
Begitu serunya perbincangan yang terjadi di keluarga Abimana hingga tak terasa waktu sudah merangkak menuju senja, Arshlan segera berpamitan pulang, Andrea mengantar sampai depan rumah hingga mobilnya sudah tak terlihat dibalik pintu gerbang rumahnya, lalu ia segera masuk kedalam rumah dan kembali bergabung dengan anggota keluarga yang lain.
"Ma, sebenarnya ada hal yang sangat mengganjal dihatiku, dan aku sangat penasaran menanyakan hal itu, tapi kemarin belum berani bertanya karena suasana berkabung keluarga kita."Andrea mengungkapkan apa yang mengganjal dihatinya.
"Tanyakan saja biar kamu lega." perintah mama.
"Maaf sebelumnya ma, kenapa mama bisa bersikap sangat terbalik kepada Arshlan, bukankah dulu mama begitu membencinya?" Raut serius terlihat diwajah Andrea saat menanyakan hal itu, tegang juga takut mamanya marah, sementara yang lain hanya memperhatikan.
"Bukan benci nak, hanya kesal." jawab mama dengan senyum terukir dibibirnya, Andrea terlihat lega ada senyum diwajah mamanya, jadi ia lebih leluasa lagi mengorek jawaban dari mamanya.
"Apa tidak sama saja ya ma?"
"Ya tidak lah, beda sayang, lalu kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya mama balik.
"Mama langsung bisa menerima Arshlan karena wasiat terakhir papa yang mengharapkan kami bersatu?" tanya Andrea semakin penasaran
"Tentu saja tidak, kalau kamu mau tahu, tanpa sepengetahuan kamu, Arshlan sering menemui mama papa untuk meminta restu kami untuk menjadikanmu pendamping hidupnya, awalnya mama tidak mau menemuinya, selalu papa yang menemuinya, mereka berbicara dari hati ke hati antar lelaki, bahkan papa sudah yakin dan percaya dengan niat hati Arshlan yang sungguh-sungguh ingin menjadikanmu pendamping, ia juga bercerita ke papa saat kalian pertama bertemu dulu dan apa motifnya, dan pada akhirnya ia melupakan itu karena dia sungguh menyimpan rasa sekedar suka sama kamu bahkan dia yakin kamu jodoh dia, sampai dia selalu menyuruh orang untuk mencari keberadaanmu tapi nihil, karena perubahan badan kamu jadi semakin sulit orang suruhan dia menemukan kamu, sampai akhirnya perusahaan kita saling kerja sama, tapi bukan Arshlan yang melaksanakannya, karena Arsh menolak, kemudian Xander yang maju hingga akhirnya deal, karena intensitas kalian bertemu malah Xander yang jatuh hati sama kamu, karena Xander pula Arshlan bisa menemukanmu kembali." cerita mama.
"Lalu bagaimana ia mengambil hati mama?" tanya Andrea memotong cerita mamanya.
"Tentu saja atas bantuan papa, karena mama tidak pernah mau menemuinya, selalu papa, dan setiap mereka bertemu, papa selalu membujuk mama agar mau menemuinya, papa selalu meyakinkan mama akan keaeriusan Arshlan, karena jika dia tidak benar-benar serius untuk apa dia selalu mendatangi orang tua yang jelas-jelas selalu menolak kedatangannya, akhirnya mama luluh dengan bujukan papa, dan mama juga berfikir benar juga apa yang papa bicarakan, kalau Arshlan hanya niat main-main sama kamu, tentu dia tidak mau lagi berusaha mendapatkan hati mama, bahkan saat pertama mama mau menemuinya ia sampai bersimpuh dikaki mama untuk mendapatkan maaf atas kesalahannya mendekatimu dulu hanya karena sebuah motif. Mama sebenarnya juga berfikir apa tidak terlalu berlebihan sampai terjadi hal itu, toh akhirnya niat dia baik, lalu mama tidak tega membiarkan dia bersimpuh terlalu lama, mama tarik pundaknya untuk berdiri, semula dia enggan untuk berdiri sebelum mendengar kata maaf dari mama, hingga mama berseru kalau kamu tidak berdiri mama tidak akan memaafkan kamu! seru mama waktu itu, mama membahasakan diri sebagai mama bukan tante kepada Arshlan, lantas ia segera berdiri, menatap mama penuh harap dengan tangan tertangkup didadanya, hati ibu mana yang tidak luluh melihat keseriusan dimata seorang lelaki muda yang mengharap restunya, mama luluh saat itu juga, saat mama hendak memberikan kabar bahagia ke kamu kalau mama sudah merestui kamu dan Arshlan dan kamu bisa berhubungan yang lebih serius lagi, justru papa masuk rumah sakit dengan tiba-tiba. Mama tahu kamu sedang jaga jarak dengan Arshlan juga Xander, karena Arshlan cerita semua tentangmu kepada papa, dan papa menceritakan semua kepada mama, kami sengaja menyembunyikan semua ke kamu sampai kami benar-benar tahu keteguhan dan keseriusan Arshlan, tapi ternyata takdir berkata lain, disatu sisi kami ingin melihatmu bahagia, tetapi Tuhan mencabut kebahagiaan kita yang lain." mama menutup cerita dengan akhir yang sendu, hingga Andrea spontan bergegas menuju tempat mamanya duduk, ia langsung memeluk mamanya, ia bahagia dan sangat berterimakasih karena restu itu akhirnya ia dapat, benteng tinggi yang selalu ia harapkan runtuh, akhirnya runtuh juga, kini tak ada lagi penghalang restu keduanya untuk bersatu.
"Terimakasih restunya ma." suara Andrea bergetar karena tangis harunya, lalu diciuminya wajah mamanya juga punggung dan telapak tangan wanita yang telah melahirkannya itu, mama pun segera memeluk Andrea dengan erat.
"Kamu berhak bahagia dengan pilihanmu nak." kata mama
"Tapi sayang kebahagiaan yang aku harapkan harus berganti dengan kebahagiaan mama"
"Sssstt!!, kamu tidak boleh bicara seperti itu nak, kita tidak boleh menyalahkan ketetapan yang maha kuasa, itu semua sudah jalan Tuhan, kita hanya sebatas melaksanakan." nasehat mama, dan terlihat kepala Andrea mengangguk dalam pelukan mamanya.
Eira begitu terharu menyaksikan adegan didepan matanya, ia ikut menangis yang ia sembunyikan didada suaminya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Andra saat dia rasakan badan istrinya bergetar.
"Aku terharu mas, aku tak tahu kalau aku yang ada diposisi Andrea waktu itu, pasti berat perjuangan kita menggapai restu orang tua." kata Eira masih dengan isaknya.
"Ehmm maaf ibu juga ada yang mau ibu bicarakan." kata ibu Rima tiba-tiba, lalu semua mata menatap ke arah wanita yang ikut andil merawat Andrea muda.
"Ada apa mbak?" tanya mama Arini
"Dua hari setelah Andrea pulang dari panti waktu dengar papanya sakit, panti tiap hari mendapat teror, selalu ada yang mengirim kotak berisi tulisan dan ada cairan merah, penghuni panti jadi tidak bisa hidup tenang, dan selama ibu disini selalu dikirim kabar yang sama." cerita ibu Rima. "Kita harus bagaimana agar si pengirim itu jera kalau bisa ketahuan." lanjut ibu Rima meminta saran penghuni rumah.
"Memang isi tulisannya bagaimana bu?" tanya Andrea penasaran.
"Hai cewek penggoda, jauhi Al!!!" selalu begitu tulisannya, dan pernah juga tulisannya beda, ibu sudah disini, tulisannya kalau kamu tidak mengindahkan peringatanku maka jangan menyesal kalau akan ada yang lebih dari sekedar seperti ini." itu tulisannya, ada fotonya juga sih, tapi ibu ngeri sendiri tiap lihat foto itu." jelas ibu Rima sambil bergidik
"Coba saya lihat fotonya bu." pinta Andra, lalu ibu Rima memberikan ponselnya kepada Andra, dan segera dibuka galery di ponsel ibu Rima, Andrea yang sangat penasaran mendekati Andra untuk melihat foto kiriman teror dipanti.
"Apa ada yang tidak suka sama kamu dek? atau penghuni panti yang sudah beranjak remaja bu, mungkin itu cuma perbuatan anak-anak kemarin sore?" tanya Andra kepada Andrea dan ibu Rima.
"Semua anak-anak yang sudah beranjak dewasa ibu tanya, mereka belum berani berpacaran katanya, bahkan berteman dengan lawan jenis juga masih belum berani, kasihan ibu kata mereka." jelas ibu Rima.
"Dek, kamu kenal orang bernama Al tidak?" tanya Andra kepada adiknya.
"Al?" Andrea berpikir karena setahu dia dia tidak kenal dengan orang bernama Al
"Ahh, apa mungkin Arik ya? nama dia kan Alarik." seru Andrea saat menyadari nama lengkap Arik.
"Tentara teman kamu yang melayat juga tempo hari?" tanya Andra.
"Iya kak."
"Apa tidak sebaiknya kamu tanya dia dek, siapa tahu dia bisa membantumu menemukan pelakunya." saran Andra.
"Aku akan bilang ke Arik, tetapi aku sendiri yang akan menangkap pelakunya." mata Andrea menerawang dengan gigi gemeretak, ia tidak rela keluarganya diganggu. Mereka hanya bisa mendukung kemauan Andrea, karena mereka tahu kemampuan Andrea.
...****************...