
Andrea mengantar Danisa yang akan pulang setelah dua hari menginap dirumah utama,
Hanya kak Andra yang mengantar Danisa dengan sopir pribadi keluarga Andrea.
" Dan, ingat pesanku semalam ya, jangan kasih tau Arshlan dimana aku sekarang, dan kalaupun dia tidak mencariku, aku malah bersyukur" pesan Andrea walaupun dengan hati menahan sakit.
"Aku tau Dre, akupun tak rela kamu telah diperlakukan seperti itu oleh Arshlan. Yang penting sekarang kamu harus benar benar berubah, kembalilah sebagai Andrea yang semestinya, aku sangat berharap, saat kita berjumpa langsung nanti kamu sudah bukan Andrea yang menjadi sahabatku dimasa lalu, tapi menjadi Andrea yang baru, tapi tidak meninggalkan santun dan budi luhurnya" tutur Danisa penuh pengharapan.
"Aku akan bekerja keras untuk itu Dan, tetap main ke panti walau gak ada aku ya, biar adik adik tidak merasa kehilangan kakak kesayangan mereka." pinta Andrea
"Pasti Dre, ya udah aku berangkat dulu, kasihan kak Andra nunggu kelamaan." setelah saling melepas pelukan perpisahan mereka, Danisa segera masuk mobil untuk pulang, Andrea pun segera masuk rumah setelah mobil yang membawa kakak dan sahabatnya hilang dibalik pintu pagar tinggi rumah utama.
"ANDREA BARU, AKU DATAAANGG!!!" teriak Andrea dihalaman belakang rumah utama
......................
Danisa sedang menemani ibunya belanja saat ada seseorang yang memanggil namanya
"Arshlan.." gumam Danisa yang terdengar oleh ibunya
"Siapa Dan?" tanya ibunya
"Teman aku sama Andrea bu" jawab Danisa bertepatan dengan Arshlan sampai didepan mereka.
"Maaf bu, saya mengganggu, tapi ijinkan saya bicara sebentar sama Danisa ya bu" pinta Arshlan sopan meminta ijin kepada bu Indah ibu Danisa
Ibu Indah memandang ke arah Danisa, dan bu Indah mengijinkan saat tidak ada reaksi penolakan dari anaknya.
"Boleh, tapi jangan lama lama ya, ibu hampir selesai belanjanya" kata bu Indah,
"Baik bu, terimakasih." jawab Arshlan sambil agak membungkukkan badannya, lalu mengajak Danisa ke tempat yang agak menepi.
"Ada apalagi Arsh...?!" tanya Danisa dingin.
"Dan, aku gak tau harus mencari Andrea kemana lagi, aku mau menjelaskan yang sebenarnya ke dia Dan." kata Arshlan
"Sudahlah Arsh, lebih baik kamu lupakan saja Andrea, hatinya sudah terlalu sakit untuk menemuimu lagi" Saran Danisa
"Aku memang salah Dan, aku yang memulai dengan niat yang tidak baik, aku mau mau saja melakukan hal konyol yang Daniel ajukan, padahal....ahhh!! aku bener bener nyesel Dan" Ungkap Arshlan terlihat penyesalan
"Nyesel? Buat apa kamu menyesal Arsh? bukankah kamu dari awal hanya ingin menjadikan Andrea sebagai bahan taruhanmu saja? hah! tega banget kamu Arsh, Andrea cewek yang sangat baik tapi entah kenapa dia harus mendapat perlakuan seperti ini" marah Danisa tertahan
"Maka dari itu aku nyesel banget Dan, beberapa saat kenal Andrea aku tau kalau dia cewek yang sangat baik, makanya aku nyaman sama dia, bahkan aku melupakan taruhanku karena Andrea tak pantas untuk diperlakukan seperti itu" Danisa melihat penyesalan dimata Arshlan, tapi sakit hati yang Andrea rasakan membuat hati Danisa tidak bisa menerima penyesalan Arshlan.
"Sesalmu tak berarti lagi Arsh, lupakan Andrea, dia sudah memulai hidup bahagianya, terimakasih karena perbuatanmu justru sebagai gerbang pembuka untuk Andrea yang lebih tangguh, permisi" Danisa berlalu tanpa menunggu jawaban dari Arshlan.
......................
Ia datangkan personal traineer terbaik dikota itu khusus mendampingi latihan Andrea setiap harinya,
seiring berjalannya waktu, kini mulai nampak hasil latihan keras Andrea. karena hari harinya hanya diisi dengan latihan latihan dan latihan
Ponsel Andrea berdering saat ia tengah latihan treadmill di ruang gym prbadi rumah utama,
"Hallo Dan.." sapa Andrea kepada sang penelpon yang ternyata Danisa.
"Hai Dre, aku lagi di panti nih, adek adek kangen kamu, mereka berharap kamu datang menengo mereka secepatnya, kalau mau telpon kamu mereka takut ganggu kesibukan kamu katanya" cerita Danisa diseberang sana.
"Iya Dan, katakan sama mereka kalau aku sudah gak sibuk lagi pasti akan datang kesana, kalau mau telpon telpon aja, jangan sungkan, tiap aku tellpon ibu katanya mereka baik baik saja, kangen tapi gak pernah merengek, ahh rupanya ibu menjagaku biar tidak terlalu kepikiran adek adek" kata Andrea yang pasti buat adik-adiknya senang karena Danisa mengaktifkan loudspeaker ponselnya.
"Iya, ibu Rima juga bilang begitu ke aku, yang penting kamu tetap fighting dengan usaha kamu, tapi jangan lupa jaga kesehatan kamu juga" nasehat Danisa.
"Iyaa, makasih perhatiannya. ehmm ada ibu gak Dan, pengen ngomong aku, seharian belum sempat kasih kabar" Andrea menanyakan keberadaan ibu Rima
"Gak ada Dan, beliau keluar ada urusa katanya" jawab Danisa
"Ooh ya udah nanti biar aku telpon ibu langsung aja, salam sayang buat adek2 semua ya Dan" pesan Andrea
"Iyaa, ya udah Dre lanjut latihan kamu, bye" Danisa mengakhir obrolan mereka
"Bye Dan" jawab Andrea kemudian melanjutkan lagi latihan treadmill nya.
......................
"Papaaa... lihat ini siapa yang sedang berenang!!" seru sebuah suara perempuan setengah baya saat Andrea sedang berenang, dan Andrea langsung menghentikan latihannya saat mendengar suara yang sangat keras bahkan di dalam air.
"Mamaaaa..!!!" teriak Andrea saat melihat sang pemilik suara, dan langsung bergegas naik untuk melepaskan rindunya pada sang mama.
"Eiitttsss!! Stop! kamu basah..." cegah mama Andrea supaya tidak mendekat, tapi Andrea tetap saja menghambur kepeluka sang mama
"Aahhh.. bodo amat, Andrea kangen mama" kata Andrea sambil mendekap erat mamanya dan sang mama pun membalas pelukan Andrea tak kalah erat, saat itu muncul sang papa dari dalam rumah berjalan menghampiri mereka, spontan Andrea melepas pelukan mamanya dan berlari kearah papanya dan langsung melepaskan rindu yang telah sekian lama.
"Papaaa, Dre kangen papaa...!" seru Andrea dalam pelukan papanya, entah kenapa saat dipelukan papanya Andrea tak kuasa menahan emosinya, ia terisak, ia rindu cinta pertamanya, ia rindu pelindung utama hidupnya yang Andrea tinggalkan hanya untuk mencari ketulusan hidup, tapi setelah sekian tahun pencarian, ia hanya mandapatkan Danisa seorang, karena yang lain lebih menghindari Andrea dengan cara halus maupun terang terangan.
"Hey..!! anak papa yang cantik kenapa nangis? katanya kangen kok malah nangis??" papa Andrea menggoda putrinya yang begitu dirindukannya, walaupun sebenarnya ia tau semua yang telah dialami Andrea.
Andrea justru makin kencang terisak hingga sang mamapun mendekat dan ikut mengusap punggung Andrea untuk menenangkannya.
"Tenang saja nak, papa ada disini sekarang, papa mama tak akan ninggalin kamu lagi, biarlah sekarang kakak kamu yang mengurus urusan bisnis papa diluar negeri, yahh walaupun papa melakukan ini sangat terlambat, andai papa tidak egois dengan ambisi papa, kamu pasti tidak akan mengalami ini" ucapan papa Andrea tergetar mengingat ia lebih mementingkan kesibukannya hingga Andrea lebih memilih tinggal di panti asuhan milik sahabatnya, hingga Andrea mengalami kesulitan demi kesulitan, bukan kesulitan ekonomi, tapi kesulitan dalam pergaulan.
"Papa jangan bicara begitu, papa mama tetap orangtua yang perhatian walau kita berjauhan. tapi dari kejadian demi kejadian yang telah Andrea alami, Andrea pikir ini adalah jalan Tuhan untuk membuat Andrea menjadi pribadi yang lebih tangguh, membuat Andrea menemukan kepercayaan diri Andrea kembali yang sempat hilang. Andrea juga sangat beruntung mempunyai kak Andra yang selalu diam diam menjaga Andrea" kata Andrea tak mau orang tuanya merasa bersalah karena merasa telah 'menelantarkan' hidup Andrea.
...****************...