
"Dre, kamu setuju dengan yang mama katakan tadi? tentang ia ingin menjadikanmu menantu buat Xander?" tanya Arshlan saat perjalanan mengantarkan Andrea pulang.
"Kenapa? tidak ada masalah kan Arsh?"
"Aku yang bermasalah Dre." sahut Arshlan.
"Kenapa?"
"Apakah aku akan bisa menyaksikan kebahagiaan yang aku harapkan justru mempunyai kebahagiaan dengan orang lain yang tidak lain adik aku sendiri?"
"Kita bisa hidup terpisah bersama pasangan kita masing-masing kan? Toh kamu juga akan berkeluarga dengan orang lain, aku rasa tidak masalah sih." kata Andrea.
"Ck! itu mungkin mudah bagimu, tapi tidak bagiku Dre." Arshlan berkata dengan suara sendunya.
"Hehh... Itu justru lebih mudah daripada kamu harus menakhlukkan mama. Karena mama sudah terlanjur tidak suka sama kamu." Nampak Andrea mengangkat senyum sebelahnya seakan memperingatkan Arshlan akan mamanya.
"Kamu terlalu meremehkanku Dre." Raut serius tersirat diwajah Arshlan dengan kepala menggeleng pertanda ia tak mau di anggap remeh begitu saja. Andrea enggan menanggapinya lagi, ia lebih fokus pada perjalanannya, hingga tak lama mereka telah sampai di rumah Andrea. Nampak mama Andrea langsung menunggu kedatangan mereka di depan pintu saat mendengar mobil masuk pekarangan rumahnya.
"Mama pikir kamu akan melanggar pesan mama, sampai hampir petang begini baru pulang." Tegur mama Arini menohok Andrea juga Arshlan. Belum pernah Andrea saksikan raut muka mamanya sedingin dan sesadis itu dengan tatapan mengintimidasinya.
"Andrea ingat kok ma." kata Andrea
"Bagus memang begitu seharusnya, kamu tidak boleh berlama-lama dengan dia!" Kata mama sambil mengarahkan tatapan tajamnya pada Arshlan.
"Terimakasih karena sudah mengijinkan Andrea menemui mama saya tante, semoga mama segera sehat kembali karena kedatangan Andrea bagai imun booster buat mama, hingga sekarang terlihat lebih bugar." kata Arshlan dengan sikap santunnya.
"Saya berharap, ini untuk terakhir kalinya, karena besok-besok belum tentu saya mengijinkan Andrea bertemu keluarga kamu, apalagi bertemu kamu." kata-kata mama Arini hanya bisa membuat Arshlan terdiam dan Andrea yang mendengar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu tante, sekali lagi terimakasih." Arshlan berpamitan dengan senyum yang menyungging dibibirnya.
"Silahkan." Mama Arini membuka telapak tangannya sambil mempersilahkan Arshlan meninggalkan tempat itu, setelah Arshlan berlalu, mama Arini segera masuk dan menutup pintu depan, dihampirinya Andrea yang sedang duduk diruang keluarga.
"Kenapa tamunya tidak diajak masuk?" tanya papa Arga yang baru keluar dari kamarnya.
"Tidak perlu pa, mama tidak suka dengan pemuda tadi." jawaban mama hanya membuat Andrea geleng-geleng kepala, sedang papa hanya nenghela nafasnya kasar, ia tahu bila mama sedang dalam kondisi seperti itu, mereka tidak akan banyak bicara karena salah ucap sedikit saja bisa memicu kemarahan mama lebih menyeramkan.
"Dre mandi dulu ma, pa." pamit Andrea saat mamanya tak lagi bersuara.
"Andrea, mama harap kamu menjaga kepercayaan yang mama berikan." ucapan mama membuat Andrea yang sudah melangkahkan kakinya berhenti dan membalikkan badannya.
5"Mama, Andrea hargai perasaan mama yang sangat tidak bisa menerima kesalahan masa lalu Arshlan, tapi Andrea harap mama masih terus mempercayai Andrea, karena Andrea tidak berani melanggar kepercayaan yang sudah mama berikan." Entah kenapa Andrea agak sebal dengan sikap mama hari ini, gara-gara bertemu Arshlan semua penghuni rumah kena getahnya.
"Bagus, tolong hargai mama." jawab mama masih belum mengeluarkan senyum manisnya. Andrea pun segera menuju kamarnya untuk membersihkan badannya.
***
Pagi menjelang siang bapak Arga Abimana beserta ibu Arini gytg Abimana berkunjung ke kantor yang sudah agak lama tidak mereka masuki karena mereka sudah mempercayakannya pada Andrea, bapak Abimana hanya lebih sering memantau dari rumah dengan meminta laporan-laporan dari bawahannya.
Para staf dan karyawan merasa sangat surprise dengan kedatangan CEO utama perusahaan tersebut, yang sudah lama tidak datang.
Suami isteri itu langsung menuju ruangan utama yang kini ditempati anak gadisnya.
"Andrea tidak ada diruangannya kemana ya pa?" tanya mama Arini saat dilihatnya ruang kerja anakknya.
"Mungkin sedang rapat ma, kita tunggu sebentar lagi pasti selesai." kata papa, dan istrinya hanya mengangguk tanda mengerti lalu ia segera keluar ruangan mencarii office boy agar dibuatkannya minuman untuk ia dan suaminya setelah itu mereka menunggu Andrea datang.
Setelah hampir satu jam menunggu, Andrea datang, dan terlonjak kaget juga Andrea.
"Pa, ma. Kapan datang? kok tidak ada yang memberitahukan kalau papa mama datang kemari?" tanya Andrea
"Ada keperluan apa papa sampai menyempatkan diri kesini?" andrea bertanya penuh banyak tanya karena iti hal seperti ini jarang sekali terjadi atau mungkn adalah hal yang sangat langka.
"Papa cuma pingin saja berkunjung kemari, sekalian mau lihat bagaimana kondisi sekarang, ya kerjaan ya karyawan.
Pintu ruang Andrea diketuk dari luar, Andrea segera membuka pintu dan nampaklah sosok tampan Xander didepan pintu sedang mengurai senyum manisnya.
"Kamu Xen, ada apa?" tanya Andrea tanpa mengjak lelaki itu.
"Boleh ngobrolnya didalam?" Xander balik bertanya sedang Andrea memutar bola matanya malas atas pertanyaan Andrea dan segera mengajaknya masuk.
"Om, tante. sedang berkunjung rupanya?" tanya Xander setelah menyapa orang rua Andrea.
"Iya, mari silahkan duduk nak." kata papa
"Hallo nak Xander, habis ada pertemuan sama Andrea?" tanya mama antusias, entah kenapa saat melihat Xander aura garang yang sedari pagi terpasang di wajahnya lantaran Arshlan.
"Iya tante, ini membahas kerja sama yang sudah berjalan beberapa bulan terakhir ini." jawab Xander
"Ooh, begitu. ehm kalau tiap hari bertemu sepertinya lebih bagus."
Xander nampak mengkerutkan kening tidak mengerti. Sementara Andrea dan papanya yang mengerti arah pembicaraan mama hanya menghela nafas mereka panjang.
"Maksud tante?" tanya Xander.
"Sini duduk dulu!" mama Andrea menepuk tempat duduk kosong di sofa panjang yang didudukinya, dan Xander pun hanya menurut dan langsung duduk disebelah mama Arini.
"Kebiasaan akan menumbuhkan sesuatu nak, maksud tante kalau kamu sering beetemu dengan Andrea kan bisa jadi tuh tumbuh benih-benih ehm.. perasaan satu sama lain mungkin?" pernyataan mama Arini membuat Xander membelalakkan matanya tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya.
"Mamaaa.." Andrea dan papanya kompak memanggil mamanya.
"Sudah faham nak?" mama menatap Xander penuh harap.
"Hmmhh, kalau boleh jujur sih tante, saya sudah merasakan benih-benih itu, tapi Andrea saya tidak tahu tante, sepertinya dia membangun jarak pembatas yang sangat tinggi terhadap saya." Entah kenapa Xander dengan sangat terbuka mengungkapkan apa yang terjadi pada perasaannya. Ia seperti aji mumpung karena diketahuinya mama Arini mendukung andai Andrea dan Xander ada kedekatan seperti yang mama Mira harapkan juga.
Andrea yang mendengar perkataan Xander tersebut menatap tajam pada Xander, karena sepertinya Andrea merasa enggan untuk membahas hal itu.
"Mama, sepertinya mama salah tempat tidak sih dengan pernyataan seperti tadi ma? Maaf ma, Andrea menerapkan profesiobalisme saat di kantor, jadi tidak boleh membicarakan masalah pribadi saat dikantor." Andrea berusaha mencegah pembicaraan mama beelanjut dengan mengatakan peraturan yang berlaku dikantor ini.
"Itu kan khusus buat staf dan karyawan kamu Dre." sahut mama.
"Tidak terkecuali Andrea ma, justru agar peraturan bisa dilaksanakan dengan baik oleh para karyawan maka Dre sebagai pimpinan harus memberikan contoh yang benar bukan sebaliknya ma." penuturan Andrea membuat mama Arini menghela nafasnya panjang dan memutar malas bola matanya.
"Iya-iya ibu Dirut yang tercinta, mama nurut" kata mama. "Lain waktu bisa kita bahas nak Xander" kata mama, dan Xander hanya mengurai senyumnya.
"Ehm kalau begitu saya permisi saja, saya harus segera kembali ke kantor." pamit Xander
"Ini hampir jam makan siang lho nak, sekalian saja kita makan dulu." cegah mama.
"Maaf tante, semoga lain waktu bisa, ini asisten saya mengirim pesan bahwa kami harus segera kembali ke kantor"
"Ooh ya nak, hati-hati dijalan" pesan mama
"Om, saya pamit dulu, ibu Andrea saya permisi dulu." pamit Xander menyalami semua, dan setelah itu ia keluar ruangan kerja Andrea untuk kembali ke kantornya.
...****************...