
Kinanti berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya, karena motor kesayangannya belum juga selesai dari bengkel. Ia hanya tidak mau terlambat sampai kantor karena Kinanti berangkat ke kantor memilih naik angkot.
Kinanti sampai di kantor sepuluh menit sebelum jam kantor di mulai, ia langsung berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaannya, tetapi ia juga berusaha menahan debaran jantungnya bila nanti harus bertatap muka dengan atasannya, yaitu Xander.
Ia masih teringat dengan jelas apa yang telah Xander lakukan terhadapnya. Kelancangan Xander tak mampu mengeluarkan amarah di hati Kinanti, karena justru yang Kinanti rasa adalah debaran lain, mungkin itu debaran suka atau bahkan cinta.
Tetapi Kinanti harus menepis debaran berbeda itu karena harus menyadari, mereka berasal dari status sosial yang berbeda tetapi yang paling utama, Xander sudah ada yang punya.
"Stop Kinanti! Berhenti kamu memikirkan hal yang sangat mustahil untuk kamu gapai, jangan jadi pungguk yang merindukan bulan, dan yang utama jangan pernah jadi perempuan perebut suami orang, ingat karma berlaku Kinanti!" gumam Kinanti sambil memejamkan matanya, ia berharap saat membuka mata nanti, ia bisa melupakan apa yang membuat hatinya berkecamuk.
Kriiingg!!!
Tiba-tiba suara dering telpon kantor mengagetkan Kinanti, dan dengan serta merta Kinanti membuka matanya lalu segera mengangkat gagang telepon. Ternyata Xander yang telah menelponnya dan menyuruh Kinanti menuju ruangannya membawa laporan hari ini.
Sontak Kinanti melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata jam kerja telah dimulai sekitar sepuluh menit yang lalu. Begitu sibuknya Kinanti menata hatinya sampai tak menyadari kalau jam kerja telah di mulai.
Dengan segera Kinanti menuju ruangan Xander membawakan apa yang di minta oleh atasannya tersebut. Setelah mengetuk pintu ruang kerja Xander, Kinanti langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari yang empunya ruangan. Kinanti berusaha menetralkan perasaannya, ia berusaha tidak pernah terjadi apa-apa semalam.
"Selamat pagi pak, ini laporan yang anda minta, maaf atas keteledoran saya sampai anda harus menelpon dulu untuk meminta laporannya." Kata Kinanti langsung menundukkan kepalanya begitu ia selesai berbicara. Kinanti menghindari kontak mata terlalu lama dengan Xander karena ia jadi merasa bersalah dengan Andrea yang Kinanti anggap sebagai istri dari Xander.
Kinanti merasa ada yang aneh di ruangan ini, tak ada suara kertas di buka lembarannya seperti biasa saat ia menunggu Xander selesai menandatangani berkas laporan, akhirnya Kinanti memberanikan diri melihat ke arah sang atasan. Betapa Kinanti tak dapat menahan debaran di dadanya begitu tahu apa yang sedang Xander lakukan saat ini.
Mata tajam lelaki di depan matanya itu menatap Kinanti dengan tatapan yang sulit diartikan, tapi yang sangat jelas Kinanti tangkap, lelaki itu menatap Kinanti penuh damba.
"Stop Kinanti! Kuasai kesadaranmu, ingat status dan kedudukan kamu!" Gejolak hati Kyra berusaha menyadarkan diri sendiri.
"Ehmm.. Maaf pak, saya akan ambil berkas tersebut bila anda sudah selesai mempelajari dan menanda tanganinya, permisi." Kinanti langsung membalikkan badan untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
"Kinanti tunggu!" seru Xander menghentikan langkah sekretarisnya itu sebelum mencapai pintu keluar, Kinanti pun segera menghentikan langkahnya, lalu kembali mengahadapkan badannya kepada Xander.
"Ya pak?" tanya Kinanti.
"Kamu marah sama saya?" tanya Xander langsung.
"Apa ada hal yang membuat saya harus marah sama bapak?" tanya Kinanti, tetapi Kinanti langsung memejamkan matanya seraya menundukkan kepalanya, ia telah salah jawab, harusnya ia mengatakan kalau dia marah atas kelancangan Xander semalam.
"Kenapa kamu bodoh sekali Kinanti..." geram hati Kinanti pada dirinya sendiri.
"Jadi kamu tidak marah atas perbuatan saya kepada kamu tadi malam?" tanya Xander memastikan.
"Semalam saya yang bersalah, tetapi malah kamu yang merasa bersalah?" tanya Xander tak habis pikir.
"Saya merasa bersalah karena secara tidak langsung saya telah membuat seorang yang tak lagi berstatus lajang menjadi tergoda sama saya. Maaf pak, permisi!" Kinanti mengakhiri perkataannya dan langsung meninggalkan ruangan itu saat Xander masih memikirkan perkataannya sebelum Xander mencegahnya lagi untuk keluar ruangan.
"Bodoh sekali kamu Kinanti, hampir saja kamu ketahuan kalau kamu menyukainya, untung aku bisa menyelamatkan harga diriku." gumam Kinanti sambil menundukkan kepalanya ke meja kerjanya.
Untuk melupakan kejadian-kejadian yang dialaminya, Kinanti berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaannya, tetapi nihil. Pikirannya tak bisa teralihkan dari kejadian yang telah Xander lakukan terhadapnya, tentang rasa bersalahnya kepada Andrea, dan entah rasa apalagi yang berkecamuk di hatinya.
"Bodoh amat dengan pekerjaanku hari ini!" seru Kinanti sambil mengambil tasnya, ia ingin makan sepuasnya sebagai penghilang rasa stres yang sedang dihadapinya. Tak peduli jika ia dikatakan bolos kerja, karena saat ini pikirannya begitu susah untuk diajak bekerja.
Dengan langkah pasti Kinanti menuju kantin perusahaan. Di saat jam kerja baru di mulai beberapa waktu, tentu masih sangat banyak makanan yang bisa dipilih sesuka hatinya, tak peduli uang jajan bulanannya akan habis hari ini.
Dan benar saja, di kantin relatif sepi hanya ada satu dua orang office boy atau office girl yang membeli makanan titipan dari para staf ataupun karyawan kantor.
Begitu banyak makanan yang menggoda lidah Kinanti, sampai ia di buat menelan air liurnya berulang kali. Ia pun mengambil berbagai macam makanan yang menggoda indra pengecapnya.
Setelah selesai dengan semua makanan pilihannya dan membayarnya, Kinanti duduk di salah satu meja kantin yang berada di paling sudut dengan pemandangan memgarah ke jalan raya, kemudian ia mulai menikmati makanan yang di belinya.
Saat Kinanti sedang asyik menikmati makanannya, tiba-tiba matanya tertumpu pada sebuah pemandangan yang sangat membelalakkan matanya.
"Bukannya itu istri pak Xander ya? Dan lelaki yang di gandengnya kalau tidak salah adalah pengawalnya, tapi kenapa mereka semesra itu? Apakah pak Xander tahu kalau istrinya ada affair dengan pengawalnya, jadi diapun berlaku sama dan sialnya aku yang jadi pelampiasannya.
Hmm.. Sekarang aku tak perlu lagi merasa bersalah, dan aku tak akan bersikap manis di depan pak Xander agar dia tidak lagi berani menjadikanku bahan pelampiasannya." Kinanti berbicara pada dirinya sendiri agar tak lagi merasa bersalah, karena kini ia tahu apa penyebab Xander seberani itu kepadanya. Itu yang ada di pikiran Kinanti.
Lalu ia segera kembali ke kantornya dengan membawa beberapa kantong makanan yang telah di belinya tadi. Kini ia bisa melanjutkan pekerjaannya dengan tenang tanpa dihantui rasa bersalah kepada sesama perempuan yang suaminya telag tergoda olehnya walau hanya sebagai pelampiasan.
Dan dari sini Kinanti mulai pasang wajah angkuhnya, walau ia jadi merasa aneh dengan dirinya sendiri, tetapi ia harus seperti itu demi menahan Xander tak berani lagi berbuat nekat terhadapnya seperti tadi malam.
Sementara saat Kinanti asyik menikmati wisata kulinernya, Xander begitu kelabakan mencarinya, Kinanti tak berada di ruangannya, ponselnya tidak aktif tetapi entah kenapa ia gengsi menanyakannya kepada security.
Padahal seandaipun ia bertanya tak akan ada yang mencurigainya karena Kinanti adalah sekretarisnya dan saat ini tak ada di ruang kerjanya padahal jelas-jelas tadi ia sudah berada di ruangannya, tetapi karena profesionalisme kerjanya telah tertutup oleh urusan asmara, ia pun jadi malu sendiri bertanya tentang keberadaan Kinanti.
Xander hanya ingin menanyakan apa maksud perkataan Kinanti sebelum meninggalkan ruangannya tadi, karena Xander tidak juga menemukan maksud dari ucapan kinanti tentang 'seseorang yang tak lagi berstatus lajang.'
...****************...
Selamat membaca semua 🥰