Andrea

Andrea
Kunjungan Sahabat



Siang bergulir menuju sore, beberapa saat lagi waktu untuk bubaran kantor, kecuali yang harus kerja lembur, Arshlan berada di ruang kerjanya sedang berkutat dengan beberapa laporan dan juga dutekuninya diagram-diagram pencapaian perusahaannya yang tertera di layar laptop dihadapannya. Ponselnya yang ditaruh di samping laptop berdering, dilayar tertera nama sahabatnya yang sudah lama menetap diluar daerah untuk mengurus usaha orang tuanya.


"Hallo sob, bagaimana kabar?" sapa Arshlan


"Aku baik selalu." jawab suara diseberang telpon


"Ada apa nih, gak sibuk kamu hingga menyempatkan diri buat sekedar telpon aku?" tanya Arshlan sedikit menyindir sahabatnya itu.


"Sialan, kena mental aku!" seru suara diseberang merasa bila sedang kena sindir, sementara Arshlan hanya tertawa dengan perkataan sahabatnya. "Masih di kantor?" tanya si penelpon.


"Masih, bentar lagi baru selesai." jawab Arshlan


"Ya sudah, kalau begitu nanti aku hubungi lagi saat kamu sudah selesai, biar urusan kerjaan kamu lekas selesai." sahabat Arshlan mengerti dengan kesibukannya.


"Oke, jangan cuma omongan doang, kalau perlu kita kumpul, dah lama gak gila-gilaan bareng." Kata Arshlan disambut tawa dari seberang begitupun Arshlan juga tertawa.


"Iyaa, makanya kerjaan selesaiin dulu, ya sudah aku tutup dulu." telpon diseberang telah ditutup, dan Arshlan pun kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Tok tok tok!


Pintu ruang kerja Arshlan diketuk dari luar


"Masuk!" seru Arshlan, kemudian terdengar pintu terbuka dan ditutup kembali, Arshlan tidak melihat kearah pintu karena ia tengah memperhatikan pekerjaannya dengan serius.


"Ada apa?!" Tanya Arshlan saat sepintas terlihat bayangan seseorang berdiri tepat dihadapannya, tapi tidak ada jawaban dari orang tersebut. "Ck! ditanya kenapa diam saja sik pak Ar...is" Ucapan Arshlan yang agak kesal terhenti saat dipandang orang yang berdiri didepan mejanya yang ia kira asistennya, pak Aris.


"Bwa hahaha...!!" tawa orang didepannya meledak begitu saja saat melihat Arshlan yang begitu kesal, tapi langsung terkejut saat melihat bahwa yang berdiri didepannya bukan pak Aris.


"Sialan kamu Ron, kena prank lagi dasar kunyuk!!" seru Arshlan sambil berjalan ke tempat sahabatnya berdiri, lalu ditinjunya lengan sahabatnya itu hingga tawa keduanya pecah.


"Kejutan gak?" goda Ronan


"Bodo amat, untung jantungku masih kuat terpasang ditempatnya." muka Arshlan terlihat kesal.


"Tadi aku telpon sudah ada dilobi, kebetulan aku ketemu Xander mau pulang kayanya, lalu dia menyuruhku langsung ke ruangan kamu saja." jelas Ronan.


"Kapan sampai?" tanya Arshlan


"Tadi pagi."


"Kenapa gak kasih kabar dari tadi, kan bisa aku kebut nih kerjaan, jadi bisa hang out bareng nih mumpung akhir pekan."


"Kalau kasih kabar gak jadi surprise dong, gak bisa lihat muka konyol kamu kaya tadi." Ronan mengumbar tawanya kembali, dan mendapat pukulan Arshlan dilengannya.


"Kopi saja lah" jawab Ronan, dan Arshlan menelpon pantry untuk meminta dua cangkir kopi, tak berapa lama, OB masuk membawakan pesanan Arshlan.


Hampir satu jam, Arshlan baru terlihat menata berkas yang telah selesai diperiksanya, juga mematikan laptop nya.


"Selesai?" tanya Ronan saat meja Arshlan tak lagi terdengar sunyi.


"Sudah, sorry buat kamu jenuh nunggu." Kata Arshlan sambil menyimpan dokumen dilaci meja kerjanya, kemudian ia menghampiri Ronan yang duduk di sofa.


"Gak apa lah, kan aku yang ganggu kerjaan kamu."


"Mau jalan kemana nih mumpung akhir pekan, besok libur kerja, kangen juga gila-gilaan sama kamu." Arshlan mengenang masa bandelnya bersama Ronan.


"Tempat biasa, masih suka kesana gak?" tanya Ronan.


"Saat sedang suntuk dan mau tidur tapi susah, gak berani senekat dulu."


"Takut calon nyonya marah ya?" goda Ronan.


"Hah!! bodo amat sih kalau sama dia, lebih peduli kesehatan saja, lagian model perempuan kaya dia pasti suka dateng juga ketempat begitu, secara dia suka kebebasan, gak nyangka aja, aku akan terjebak hidup selamanya sama dia." seakan sesal pun tak ada guna bila menyangkut nasibnya yang akan menjalani rumah tangga bersama Raisa.


"Gak perlu melow gitu lah bro, jalani saja, bila tidak cocok bubar, beres kan?"


"Masalahnya tidak segampang itu. Ahh!! sudahlah! gak usah bahas itu, mending kita buat happy saja." Arshlan tak mau larut dengan rasa sesal dihatinya.


***


Jam menunjuk pukul 21.30, saat kedua sahabat Arshlan dan Ronan bersiap menuju nigth club, langganan keduanya dulu, mereka kesana hanya untuk sekedar bersenang-senang sejenak melupakan beban hidup.Keduanya duduk dimeja paling pojok, hingga bisa mengamati para pengunjung walau dengan penerangan redup.


"Sob, bukannya itu calon nyonya kamu ya?" Ronan memberitahukan Arshlan saat dilihatnya Raisa masuk dengan beberapa orang cowok cewek, Raisa nampak berangkulan mesra dengan salah satu cowok yang datang bersamanya.


"Binggo!! hal yang aku harapkan selama ini, bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang diperbuatnya saat diluaran, kamu masih bisa diandalkan seperti dulu kan Ron?" tanya Arshlan yang langsung diangguki oleh sahabatnya itu, lalu dengan segera sahabatnya beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu!" Arshlan menarik tangan Ronan.


"Ada apa?"


"Nanti kalau dia lihat aku dan nyamperin aku, aku akan pura-pura mabuk, akan aku lihat reaksi dia seperti apa, apakah mau mengajakku pulang atau membiarkanku terkapar disini." Arshlan membuat rencana dan disambut unjuk dua jempol dari sahabatnya sebelum berlalu meninggalkan tempat duduk, sementara Arshlan hanya duduk menikmati musik, tanpa tertarik menyentuh minuman beralkohol didepannya.


...****************...