
Tidak butuh waktu lama perjalanan yang Xander tempuh untuk sampai ke tempat yang di tuju. Di rumah besar itu tampak telah ramai dengan kedatangan tamu maupun saudara yang empunya rumah, yang menurut ucapan Xander hendak mengadakan pengajian empat bulanan saudaranya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Xander segera turun dan diikuti Kinanti, tetapi Kinanti hanya berdiri terpaku di samping mobil atasannya tersebut. Kinanti merasa sungkan karena akan berada di tempat dengan orang-orang yang tidak dikenalnya sama sekali kecuali Xander.
"Ayo kita masuk! Kok malah diam saja di situ kamu?" Xander mengajak Kinanti yang terlihat agak tegang dan hanya mematung.
"Saya sungkan pak, apa sebaiknya saya pulang saja sebelum mereka tahu kedatangan saya." Kinanti masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Sungkan kenapa Kinanti?" tanya Xander heran, Kinanti yang selama ini ia lihat sebagai seorang gadis yang cukup percaya diri saat ada pertemuan dengan rekan kerjasama di tempatnya kerja, saat ini merasa sungkan saat diajak ke acara pengajian dari saudara Xander.
"Saya tidak mengenal mereka pak, hanya anda yang saya kenal." Kinanti mengutarakan apa yang menjadikannya canggung.
"Saat kita ada pertemuan kerja sama dengan perusahaan lain kamu biasa-biasa saja, padahal kamu juga tidak kenal mereka." kata Xander.
"Itu beda cerita pak, untuk urusan pekerjaan saya harus profesional sebagai sekretaris bapak, tapi untuk acara keluarga seperti ini saya sangat canggung, saya bukan siapa-siapa dari keluarga saudara bapak, lalu bagaimana kalau mereka menatap saya tidak suka, karena bapak mengajak perempuan asing yang tak ada hubungan apapun dengan keluarga ini, dan bagaimana bila istri bapak salah paham dengan kedatangan saya yang hanya berdua saja sama bapak." Kinanti berkata pelan di akhir ucapannya.
"Coba ulang perkataan kamu yang terakhir tadi, saya tidak mendengar?" perintah Xander pada Kinanti, tapi baru saja Kinanti hendak berkelit dari perintah Xander, ada suara yang memanggilnya.
"Xen! Kok malah berdiri saja di situ, ayo ajak pacarnya masuk!" perkataan perempuan setengah baya yang memanggil Xander tadi membuat Kinanti mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Pacar? Apa maksudnya?" guman Kinanti nyaris tak terdengar, dan Xander pun tak menyadari gumaman Kinanti.
"Iya tante, kami segera masuk!" seru Xander menanggapi perintah perempuan setengan baya itu yang ternyata adalah mama Andrea, tante Arini.
"Sudah ayo masuk, enggak usah banyak mikir! Acara sudah mau di mulai tuh!" kata Xander sambil menarik tangan Kinanti, dan tenaga Kinanti yang tak sebanding dengan Xander hanya mampu mengikuti Xander dengan setengah berlari.
Di dalam rumah, Kinanti yang merasa canggung hanya berdiri terpaku sambil memandang satu persatu berpuluh pasang mata asing yang memperhatikannya.
Tapi anehnya, berpasang-pasang mata itu menatap Kinanti penuh damba, lalu mata Kinanti menangkap sosok wajah yang sangat ia kenal dan selalu melintas dalam pikirannya setiap Xander bersikap aneh terhadapnya.
"Istri pak Xander, jadi ini acara empat bulan kehamilan istri pak Xander sendiri? Kenapa bilangnya saudara? Dasar pembohong!" Gumam Kinanti hanya dapat dia dengar sendiri.
Andrea yang pernah melihat Kinanti beberapa kali di kantor Xander sangat gembira melihat adik iparnya mengajak Kinanti ke acara keluarga.
Xander menuntun Kinanti mendekati Andrea, tentu saja perlakuan Xander terhadapnya itu membuatnya panik, bisa-bisanya Xander dengan santai menggandeng tangannya di depan istri dan keluarga kedua belah pihak, Kinanti pun memaksa Xander untuk melepas ganggaman tangannya.
Xander yang merasa Kinanti tidak nyaman di perlakukan demikian di depan orang banyak akhirnya melepas genggaman tangannya.
"Bumil keluarga Daniswara semakin cantik saja." puji Xander sambil menjabat tangan Andrea. Sebenarnya Kinanti merasa aneh dengan interaksi keduanya, tetapi Kinanti bersikap masa bodoh.
Kinanti tiba-tiba merasa sesak di dadanya, ia teringat saat Xander mencuri kecupannya lusa malam. Ia hanya berpikir kalau di balik kebaikan dan sikap perhatian Xander tega bermain api di belakang istrinya yang jauh segalanya di atas Kinanti.
"Selamat atas empat bulan kehamilannya ibu Daniswara, semoga Tuhan selalu memberikan segala kebaikannya untuk anda dan calon buah hati anda bu. Kinanti menjabat tangan Andrea untuk memberikan selamat.
Kinanti berpikir kegembiraan Andrea karena hendak menyambut kelahiran buah hatinya beberapa bulan lagi, padahal Andrea begitu karena ia sangat mendukung Xander untuk menjadikan Kinanti pendamping hidupnya.
Kinanti yang melihat Andrea begitu anggun dengan pakaian brokat mewah berwarna tosca dan bawahan kain batik dengan warna senada dan kerudung selempangnya membuat Kinanti tak pantas bila harus berada di antara sepasang suami istri itu sebagai pengganggu.
"Pak, bu. Maaf, sepertinya saya kurang enak badan, saya tidak bisa ikut mengikuti rangkaian acara pengajian ini, saya hendak pulang saja daripada nanti membuat repot." pamit Kinanti beralasan, padahal ia tidak betah di situasi yang ia rasakan saat ini.
"Istirahat di sini saja, biar nanti Xander antar pulang kamu kalau acara sudah selesai, kamu datang sama Xander pulang juga harus sama dia." kata Andrea tegas walau tersirat rasa khawatir di matanya.
"Tapi bu..." Kinanti hendak protes.
"Enggak boleh bantah, aku marah kalau kamu tidak jadi mengikuti acara ini, istirahatlah di kamar tamu, sebentar lagi acara mulai." kata Andrea tak mau di bantah. Tersirat dengan jelas jiwa kepemimpinan yang ia emban selama ini.Dan mau tak mau Kinanti hanya menurut.
Xander menunjukkan kamar tamu agar Kinanti bisa istirahat tapi masih bisa mengikuti acara tersebut.
"Selamat ya pak, semoga anda selalu menjadi suami siaga." kata Kinanti kepada Xander saat mereka sudah dekat dengan kamar tamu.
"Ooh tentu, aku akan jadi suami siaga, apalagi saat istriku tengah hamil. Kamu sudah tak sabar ya?" goda Xander di akhir perkataannya, tetapi Kinanti memutar bola matanya malas, lalu berlalu begitu saja dari hadapan Xander dan masuk ke kamar yang ditunjuk Xander tadi.
Xander mengikuti langkah Kinanti dengan senyum dikulum karena berhasil membuat wajah Kinanti merona karena ucapannya.
"Kenapa bapak malah ikut masuk sih? Nanti kalau istri bapak lihat akan salah paham pada kita!" seru Kinanti panik.
"Istri saya? Maksud kamu apa?" tanya Xander tidak paham. Lagi-lagi Kinanti membuat Xander berpikir keras karena perkataannya mengenai istri.
"Ibu Andrea istri bapak kan? Ooh, mungkin karena sikap bapak yang kurang perhatian terhadapnya membuat ibu Andrea pun main belakang dengan pengawalnya, dan bapak pun sebagai suami juga berani terang-terangan membawa saya di hadapan istri bapak, entah mengenalkan saya sebagai apa, ya mungkin sebagai sekretaris bapak karena memang itu kenyataannya." cerocos Kinanti tanpa bisa dipotong oleh Xander.
Dan Xander yang mendengar perkataan Kinanti tadi malah seperti kehilangan akal, ia bingung mau berkata apa dan di mulai dari mana.
"Oohh, jadi ini maksud perkataan kamu akhir-akhir ini." Xander tersenyum lebar menanggapi perkataan Kinanti. Lalu ia berjalan mendekati Kinanti, di dekatkannya wajah Xander di depan wajah Kinanti, begitu dekat.
"Kamu cemburu?" bisik Xander, dan Kinanti hanya membuang muka. Dengan diamnya Kinanti Xander jadi tahu kalau Kinanti punya perasaan yang sama dengannya.
"Siapa pengawal Andrea yang sudah berani menjadi selingkuhannya?" tanya Xander masih dengan suara pelan sambil memegang dagu Kinanti dengan satu tangannya untuk di hadapkan kearahnya, kini mata mereka beradu pandang.
Apa ada di sini sekarang pengawal yang kamu maksud itu?" tanya Xander dengan geram, ia tak terima kakak tercintanya di hianati oleh istri dan pengawalnya sendiri.
...****************...
Happy reading semua, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
Like komen kalian jadi penyemangat tersendiri buat othor 🥰