
Tok!Tok!
Pintu ruang rawat papa Arga ada yang mengetuk dari luar saat ruangan itu berubah menjadi agak canggung karena pertanyaan papa Arga kepada Andrea.
Andrea berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu yang diketuk seseorang dari luar.
"Siapa sih? tumben tidak langsung masuk?" gumam Andrea penuh tanya,, karena biasanya kalau pintu diketuk dari luar langsung pintu dibuka sendiri tanpa menunggu seperti ini, karena biasanya yang datang kalau bukan perawat ataupun dokter pasti keluarganya.
Andrea agak terkejut saat membuka pintu dan dilihatnya Xander yang berdiri didepan ruang rawat papanya dengan membawa bucket buah.
"Kamu Xen, ayo masuk." ajak Andrea, dan Xander pun segera masuk dan setelah itu diserahkannya buah tangan yang ia bawa kepada Andrea, kemudian ia pun mendekat ke ranjang dimana papa Arga terbaring lemah.
"Selamat siang om." sapa Xander sambil meraih tangan kanan papa Arga.
"Nak Xander, terimakasih sudah datang menengok om." kata papa Arga sedikit lemah.
"Maaf karena saya baru tahu om, tadi saya datang ke kantor, ternyata yang disana bukan Andrea tetapi kak Andra, saya tahu om dirawat dari kak Andra."
"Tidak apa nak." kata papa Arga sambil menggenggam erat tangan Xander. Bersamaan dengan itu mama Arini masuk.
"Ada nak Xander, sudah lama nak?" tanya mama
"Belum lama kok tante." jawab Xander sambil mendekat ke arah mama Arini, diajaknya mama dari Andrea untuk bersalaman dan diciumnya punggung tangan wanita setengah baya itu.
"Andrea sudah makan siang belum nak?" tanya mama Arini kepada anak gadisnya.
"Belum ma" jawab Andrea.
"Ya sudah kamu makan siang dulu sana, ini sudah lewat jam makan siang, ajak sekalian nak Xander kalau tidak keberatan." kata mama.
"Ayo Xen, makan siang dulu." ajak Andrea, dan Xander hanya mengangguk tanda setuju, setela berpamitan pada kedua orang tua Andrea, mereka segera keluar dari ruang rawat itu.
Mereka berjalan menuju area kuliner didekat rumah sakit.
"Bagaimana kabar kamu selama kamu jaga jarak dariku Dre?" tanya Xander
"Aku masih sama seperti saat masih sering bertemu sama kamu." Jawab Andrea dengan tatapan tetap lurus ke jalan.
"Sudahkah dapat tambatan hati?" tanya Xander penuh selidik.
"Maaf, itu bukan urusan kamu."
"Jadi benar?"
"Maaf Dre, Cuma rasanya tidak rela saja kalau sampai kamu dekat apalagi sampai jadian sama cowok lain." mendengar ucapan Xander, Andrea spontan menghentikan jalannya dan menatap Xander dengan tajam.
"Lanjut bicara atau tidak jadi makan?" tanya Andrea masih dengan tatapan tajamnya.
"Oke, maaf. Aku tidak mau kamu melewatkan makan siang kamu." Xander mengalah, lalu ditariknya tangan Andrea menuju area kuliner yang sudah nampak dari mereka berdiri.
Mereka makan dengan tidak banyak bicara, Xander melihat wajah murung Andrea, pasti karena kondisi papanya sekarang, Xander seakan menyesal telah memancing di air keruh dengan membahas hal pribadi Andrea disaat yang tidak tepat. Selalu begitu, bahkan dulu Andrea sampai kesal serta sedikit marah disebabkan ucapan Xander yang tidak melihat situasi dan kondisi Andrea, dan tadi ia hampir melakukan kesalahan yang sama, untung Andrea masih bisa mengontrol emosinya, jadi acara makan siang bersama dadakan itu tidak berakhir berantakan.
Makan siang selesai, kini mereka masih duduk dibangku salah satu kedai dengan menikmati segelas es teh manis disiang hari yang terik.
"Kenapa kamu berkamuflase sebegitu kerasnya Dre?" Xander membuka pembicaraan lalu didapatinya Andrea memandangnya dengan tatapan menelisik penuh tanya.
"Aku tahu kesedihan kamu karena kondisi papa kamu, demi melihat papa kamu segera pulih, bahkan kamu bersikap seolah-olah tegar saat didekat papa kamu, tapi kamu tidak harus selalu bersikap pura-pura tegar begitu Dre, luapkanlah, menangislah bila itu akan melegakan hati kamu, sejenak lupakan dulu pekerjaan yang hanya menambah beban pikiranmu. Walaupun kamu memilih bekerja dari rumah demi menemani papa kamu disaat terbaring seperti ini, tapi bisa jadi itu malah akan membuat kondisi papamu lebih lambat proses penyembuhannya, karena ia sering menyaksikan kamu membawa pekerjaan kamu didekatnya, ia ingin menyaksikan anak gadisnya sejenak bebas dari rutinitas yang menyita pikirannya, jadi saranku, bolehlah kamu sejenak istirahat total dari pekerjaanmu saat bersama papamu dengan kondisi seperti saat ini. Maaf bila aku salah menjabarkan kondisi yang kamu alami saat ini, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat sekilas saar berada diruang rawat papa kamu tadi, sekali lagi maaf kalau aku sudah banyak bicara dan maaf kalau aku membuatmu tersinggung." Xander menutup ucapannya dengan permintaan maaf yang sangat dalam, takut membuat Andrea tersinggung dengan panjang lebar ucapannya tadi.
"Sepertinya ucapan kamu benar adanya Xen, tidak seharusnya aku membawa pekerjaanku kesini bila ingin melihat papa lekas sembuh, terimakasih sudah mengingatkanku, biar sementara pekerjaan dihandel kakak dengan bantuan pak Randy, aku ingin fokus dengan kesembuhan papa, tak perlu minta maaf Xen, justru aku yang sangat berterimakasih karena semua ucapan kamu itu benar adanya." Ucapan Andrea rupanya membuat perasaan dan hati Xander lega, sejujurnya Xander takut Andrea tersinggung dan ingin lebih menghindarinya lagi daripada yang sudah terjadi.
"Menangislah bila ingin menangis Dre, kamu tidak perlu berpura-pura tegar, mungkin sebaiknya kamu pulang dahulu bila mama kamu tidak keberatan menjaga papa kamu sendirian saat ini, tenangkan dirimu, luapkan apa yang menyesak dalam dada kamu, tapi setelah itu kembalilah jalani hidup normal kamu, semoga itu bisa menjadi penyemangat papamu karena melihat anak gadisnya yang ceria lagi itu akan menjadi energi yang positif bagi papa kamu." kembali keluar nasehat Xander untuk Andrea.
"Kalau begitu aku mau telpon mama dulu kalau aku mau pulang, biar nanti kak Eira yang menemani mama." kata Andrea dijawab anggukan oleh Xander.
Andrea mengambil ponselnya, dicarinya nama mamanya dalam daftar panggilannya, tak lama terjadi percakapan antar mama dan anak itu, setelah itu nampak Andrea mengakhiri pembicaraannya.
"Bagaimana?" tanya Xander.
"Aku boleh pulang, kata mama, kak Eira juga baru saja menelpon mengabarkan kalau sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit." jelas Andrea.
"Syukurlah, mama kamu jadi tetap ada teman, mau pulang sekarang?" tanya Xander dan Andrea hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Xander.
"Tapi aku belum pamit sama mama papa kamu!" seru Xander pelan.
"Tidak apa, nanti aku kirim pesan kalau aku minta diantar kamu pulang, besok kamu bisa tengok papa lagi kalau waktu kamu luang." Ucapan Andrea seakan bagai angin segar untuk Xander, karena dengan diijinkannya ia buat menengok papanya kembali itu berarti Andrea sudah mempersempit jarak yang dibuatnya selama ini.
"Terimakasih sudah diijinkan buat menengok papa kamu lagi." binar bahagia tersirat diwajah Xander.
"Hey! biasa saja kali Xen, ayo antar aku pulang!" ucapan ketus Andrea saat ini sudah berbeda dengan tadi saat berjalan menuju area kuliner, kini terlihat Andrea lebih lega, sepertinya nasehat Xander tadi bisa diterima dengan baik oleh Andrea.
Kini mereka sudah sampai diarea parkir dimana mobil Xander berada, setelah keduanya masuk, Xander segera menjalankan mobilnya menuju rumah Andrea untuk mengantar gadis itu pulang kerumah untuk sejenak meredakan sesak yang dirasanya saat ini.
...****************...