Andrea

Andrea
Sebuah Alasan



Andrea bersiap berangkat untuk mencari alamat dalang dari pelaku teror panti asuhan, saat itu dilihatnya sebuah mobil yang sangat ia kenal masuk pekarangan panti.


"Arsh.." gumam Andrea. Lalu dilihatnya lelaki itu turun dari mobil dan mendekat kepadanya.


"Arsh, kamu gak ngantor?" tanya Andrea setelah Arshlan berada di hadapannya.


"Aku mau bantu kamu cari alamat itu" jawab Arshlan.


"Aku sendiri juga gak apa Arsh, bagaimana dengan kerjaan kamu hari ini?" Andrea merasa tak enak hati.


"Kebetulan jadwal hari ini tidak begitu padat jadi aku bisa tinggal dan dihandel sama asisten aku." jatwab Arshlan yang entah bohong atau benar.


"Hmmmhh..! ya sudahlah terimakasih mau menemani aku." pasrah Andrea dengan menghela panjang nafasnya.


"Sudah siap berangkat?" Tanya Arshlan dijawab anggukan Kyra.


"Nih pake helmnya!" Andrea menyerahlan sebuah helm yang ia ambil dari rak dalam garasi panti di samping rumah utama. Arshlan menerima helm itu dengan wajah penuh tanya.


"Iyaa pake motor saja lebih praktis dan cepat bisa salip sana sini." kata Andrea yang mengerti raut wajah Arshlan.


Untung Arshlan memakai jaket jadi ia tidak masalah saat Andrea lebih memilih naik motor. Andrea sudah menyiapkan motor maticnya untuk dibawa pergi.


"Tumben pakai motor feminim?" goda Arshlan dan lagi jawaban Andrea sama.


"Lebih praktis kalau dijalanan rame. Ya sudah yuk berangkat, keburu siang." ajak Andrea dan segera Arshlan mengambil kemudi motor untuk segera mencari alamat yang diberikan pelaku teror pagi tadi.


Beberapa menit perjalanan mereka sampai disebuah perumahan, saat di gerbang masuk mereka didatangi security karena gelagat mereka yang sedang meyakini alamat itu benar atau salah.


"Ada yang bisa kami bantu mas, mbak?" tanya Security tersebut setelah sampai dihadapan Andrea dan Arshlan.


"Saya sedang mencari alamat ini." Andrea menyodorkan ponselnya yang dilayarnya terpampang tulisan sebuah alamat yang dicarinya saat ini.


Saat security tengah membaca alamat yang tertera diponsel Andrea dari dalam perumahan keluar sebuah motor sport dengan pengendarai seorang lelaki dengan memakai helm fullface, pemotor itu memelankan laju motornya sambil memandang kearah Andrea berdiri, lalu ia mendekatinya dan mematikan mesin motornya. Sontak semua menatap ke arah motor yang berhenti tepat didekat mereka berdiri


"Mbak Andrea!" sapa pengendara motor sport tadi, sambil membuka kaca helmnya, namun Andrea terlihat memincingkan mata seperti mencoba mengenali wajah yang hanya terlihat matanya saja.


"Ehh mas Arik, mau berangkat mas?" sapa security yang mengenali siapa pengendara motor tersebut, dan nampak Andrea terheran saat security itu menyebut nama yang familiar ditelinganya.


Pengendara yang dipanggil Arik oleh security tadi membuka helmnya agar Andrea bisa mengenalinya, ia juga membuka masker yang menutup sebagian wajahnya.


"Arik?!" seru Andrea saat lelaki pengendara motor itu membuka semua penutup wajahnya, nampak Arshlan memandang Andrea penuh tanya karena sepertinya Andrea mengenali lelaki yang masih asing dimatanya, tetapi ia samar-samar mengingat kalau pernah melihat orang ini, tapi dimana? Arshlan masih mengingat-ingat.


"Kalian saling kenal?" tanya security itu.


"Iya pak, dia teman saya, ya sudah bapak kembali ke pos saja." Dan security itu mengangguk kemudian berlalu menuju posnya kembali.


"Ada apa mbak sampai kesini?" tanya Arik penasaran juga dipandanginya lelaki tampan disamping Andrea, wajah yang pernah dilihatnya saat menemani Andrea dipemakaman papanya, wajah yang mengganggunya setiap saat setelah selesai pemakaman papa Arga. Raut cemburu terlihat diwajah Arik.


"Aku cari alamat ini Rik." Andrea menyodorkan ponselnya, Arik menerima ponsel itu dan mempelajari tulisan yang tertulis dilayar.


"Loh ini rumah sebelah aku mbak, kamu kenal sama tetangga aku?" tanya Arik heran.


"Panjang ceritanya Rik, kamu sebaiknya antar kami kesana." pinta Andrea.


"Tapi apa boleh aku tahu inti permasalhannya?" tanya Arik penuh rasa penasaran.


" Sepertinya ini ada hubungannya sama kamu." kata Andrea.


" Maksudnya?" Arik semakin tidak mengerti denganyang dikatakan Andrea, lalu Andrea mengambil ponselnya yang berada ditangan Arik, digeser-gesernya layar ponselnya mencari sesuatu yang dicarinya, ia kembali menyodorkan ponselnya kepada Arik, dan dilayar terdapat gambar yang diambilnya pagi tadi juga beberapa gambar yang diambil tiap ada kiriman seperti itu dipanti.


"Lalu darimana mbak tahu kalau orang dialamat ini otak peneroran dipanti?"


"Kami sudah menangkap pelakunya, dan dia bilang hanya disuruh, tadinya dia tidak mau buka suara, tapi setelah kami ancam dia memberitahukan alamat ini." jelas Andrea.


"Ya sudah, ayo aku antar ke alamat ini." Arik mengendarai motornya dan masuk kembali kedalam komplek, lalu Andrea dan Arshlan mengikutinya dari belakang.


Tibalah mereka dialamat yang dicarinya, Arik menghentikan motornya disebuah rumah dengan pagar hitam agak tinggi itu, lalu dipencetnya bel yang tertempel di samping pagar. Dari dalam rumah nampak seorang perempuan muda setengah berlari tergesa menuju pagar saat dia tahu siapa yang datang.


"Hai mas Alarik, tumben kesini ada perlu apa ya?" tanya gadis itu bertanya dengan wajah sumringahnya sampai tidak melihat sekitar kalau Arik datang tidak sendiri.


"Aku mengantar tamu yang mencari alamat ini." jawab Arik datar, dan saat gadis itu melihat kearah Andrea ia tak bisa menutupi kaget dan gugup yang terlihat jelas diwajahnya.


"A-anda siapa, em-mencari siapa?" tanyanya tergagap.


"Kami mencari orang yang menyuruh pelaku teror panti dekat stadion itu, karena pelaku itu sudah kami tangkap dan memberikan alamat disini kepada kami, saya rasa tidak lama lagi mungkin polisi juga akan datang kesini untuk menjemput orang yang menyuruh pelaku teror itu." jelas Andrea yang semakin memperlihatkan raut ketakutan diwajah gadis itu.


Saat gadis itu hendak berbalik masuk kerumahnya, Arik dengan sigap menarik tangan gadis itu.


"Adis! apa kamu yang menyuruh orang itu?!" seru Arik saat ia menyadari kalau gadis bernama Adis itu gugup dan takut saat Andrea menjelaskan maksud kedatangannya.


"Lepasin Al!" seru Adis berontak saat tangannya dipegang begitu erat oleh Arik.


"Jawab jujur Adis, kalau kamu tidak ingin lebih sakit!" seru Arik saat Adis semakin memberontak.


"Ini semua gara-gara kamu Al! kamu terlalu acuh kepadaku, padahal kamu tahu aku begitu memendam perasaan sama kamu, kenapa kamu tidak bisa baik sama aku, sedang kamu begitu mudah akrab dengan orang yang baru kamu kenal?!" Adis begitu histeris mengeluarkan isi hati yang ia pendam selama ini, dan Adis menatap tajam kepada Andrea karena ia merasa Andrea telah merebut perhatian Arik, dan menyebabkan Arik semakin jauh dari jangkauannya.


"Kalau kamu mengira aku ada kedekatan khusus dengan Arik, kamu salah besar, aku sudah ada orang spesial yang mengisi hatiku, ini orangnya, jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan merebut perhatian Arik dari kamu." Andrea menjelaskan yang sebenarnya kepada Adis sambil membawa tangan Arshlan dalam pelukannya, ia tidak mau ada kesalah pahaman. Tetapi Arik justru terlihat menahan marah saat mengetahui semua, raut cemburu tak bisa ia sembunyikan saat Andrea memperkenalkan siapa Arshlan kepada Adis.


"Rik, harusnya kamu peka ada seseorang yang perhatian sama kamu." nasehat Andrea


"Mbak tidak akan berkata begitu seandainya mbak tahu bagaimana kelakuan dia dimasa lalu!" seru Arik dengan marah tertahan, dan itu membuat Andrea dipenuhi tanda tanya.


"Tidak perlu butuh penjelasan mbak, karena itu hanya akan membuat hatiku kembali sakit, biarlah cewek tidak tahu malu ini menanggung perbuatannya, mungkin dulu dia bisa lolos, tapi tidak kali ini." Arik yang mengetahui tanya dibalik tatapan Andrea tidak bersedia menjelaskan suatu misteri masa lalu Arik dan Adis, bersamaan dengan itu nampak mobil polisi datang kearah mereka. Adis terlihat sangat ketakutan saat dilihatnya mobil polisi berhenti didepan rumahnya.


"Tolong aku Al, mbak aku minta maaf sudah salah sangka, tapi tolong maafkan aku, aku tidak mau mereka memvawaku!" tangis histeris Adis begitu menyayat telinga yang mendengarkan, tetapi Arik tak bergeming, sementara Andrea yang tidak tahu menahu tentang masa lalu Adis dan Arik tak bisa melakukan apa-apa.


"Arik!" seru Andrea saat dilihatnya Arik tak ada respon sama sekali sebelum polisi sampai didepan mereka, tetapi belum Arik memberikan reaksinya, polisi sudah sampai dihadapan mereka.


"Selamat siang, apakah ini benar alamat rumah saudari Adisti Ardani?" tanya salah satu polisi.


"Ini orangnya pak" kata Arik dingin sambil mencengkeram kuat tangan Adis yang sejak tadi hendak berlari.


"Maaf saudari kami amankan karena anda tertuduh sebagai otak pelaku teror yang sangat meresahkan, kami butuh keterangan anda." kata polisi itu sambil mengeluarkan surat penangkapan.


"Arik tolong, ini bukan salah aku sepenuhnya, tolong aku Rik!" tangis histeris Adis semakin pilu terdengar, tetapi Arik tidak bergeming, dibiarkannya polisi itu membawa pergi Adis.


Saat Adis berteriak karena dibawa paksa oleh polisi, seorang wanita berusia sekitar enampuluh tahunan keluar dari rumah itu.


"Apa yang terjadi dengan nona Adis pak, kenapa anda membawa anak majikan kami!" seru perempuan yang ternyata asisten rumah tangga Adis itu.


"Maaf bu, semua keterangan akan kami jelaskan dikantor" jawab polisi itu, lalu masuk ke dalam mobil, dan menyuruh rekannya untuk segera mengemudikan mobi menuju kantor polisi.


"Kamu hutang penjelasan ke aku Rik!" suara Andrea pelan namun tegas dan tatapan tajamnya mengintimidasi Arik yang juga dikuasai amarah. Andrea mendekati asisten rumah tangga Adis, merangkulnya dan mengajaknya duduk agar lebih tenang, setelah terlihat lebih tenang, Andrea menjelaskan kenapa Adis dibawa oleh polisi.


...****************...