
Penat yang dirasa setelah memeras tenaga dan fikiran beberapa hari ini membuat Andrea ingin melepas rasa penatnya untuk mencari hiburan untuk merefresh otak serta tubuhnya.
Ia pergi berwisata alam sendiri karena Danisa sedang pulang ke kotanya, itu tidak masalah bagi Andrea karena baginya dari dulu ia selalu melakukan aktifitas sendiri jika Danisa tidak bisa menemani, mengajak teman yang lain boro boro, mereka seolah antipati dengan Andrea dimasa lalu.
Andrea begitu menikmati hobi fotografinya, ditangkapnya setiap keindahan alam yang ia lihat dengan kameranya, ia sedang membidik satu obyek pandang yang sangat menarik perhatiannya saat tiba tiba fokus kamera berubah menjadi wajah seseorang yang membuat Andrea begitu terkejut.
"Aaaa...!!!" Andrea berteriak begitu kencang karena begitu terkejutnya sampai ia oleng dari pijakannya yang tidak begitu rata, untung ada yang menariknya hingga ia bisa selamat tidak sampai terjatuh.
"Maaf, maaf..!" kata seseorang yang membuatnya hampir terjatuh tetapi juga telah menyelamatkannya.
"Astaga Xander!!" seru Andrea sambil memukul bahu pria tampan itu dengan raut muka kesalnya, dan pria itu hanya tersenyum sambil meringis menahan pukulan yang lumayan terasa.
"Kenapa sih duniaku tu sempit banget sampai aku pergi kemanapun selalu ada kamu?!" seru Andrea yang masih sedikit kesal karena sampai saat ini detak jantungnya belum kembali normal akibat ulah Xander.
Mendengar omelan Andrea, Xander hanya mengurai tawanya sambil mengacak rambut depan Andrea, kebiasaan baru Xander tiap bertemu membuat sang empunya rambut tambah kesal.
"Iiihh... rambutku jadi berantakan, kenapa juga tiap kita ngobrol pasti ngacak acak rambut aku.!"
"Hmmm kesal saja tetap kelihatan cantiknya." bukan menjawab pertanyaan Andrea, Xander justru menggoda gadis itu.
"Bodo amat!" Andrea memutar badan dan meninggalkan Xander
"Dree..!! Beneran marah nih..?" tanya Xander saat berhasil mengejar Andrea sambil mensejajari langkah gadis itu, tapi Andrea diam saja malah membidikkan kameranya karena ia melihat obyek yang begitu menarik matanya.
"Dre..." panggil Xander
"Diam dulu kamu!" seru Andrea masih fokus dengan bidikannya, dan Xander hanya bisa diam seperti keinginan Andrea.
"Kamu nguntitin aku ya Xen, kok bisa tau aku ada disini?" tanya Andrea sambil tetap fokus pada bidikannya.
"Kurang kerjaan banget aku ngikutin kamu, jangan ge er.."
"Habisnya kemanapun aku pergi selalu saja ketemu kamu." sahut Andrea.
"Aku juga gak tau, tadi pagi pingin saja main kesini, gak taunya kamu juga disini, feeling aku memang selalu benar." kata Xander
"Halah..! kamu bohong juga aku gak tau kok!" seru Andrea
"Kurang kerjaan banget apa?" Xander tak terima.
"Ya kali kamu emang gak ada kerjaan trus jadi penguntit aku." kata Andrea sekenanya.
"Ehh, hahh..?! Salah gak sih? kayak Raisa tapi sama siapa?" Andrea bermonolog seolah menemukan obyek gambar yang mengganggu pandangannya.
"Lihat apa kamu? kok jadi ngomong sendiri begitu?" tanya Xander.
"Hehh Dre!" Xander menepuk pundak Andrea saat pertanyaannya tidak ditanggapi Andrea dan ia jadi kaget.
"Bikin kaget aja sih kamu!" seru Andrea
"Lah kamu, lihat apa jadi bengong gitu, ngomong sendiri?" tanya Xander.
"Aku kayak lihat Raisa deh, tapi cowoknya bukan abang kamu."Jawab Andrea sambil berusaha lebih mendekatkan objek.
"Kamu kenal Raisa?" tanya Xander heran
"Kenal lah dia manager HRD di kantorku, kenalnya lulus, gak tau kalau abang kamu apalagi kamu." jelas Andrea.
"Ya kenal baik buruknya lah."
"Contoh?"
"Enggak lah, nanti aku dikira mengada ada, biar abang kamu tahu sendiri." tolak Andrea.
"Coba pinjam kamera kamu." Xander jadi penasaran dengan apa yang Andrea lihat.
"Kayaknya memang Raisa deh.." kata Xander
"Eehhh, mau kemana?!" Xander seketika menarik tangan Andrea karena penasaran dengan apa yang dilihatnya. Mereka mengendap endap agar tak ketahuan.
Dari dekat memang begitu jelas kalau itu Raisa yang sedang bermesraan dengan cowok lain, lalu ia mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar mereka. Andrea pun mengambil gambar kedua insan yang sedang memadu cinta itu dengan kameranya.
Mereka segera pergi dari tempat itu, terlihat Xander begitu geram dengan apa yang dilihatnya.
"Kenapa gak kamu samperin Xen?" tanya Andrea
"Biar abang sendiri yang memergoki cewek itu." jawab Xander menahan marah.
"Tapi kayaknya kamu berharap abang segera tahu deh Dre." Senggol Xander
"Jangan mulai lagi ya Xen!" seru Andrea sambil melotot ke arah Xander, dan Xander pun paham.
"Aku gak tau kenapa dulu mama maksa abang buat bertunangan sama Raisa, padahal abang sudah tegas menolak, mungkin Raisa terlalu pintar buat menghasut mama." cerita Xander tanpa diminta.
"Untung saja mama mau menuruti permintaan bang Arsh untuk menunda pernikahan sampai beberapa tahun lagi, mumgkin sekarang sudah saatnya mama tahu yang sebenarnya siapa Raisa, tapi aku gak akan bilang, biar suatu saat bang Arsh atau mama yang akan memergoki bagaimana Raisa sebenarnya." Xander seperti mencurahkan apa yang dia rasakan.
"Semoga kebenaran akan segera terungkap, dari awal aku tahu Raisa menurutku memang dia gadis yang kurang baik, berkali kali aku terlibat adu mulut sama dia, sekarang saja dia takluk sama aku karena aku atasannya, dia sekarang baik saat di depanku, tapi tidak tahu juga saat dibelakangku." Andrea pun seakan ikut masuk dalam dunia sesal Xander sehingga tanpa ia sadari ia telah menceritakan sebagian keburukan Raisa.
"Sejak kapan kamu kenal Raisa?" tanya Xander
"Kenal sih sejak aku jadi atasan dia, tapi entah sudah berapa kali ketemu dia sebelum kami satu kantor.
"Dia songong banget orangnya, kerja gak becus, sekarang saja dia mulai membenahi kinerjanya karena takut aku lengserkan jabatannya, uupss! bpkenapa ini mulut jadi lemes banget sihh..!!" Andrea menutup mulut dengan kedua tangannya, tersadar kalau ia salah karena telah membicarakan keburukan orang lain.
"Sorry Dre telah membuatmu membicarakan Raisa, sudahlah tidak apa toh hanya aku yang dengar, bukan abang aku"
"Aku takut ucapanku akan jadi hasutan." Andrea khawatir.
"Selama yang kamu bicarakan benar aku rasa itu bukan hasutan, toh kamu bicara bukan keinginan kamu sendiri tapi karena aku yang bertanya." kata Xander untuk menghilangkan rasa khawatir yang Andrea rasa.
"Aku jadi merasa tidak enak hati."
"Sudah, biasa saja." Xander mengacak rambut Andrea gemas, kebiasaan baru Xander tiap bertemu Andrea apabila dia gemas pada gadis itu.
"Lanjut ambil obyek bagus lagi saja yuk!" ajak Xander.
"Aku jadi tidak semangat gini Xen, pulang saja yuk!" Kata Andrea.
"Ya sudah kalau kamu mau begitu, tapi cari makan dulu yuk, sudah mulai laper nih." Xander mengusap perutnya.
"Ayo, aku juga." setuju Andrea, lalu keduanya beranjak.dari duduknya untuk mencari makan sebelum mereka pulang.
...****************...