Andrea

Andrea
Xander, The Mood Breaker



"Kenapa kamu selalu mengingatkan aku tentang pertunanganku sih dek?!" Arshlan nampak agak kesal dengan adiknya.


"Ya, biar abang ingat dan tidak lagi cari muka dihadapan Andrea." Kata Xander sambil berbisik ke telinga kakaknya, dan terlihat mata Arshlan membulat.


"Perkataanmu kasar banget tau gak sih?!" geram Arshlan dan langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan tempat itu dengan wajah menahan marah.


"Kamu ngomong apa sama kakak kamu sampai marah banget begitu?" tanya Andrea yang sedari tadi pasang muka cuek


"Ngomong apa yang pengen aku omongin lah Dre." kata Xander dengan wajah innocent nya.


"Jangan kayak anak kecil lah Xen!" kata Andrea malas.


"Siapa kaya anak kecil? enggak!" sahut Xander.


"Ya kamu lah, itu kenapa Arsh jadi kaya marah banget begitu?" Andrea seolah tak terima kalau Arshlan pergi disebabkan perkataan dari Xander.


"Kamu kok kaya gak terima gitu sih Dre."


"Bukannya begitu Xen, aku pikir kamu saja yang terlalu kekanakan melihat keakraban kami."


"Bukan kekanakan juga lah Dre, cuma kaya gak bisa nerima aja kalau kamu sekarang bisa lebih welcome sama bang Arsh." Xander membela diri.


"Begitu gak mau dibilang kekanakan." Andrea pasang senyum smirknya seolah mengejek perkataan Xander.


"Xen, kamu lupa, siapa dulu yang meminta dengan sangat sama aku agar aku bisa memaafkan Arshlan? Kamu kan yang meruntuhkan kerasnya hati aku karena perbuatan Arsh dimasa lalu? Tapi kenapa sekarang kamu malah seoalah tidak suka kalau hubungan kami bisa membaik kembali." Andrea mengingatkan Xander


"Tapi yang aku lihat, niat abang bukan cuma sekedar ingin memperbaiki hubungan sebagai teman tapi lebih, sejak tahu kalau Andrea yang dicarinya selama ini adalah kamu." jelas Xander.


"Dan kalaupun itu benar, aku rasa kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadi seseorang, walaupun itu kakak kamu sendiri, terlepas bagaimana nanti aku menanggapi sikap Arsh kepadaku, hanya aku yang tahu, karena aku masih tahu batas, kamu perlu tahu itu Xen!" Seru Andrea tertahan agar tak di dengar banyak orang, karena saat ini tengah berada di tempat ramai dan juga di acara orang lain.


"Dre, tidak pekakah kamu kenapa aku seperti ini?!" Xander seolah memberi petunjuk kenapa ia bersikap seperti itu.


"Maaf Xen, aku hanya berpikir realistis, aku tidak mau menebak-nebak yang nanti hanya akan berujung pada sikapku yang akan jadi seperti anak kemarin sore yang mudah menafsirkan perhatian seseorang seolah orang itu ada hati sama kita, tidak Xen. Aku selama ini cuma berpikir kita rekan bisnis dan bisa menjalin persahabatan tidak lebih, maaf Xen aku permisi karena aku pikir suasana yang aku rasakan disini sudah tidak lagi membuatku nyaman." Andrea beranjak dari duduknya meninggalkan Xander dengan penyesalan atas perkataan Andrea, kata-kata yang diterimanya seolah bagai palu godam yang menghantam relung hatinya yang sudah begitu banyak berharap akan kedekatan mereka selama ini.


Xander memandang Andrea yang mendekati Randy asisten pribadinya, Andrea meminta kunci mobilnya dan berpesan agar Randy kembali ke kantor dengan dijemput sopir kantor dan menghandel pekerjaan selanjutnya, tak lama terlihat Andrea pergi, ia menemui sang tuan rumah acara tersebut sepertinya Andrea sedang berpamitan dan tak lama berjalan menuju pintu keluar untuk meninggalkan tempat yang sudah tidak lagi membuatnya nyaman.


Xander melihat Randy yang menatapnya tajam, seolah ia tahu bahwa Xander lah yang telah membuat mood atasannya rusak dan meninggalkan tempat itu sebelum semuanya selesai, kemudian Randy pun mengikuti Andrea meninggalkan tempat itu, dan Xander hanya bisa mengacak kasar rambutnya, ia tidak menyangka ungkapan perasaannya akan berakhir seperti ini, apakah karena Xander salah tempat? Dan akhirnya Xander pun ikut meninggalkan tempat itu diikuti asistennya.


***


Andrea tidak lagi kembali ke kantor, ia pergi menenangkan dirinya kesebuah tempat yang ditempuhnya hampir dua jam perjalanan dari pusat kota, dia membawa sendiri mobilnya menuju pantai.


Dihirupnya dalam udara pantai, matahari masih bersinar panas namun tidak lagi seterik tengah hari, ia menyusuri panjangnya bibir pantai yang tidak begitu ramai seperti saat hari libur.


Gelombang ombak yang menari menuju tepian berirama berlari tinggi rendah membuat Andrea tergoda untuk bermain air, digulungnya celana panjang kerja yang dipakainya sampai batas lutut dan ia mulai bermain dengan gelombang ombak, ia tertawa lepas saat ombak agak tinggi menghantam tubuhnya dan ia terlambat menghindar, asin air laut memercik sampai wajahnya hingga wajahnya basah, mulut merasakan asinnya air laut dan segera ia menepi untuk menngeringkan wajahnya, tak diperhatikannya kiri kanan karena pandangan yang mengabur terkena air laut hingga ia bertabrakan dengan keras dengan seseorang.


"Maaf!" seru keduanya bersamaan, lalu sama-sama tersenyum kaku.


Orang yang bertabrakan dengan Andrea yang ternyata seorang cowok segera melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Andrea.


"Maaf tadi mata saya kabur terkena air sangat banyak makanya saya berlari tanpa memperhatikan." kata Andrea setelah bisa menguasai diri dari rasa gugupnya.yjo


"Yah sama-sama, saya pun kurang memperhatikan karena asyik memandang deburan ombak." kata cowok tersebut.


"Ehmm kalau begitu saya permisi ya." pamit Andrea kemudian hendak berlalu.


"Maaf nona, bolehkah kita kenalan?" tanya si cowok dan Andrea berhenti hendak membalikkan badannya lagi.


"Saya rasa tidak perlu!" seru sebuah suara didekat mereka, sontak Andrea melihat ke sumber suara begitupun cowok tadi.


"Arsh..?!" gumam Andrea


"Ooh, maaf bro, lain kali ceweknya jangan ditinggal begitu saja, apalagi ceweknya secantik nona ini." lelaki yang ditabrak itu pun berlalu dari hadapan Andrea sambil menggelengkan ke pallalajja juga smirk tersungging dibibirnya dengan tatapan mata ke Arshlan, seolah menyayangkan Arshlan yang membiarkan Andrea sendirian, padahal mereka datang hanya sendiri dan juga tanpa ada janji.


"Kok kamu sudah sampai disini, sama siapa?" tanya Arshlan sambil mendekati Andrea.


"Aku sendiri." Jawab Andrea singkat.


"Kenapa tidak ajak Xander?" tanya Arshlan lagi.


"Aku sampai tempat ini juga karena dia." sahut Andrea ketus lalu berlalu dari hadapan Arshlan, ia menuju sebuah rumah makan dan Arshlan pun mengikutinya


Andrea memesan sebuah kelapa muda, ia duduk lesehan sambil menunggu pesanan seafoodnya matang.


"Ngapain kamu ikut kesini!" ketus Andrea saat dilihatnya Arshlan duduk dimeja yang sama dengannya.


"Bebaslah, ini kan tempat umum!" Arshlan pun tak kalah ketus.


"Sana tuh, meja masih banyak yang kosong, ngapain juga ikut gabung sini, nanti ada yang lihat dikira ada apa-apa!" Andrea terlihat makin kesal karena Arshlan mengingatkan tentang Xander yang membuatnya pergi jauh ke pantai hanya untuk menenangkan diri, mood yang tadi sudah membaik kini memburuk kembali.


"Ssstt!, please jangan protes! biarkan aku disini." Arshlan mengangkat telunjuk ke bibirnya tanda tak mau dibantah lagi, dan Andrea akhirnya yang berdiri hendak pindah tempat.


"Stop Dre, jangan pindah! tolong temani aku disini, aku butuh teman ngobrol." Arshlan mencegah Andrea agar tak berpindah tempat, dan Andrea pun menekan egonya ia akhirnya duduk kembali melihat Arshlan yang begitu berharap ada teman ngobrol.


...****************...


Please!! Ditunggu like dan komennya readers..


Terimakasih...