Andrea

Andrea
Perseteruan Xan-Dre



"Kita mampir di toko perlengkapan bayi dulu sayang, ada yang ingin aku beli untuk keponakan aku." pinta Andrea pada Arshlan yang sedang menyetir.


"As you wish mrs. Arsh..." kata Arshlan dan hanya di tanggapi senyum oleh Andrea.


"Ehm...! Ingat ada orang di belakang, enggak usah sok mesra begitu." gumam Xander yang begitu jelas terdengar telinga Arshlan dan Andrea.


"Ooh... Ada orang ya sayang?" tanya Andrea pada Arshlan sengaja menggoda Xander karena masih agak kesal dengan kejadian di lobi kantor tadi.


"Astaga mbak, emang dari tadi aku ngejogrok di sini enggak terlihat ya?" tanya Xander.


"Kok ada suara tapi enggak kelihatan orangnya ya?" Bukannya menjawab pertanyaan Xander, Andrea justru bertanya yang membuat Xander semakin sewot.


Tak berapa lama mereka sampai di sebuah toko perlengkapan bayi, dengan segera Andrea turun dari mobil dan langsung masuk toko diikuti Xander sementara Arshlan memarkir mobilnya.


Saat Arshlan masuk ke dalam toko di dapatinya istri dan adiknya sedang memperebutkan sebuah barang.


"Hei! Kalian kenapa sih? Perasaan dari tadi bertengkar kaya anak kecil deh?" seru Arshlan sambil mengambil benda yang diperebutkan Andrea dan Xander.


"Itu aku duluan yang ambil bang, lalu di rebut sama mbak Andrea ya aku minta balik lah." kata Xander membela diri.


"Lagian kamu mau buat apa?" tanya Arshlan.


"Buat aku kasih ke anaknya Daniel lah bang." jawab Xander.


"Tidak bisa, aku juga mau itu!" seru Andrea.


"Ya cari lagi kan ada." usul Arshlan.


"Cuma ada satu itu sayang, lagian enggak lucu juga kalau datangnya barengan tapi barang yang dikasih sama persis, enggak limited edition banget." sahut Andrea sewot.


"Suit saja deh kalau begitu, pusing juga lama-lama lihat kalian berantem kaya anak kecil begini, hadeehhh!!!" kata Arshlan sambil memijit pangkal hidungnya. Sementara kedua orang yang sangat berarti di hidup Arshlan itu menyetujui usul Arshlan dan segera melakukan suit, satu kali, dua kali sama, baru pada percobaan yang ke tiga dimenangkan oleh Andrea.


"Kan? Kamu memang harus mengalah sama aku." kata Andrea jumawa telah berhasil membuat adik iparnya kecewa.


"Terserahlah yang penting mbak seneng!" Sahut Xander sambil berlalu untuk mencari barang yang lain.


Setelah menemukan barang yang cocok untuk hadiah bayinya Danisa, mereka segera melanjutkan perjalananya lagi. Dan setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Daniel.


"Selamat siang baby D, aunty Dre datang!" seru Andrea saat memasuki rumah Daniel.


"Enggak usah teriak-teriak mbak, nanti baby nya nangis dengar suara mbak kaya Tarzan teriak-teriak di hutan!" kata Xander yang masih setengah kesal dengan kakak iparnya.


"Xen...?!" sahut Arshlan memperingatkan Xander agar menjaga kata-katanya karena sejak tadi Andrea terlihat sewot dengan perkataan Xander.


"Aku enggak teriak, cuma menaikkan nada suaraku, kamu saja yang telinganya terlalu sensitif!" seru Andrea sewot.


"Bukannya sama saja ya!" sahut Xander.


"Sayang.." Arshlan menenangkan Andrea dengan meraih jemarinya dan menggenggamnya.


"Sudah, biarin Xander mau ngomong apa tak usah diladenin." kata Arshlan pelan dan hanya di dengar oleh Andrea, dan terlihat Andrea hanya menghela nafasnya dengan kesal.


"Hallo om dan tante, selamat datang." sapa sang pemilik rumah dengan sumringah melihat kedatangan Andrea dan dua lelaki bersaudara yang sangat berisik tadi.


"Hallo mama baru." jawab Andrea dan langsung keduanya cipika cipiki sedang Arshlan dan Xander diajaknya berjabat tangan.


"Kapan balik dari bulan madu kalian?" tanya Danisa sambil mengajak tamunya untuk duduk.


"Kemarin sore sampai rumah." jawab Andrea.


"Karena dapat kabar kamu sudah lahiran, dia langsung bersemangat ajak pulang." imbuh Arshlan sambil merangkul istrinya.


"Mana baby kamu Dan?" tanya Andrea, dan bersamaan dengan itu muncul Daniel sambil menggendong bayi yang baru tiga hari kemarin lahir dengan agak canggung.


"Hati-hati bro!" kata Arshlan, sedangkan Xander langsung mendekati Daniel yang telah duduk kemudian Xander berlutut untuk melihat bayi D lebih jelas.


Tapi baru beberapa detik melihat keponakannya, Xander marasakan tubuhnya ditarik dengan paksa untuk menjauhi bayi D.


"Astaga mbak, sabar kenapa sih? Atau ngomong baik-baik, jangan asal tarik begini!!" seru Xander dengan wajah bete. Sementara Andrea yang sedang di ceramahi oleh Xander hanya mencibirkan bibirnya membuat sang adik ipar semakin sewot


"Bener-bener ini orang, dari tadi nyebelin banget.!" seru Xander tapi Andrea cuek saja dan memilih melihat anak Danisa dengan gemasnya.


"Ehm!" Arshlan berdehem di samping Andrea, karena tak ada respon Arshlan kembali berdehem dua kali.


"Kenapa sih sayang, dehem-dehem begitu? Kamu sakit tenggorokan?" tanya Andrea.


"Kamu boleh ngomong cakep cuma buat aku." bisik Arshlan.


"Astaga, ini cuma bayi sayang, kecuali aku ngomong begitu sam noh bapaknya." kata Andrea sambil menunjuk muka Daniel.


"Dasar bucin akut." timpal Daniel melihat perdebatan di depan matanya.


"Biarin! Sini aku saja yang pangku anak kamu." Arshlan hendak meminta bayi yang Daniel pangku tapi Daniel menolaknya.


"Kamu belum bisa bang, belum lulus belajar menggendong bayi, jadi enggak usah!" Daniel menolak kemauan Arshlan mentah-mentah.


"Menyepelekan aku banget sih Dan?!" seru Arshlan, tapi tetap saja Daniel tidak mau melepas anaknya dari pangkuannya.


"Kalau begitu aku saja yang pangku, aku sudah pengalaman mengasuh adik-adik aku saat di panti." kini giliran Andrea yang hendak meminta bayi Danisa.


"Jangan di kasih, mbak Andrea sedang tidak stabil, dari tadi aku di marahin terus." Xander tiba-tiba menyela perkataan Andrea.


"Karena kamu penyebabnya kan?!" 'plak!!' seru Andrea sambil menepuk lengan Xander dengan sangat kuat, hingga Xander berseru kesakitan.


Tiba-tiba bayi Danisa menangis, mungkin ia merasa terganggu dengan keributan di sekitarnya. Lalu Danisa mengambil alih menggendong anaknya sementara Daniel berlari untuk mengambil botol susu.


"Kalian kalau mau ribut jangan di sini deh, gangguin Damian mau tidur saja." kata Danisa dengan ketus tapi di tahan agar suaranya tidak keras.


"Ya ampun Dan, kamu tega ngusir aku dari sini, kalau mau diusir tuh biang keributan." sahut Andrea dengan suara pelan juga. Tak lama Daniel telah kembali dengan membawa botol susu dan langsung di berikan kepada baby Damian, setelah menerima botol minumnya akhirnya bayi itu terdiam.


"Aku tidak tahu kenapa kalian seperti ini dari tadi?" tanya Arshlan akhirnya mengungkapkan keheranannya.


"Tanya adik tercintamu itu sayang, sejak di kantor tadi tiba-tiba saja uring-uringan enggak jelas." terang Andrea.


"Kenapa dek? Ada apa sama kamu?" Tanya Arshlan beralih ke Xander.


"Enggak ada apa-apa bang." Kata Xander agak lesu, ia spontan teringat kejadian di lobi tadi.


"Jangan bohong sama abang."


"Beneran tidak kenapa napa bang, mungkin mbak Andreanya saja yang over sensi. Jangan-jangan lagi ngidam ya mbak?" Xander melempar biang kekesalan kepada Andrea.


"Jangan asal ngomong kamu Xen, tadi pas kita turun ke lobi kamu masih mode-mode manja kekanakan, tapi enggak tahu kenapa tiba-tiba kaya orang kesel sambil lihatin lift. Apa pacar kamu naik lift di gandeng cowok lain ya?!" Andrea tak mau dituduh sebagai biang kekesalan dan menjelaskan yang terjadi kepada Xander.


"Ya sudah, sekarang baikan lagi, pusing tahu diantara kalian yang cek-cok terus, perasaan kemarin-kemarin masih biasa saja deh." Arshlan terlihat habis kesabaran dengan sikap adik dan istrinya sejak tadi.


"Ya sudah, aku minta maaf ya mbak, sudah buat kamu kesal." Xander akhirnya meminta maaf dahulu kepada Andrea.


"Sama-sama aku juga minta maaf, aku juga tidak tahu kenapa bawaannya jadi sebel banget sama kamu." Andrea pun meminta maaf.


"Nah, kalau begini kan enak, nyaman ini kuping." kata Arshlan sangat gembira adik dan istrinya telah berdamai.


"Hai Damian, maafin aunty Dre yang sudah buat kamu gak tenang ya." Andrea dengan suara lucunya meminta maaf karena telah mengangganggu tidur baby D sambil mengelus-elus kepala bayi Damian.


"Di maafin aunty." Danisa menjawab perkataan Andrea dengan menirukan suara anak kecil, lalu kedua perempuan itu tertawa tertahan dengan geli.


Lalu Andrea pun menyerahkan paperbag yang berisi hadiah untuk baby Damian begitupun Xander.


Danisa dan Daniel mengucapkan terima kasih atas kado pemberian mereka, lalu tiba-tiba Danisa bersuara.


"Tapi, jangan-jangan kamu sudah hamil kali Dre, soalnya aku perhatikan dari tadi kamu sangat berbeda dari kamu biasanya." Kata Danisa.


"Danisa...!" sahut Andrea, Arshlan, Xander


"Sayang...!" sahut Danial bersamaan dengan yang lain, agar perkaktaan Danisa tidak menimbulkan rasa penasaran di benak mereka.


...****************...


Maaf ya readers tercinta, aku masih di sibukkan dengan kerjaan di dunia nyata, jadi up nya lama dan itupun cuma satu bab.


Terima kasih selalu atas dukungannya semuanyaa 😘🥰