
Seiring berjalannya waktu, hubungan Andrea dan Arshlan semakin terlihat intim, mereka tak sungkan lagi untuk saling kunjung kerumah masing masing. Tetapi hampir sebulan kedekatan mereka Andrea belum pernah bertemu dengan keluarga Arshlan, kata Arshlan orang tuanya sedang mengurus bisnis yang ada diluar negeri, begitupun adik Arshlan satu satunya yang seorang cowok, sedang melanjutkan kuliahnya di luar negeri juga. Jadi tinggallah Arsh dirumah sendiri dan menurut cerita Arshlan kini ia sedang bekerja sebagai menejer diperusahaan Omnya, kenapa gak ikut mengurus usaha orang tuanya saja? kata Arsh dia ingin mencari pengalaman dulu, wow! sebuah pemikiran cerdas untuk seorang anak pengusaha besar.
Kini Andrea lebih giat dan tekun menjalankan aktifitas gym nya, juga dia menjalankan diet ketat, agar usahanya untuk menurunkan berat badannya segera berhasil, dan memang usaha Andrea mulai memperlihatkan hasil walau belum maksimal seperti yang Andrea harapkan, tapi itu tidak membuat Andrea patah semangat, justru itu menjadi pemicu untuk lebih giat memperkeras usahanya.
"Dre, jangan terlalu menyiksa diri, boleh usaha keras tapi jangan terlalu diforsir, takutnya nanti kamu drop" kata ibu Rima menasehati Andrea yang dilihatnya latihan skiping dari tadi
"Iya bu, sebentar lagi Dre istirahat" jawab Andrea sambil terus melakukan kegiatannya.
"Benar ya, pokoknya ibuk gak mau tau kalau sebentar lagi kamu gak istirahat itu tali skipping ibu sita" ancam bu Rima
"Iya iya ibuku sayang, Dre nurut" sahut Andrea sambil memanyunkan bibirnya mencium jauh ibu Rima, melihat itu ibu Rima hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kak Dre, ajarin Riri ngerjain tugas bahasa inggris dong!" teriak sebuah suara anak perempuan berusia sekitar sebelas tahun saat ibu Rima hendak masuk ke dalam rumah.
"Riri, kalau kamu ngomongnya begitu ke kakak kamu, itu kurang sopan namanya, hayo bagaimana seharusnya?" nasehat ibu Rima kepada Riri dengan lembut, dan itu membuat Andrea berhenti dari latihan skippingnya, dan segera mendekati ibu Rima dan Riri
"Iya bu, Riri minta maaf. Kak Dre, tolong ajarin Riri mengerjakan tugas bahasa Inggris ya" Riri mengulang permintaannya dengan ucapan yang lebih tepat, setelah meminta maaf karena melakukan sebuah kesalahan.
"Iya boleh, tapi sebentar ya kakak ganti baju dulu, nih liat baju kakak basah semua oleh keringat, nanti kamu gak jadi belajar malah pingsan gegara cium bau keringat kakak" kelakar Andrea sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama, Andrea sudah kembali menemui Riri untuk membantu menyelesaikan PR dari gurunya, terlihat adik adiknya yang lain berbondong mendekat ke tempat Andrea untuk gabung belajar, mumpung kak Andrea luang, jadi sekalian mereka minta penjelasan tentang pelajaran yang belum begitu mereka pahami.
......................
"Bu, aku mau kerumah Danisa dulu ya, ada sesuatu yang harus ambil" pamit Andrea pada ibu Rima.
"Ini udah malam loh Dre, besok aja kamu kerumah Danisa nya" ibu Rima mencegah Andrea pergi
"Belum terlalu malam juga bu, baru juga jam delapan, soalnya ini penting besok mau aku bawa ke kampus, besok Danis gak berangkat, kalau mau aku ambil besok sekalian ntar malah keburu buru bu, rumah Danis sama kampus beda arah" alasan Andrea kenapa harus pergi saat itu juga.
"Diantar pak Wardi ya" saran ibu
"Nggak usah lah bu kelamaan, naik motor ini cepet" tolak Andrea.
" Ibuu, kalau aku gak pergi pergi ini hari semakin malam lohh" seloroh Andrea mengingatkan waktu yang terus berjalan, karena kekhawatiran ibu Rima yang berlebihan
"Ya udah berangkat sekarang, hati-hati yaa Dre, salam buat Danisa dan keluarganya" akhirnya ibu Rima menyerah dan mengijinkan Andrea pergi, setelah salim ke ibunya Andrea segera memacu motornya menuju rumah Danisa.
"Ibu hanya takut kamu kenapa napa Dre, kamu adalah amanah yang harus jaga baik baik, itulah kenapa ibu selalu khawatir walau kamu sudah beranjak dewasa." gumam bu Rima sambil memandang kepergian Andrea walau hanya terlihat lampu motornya saja.
......................
"Elaaahh, tinggal dekat ini malah hujan" gerutu Andrea sambil meminggirkan motornya ditempat teduh untuk memakai jas hujannya, tapi dia malah terbengong saat membuka jok motornya karena ternyata ia lupa memasukkan jas hujan yang dipakainya kemarin.
"Mudah mudahan aja hujan gak lama, jadi gak khawatir kemaleman untung dapat tempat neduh yang terang, tapi agak sepi gini" sambung Andrea dengan gumamnya.
Saat Andrea sibuk dengan sesalnya, ada motor lain yang membelok kearah Andrea berteduh, yang ternyata dua orang laki laki dengan baju setengah basah. Andrea hanya diam melirik kearah dua orang itu, Andrea pikir mereka mau pakai jas hujan, tapi tidak ada gerakan membuka jok motor mereka.
"Lupa jas hujan juga mereka" batin hati Andrea.
Andrea merapatkan tubuhnya ke dinding karena titik titik air menerpa ketempatnya berdiri, tidak ada tegur sapa dari Andrea maupun kedua lelaki tersebut, beruntung hujan tidak berlangsung lama, saat masih gerimis Andrea hendak melanjutkan perjalanannya kerumah Danisa, ia sungkan berlama lama dekat orang asing apalagi mereka lelaki dan juga malam hari gerimis pula, untuk itu Andrea nekat menerjang gerimis.
Tapi saat Andrea hendak naik ke motornya dua lelaki itu mendekat kearahnya dengan cepat dan menahan bagian belakang motor Andrea, sementara lelaki satunya berusaha menarik Andrea turun dari motornya, sejenak Andrea tersentak dengan terkejutnya.
"Apa-apaan ini!!" seru Andrea kepada kedua lelaki itu
"Turun! serahin motor kamu baik baik kalau kamu..." kata lelaki yang menarik Andrea sambil memberi kode tangan melintang kelehernya, spontan Andrea turun lagi dari motornya.
Ia tak menyangka sedang berhadapan dengan sindikat curanmor
"Ambil kalau bisa!!" tantang Andrea sambil berteriak, ia berharap ada yang mendengar teriakannya karena tempat itu tidak begitu ramai.
Tidak menanggapi teriakan Andrea, mereka tetap nekat merebut motor Andrea, tapi Andrea bukanlah penakut bernyali kecil, ia langsung meninju ulu hati lelaki yang tadi menariknya, spontan lelaki itu membungkuk sambil memegang perutnya yang sakit, dan Andrea langsung menambah tendangan ke ************ lelaki itu dengan sangat keras dan langsung saja lelaki itu jatuh berguling merasakan sakit yang amat sangat.
Melihat temannya kesakitan, lelakinyang satunya tidak berniat menolong dan justru hendak melarikan diri, karena ia buru buru menaiki motornya sambil mengarahkan ke jalan, tapi belum sempat mesin motor dihidupkan, Andrea berhasil menendang orang itu hingga terjatuh, Andrea menyeret lelaki itu hendak berniat melumpuhkannya juga, tapi ternyata Andrea mendapat perlawanan, cepat cepat lelaki itu berdiri dan menyerang balik Andrea, sial ia lambat menghindar dan terkena pukulan dipipi dekat matanya, beruntung Andrea masih bisa menguasai diri, lalu dia dengan cepat menendangkan kakinya ke ulu hati dan lagi lagi ************ lah target tendangan Andrea berikutnya, dan tumbanglah lelaki itu seperti rekannya.
Bersamaan dengan itu muncul dua orang bapak bapak karena mendengar keributan.
"Pak tolong carikan tali untuk mengikat kedua orang ini, dia hendak merampas motor saya!!" belum sempat kedua bapak itu lebih dekat Andrea berteriak untuk meminta tali, sementara bapak yang satunya balik untuk mengambil permintaan Andrea, bapak yang satunya mendekat untuk membantu Andrea menahan kedua lelaki itu agar tak melarikan diri, tak lama bapak yang satunya datang membawa tali, lalu mereka segera mengikat keduanya ditangan dan dikaki. Lalu terlihat beberapa orang tergopoh gopoh setengah berlari menuju ke arah mereka.
"Kamu ada yang terluka nak?" tanya salah satu bapak kepada Andrea
"Enggak kok pak" jawab Andrea
"Ini bagaimana ceritanya tadi sampai terjadi hal seperti ini? tanya bapak itu lagi.
Lalu Andrea menceritakan awal mula sampai akhir kejadian, dan kedua bapak itu juga yang lain manggut manggut tanda mengerti.
"Pak, maaf saya harus pergi karena saya buru buru ada kepentingan, takut semakin kemalaman. Saya minta tolong kepada bapak bapak semua untuk menyerahka kedua orang itu kr kantor polisi, karena sepertinya mereka sindikat perampasan sepeda moto." Andrea menyerahkan kedua lelaki itu kepada penduduk dan mereka semua mengiyakannya.
"Kalau nanti polisi membutuhkan keterangan dari saya biar mencari saya dialamat ini" kata Andrea sambil menyerahkan selembar kertas yang sudah ia tulis alamat dan nomor telepon Andrea.
"Baik nak, hati-hati dijalan ya" kata bapak penerima kertas yang Andrea berikan, lalu Andrea berpamitan dan segera bergegas menuju rumah Danisa.
...****************...