Andrea

Andrea
Fitting



Selang dua hari keluarga Daniswara mendatangi panti asuhan Kasih Ibu milik ibu Rima menemui mama Arini juga ibu Rima untuk meminta Andrea menjadi menantu keluarga Daniswara, mereka juga langsung menentukan tanggal pernikahan keduanya yang akan dilangsungkan sekitar satu bulan lagi.


Dengan waktu yang terbilang sangat singkat Andrea juga Arshlan mempersiapkan segalanya dibantu oleh keluarga mereka.


Waktu semakin merangkak mendekati hari sakral yang dinantikan oleh kedua insan yang sedang berdebar menunggu waktu akan dipersatukannya mereka dalam ikatan janji suci sebuah pernikahan.


Dua minggu sebelum terlaksananya hari sakral itu Andrea juga Arshlan melakukan fitting baju yang akan mereka kenakan saat ijab kabul juga saat resepsi nanti.


Kebaya modern bernuansa putih dengan berhiaskan manik dan kristal swarovski silver yang akan dikenakan Andrea saat melakukan janji suci terlihat sangat pas membalut tubuhnya, ia jadi terlihat lebih anggun.


Andrea juga mencoba sebuah gaun untuk acara resepsi pernikahannya nanti, jika Andrea merahasiakan kebaya yang akan dikenakannya saat janji suci nanti tidak halnya dengan gaun cantik yang tengah dikenakannya saat ini.


Ia memperlihatkannya di depan Arshlan.


"Wow! cantik!" seru Arshlan begitu terpukau dengan kedatangan Andrea memakai gaun pengantinnya di hadapan Arshlan.


"Apa yang cantik?" tanya Andrea menggoda.


"Kamu, ditambah gaun itu semakin memancar pesona yang ada dalam diri kamu." jawab Arshlan.


"Gombal." kata Andrea dengan bibir mencebik konyol, untuk menyembunyikan rasa hatinya yang berbunga karena pujian yang dilontarkan sang kekasih hati.


"Aku berkata yang sebenarnya kalau itu tentang kamu." bisik Arshlan begitu dekat dengan telinga Andrea.


"Arsh..." Andrea mengingatkan Arshlan agar menjaga sikapnya karena ada pegawai butik ada di dekat mereka.


"Biar saja. Aku tak tahan untuk menggoda kamu." Bisik Arshlan kembali.


"Aawww..!" Arshlan hampir berteriak saat ia rasakan kulit lengannya begitu panas dan pedih karena Andrea yang mencubit sangat kecil.


Andrea yang menyaksikan Arshlan meringis menahan sakit hanya menyunggingkan senyum mengejeknya, sementara pegawai butik yang bertugas melayani mereka hanya senyum dikulum melihat kelakuan kedua calon mempelai yang begitu serasi itu.


Arshlan yang tengah mencoba tuxedo yang akan dikenakannya saat resepsi nanti nampak semakin memancarkan aura ketampanannya.


"Anda berdua sangat serasi, couplegoals idaman." puji salah satu pegawai butik yang tidak tahan untuk berkomentar melihat kedua calon mempelai yang begitu serasi.


"Terimakasih." Andrea menyungging senyum di bibirnya mendengar pujian yang ditujukan untuk mereka, nampak rona merah tersemburat di pipinya.


"Kamu semakin menggemaskan kalau malu-malu begitu." kembali Arshlan menggoda Andrea, kini Arshlan yang waspada tak bisa lagi terjamah jemari Andrea yang telah siap dengan cubitannya.


"Tidak untuk kedua kali." Arshlan menggoyangkan telunjuknya lurus di hadapan Andrea dengan senyum mengejeknya, sementara Andrea kembali mencibir membalas ejekan Arshlan, dan lagi interaksi keduanya mengundang senyum para pegawai butik.


"Kenapa kamu tidak mencoba kebayanya juga sayang?" tanya Arshlan saat mereka telah selesai mencoba baju pengantin mereka, dan kini mereka sudah berada di mobil Arshlan untuk mengantar Andrea kembali ke rumah ibu Rima.


"Aku sudah mencobanya tapi itu kejutan hari H, kamu tidak boleh melihat saat ini." jawab Andrea yang mengurai senyum candanya.


"Iya deh, kamu sukses buat aku penasaran." kata Arshlan menghela panjang nafasnya dengan wajah merajuknya.


"Gumush banget sih." goda Andrea sembari mencubit pipi Arshlan gemas, sementara Arshlan yang dicubit hanya meringis menahan cubitan yang sedikit menyakiti pipinya.


Arshlan membelokkan mobilnya ke sebuah restoran untuk mengisi perut mereka yang meminta untuk diisi. Mereka melewatkan beberapa jam makan siang mereka karena bersamaan dengan mencoba baju pengantin mereka.


Saat mereka masuk, Andrea melihat wajah yang begitu dikenalnya, dengan serta merta ia mendekatinya dan hanya berdiri di samping meja orang yang dikenalnya itu.


Nampak penghuni meja hendak menegur orang yang mengganggu kenyamanannya makan, tapi begitu melihat wajah siapa yang hendak ditegurnya, raut muka yang semula nampak kesal berubah menjadi terkejut.


"Dreee..!" seru orang yang Andrea dekati sambil berdiri dan langsung memeluknya, Andrea pun membalas pelukannya.


"Awas jangan kencang-kencang peluknya, kasihan nih adik bayinya." Andrea memperingatkan si pemeluk yang ternyata Danisa sahabatnya beserta Daniel suaminya sambil mengelus perut Danisa yang semakin membesar karena sudah masuk trimester akhir kehamilannya.


Arshlan dan Andrea pun memilih menu untuk makan siang mereka sementara Daniel Danisa meneruskan makan mereka yang sempat tertunda.


"Dari kapan kamu ada di kota ini Dre?" tanya Danisa antusias sambil mengunyah makanannya.


"Dari tiga minggu yang lalu kurang lebih." jawab Andrea


"What? Tiga minggu? Selama itu kamu gak ada kabar satupun buat sobat kamu ini kalau kamu di sini? Terlalu banget sih kamu Dre!" seru Danisa sontak menaruh alat makannya sambil memasang muka cemberut karena merasa diabaikan sahabatnya.


"Bukan begitu Dan, maaf aku memang gak kasih kabar sama kamu, aku kesini karena ada misi juga kalau aku mau kasih kabar ke kamu kalau aku di sini tapi belum bisa menghabiskan waktu sama kamu kan malah kasihan kamu, kamu sedang hamil besar begini." Dalih Andrea yang bisa dimaklumi Danisa.


"Iya deh aku maklumi kalau begitu." kata Danisa kembali melanjutkan makannya.


"Suami kamu belum bilang apa-apa ya? kok kamu seperti ada yang tidak kamu ketahui juga tentang kami?" Andrea menyelidik Danisa yang nampak belum mengetahui kalau dalam waktu dekat ia akan menikah.


"Maksud kamu apa Dre?" Nampak wajah Danisa kebingungan dengan pertanyaan Andrea sambil menatap sang suami penuh tanya.


"Dan maaf aku belum memberi tahu kamu, tapi sebenarnya nanti baru aku mau telpon kamu, tapi malah sudah bertemu kamu di sini, dan kalau ditilik dari saat itu sampai hari ini kamu terlihat biasa saja itu menandakan kalau kamu memang belum tahu apapun mengenaiku."perkataan Andrea yang tidak terus terang semakin membuat Danisa tidak mengerti.


Sementara Daniel ikut merasa bersalah karena belum sempat mengatakan apapun kepada istrinya kalau sepupunya dan sahabat istrinya tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahan.


"Perkataanmu malah buatku semakin bingung tahu gak sih Dre?" sahut Danisa dengan berkerut dahi.


"Dua minggu yang lalu aku menerima pinangan dari keluarga Daniswara." Andrea mulai membuka percakapannya.


"Maksudnya kamu dilamar keluarga Arshlan? Kenapa gak bilang-bilang sih Dre? Lupa kalau sahabat kamu ini masih sangat sehat untuk bepergian? apalagi kalau cuma datang ke panti! Dan kamu sudah tahu semuanya kenapa tidak cerita sama aku sih sayang?!" Danisa langsung menyahut perkataan Andrea dengan protes kerasnya karena tidak diberitahu tentang hal penting ini oleh sahabatnya dan ia juga protes dan terlihat merajuk kepada Daniel.


"Dan, tolong dengar dulu!" kata Andrea lembut meminta pengertian sahabatnya itu, Daniel sebagai suami nampak menenangkan Danisa dengan mengelus punggungnya pelan, dia tidak mau menanggapi Danisa yang sedang kesal, dia hanya meminta istrinya untuk mendengar penjelasan Andrea.


Daniel belum memberi tahu Danisa karena ia terlalu disibukkan oleh pekerjaan dan tiap akan mengatakan hal itu selalu ada saja hal yang mengalihkan pikirannya.


"Aku memang tidak memberitahukanmu saat hari lamaranku bukan karena aku melupakanmu, aku tidak mau kamu terlalu capek karena ikut sibuk mempersiapkan segala keperluan dalam kondisi kamu saat ini, aku tahu kamu banget Dan, kamu bukan orang yang maunya diam saat yang lain menjalankan tugasnya, dan kalaupun aku belum juga memberitahu kamu, aku minta maaf banget Dan, aku harus mengerjakan tugas kantor yang menumpuk akibat aku tinggal sementara waktu, please maafin aku ya!" Andrea menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya untuk mengharap maaf dari sahabatnya.


"Hmmmhh.. iyaa aku maafin, terimakasih juga karena selalu menghawatirkanku dengan kondisiku sekarang, padahal aku kan baik-baik saja." kata Danisa masih mengerucutkan bibirnya.


"Tapi jangan manyun gitu, kasihan nanti anak kamu ngikut begitu kalau kerjaannya ngambek melulu!" kata Andrea menggoda sahabatnya agar tidak marah kembali.


"Enak saja, jangan berdo'a yang enggak-enggak gitu ya Dre!" seru Danisa.


"Aku gak berdo'a begitu sayangku, cuma mengingatkanmu saja, sebagai bumil harus selalu ceria dan bahagia agar kelak adik bayinya juga gak cengeng." sahut Andrea yang kena semprot Danisa kembali.


"Oke, alasan yang masuk akal sih, ya sudah aku maafin kamu demi anakku."


"Berarti gak tulus dong maafinnya." kata Andrea.


"Iya tulus, demi persahabatan kita juga." Danisa berkata sambil memperlihatkan deretan putih giginya.


"Naah, gitu kan cantik, biar keponakan tante Andrea nanti juga cakep, kaya tantenya." canda Andrea disambut semyum semuanya karena mereka serasa menjadi remaja kembali hanya karena perdebatan yang tidak seberapa penting.


Sambil makan Andrea dan Arshlan juga bercerita tentang hari pernikahan mereka dan berharap Daniel Danisa bisa datang karena waktu prediksi lahiran Danisa masih berkisar satu bulan lebih beberapa hari.


...****************...


Readers tercinta, baca juga cerita aku yang lain dengan judul Dokter&Petani.


Happy reading ya teman-teman readers semua 🥰