri dari Arshlan" sambung temannya yang lain dan dengan pongahnya sang gadis bernama Raisa yang sejak tadi songong semakin membusungkan dadanya di depan Andrea.
"Aku memang belum pernah bertemu keluarga Arshlan, karena mereka sedang sibuk mengurus bisnis mereka, dan Arshlan bilang padaku kalau ortunya sudah pulang akan langsung memperkenalkanku pada mereka." jawab Andrea tetap tenang.
"Mimpi aja terus kamu, karena sampai kapanpun, kamu gak akan bisa masuk kedalam keluarga Arshlan, karena hanya aku yang akan jadi menantu buat orangtua Arshlan." seru Raisa dengan penuh percaya diri
"Karena gadis gendut, jelek dan miskin kaya kamu gak akan pernah bisa keluarga Arshlan terima, dan kamu lihat ini? Ini mama Arshlan, calon mertua aku" Raisa menunjukkan sebuah foto diponselnya, terlihat foto dia bersama seorang perempuan setengah baya berwajah mirip Arshlan, mereka terlihat sangat akrab difoto tersebut, tapi entah kenapa Andrea tidak merasa ciut nyali sedikitpun.
"Mungkin kamu bisa seakrab itu sama mamanya Arsh, tapi belum tentu Arsh bisa menerima kamu, buktinya waktu itu dia lebih memilih ungkapkan perasaan dia padaku yang notabene belum lama dia kenal dari pada ke kamu yang lebih lama dekat dengan mereka, dan dari sikap kamu yang tidak protes sama sekali kepada Arsh, itu cukup menunjukkanku, bagaimana hubungan yang sebenarnya antara kamu dan Arsh, jadi jangan terlalu percaya diri dan memastikan diri akan jadi pendamping Arsh kelak, permisi!!" Andrea mendorong pelan bahu Raisa kemudian berbalik sambil menyeret tangan Danisa menuju ruang gym tanpa mempedulikan Raisa lagi.
"Hey! cewek gendut jelek! aku belum selesai ngomong" teriak Raisa tak terima ditinggal Andrea begitu saja
...****************...