Andrea

Andrea
Tidak Jelas



Arshlan dan Andrea telah kembali dari bulan madunya, sebelum mereka aktif masuk kantor kembali, mereka masih ingin menghabiskan waktu dahulu untuk mengunjungi Danisa yang baru saja melahirkan.


Menjelang jam makan siang Andrea datang ke kantor Xander membawa makan siang untuk suami serta adik iparnya, karena Arshlan ingin menyelesaikan dan mengalihkan seluruh pekerjaan yang semula menjadi tanggung jawabnya kepada Xander, sedangkan Arshlan yang akan mengambil alih pekerjaan Xander yang berpusat di kota sebelah, agar bisa satu kota dengan istrinya.


Andrea langsung menuju ruangan Xander ketika sampai di kantornya, saat sampai di depan ruang Xander terlihat Kinanti baru saja keluar ruangan dengan membawa berkas untuk di tanda tangani oleh Xander.


"Selamat siang ibu." sapa Kinanti sambil mengangguk sopan kepada Andrea.


"Selamat siang, apakah suami saya ada di dalam ruangannya?" tanya Andrea.


"Ooh, bapak Xander ada bu, beliau sedang menerima tamu, tapi sepertinya saudaranya kalau tidak temannya, silahkan masuk saja bu, maaf saya permisi mau ke ruangan saya dulu." jawab Kinanti lalu berlalu menuju ruangannya setelah berpamitan kepada Andrea.


Andrea yang mendengar kesalah pahaman Kinanti hanya menahan senyum gelinya, lalu Andrea mengetuk pintu ruangan Xander dan langsung masuk begitu dipersilahkan oleh sang pemilik ruangan.


Rupanya tamu yang dimaksud Kinanti adalah Arshlan, dan itu semakin membuat Andrea tak kuasa menahan tawanya.


"Kenapa datang-datang langsung tertawa seperti itu sayang?" tanya Arshlan sambil berdiri menyambut kedatangan istrinya.


"Ada yang lucu ya mba" tanya Xander juga.


"Lucu gak lucu sih, tapi sepertinya pegawai kamu yang barusan keluar dari sini itu masih baru ya?" tanya Andrea pada Xander dengan bibir masih mengulas senyum geli.


"Kinanti? iya dia sekretaris baru aku, baru semingguan dia bekerja di sini." jelas Xander.


"Hmmm pantas saja, aku dikira istri kamu, dan Arshlan dikira teman kamu. Ya karena aku tanyanya suami saya ada di dalam? begitu." terang Andrea membuat kedua lelaki kakak beradik itu menanggapi dengan ekspresi berbeda, tetapi Andrea tidak memperhatikan karena ia langsung duduk dan membuka makan siang yang dibawanya.


Walaupun Kinanti ada sebagai bagian dari tim katering saat pernikahan Andrea dan Arshlan, tetapi ia tidak tahu seperti apa rupa dan wajah pengantinnya, karena saat itu Kinanti menjadi bagian yang mencuci gelas dan piring kotor, jadi dia hanya berkutat masalah alat makan yang harus segera dibersihkan agar bisa segera digunakan kembali oleh para tamu yang begitu banyak


Dan saat Kinanti bisa keluar ke tempat pesta, acara sudah selesai, dan pasangan pengantin sudah turun dari singgasananya.


"Aahh, astaga! Ternyata aku mengagumi pria yang telah beristri, maafkan aku ya Tuhan. Apalagi setelah melihat istrinya tadi aku merasa hanya seperti upik abu, hmmm berarti kelak akan dapat pangeran dong, seperti Cinderela." gumam Kinanti sambil senyum-senyum sendiri.


"Haishhh! Sadarlah Kinanti!" Serunya tertahan, lalu ia pun keluar ruangan menuju kantin karena sudah waktunya makan siang.


Arshlan dan Xander pun saat ini tengah lahap memakan makanan yang dibawa oleh Andrea.


"Xen, habis makan siang ini kami mau menengok bayi dobel D dulu sebelum kami kembali ke kota sebelah. Kamu mau ikut sekalian atau tidak?" tanya Andrea.


"Ikut sekalian saja biar seru kalau rame-rame." jawab Xander antusias.


"Pekerjaan aman enggak, kok mau ditinggal?" kini Arshlan yang bertanya.


"So pasti aman bang, kalau gak aman mana berani aku ninggalin." jawab Xander sambil memasukkan suapan terakhir makanan ka dalam mulutnya.


"Ya sudah, aku mau ke ruangan pak Aris dulu, kalian bisa menunggu di lobi, atau kamu mau ikut aku sayang?" Tanya Arshlan pada Andrea.


"Tidak usah sayang, aku tunggu di lobi saja." Andrea dan Arshlan sudah berdiri hendak keluar ruangan Xander.


"Aku temani mbak, tapi jangan lama-lama bang!" pesan Xander.


"Ya ampun bang, enggak mungkin juga aku mau nikung kamu, ya sudah besok aku bawa kekasih aku biar hati kamu tenang bang!" Seru Xander dengan raut muka lucu karena perkataan kakaknya.


"Iya deh cepat bawa, tapi apa ada yang mau ya sama kamu?" kata Arshlan sambil meletakkan jempol dan telunjuknya di dagu dengan mata melihat ke atas seolah berfikir, masih melanjutkan menggoda Xander.


"Enggak ada bang, nggak ada yang mau sama orang jelek kaya aku, ayo mbak pergi saja dari sini sebelum harga diriku semakin jatuh!" seru Xander kembali sambil menarik tangan Andrea meninggalkan Arshlan keluar dari ruangannya.


Sementara Arshlan yang tadinya kegelian karena berhasil menggoda adiknya segera mengikuti adik dan istrinya keluar.


"Enggak usah gandengan juga kali Xen, emang mau nyeberang?!" Seru Arshlan sambil menarik tangan Xander yang menggandeng tangan Andrea. "Sayang nanti cuci tangan kamu biar bau Xander tidak menempel di lengan kamu!" Lanjut Arshlan membuat Andrea tertawa dan Xander semakin kesal.


"Keterlaluan banget sih bang, sampai segitunya?!" Xander semakin terlihat kesal, tapi hanya pura-pura kesal saja.


Arshlan yang sudah merasa puas menggoda adiknya segera berlalu dari hadapan keduanya menuju ruang pak Aris dengan tawanya.


Xander segera mengajak Andrea turun melalui lift khusus direksi, tetapi mulutnya masih bergumam penuh kesal dan Andrea hanya tersenyum sambil gelengkan kepalanya menanggapi sikap Xander yang kelihatan lucu kalau kekanakan seperti itu.


Andrea sedang menarik tangan Xander yang sedang dalam mode pura-pura ngambek dan diajak duduk di sofa ruang tunggu lobi kantor, bersamaan dengan itu Kinanti lewat bersama Gilang setelah makan dari kantin, Xander melihat tawa lebar Kinanti saat bersama Gilang, entah apa yang mereka bicarakan. Tetapi melihat Xander sedang di tarik Andrea apalagi dengan mode manjanya seketika menguapkan tawa Kinanti, entah malu entah sungkan atau entah kenapa terhadap Xander.


Xander yang melihat hal itu langsung mengubah mode manjanya menjadi serius sambil menatap ke arah Kinanti dengan tajam. Kinanti merasa tatapan Xander yang tajam itu merupakan sebuah peringatan karena dia sudah telat beberapa menit tapi malah teetawa-tawa dengan santainya.


Akhirnya Kinanti bergegas berjalan dengan cepat saat dilihatnya lift terbuka agar tak ketinggalan untuk segera bekerja kembali, Gilang yang melihat Kinanti berjalan terburu-buru segera melangkahkan kakinya dengan lebar agar tak tertinggal lift juga.


Xander hanya mampu menggeretakkan gerahamnya melihat adegan itu, entah apa yang dirasakan Xander.


Nampaknya Andrea menyadari perubahan air muka Xander, di arahkannya pandangan Andrea ke lift seperti arah pandang Xander, tetapi ia hanya mendapati lift yang sedang menutup.


"Kamu kenapa Xen, Lihat hantu naik lift? Kok wajahnya tegang gitu melihat lift?" tanya Andrea agak cemas melihat wajah Xander dengan tatapan tajam ke arah lift.


"Iya, itu hantunya." kata Xander datar sambil memajukan dagu ke arah lift khusus direksi dan membuang mukanya. Andrea mengikuti arah yang Xander maksud.


"Itu kakak kamu bukan hantu!" seru Andrea sambil menepuk paha Xander dengan keras, "Astaga..!" seru Xander agak keras karena kaget sekaligus sakit.


"Kenapa sih mbak main pukul begitu?!" Tanya Xander setengah kesal pada Andrea.


"Kamu yang kenapa, aku enggak tahu apa-apa tiba-tiba dipasangi tampang datar, kakak kamu dibilang hantu." Jawab Andrea tak kalah kesal.


"Kalian kenapa sih? Aku lihat mirip anak kecil lagi berantem deh." Tanya Arshlan yang baru saja sampai di depan mereka, Xander hanya buang muka mendengar pertanyaan kakaknya.


"Tahu tuh, pacarnya di ambil orang kali, berangkat yuk sayang, yang ngambek tanpa sebab biarkan saja." kata Andrea sambil bangkit dari duduknya dan langsung menyeret tangan Arshlan keluar lobi kantor.


"Tunggu! Main tinggal saja!" Seru Xander sambil mengejar kedua kakaknya.


Dan ketiganya pun meninggalkan kantor Dans Company untuk pergi menjenguk Danisa yang baru saja melahirkan.


...****************...


Like dan komennya yah readers tersayang 🥰