
Andrea telah kembali beraktifitas di kantornya kembali setelah ikut sibuk mengurus persiapan pernikahan sahabatnya Danisa sampai hari pelaksanaannya. Pagi ini Randy memberikan scedule hari ini, siang ini Andrea mandapat undangan makan siang dari kolega bisnisnya, sebenarnya Andrea enggan untuk datang, tetapi mengingat sang pengundang adalah kolega bisnis yang sangat penting bagi perusahaannya maka, mau tak mau Andrea harus menghadirinya.
"Apa bu Andrea mau datang ke undangan makan siang dengan kolega bisnis kita?" tanya Randy setelah Andrea selesai mempelajari jadwal yang di serahkan Randy tadi.
"Kita datang pak, kebetulan jadwal hari ini tidak padat jadi kita tidak terlalu terburu-buru." Jawab Andrea.
"Baiklah bu Andre, saya kembali ke ruangan saya dahulu." pamit Randy.
"Silahkan pak." jawab Andrea. Lalu mereka telah sibuk berkutat dengan kerjaan yang lumayan banyak, hingga tak terasa waktu sudah bergulir menuju jam makan siang, Andrea menghentikan kesibukannya saat pintu ruangan diketuk dari luar kemudian Randy masuk memberitahukan bahwa sudah waktunya mereka berangkat menuju jamuan makan siang dari kolega bisnis Andrea.
"Sebentar pak, saya siap-siap dahulu." kata Andrea
"Baiklah bu Andrea, saya tunggu di depan ruangan ibu saja." Randy berpamitan dan dijawab anggukan oleh Andrea, lalu ia segera bersiap, disapukannya touch up make up tipis agar penampilannya nampak lebih segar, setelah selesai ia segera menyambar tas dan kunci mobilnya untuk segera menemui Randy yang telah menunggunya.
"Mari pak Randy, kita berangkat sekarang!" ajak Andrea saat dilihatnya Randy duduk di kursi tunggu depan ruangannya sambil menekuni ponselnya.
"Mari bu Andrea." jawab Randy sambil memasukkan ponsel ke saku celananya, Andrea menyerahkan kunci mobilnya kepada Randy.
"Tolong anda yang membawa mobil saya pak Randy." kata Andrea.
"Baik bu Andrea." jawab Randy seraya menerima kunci dari tangan Andrea.
Saat sampai di tempat parkir keduanya melihat Raisa yang telah mengemudikan mobilnya keluar tempat parkir.
"Pak Randy? kenapa saya jadi kepo dengan kehidupan pribadi anda ya?" tersirat rasa penasaran yang sangat di mata Andrea.
"Tidak ada yang menarik dengan kehidupan pribadi saya bu." Kata Randy sambil menghidupkan mesin mobil
"Tapi Raisa begitu terobsesi pada anda karena saya sering melihat Raisa menggelayut manja kepada anda." Raisa yang biasanya tidak mau tahu dengan urusan orang lain saat ini sedang dalam mode kepo berat.
"Obsesi dia tidak hanya pada saya bu Andrea, tapi setahu saya ada beberapa orang lain, mungkin banyak dari yang saya tidak tahu." Randy menjawab sambil mata tetap fokus ke jalan didepannya. "Kenapa tiba-tiba anda bertanya tentang hal itu bu Andrea? karena setahu saya anda bukanlah orang yang suka ingin tahu urusan orang." pertanyaan Randy terkesan dingin.
"Tidak apa-apa sih pak, saya cuma khawatir anda terjebak dengan rayuan maut ibu Raisa." kata Andrea masuk akal.
"Terimakasih atas kekhawatiran ibu terhadap saya, tapi dari awal saya sudah mengantisipasi untuk tidak tergoda padanya, saya sering secara tidak sengaja melihat ibu Raisa bermesraan dengan pria berbeda-beda, dan untunglah saya bukan tipe lelaki yang mudah terbujuk rayu genit wanita seperti ibu Raisa."
"Syukurlah pak, saya pikir anda sudah masuk kedalam bujuk rayu ibu Raisa, karena sekerasnya batu lama kelamaan juga bisa berlubang kalau terus menerus tertimpa tetesan air ditempat yang sama, anda tahu maksud saya kan pak?" kata Andea.
Keduanya segera turun setelah memarkir mobilnya dihalaman restoran mewah tersebut, Andrea dan Randy berjalan beriringan menuju tempat yang direservasi khusus untuk makan siang para direksi antar perusahaan dikota itu, Randy bertanya pada petugas security dengan menunjukkan undangan yang dibawanya melalui ponsel, lalu security menunjuk lantai dua, dan keduanya pun bergegas menuju lantai dua setelah mengucap terimakasih kepada security.
Andrea san Randy mendudukkan tubuh mereka disebuah meja kosong yang ada tulisan nama perusahaannya, sang empunya acara pun mendekati mereka untuk menyapa, dan berbincang sebentar, karena ada rekan bisnis lain yang datang ia pamitan untuk menyapa tamu undangan yang lain.
Ternyata perusahaan Daniswara corp pun diundang dengan kakak beradik yang sangat Andrea kenal sebagi perwakilannya, dengan seorang lagi yang Andrea duga adalah asistennya, namun nampaknya mereka belum menyadari keberadaan Andrea karena ruangan luas itu telah full oleh kehadiran seluruh tamu undangan, dan acara pun segera dimulai tanpa menunggu lagi undangan yang belum datang yang hanya tinggal beberapa saja, sang empunya acara memberikan sambutan dan ucapan terimakasih karena mereka semua sudah berkenan hadir dalam perjamuan makan siang tersebut, setelah selesai sambutan, pemilik acara segera mempersilahkan para tamu untuk mengambil makan siang mereka sendiri karena semua tersedia secara prasmanan. Nampak Randy mencegah Andrea yang hendak bangkit.
"Bu Andrea duduk saja, biar saya yang ambilkan makan buat ibu." kata Randy.
"Tapi pak.."
"Tidak apa bu Andrea." katanya, kemudian berlalu menuju meja prasmanan yang paling dekat dengan mereka, saat Andrea ditinggal sendiri oleh Randy, tiba-tiba ada yang datang menyapanya yang ternyata Arshlan sudah membawa makanan.
"Selamat siang ibu Andrea, tidak menyangka akan berjumpa kembali dengan anda." Arshlan menyapa Andrea sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman., dan Andrea pun menyambut uluran tangan Arshlan.
"Selamat siang juga bapak Arshlan." Andrea membalas menyapa
"Boleh saya duduk bergabung disini?" pinta Arshlan.
"Ehmm.. silahkan." Andrea ragu menjawab, tapi melihat kursi yang tersedia dimejanya tidak hanya dua maka Randy masih bisa bergabung saat nanti asistennya itu kembali. Tak lama Randy pun datang membawakan makanan untuk Andrea, nampak Randy menatap penuh tanya ke arah Arshlan.
"Terimakasih pak Randy." kata Andrea sambil menerima piring yang diberikan Randy. "Perkenalkan beliau bapak Arshlan Daniswara kakak dari bapak Xander Daniswara, pak Arsh perkenalkan asisten saya bapak Randy." Andrea memperkenalkan mereka karena keduanya saling bertatap tajam, setelah Andrea memperkenalkan keduanya barulah ketegangan yang mereka perlihatkan memudar dan keduanyapun saling bersalaman, lalu Randy berpamitan untuk mengambil makanan untuknya sendiri.
"Aku cemburu sama asisten kamu." Pernyataan Arshlan membuat mata Andrea membulat penuh tanya.
"Hah..! jangan seperti anak kecil bapak Arshlan!" kata Andrea dengan menyungging sebelah bibirnya setelah ia bisa menguasai dirinya lagi yang sempat terkejut dengan pernyataan Arshlan.
"Jangan tersenyum remeh seperti itu nona Andrea, aku berkata sungguh-sungguh." Arshlan menatap tajam pada Andrea, sementara Andrea dengan cueknya tetap melanjutkan makannya, ia tak mau menghancurkan mood nya dengan menanggapi pernyataan Arshlan terlalu dalam, ia sangat menyadari posisi Arshlan yang sudah memiliki calon istri, ia harus menekan rasa ego nya walau sebenarnya hatinya berkecamuk, tak bisa dipungkiri hati Andrea masih menyimpan kenangan lama bersama Arslan, ia tak bisa membuangnya begitu saja.
"Sadar bang, kamu sudah ada tunangan!" tegur sebuah suara yang tiba-tiba ada diantara percakapan mereka.
"Xander!" seru Andrea saat melihat siapa yang datang, sedangkan Xander tanpa meminta persetujuan langsung duduk didekat Andrea, Arshlan yang telah duduk terlebih dahulu berdecak malas mendengar perkataan adiknya dan duduk begitu saja seolah Arshlan merasa terganggu. Bersamaan dengan itu Randy juga datang, melihat mejanya yang sudah penuh ia bergabung dengan asisten dari Daniswara bersaudara yang berada dimeja tak jauh dari mereka, terdengar hembusan nafas kesal Andrea melihat sang asisten tak berani duduk dimejanya sendiri karena telah didahului oleh Arshlan dan Xander.
...****************...