Andrea

Andrea
Menarik Laporan



Andrea mengajak Arshlan menuju kantor polisi di mana Adis dibawa, saat sampai di sana Adis sedang dimintai keterangan, dan terlihat Adis menangis seolah menyesal dengan apa yang telah dia lakukan.


"Selamat siang pak, apakah pemeriksaan terhadap saudari Adis sudah selesai?" tanya Andrea pada petugas


"Sudah mbak, baru saja selesai, ada yang bisa kami jelaskan kepada anda? tanya petugas tersebut. Terlihat Adis menundukkan muka tidak berani menatap Andrea, raut wajahnya seolah memperlihatkan ketakutan dan malu.


"Ehm begini pak, saya adalah anggota keluarga yang terkena teror orang suruhan saudari Adis, orang yang dituju Adis untuk diteror adalah saya tetapi sayangnya saya tidak tinggal di panti itu lagi, dan karena masalah ini sudah dipasrahkan kepada saya oleh ibu saya, dan saya akan mencabut laporan dan tuntutan saya terhadap saudari Adis." perkataan Andrea serta merta membuat Adis terlonjak dari duduknya seolah tak percaya, ditatapnya wajah Andrea dengan wajah berderai airmata, orang asing yang dijahatinya ternyata berhati malaikat.


"Baiklah bila itu atas kemauan anda sendiri secara sadar, kami akan memproses pencabutan laporan anda." kata petugas tersebut dan diangguki oleh Andrea.


"Terimakasih ya mbak, saya sudah jahat sama mbak dan keluarga, tetapi mbak mau membebaskan saya, terimakasih mbak, terimakasih." Adis berucap dengan deraian airmata penyesalnnya, dan Andrea pun memeluknya untuk memberinya ketenangan.


"Sudah, kamu jangan bersedih lagi, jangan menangis lagi." kata Andrea masih memeluk Adis, dan terasa di pundak Andrea Adis menganggukkan kepalanya denga cepat, lalu Andrea mengurai pelukannya, disapunya sisa airmata yang masih meleleh di pipi Adis.


"Aku sudah tahu sedikit tentang kamu dari bu Rati asisten rumah tangga di rumahmu, dan aku mau kamu memberikan penjelasan secara lengkap kepadaku tentang kesedihan masa lalumu, anggap aku sebagai temanmu, ungkapkan apa yang mengganjal di hati kamu agar beban di hatimu sedikit berkurang." Adis malah menangis kembali mendengar perkataan Andrea, gadis itu begitu terharu, dan Andrea menggelengkan kepalanya memberi kode Adis agar tak menangis lagi, dan kembali diusapnya airmata Adis.


"Tenangkan hati kamu ya, sudahi sedihmu, ayo senyum." perintah Andrea, tetapi Adis menggeleng lemah.


"Coba dulu." kata Andrea lembut, dan Adis berusaha mengukir senyum seperti yang diharapkan Andrea, akhirnya tersungginglah senyum Adis walau akhirnya lengkung senyumnya cenderung patah, lalu Adis memeluk Andrea dengan erat dan berucap terimakasih berulang-ulang.


Tak berapa lama petugas kembali ke meja yang di tempati Andrea dan Adis, dia menyodorkan selembar kertas.


"Saudari Andrea tolong tandatangani surat pencabutan laporan ini sebagai tanda bukti." kata sang petugas dan Andrea pun langsung menandatangani berkas tersebut, dan setelah semua urusannya selesai mereka segera pulang, Andrea memanggil taksi yang melintas untuk mengantarkan Adis pulang.


Sebelum Adis pergi, Andrea berkata kalau ia besok akan berkunjung kerumahya, dan Adispun dengan senang hati mengiyakan kemauan Andrea.


"Haaaahhh.. ! hari yang sangat melelahkan." gumam Andrea sambil meregangkan kedua tangan dan tubunya.


"Kita makan dulu yuk, dari tadi kamu belum makan kan?" ajak Arshlan dan diangguki Andrea dengan cepat.


"Ayo! sekarang aku baru merasakan kelaparan." kata Andrea yang hanya ditanggapi senyum dan gelengan kepala pelan oleh Arshlan.


**


Andrea dan Arshlan sampai di panti saat malam menjelang, nampak ibu Rima dan mama Arini menyambut kedatangan mereka.


"Bagaimana hasilnya?" tanya mama Arini tidak sabar sambil menuntun anaknya duduk, dikuti Arshlan dan ibu Rima.


"Kami berhasil menemukannya ma, bersamaan dengan polisi datang dan membawanya ke kantor, saat itu dia di rumah hanya dengan beberapa asisten rumah tangganya, orang tuanya sedang tidak di rumah, karena ada urusan bisnis di luar negeri, mendengar cerita asisten rumah tangganya tentang gadis itu membuatku tidak jadi meneruskan laporanku.


Aku cabut laporanku di kantor polisi dan sekarang gadis itu sudah bebas, ya memang semula dia tidak suka karena aku bisa dekat dengan lelaki yang disukainya yaitu Arik, tapi aku sudah menjelaskan kalau aku tidak ada hubungan apa-apa dan mengenalkan siapa Arsh bagiku kepadanya, gadis itu hanya butuh perhatian jadi tidak seharusnya ia mendapat hukuman, perbuatannya kepada panti kita ini aku pikir karena cari perhatian saja, tapi sepertinya ada kesalah pahaman juga antara Arik dan Adis, nama gadis itu, jadi besok aku akan jadi perantara agar tak ada kesalah pahaman lagi, dan untuk kedepannya Adis tak melakukan hal yang aneh-aneh lagi." jelas Andrea panjang lebar, dan terlihat kedua orangtua itu mengerti dengan penjelasan Andrea.


"Syukurlah sekarang sudah jelas permasalahannya, dan kamu sudah memilih keputusan yang tepat." kata mama Arini di angguki setuju oleh ibu Rima.


"Ooh ya nak, terimaksih sudah membantu Andrea." kata ibu Rima.


"Terimakasih Arsh.." kata mama Arini juga.


"Tidak apa tante, sudah seharusnya saya menemani Andrea, kalau begitu saya permisi, selamat malam." pamit Arshlan lalu berjalan keluar diikuti Andrea yang mengantar sampai ke mobilnya.


"Arsh, besok aku akan ke rumah Adis lagi, aku berharap aku bisa membantu menyelesaikan kesalah pahaman yang sudah terjadi di antara mereka begitu lama." Kata Andrea saat Arshlan akan masuk ke dalam mobilnya.


"Aku ingin ikut, tetapi besok aku ada rapat penting, aku tidak mau kamu didekati sama fans brondong kamu itu."


"Arsh... cuma kamu." kata Andrea setengah berbisik menimpali kekhawatiran Arshlan.


"Jangan buat fikiranku traveling Dre, suaramu membuat aku jadi berpikir yang iya-iya." ucap Arshlan menggoda Andrea.


"Arsh.. kayaknya kamu ada yang perlu dicuci deh.."


"Iya nih mobil aku." Arshlan yang sebenarnya tahu maksud Andrea malah mengalihkan pembicaraannya sambil menahan senyumnya.


"Pikiran kamu tuu.." kata Andrea yang disambut tawa Arshlan.


"Sesekali becanda Dre, hidupmu terlalu serius sejak jadi wanita karier." kata Arshlan masih dengan tawanya.


"Tahu kan siapa yang membuatnyaa.." Sarkas Andrea.


"Iyaaa, ampun dehh kalau begitu, ya sudah aku pulang dulu ya." Kata Arshlan akhirnya menghentikan godaannya pada Andrea, lalu ia masuk ke mobilnya.


"Langsung istirahat kamu ya Dre." pesan Arshlan.


"Kamu juga, besok biar badan dan pikiran fresh saat rapat." Andrea balik berpesan.


" Iyaa, selamat istirahat ya.Love you Dre.." Kata Arshlan sambil menjalankan mobilnya, dan ucapan Arshlan yang terakhir mampu membuat wajah Andrea menghangat, andai saat itu hari terang, akan sangat jelas kalau wajah Andrea sedang bersemu merah karena malu tetapi senang.


Andrea tersenyum sendiri sambil memejamkan matanya mengingat kembali apa yang Arshlan ucapkan barusan.


" Love you too Arsh.." gumam Andrea, rona bahagia begitu terlihat di wajah Andrea, lalu dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah masih dengan senyum malu, padahal saat itu hanya dia sendiri.


Andrea yang biasanya serius dan tegas saat ini laksana gadis belia yang baru ditembak pujaan hatinya, 'hanya' karena ucapan love you dari Arshlan, yah karena ini pertama kalinya Andrea mendengar kata-kata yang ia ingin dengar dari Arshlan selama ini.


...****************...