
Setelah Ronan meninggalkan Arshlan, ia mengambil gelas whiskynya dan dituangkannya minuman beralkohol itu, sepertinya apa yang dikatakan pada sahabatnya tadi hanya sekedar omongan saja, buktinya Arshlan sudah asyik dengan dunia khayalan yang merasuki pikirannya karena pengaruh alkohol, entah sudah berapa waktu Ronan meninggalkan Arshlan dengan minuman laknat itu, hingga Raisa menyadari keberadaan Arshlan dan mendekatinya juga teman-temannya.
Nampak Raisa berbicara dengan teman-temannya untuk membawa pulang Arshlan dan semuanya setuju, namun Raisa meminta tolong salah satu temannya untuk mengantar mereka pulang untuk menyetirkan mobil Raisa sementara Raisa merawat Arshlan yang sedang mabuk.
Tak lama mereka telah sampai di apartement Raisa, gadis itu segera memapah Arshlan masuk ke kamarnya, Arshlan yang mabuk nampak menceracau dengan ucapan yang susah dimengerti.
Raisa membuka semua pakaian Arshlan dan mengelap badannya dengan air hangat, sepertinya Arshlan berhalusinasi tentang Andrea, hingga saat memandang wajah Raisa seperti memandang wajah Andrea. Sepertinya setan telah merasuki jiwa mereka hingga mereka hampir melakukan hal yang tak seharusnya terjadi, namun hal itu tidak sampai berlanjut lebih karena Arshlan menyebut nama Dre berulangkali hingga membuat Raisa jadi ilfeel dan meninggalkan Arshlan dengan halusinasinya.
Pagi hari saat Raisa membuka mata, ia sangat terkejut dengan keadaan dia yang ternyata tidur disofa dengan pakaian yang tidak karuan, ia lalu teringat kalau Arshlan menginap dan ia pun segera berlalu menuju kamarnya setelah merapikan pakaiannya, tapi betapa terkejutnya Raisa saat tidak didapatinya Arshlan ditempat tidur, dia melihat ke kamar mandi tetapi ternyata disitupun kosong karena pintunya terlihat terbuka lebar dan tak terdengar ada suara apapun, Raisa melihat ke sofa dimana semalam ia meletakkan pakaian Arshlan, ternyata pakaiannya pun sudah tidak ditempatnya lagi, lalu Raisa berinisiatif menelfon Arshlan, tapi ponselnya tidak aktif, dilihatnya layar ponselnya hendak mengirim pesan untuk Arshlan mungkin saat nanti ponselnya aktif bisa langsung menghubunginya, namun diponselnya ada notifikasi pesan dari Arshlan, segera dibacanya pesan tersebut.
Cha, maaf aku pergi tidak bilang, karena tadi aku lihat kamu tidur sangat nyenyak, dan aku juga harus kejar pesawat pertama yang terbang ke Australia, aku ada urusan bisnis, jadi saat kamu baca pesanku ini mungkin aku sudah berangkat. Terimakasih sudah merawatku semalam.
Raisa menghela nafasnya panjang terselip kelegaan setelah membaca pesan dari Arshlan. Kini ia bersiap untuk menghabiskan akhir pekannya untuk bersenang-senang.
Sementara Arshlan sebenarnya tidak pergi kemanapun, karena saat ini dia sedang tidak ingin terganggu, ia hanya ingin menghabiskan libur kerjanya untuk istirahat full.
***
Raisa nampak bersenang-senang menikmati hari liburnya bersama teman-temannya, ia merasa bebas karena Arshlan pergi ke luar negeri, maka dari itu ia bersenang-senang dengan lelaki cadangannya. Nampaknya Andrea pun sedang berada di mall yang sama dengan Raisa, Andrea melihat kemesraan yang Raisa umbar dengan teman kencannya, entah kenapa Raisa merasa sangat tidak terima atas penghianatan yang sedang Raisa tunjukkan.
"Coba aku hampiri dia, akan seperti apa reaksinya?" Batin hati Andrea sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati Raisa dan kawan kawan dan juga seorang lelaki yang sedang bermesraan dengannya.
Andrea sengaja menabrakkan badannya kepada Raisa dengan pura-pura sibuk melihat-lihat barang hingga tak sengaja menabrak mereka.
"Hey!! kalau jalan tu pake mata!" Raisa sedikit membentak gadis didepannya yang nampak tertunduk karena dibentak, ia memakai topi yang menutup hampir separuh lebih mukanya, skiny jeans yang dipadukan dengan kaos pas badan dan kemeja flanel oversized dan tas selempang dibahunya.
"Kamu harus minta maaf sama pacar saya, jangan diam saja!" si cowok ikut membentak Andrea.
"Maaf, saya tidak sengaja tadi." Andrea membungkukkan badannya kepada dua orang didepannya itu.
"Kamu harus ganti rugi, karena hampir membuat saya jantungan!" ucapan Raisa membuat Andrea menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa berubah rupanya, tetap saja masih suka memeras." batin Andrea.
"Tapi saya tidak membawa uang." jawab Andrea, yah karena ia hanya membawa kartu debet tidak membawa uang cash.
"Tidak punya uang lagaknya main ke mall." ucap alah satu teman Raisa dan disambut tawa semuanya.
"Apakah anda juga tidak punya uang sampai harus meminta kepada saya?" ucapan Andrea membuat panas telinga mereka.
"Hey! kamu jangan menghina kami ya, itu adalah ganti rugi karena kamu hampir melukai pacarku!" bentak si cowok.
"Berarti kalian mau memeras, kalian kan tidak terluka sama sekali." Andrea membantah dan karena merasa tidak sabar, Raisa menarik topi yang dipakai Andrea hingga terlihat wajah Andrea dengan jelas
"Saya sudah menahan diri untuk tidak menunjukkan muka saya dihadapan anda bu Raisa, tapi anda sendiri yang menciptakan ketakutan anda seperti ini." Andrea berkata penuh penekanan dengan smirk tersungging disebelah bibirnya.
"Sayang, memang dia siapa sampai kamu ketakutan begitu?" si cowok yang tadi bermesraan dengan Raisa memegang tangan Raisa dan merasa terheran dengan perubahan Raisa yang tadi garang berubah menjadi ketakutan, Raisa menepis tangan sang cowok sambil berseru "Diam dulu kamu!" Raisa balik galak pada sicowok.
"Ibu Raisa, berapa ganti rugi yang harus saya bayar kepada anda?" tanya Andrea
"Tidak perlu bu, saya sudah tidak butuh lagi." kata Raisa.
"Apa tidak sayang bu Raisa?"
"Maafkan kekeliruan saya bu Andrea, tolong jangan berikan sanksi kepada saya!" Raisa menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Saya tidak akan mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan kantor, apalagi ini bukan jam kerja, itu privasi anda bu Raisa." jawaban Andrea membuat Raisa terlihat bernafas lega, dan semua temannya kini tahu apa penyebab ketakutan Raisa.
"Terimakasih bu Andrea" ucap Raisa
"Bagaimana ganti ruginya bu Raisa?" tanya Andrea lagi
"Tidak perlu bu Andrea!" Raisa menggelengkan kepalanya.
"Saya harap, jangan hanya karena saya anda tidak jadi memeras, karena saya dan kakak saya juga pernah jadi korban pemerasan anda di kota sebelah bila anda ingat, tolong hentikan kebiasaan buruk anda ini jika tidak ingin terkena balasannya. Permisi bu Raisa" Andrea menyudahi nasehatnya lalu berjalan meninggalkan mereka dengan tidak lupa berpamitan. Tapi baru beberapa langkah Raisa mengejar Andrea.
"Bu Andrea tunggu!" cegah Raisa.
"Ada apalagi bu Raisa?"
"Tolong jangan adukan apa yang anda lihat kepada Arshlan dan keluarganya." mohon Raisa.
"Berapa anda akan membayar kompensasi untuk menutup mulut saya dari keluarga Daniswara?" pertanyaan Andrea menohok relung hati Raisa, ia tidak bisa menjawab apa-apa.
Melihat Raisa yang hanya diam saja, lagi-lagi Andrea hanya menyunggingkan smirk disudut bibirnya.
"Saya seperti ikut merasakan apa yang sedang berkecamuk dihati anda bu Raisa, tenang saja, saya bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain, karena saya tidak suka memanfaatkan orang lain demi keuntungan saya pribadi." Andrea menepuk pundak Raisa memberi keyakinan kalau dia bukanlah seperti kebanyakan cewek yang suka dengan gosip, dan kata-kata Andrea seakan memukul jantungnya yang selalu menilai segalanya dengan uang. Terdengar hembusan lega dari nafas Raisa mendengar pernyataan Andrea.
"Permisi bu Raisa, semoga keberuntungan selalu berpihak pada anda."
Glek!!
Ucapan terakhir Andrea begitu ambigu ditelinga Raisa. Entah kenapa kini ia merasakan ketakutan yang teramat sangat, akhirnya ia pun sudah tidak berminat lagi keliling mall tersebut dan memilih untuk pulang.
...****************...