
"Saya sudah tidak peduli lagi apapun tentang dia, jadi jangan terus terusan memprovokasi saya tentang penyesalan dia atau apapun itu tentang dia, saya tidak peduli lagi!" Kata kata tajam dan dingin Andrea ia ucapkan tepat didepan muka Daniel.
Daniel menatap ke Danisa agar mau membujuk sahabatnya itu untuk memaafkan Arshlan seperti yang ia utarakan selama ini setiap bertemu Danisa. Bahkan Daniel sampai menangkupkan kedua tangannya memohon dengan sangat kepada Danisa agar mau membujuk sahabatnya, sementara Andrea telah berlalu dari hadapan mereka.
"Tuan Daniel yang terhormat, anda tak pantas merendahkan harga diri anda didepan gadis kalangan rendah seperti saya, cukuplah anda menyadari kekeliruan anda, tapi untuk membuka hati Andrea agar mau memaafkan tuan Arshlan, saya tidak seberani itu, permisi!" Danisa segera berlalu dari hadapan Daniel untuk mengejar sahabatnya, sementara Daniel hanya bisa tertunduk lesu karena kata kata Danisa yang tak kalah tajam dari kata kata Andrea.
Kedua bersahabat itu telah sampai di cottage kembali dengan menumpang ojeg.
"Dre, are you okey?" tanya Danisa pelan, agar tak mengganggu Andrea dengan suasana hatinya saat ini.
"Yes, I'm okey" jawab Andrea singkat.
"Mau pulang pagi ini?" tawar Danisa.
"Enggak lah Dan, sayang banget melewatkan keindahan panorama alam daerah sini, justru itu bisa jadi mood booster bagi aku" Andrea berusaha mengukir senyum dibibirnya, dengan suasana hatinya saat ini.
"Baiklah kalau itu bisa memperbaiki suasana hati kamu" Danisa mengusap punggung tangan sahabatnya.
"Makan dulu yuk, laperr.." Ajak Andrea sambil beranjak dari duduknya.
"Ayo, aku juga lapar, makan dimana kita?" tanya Danisa.
" Di rumah makan depan aja, belum mandi kalau mau yang agak jauh" Andrea terkekeh sambil menutup mulutnya dengan jari jarinya karena belum sempat membersihkan badan, lalu keduanya segera pergi untuk mengisi perut mereka yang telah keroncongan.
Keduanya makan diselingi canda tawa seolah telah melupakan kejadian beberapa saat yang lalu.
"Dan, emang kamu sama Daniel sering ketemuan ya?" Niat Andrea ingin melupakan kejadian pagi tadi tapi rasa penasaran tentang pertemuan Danisa Daniel mendesaknya untuk kembali mengungkit kejadian lalu.
"Dre, aku gak mau kamu terbawa suasana masa lalu lagi, jadi buang jauh rasa penasaranmu itu" Danisa enggan menjawab tanya Andrea,
"Tolonglah Dan, obati penasaranku pliiisss!!" Andrea menangkupkan kedua tangannya sambil memamerkan dereta rapi giginya, ditanggapi helaan nafas berat Andrea tanda setengah terpaksa menerima permintaan Andrea.
"Iyaa- iyaa..." Danisa mengalah, sementara Andrea tersenyum menang.
**
Danisa POV
"Danisa!!" seru sebuah suara memanggilku saat aku menuju motorku terparkir saat bubaran kampus.
"Ada apa Dan?" tanyaku pada si pemanggil dengan nada cuekku.
"Tolong sampaikan maafku dan bang Arsh atas kekonyolan kami tempo hari kepada Andrea" Daniel membuka maksud hatinya menemuiku.
"Sayangnya Andrea sudah tak lagi ada dikota ini." ungkapku.
"Jadi apa yang dikatakan ibu Panti dan semua penghuni panti tidak bohong?" Daniel meyakinkan diri.
"Buat apa berbohong, nambah nambahin dosa aja" jawabku ketus.
"Tolong beritahu aku dimana sekarang Andrea tinggal, atau kalau tidak, beri aku nomor telponnya, karena nomor lamanya sudah tidak aktif" mohon Daniel kepadaku.
"Maaf, aku gak bisa memberi tahumu, karena Andrea sudah berpesan jangan bagi tahu tentangnya saat ini kepada siapapun" kukatakan pesan terakhir sahabatku.
"Tolonglah Dan, please...!" Daniel memohon dengan menangkupkan kedua tangan didepan dadanya.
" Buat apa kamu susah susah minta maaf untuk Arshlan, sedang dia saja sama sekali gak.ada penyesalan?." tanyaku dingin
"Bagaimana kamu bisa tahu dia menyesal atau tidak kalau setiap dia mau menemuimu kamu lansung pergi menggindarinya, dan aku pribadi juga ingin minta maaf karena gara gara aku masalah ini terjadi" ungkap Daniel terlihat sungguh di sorot matanya.
"Maaf, privasi sahabatku lebih penting aku tidak bisa membantumu, permisi" Aku segera mengambil motorku dan segera berlalu meninggalkan Daniel dengan rasa kecewanya.
" Daniel tidak hanya sekali itu menemuiku, aku selalu bisa menghindari Arshlan tapi dengan Daniel entah aku selalu saja terpergok dan tak bisa langsung menghindar, sampai aku diterima kerja ditenpat yang sekarang baru aku tidak pernah bertemu Daniel lagi" lanjut Danisa bercerita.
"Apakah ada yang diam diam saling suka?" Andrea menempelkan jari telunjuk didagunya dengan mata melirik keatas tanda penasaran akan suatu hal.
" Jangan berasumsi macem macem Dre!" seru Danisa melihat tingkah Andrea
"Gak macem macem, satu macem aja, kayaknya kalian saling suka deh" tebak Andrea sekenanya tapi terlihat wajah Danisa bersemu merah,
Plaakk!!!
Telapak tangan Danisa mendarat mulus dilengan Andrea
"Aawww!!! sakit tau, kuat banget sih tenaga kamu, mentang mentang habis sarapan" Andrea masih bisa menggoda sahabatnya.
"Salah sendiri, ngomong asal" timpal Danisa.
" Mulut bisa bilang tidak, tapi wajah memerah cukup jadi pembuktiannya" Andrea masih berlanjut dengan godaannya, sementara Danisa sibuk hendak mencubit sahabatnya namun berusaha dihindari Andrea dengan tawa lepas dibibirnya.
"Wow!! beberapa kali bertemu, baru kali ini saya melihat tawa lepas seorang nona Andrea, ternyata anda begitu cantik bila tidak pasang wajah dingin nona Andrea" Xander telah berdiri didepan mereka dengan untaian kata yang terasa geli didengar kedua gadis itu, disamping Xander berdiri Daniel yang terus memandang kearah Danisa.
"Bapak Xander?!"
"Daniel?!"
Andrea dan Danisa bersamaan menyebut dua lelaki tampan didepannya, kemudian saling pandang dan hendak beranjak pergi, tapi ditahan oleh Xander.
"Sebentar, saya harap kalian duduk dulu dan mendengarkan penjelasan saya, Daniel sudah cerita semua kepada saya" Xander sangat berharap kepada kedua gadis itu, akhirnya Andrea mengalah, dia duduk kembali, dan Danisa hanya bisa mengikuti mau Andrea.
"Apa yang ingin anda jelaskan bapak Xander?!" tanya Andrea telah memasang wajah dinginnya kembali
"Maaf, bisakah kita jangan terlalu formal? ini bukan dikantor nona Andrea" pinta Xander
"Tetapi anda pun masih bersikap formal terhadap saya" sanggah Andrea.
"OK, Andrea, sebelumnya aku minta maaf bila nanti ada kata kata ku yang mungkin tidak berkenan dihati kamu, tapi ini semata hanya untuk meluruskan permasalahan antara kamu, Daniel, dan bang Arsh" Xander memulai pembicaraannya.
Terlihat Andrea memasang muka malas,
"Aku secara pribadi meminta maaf atas apa yang pernah bang Arshlan dan Daniel perbuat, mereka sudah benar benar menyesal, waktu itu mereka hanya ingin seru seruan"
"Seru menurut kalian, tapi aku sebagai korban serasa direndahkan harga diri aku sebagai seorang cewek" potong Andrea
"Sekarang coba kamu pikir, jika kamu ada diposisi aku, atau kalau tidak bagaimana kalau itu menimpa saudari kamu, apa kamu akan anggap angin lalu saja dan berpikir itu hanya seru seruan?"
"Arshlan mendekati aku dengan kata kata manisnya yang begitu meyakinkan, bahkan dia berlagak cemburu saat memergoli aku berpelukan dengan cowok lain yang notabene adalah kakak kandungku sendiri, hanya manusia tak punya hati yang bisa berbuat seperti itu, kebaikannya topeng semata" Andrea berbicara berapi api, bahkan tak terasa ada bulir bening tertampung dikelopak matanya, dia segera mengusap dengan cepat agar air mata tak jatuh dipipinya, ia tak mau lagi terlihat lemah, walau sebenarnya hatinya tak sekuat itu.
"Itu bukan topeng nona Andrea, sebelum kamu mendengar percakapan Daniel dan bang Arsh, bang Arsh telah bicara pada Daniel bahwa apa yang diperbuatnya salah, dia terlanjur nyaman bersama kamu, bahkan setelah kakak kamu menghajar bang Arsh ia langsung menghajar Daniel juga, dan dia tidak jadi menerima posisi jabatan yang diberikan padanya, ia bahkan memilih resign dari kantor papa Daniel" dengan rinci Xander menjelaskan kenyataan tentang Arshlan pada Andrea, tak ada kebohongan yang Andrea temukan dimata Xander tapi ia tidak bisa berharap banyak, dan berpikir itu hanya masa lalu yang memang seharusnya ia lupakan.
"Terimakasih untuk penjelasanmu, aku sekarang tau kebenaran itu, aku maafin kalian, semoga aku yang terakhir kali buat permainan kalian yang bagiku seperti anak kecil. aku ingin melupakan, aku ingin memaafkan sejak dulu, tapi begitu sulit karena harga diriku begitu terinjak, tapi aku juga berterimakasih, karena berkat kalian aku bisa menjadi Andrea yang tangguh, dan sekarang aku akan menjalani hidupku dengan tenang karena sakitku dimasa lalu telah aku buang sejak hari ini" Andrea sudah bisa merelakan kejadian dimasa lalu, ia tak ingin lagi menyimpan dendam.
"Terimakasih kamu telah memaafkan bang Arshlan Dre, akupun sebenarnya malu untuk menjelaskan ke kamu, tapi Daniel sangat berharap padaku karena dia tidak berhasil meyakinkan kalian, akhirnya aku setuju untuk menjelaskan ke kamu setelah diberi penjelasan oleh Daniel, akupun marah mengetahui.cerita itu, tapi aku hanya ingin menyelesaikan ini secara dewasa." Xander masih berharap Andrea benar benar memaafkan kakak dan saudaranya.
"Ok, aku memaafkan semua yang sudah terjadi, aku juga minta maaf karena tidak memberikan kesempatan pada kalian untuk menjelasakan sebenarnya waktu itu" Andrea terlihat melunak,
Xander berhasil menakhlukkan kerasnya prinsip seorang Andrea.
...****************...