
Malam itu Andrea begitu susah memejamkan matanya, ia masih terbayang kecupan yang Arshlan berikan, hal yang baru pertama kali Andrea rasakan di usia sedewasa itu.
Andrea memejamkan matanya dengan bibir sesekali menyungging senyum, ia merasa gila sendiri dengan pengalaman baru yang dialaminya, hingga tak terasa matanya pun telah terpejam karena lelah yang mendera.
Keesokan harinya, saat anak-anak panti telah berangkat sekolah, tinggallah Andrea dan kedua perempuan yang sangat berarti dihidupnya, dan kini tinggal kedua perempuan itu tempatnya berkeluh kesah, dialah mama Arini dan ibu Rima.
"Ma, karena masalah di panti sudah selesai, kapan kita akan kembali?" tanya Andrea saat mereka bercengkrama sehabis sarapan.
"Nak, maafin mama sebelumnya, ehmm mama untuk sementara ingin tinggal di sini dulu, apakah kamu tidak keberatan?" tanya mama membuat Andrea sedikit tersentak.
"Tapi ma..." Andrea tidak jadi mengutarakan rasa keberatannya, karena terlihat mama Arini begitu berharap pengertian dari Andrea untuk sejenak menikmarti keramaian panti.
"Baiklah ma, semoga mama bisa selalu merasakan kebahagiaan dengan ramainya penghuni tempat ini." harap Andrea.
"Maaf bila mama melepasmu sendirian, tetapi mama masih butuh waktu untuk kembali ke rumah, kenangan bersama papamu masih selalu membuat hati mama sedih, tetapi semoga ini tidak terlalu lama, karena bagaimanapun hidup harus berjalan, dan mama harus mengikhlaskan semua agar papa tenang di alam sana." mama Arini mengungkapkan apa yang ia rasa saat ini.
"Tidak apa ma, dengan kesibukan Dre dan banyaknya orang di rumah tak akan membuat Dre kesepian, mama tenangkan diri dulu di panti, kalau kita saling rindu, aku bisa datang kesini di waktu luangku. Tapi jangan terlalu lama ya ma." Andrea mengerti apa yang mamanya rasakan saat ini, tetapi ia juga berharap mamanya segera kembali lagi ke rumah.
"Terimakasih pengertiannya ya nak." ucap mamanya sambil memeluk Andrea dan ia pun membalas pelukan mamanya dengan erat.
Ibu Arini yang menyaksikan semua itu hanya memasang senyum harunya, karena ia teringat bagaimana rasanya saat ditinggal mendiang suaminya dahulu.
"Nak, ada yang ingin mama dan juga ibu tanyakan ke kamu." kata mama Arini seusai melepas pelukannya.
"Ya ma, silahkan."
"Bagaimana kelanjutan hubungan kamu dengan Arshlan? kami sangat berharap kalian segera melangsungkan pernikahan agar kamu tidak merasakan kesepian dan juga kesendirian saat mama ingin berada di panti seperti saat ini." kata mama Arini penuh harap di angguki sertuju oleh ibu Rima.
"Biar kami diskusikan dulu ma, bu. Andrea tidak mau terlalu mengejar bila Arshlan belum siap."
"Kalau menurut mama dia sangat siap, itu penuturan Arshlan sendiri saat mendekati mama beberapa waktu yang lalu." kata mama membesarkan hati Andrea.
"Harapan Andrea juga begitu ma. Ehmm, mama, ibu, aku mau keluar lagi hari ini, tidak apa kan?" ijin Andrea kepada kedua ibunya.
"Tidak apa nak, sejenak rilekskan pikiran kamu dari beratnya pekerjaan kamu." kata mama Arini.
"Bersenang-senanglah nak." kata ibu Rima dan Andrea pun segera bangkit dari duduknya, dipeluk dan diciumnya kedua perempuan setengah baya yang sangat berarti di hidupnya, lalu ia segera berlalu ke dalam kamar untuk bersiap pergi.
**
Andrea datang ke rumah keluarga Daniswara karena undangan tante Mira, kini ia telah berada di depan pagar tinggi rumah tersebut menunggu dibukakan oleh penjaganya.
Setelah pintu pagar terbuka, Andrea segera memasukkan mobilnya ke pekarangan rumah keluarga Daniswara. Nampak tante Mira telah menunggunya di depan pintu untuk menyambut kedatangan Andrea.
"Selamat siang tante." sapa Andrea sambil berjalan mendekat ke arah perempuan setengah baya itu.
"Hai nak Andrea, selamat siang. Tante kangen banget lama, tak jumpa. Tahu kesibukan kamu tante jadi takut buat mengajak ketemu." kata tante Mira dengan wajah penuh kegembiraan sambil memeluk dan mencium pipi Andrea, lalu segera mengajak masuk ke dalan rumah.
Saat ini keluarga Daniswara sedang mengunjungi Arshlan di rumah mereka yang berada di kota ini, karena setiap harinya mereka lebih banyak bersama Xander di kota sebelah.
"Kenapa mesti tidak berani sih tante? Kalau akhir pekan kan saya bisa usahakan kalau tante ingin bertemu."
"Yaa, tidak enak saja nak."
"Kenapa musti gak enak sama calon mantu sendiri ma." Sahut sebuah suara dari ruang keluarga yang begitu familiar di telinga Andrea karena mendengar percakapan kedua perempuan beda usia itu.
"Oh ya? Kira-kira kapan nak Andrea mau kamu sah kan menjadi anggota keluarga kita nak?" tanya tante Mira kepada anak lelakinya itu.
"Bukan aku yang akan mengesahkanya ma, tapi bang Arsh." jawab anak lelaki kedua tante Mira, Xander.
"Loh kok?" tante Mira terlihat heran dengan pernyataan Xander, karena dia belum tahu kalau Andrea dan Xander sejatinya tidak pernah terjalin ikatan hati tapi hanya sekedar rekan bisnis semata.
"Kenapa ma, kok seperti bingung begitu?" tanya Xander sambil duduk disamping mamanya, sedang Andrea duduk di samping tante Mira lain sisi.
"Bukannya beberapa saat lalu kalian begitu dekat ya? Dan justru mama tidak pernah lihat Arshlan bersama nak Andrea." tanya tanye Mira lagi.
"Begitu rupanya, tapi sejak kapan kalian saling kenal nak?" tanya tante Mira kepada Andrea.
"Sejak saya masih kuliah tante, tapi setelah saya lulus saya pindah ke kota tempat tinggal saya yang sekarang tante, dan kami hilang kontak." cerita Andrea tidak lengkap seperti kenyataannya.
"Andai dari dulu tante tahu kalau kalian saling kenal mungkin tante sekarang sudah gendong cucu." kata tante Mira sambil menerawang.
"Belum tentu juga kali ma." sahut Xander membuyarkan angan mamanya.
"Kamu tu buat buyar hayalan mama saja!" seru tante Mira sambil menepuk paha Xander sampai muka Xander terlihat meringis menahan perih sedang Andrea hanya tersenyum menanggapi interaksi kedua ibu dan anak tersebut.
"Hai sayang, sudah lama datangnya?" sapa Arshlan dengan pertanyaannya. Arshlan berjalan mendekat kearah ruang keluarga lalu segera duduk di samping Andrea.
"Hai Arsh!" jawab Andrea kikuk, antara mau membalas bilang sayang atau namanya saja, akhirnya yang keluar hanya nama Arshlan saja karena belum terbiasa.
"Kok cuma panggil nama saja sih?" tanya Arshlan dengan muka ditekuk. Andrea yang paham maksud Arshlan langsung menggenggam jemari Arshlan,
"Maaf, aku belum terbiasa." kata Andrea pelan sambil mengurai senyum di bibirnya dan Arshlan pun ikut tersenyum tidak pura-pura kesal lagi.
"Ehm! Hargai dong perasaan yang masih jomblo." seru Xander sambil melihat ke arah lain.
"Biar hatinya segera tergerak untuk mendapat calon pendamping." sahut Arshlan.
"Mama jadi bingung sendiri." celetuk tante Mira melihat kedekatan anak sulung dan menantu idamannya.
"Tidak usah bingung ma, karena mereka dulu sempat mau jadian tapi karena suatu hal akhirnya gagal dan hilang kontak, ketemu lagi bang Arsh sudah punya tunangan." Xander menjawab kebingungan mamanya.
"Ooh, jadi gadis yang buat Arshlan kelimpungan waktu itu..?
"Yaps betul ma, dialah gadis itu." Xander memotong pertanyaan mamanya yang belum kelar sambil menunjuk Andrea.
"Pantas saja Arshlan mati-matian mencari dan tidak happy dengan pertunangannya, dan pantas saja anak bungsu mama nih, ada rasa-rasa bagaimanaaa begitu..." kata tante Mira menggoda anak-anaknya.
"Mamaa...!" seru kedua lelaki tampan itu bersamaan karena merasa agak malu dengan Andrea.
"Tante bisa saja." kata Andrea dengan senyum malu menanggapi perkataan tante Mira.
"Seru banget, ada apa nih gak ajak-ajak papa!" seru sebuah suara yang baru keluar dari kamar melihat keseruan mereka, ternyata papa kedua lelaki muda itu, om Yudha dan langsung duduk di antara Xander dan mamanya. Lalu mereka bercerita tentang apa yang mereka bicarakan barusan.
"Nak Andrea, tolong sampaikan kepada nyonya Abimana kalau kami akan datang untuk meminta nak Andrea menjadi menantu keluarga kami." Kata bapak Yudha dengan serius tanpa meminta pertimbangan kepada istri juga anaknya setelah mendengar cerita tadi.
Dan Arshlan yang mendengar pernyataan papanya itu justru merasa sangat gembira karena justru beliau yang sangat antusias untuk segera meresmikan hubungan keduanya. Sementara Andrea yang juga gembira dengan keputusan bapak Yudha hanya menunduk dengan wajah bersemu merah.
"Tapi apa tidak terlalu cepat om?" tanya Andrea setelah bisa menguasai diri.
"Maksud saya, kan kalian semua belum begitu mengenal saya lebih dalam." jelas Andrea
"Mendengar apa yang mereka ceritakan dan juga keseriusan Arshlan, papa rasa kita tidak perlu menundanya lagi." kata bapak Yudha menanggapi kegusaran hati Andrea.
"Baiklah kalau begitu, saya akan menyampaikan kepada mama dan juga ibu, untuk sementara ini mama ingin tinggal di panti jadi om dan tante bisa menemui orangtua saya di panti." jelas Andrea.
"Baiklah, nanti biar Arshlan mendatangi mama kamu dahulu sebelum kami datang." kata bapak Arga dengan keseriusannya, dan Andrea hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Oh ya, sekarang panggil kami mama papa, bukan om tante lagi." kata mama Mira
"Iya tante, ehmm mama Mira." jawab Andrea masih kagok.
"Naahh begitu lebih enak terdengar di telinga mama." kata mama Mira begitu gembira.
Dan mereka pun melanjutkan obrolan mereka tentang rencana lamarannya untuk Andrea juga tentang pekerjaan mereka.
...****************...