Andrea

Andrea
Positif



"Apa yang ingin kamu jelaskan padaku?!" tanya Arshlan dingin. Ia masih tak habis pikir dengan kemauan Andrea dan Edwin ikut mendukungnya.


"Kemungkinan istri kamu sudah hamil Lan." jawab Edwin membuat Arshlan terlonjak kaget.


"Yang benar saja kamu ngomong Ed! Kami menikah belum ada sebulan masa sudah tahu Andrea hamil?!" sanggah Arshlan.


"Bisa saja saat kalian menikah dan bulan madu, Andrea sedang berada dalam masa suburnya, dan saat ini dia yang harusnya sudah mendapat tamu bulanannya tapi belum dapat, dan untuk lebih jelasnya kita harus segera sampai rumah sakit." jelas Edwin bisa Arshlan mengerti.


Perasaannya kini campur aduk antara berharap Andrea benar hamil, tapi juga bingung juga khawatir bagaimana keadaan Andrea sekarang.


Jam pulang kantor membuat perjalanan mereka terhambat karena jalan sangat padat pengendara yang sama-sama ingin segera sampai ke rumah ataupun tempat tujuan lain.


***


Sementara Andrea yang sudah sampai di rumah sakiit segera menarik tangan Arshlan agar berjalan cepat menemui dokter Angela sesuai petunjuk dari dokter Edwin.


Dengan tergesa Xander mengikuti langkah Andrea yang terus saja memegang pergelangan tangannya menuju ruang dokter Angela.


Saat sampai di depan ruangan dokter Angela, Andrea menanyakan kapan tiba gilirannya untuk di periksa, dan ternyata masih menunggu dua urutan lagi. Andrea pun menarik tangan Xander untuk duduk di kursi tunggu.


Ternyata diam-diam ada yang memperhatikan mereka sejak datang, mereka adalah staf kantor Xander dan juga sekretarisnya, Kinanti. Kinanti diminta menemani rekan kantornya untuk periksa rutin kehamilan yang baru masuk trimester pertama, karena suaminya tidak bisa menemani karena berada diluar kota.


"Mbak, ada pak Xander tu lagi nganter istrinya." Kata Kinan berbisik memberitahu temannya yang sedang Asyik menekuni ponselnya. Lalu teman Kinanti mendongakkan kepalanya demi menyatakan apa yang Kinanti ucapkan.


"Mana?" tanya Dian teman Kinanti dengan suara pelan pula.


"Itu barisan paling depan, yang cuma duduk berdua." terang Kinanti.


"Secantik apa sih istri pak Xander?" tanya Dian begitu penasaran.


"Dekati saja sana, nanti juga tahu." kata Kinanti.


"Enggak lah, segan tau Nan, kamu kan sudah lihat tadi." kata Dian.


"Aku pernah lihat sebelum ini, istri pak Xander sudah pernah aku temui dua kali di kantor, yang terakhir baru tadi siang." jelas Kinanti


"Masa sih? Kok malah enggak lihat?"tanya Dian tidak percaya.


"Datangnya pas sibuk-sibuknya jam kantor, aku ketemu karena aku kan sering keluar masuk ruangan pak Xander." jelas Kinan kembali.


"Pencari perhatian pak Xander harus mengubur dalam-dalam keinginan mereka. Kecuali pak Xander khilaf untuk berpaling sementara dari istrinya." bisik Dian kemudian menutup mulutnya karena merasa bicaranya sudah terlalu melantur.


"Sepertinya susah buat berpaling mbak, istrinya begitu cantik dan terlihat sangat pintar." jelas Kinan tapi seakan merasakan suatu ganjalan di hatinya. Seketika hatinya merasa hampa mendengar pernyataan Dian tadi.


"Mikir apa sih aku?! Dan andaipun pak Xander belum punya istri dia tidak akan mungkin melirikku apalagi melihatku." batin Kinanti.


"Lagian kan mereka karyawan lama, apa iya masih cari perhatian pak Xander? Mereka kan tahu pak Xander sudah menikah." kata Kinanti penuh tanya.


"Pak Xander tu baru pindah sekitar satu bulan ini, ya hampir bareng sama kamu sih, duluan pak Xander beberapa hari, dulu bos kita pak Arshlan kakaknya, katanya mereka bertukar kantor." jelas Dian.


"Kalau pak Arshlan sudah menikah belum?" tanya Kinanti.


"Sudah, baru sebulanan juga, menurut kabar sih kedua bos bertukar kantor karena biar pak Arshlan satu kota sama istrinya, karena istrinya juga bos sebuah perusahaan di kota sebelah." jelas Dian lagi.


"Wah..! Pasangan powerfull, sama-sama bos. Mbak Dian datang pas nikahan pak Arshlan?" tanya Kinanti lagi semakin ingin banyak tahu.


"Aku enggak bisa datang, karena ada keperluan penting sendiri. Cuma lihat teman-teman pada posting di sosial media mereka." kata Dian.


"Coba lihat dong mbak." pinta Kinanti, tapi belum sempat Dian memperlihatkan apa yang Kinanti mau, Dian mendapat panggilan antrian periksa, dan bersamaan dengan itu Xander dan Andrea diajak dokter Angela ke ruang yang lain.


Arshlan dan Edwin tiba di ruangan yang digunakan Angel untuk memeriksa dan menjelaskan kondisi Andrea saat ini.


Angel bertanya apa yang terjadi dengan Andrea, dan dengan serta merta kedua kakak beradik Arshlan dan Xander menjawab


"Sikapanya berubah aneh." jawab keduanya berbarengan.


Sementara Angela yang baru pertama kali bertemu dengan mereka menatap Edwin penuh tanya, dan Edwin yang ditatap hanya mengangkat sebelah bahunya.


"Maaf bapak ibu, sepertinya saya harus segera memeriksa ibu Andrea." kata dokter Angel meminta persetujuan. Mendengar itu Andrea melepas tatapan tajamnya kepada kedua kakak beradik itu.


Angela mengajak Andrea untuk melakukan USG dan Arshlan sebagai suaminya mendampingi istrinya masuk ruang USG.


Andrea disuruh berbaring di ranjang periksa sementara Angela menghidupkan alat ultrasonografi yang akan di gunakan untuk melihat apakah Andrea telah positif hamil atau tidak.


Setelah peralatan siap, dokter meminta Andrea membuka bajunya dibagian perut lalu diolesinya perut Andrea dengan gel khusus lalu angela menempelkan alat USG diperut Andrea dan menggerakannya secara pelan.


"Nah, bapak ibu anda bisa melihat kalau dalam kantong rahim ibu Andrea telah berisi janin, masih sangat kecil karena baru memasuki minggu keempat." Kata dokter Angela sambil menunjuk layar saat dirinya menjelaskan tentang kondisi Andrea saat ini.


Mendengar penjelasan dokter Angela, suami istri itu tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya tetapi juga ada tanya dalam pikirannya.


"Maaf dok saya mau tanya." kata Andrea saat dokter Angela membersihkan sisa gel di perut Andrea.


"Pernikahan kami juga memasuki minggu keempat, dan dokter bilang saya hamil dan sudah memasuki minggu keempat pula, apakah saya bisa langsung hamil saat pertama kali berhubungan dengan suami saya? Karena kami bukan pelaku se*s pranikah." tanya Andrea penuh penasaran.


"Itu juga yang sejak dari rumah saya tanyakan kepada Edwin, karena Edwin menduga kalau istri saya ini sudah hamil." Arshlan mengungkapkan rasa penasarannya juga.


"Kemungkinan besar itu yang terjadi dengan anda berdua, mungkin saat anda pertama melakukan, kondisi ibu Andrea sedang dalam masa subur, karena masa subur seorang perempuan terjadi antara dua belas sampai enam belas hari sebelum masa haid berikutnya datang, nahh apakah anda sudah mendapatkan haid anda bulan ini ibu Andrea?" tanya dokter Angela mengakhiri penjelasannya.


Mendapat pertanyaan seperti itu Andrea segera mengingat kapan seharusnya siklus bulanan itu datang padanya.


"Astaga, benar dok, seharusnya saya mendapat tamu bulanan saya sejak dua minggu yang lalu, kenapa saya tidak memperhatikan ya?" kata Andrea


"Tidak apa bu Andrea, mungkin karena anda mulai merasakan perubahan hormon, jadi pak kalau tadi anda bilang kalau bu Andrea berubah aneh, itu bisa jadi karena bawaan hamil ibu Andrea, sebagai suami anda harus ekstra sabar juga orang-orang di sekitar anda, karena mood ibu hamil sangat cepat berubah sewaktu-waktu." pesan dokter Angela membuat Arshlan kini sadar bahwa perilaku Andrea akhir-akhir ini akibat pengaruh kehamilannya, begitupun Andrea. Kini ia sudah tahu kenapa ia sering berubah mood sewaktu-waktu.


"Ada yang masih mau ditanyakan pak, bu?" tanya Angela.


"Sementara belum dok, tapi bolehkah saya menelpon dokter saat diluar waktu periksa bila ada sesuatu yang ingin saya tanyakan?" tanya Andrea.


"Boleh banget bu Andrea." jawab Angel antusias, lalu Andreapun menyimpan nomor pribadi dokter Angela jika suatu waktu butuh pencerahan seputar kehamilannya.


Beberapa menit berlalu dokter Angela, Andrea dan Arshlan keluar ruangan, terlihat binar bahagia dari wajah dan sikap suami istri baru itu.


"Positif kan Ngel?" tanya Edwin yang sudah menduga sejak dari rumah begitu Angela duduk di kursinya dan Angel hanya menganggukkan kepalanya.


"Positif apanya dok?" tanya Xander yang saat itu paling tidak mengerti apa-apa.


"Positif kalau kamu mau jadi paman." jawab Arshlan yang berjalan di belakang Andrea.


"Maksudnya mbak Andrea hamil?!" seru Xander terlonjak gembira,


"Begitulah." jawab Arshlan dan Andrea bersamaan.


"Apakah keanehan yang terjadi akhir-akhir ini karena pengaruh kehamilan itu ya dok?" tanya Xander


"Bisa jadi seperti itu pak." jawab Angela, membuat Xander menjadi terlihat gelisah.


"Kamu kenapa gelisah begitu?" tanya Edwin yang memperhatikan gelagat Xander.


"Aku takut dikerjain maunya mbak Andrea bang, karena dia selalu memilih aku bukannya bang Arshlan suaminya, yang enak-enak saja dia kenapa giliran yang susah-susah aku yang dapat?!" Xander mengacak rambutnya membayangkan kemauan Andrea ke depannya.


"Sabar, mungkin calon keponakan kamu sangat sayang sama kamu." kata Edwin sambil menepuk-nepuk pundak Xander untuk memberinya dukungan.


Xander hanya menghembuskan nafasnya kasar seakan lelah menghadapi hal yang belum dialaminya, sedangkan Andrea dan Arshlan saling menggenggam tangan penuh kebahagiaan sambil mendengarkan nasehat-nasehat dari dokter Angel.


...****************...


Selamat membaca...


Tinggalkan like, komen, vote, dan giftnya yaa 🥰