
Pagi hari Kinanti sudah siap berangkat ke kantor, ia berangkat ke kantor lebih pagi karen tak ingin terjebak ramainya lalu lintas saat jam sibuk berangkat kerja.
“Tante, Kinan berangkat dulu ya.” Pamit Kinanti saat dilihatnya tante Diah menyiapkan sarapan.
“Loh, kamu tidak sarapan dulu? Kan kamu yang masak masa iya hanya masak saja tidak ikut makan.” Kata tante Diah khawatir
“Kinan sudah bawa bekal tante, nanti sampai kantor langsung makan, soalnya Kinan enggak mau jalan pas waktu berangkat kantor, jalan terlalu ramai tan.” Kinanti menjelaskan kenapa dia tidak ikut sarapan.
“Bilang saja mau cepat-cepat ketemu gebetan baru, secara kamu kan tiap baru masuk kerja selalu dapat gebetan karena kamu suka sok kecakepan.” Perkataan Hani begitu tidak enak didengarkan, tetapi Kinanti hanya tersenyum menanggapi perkataan sepupunya.
“Cuma teman saja Han, aku belum berani berpikir sejauh itu, aku ingin fokus pada masa depanku saja, dan juga yang sekarang aku belum punya teman baru karena kemarin aku disibukkan dengan pekerjaanku.” Kinanti menjelaskan hal yang dituduhkan Hani tidak benar, walaupun ia tahu kalau itu percuma, karena bagi Hani apa pun yang dilakukan Kinanti selalu salah.
Dan benar saja, Hani tampak mencibir tidak percaya dengan perkataan Kinanti sambil mendudukkan dirinya di meja makan. Tante Diah yang melihat itu semua hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah mencium tangan tante Diah dan om Danu, Kinanti segera mengemudikan motor tuanya menuju tempat kerjanya yang baru, karena sebentar lagi masuk jam sibuk, dan Kinanti enggan untuk ikut berangkat pada jam osibuk karena hanya akan membuatnya stres sebelum bekerja.
Nasib baik mungkin sedang tidak bersama Kinanti, baru setengah perjalanan ban motor yang ia kendarai kempes, ada paku yang menancap pada ban belakang motornya.
Kinanti mendorong motornya sambil berharap segera menemukan bengkel terdekat, dan tak lama ia mendapati bengkel yang baru saja buka, untuk menunggu ban motor di ganti akan memakan waktu dan membuatnya terlambat masuk kantor apalagi bila menunggu ban motornya di tambal.
Akhirnya ia meninggalkan motornya di bengkel dan berniat naik angkutan, namun jarum jam semakin mendekati jam masuk kantor, ia belum juga mendapatkannya, akhirnya Kinan memutuskan untuk jalan kaki saja sambil menunggu angkutan yang biasanya banyak yang lewat tapi hari ini begitu susah didapat.
“Kok Cuma jalan kaki mbak?” tanya seseorang tiba-tiba mengejutkan Kinanti yang sedang berjalan dengan cepat. Spontan Kinanti melihat ke arah sumber suara.
“Eh maaf? Anda siapa ya?” tanya Kinanti merasa tak mengenali sang penyapa.
“Saya OB di kantor tempat mbak bekerja, ayo saya boncengin mbak, nanti bisa terlambat kalau nungguin angkot lewat.” OB di tempat kerja Kinanti mengajak Kinanti berangkat bersama.
Samar-samar Kinanti mengingat wajah lelaki di depannya, dan ia ingat kalau dia memang OB di tempatnya bekerja. Karena takut terlambat sampai kantor akhirnya Kinanti mengiyakan ajakan lelaki itu.
Beberapa menit berlalu akhirnya Kinanti dan lelaki penolongnya dari keterlambatan telah sampai di area parkir gedung tempat bekerja mereka, lima menit sebelum masuk. Kinanti merasa lega karena ia tidak jadi terlambat.
“Terima kasih ya mas, berkat mas saya tidak terlambat sampai kantor.” Kata Kinanti dengan raut bahagianya saat berjalan menuju ruangannya.
“Panggil saya Gilang mbak, tidak usah pakai embel-embel mas.” Lelaki itu menginterupsi ucapan Kinanti. Sementara Kinanti hanya tersenyum mendengar ucapan Gilang, rasanya tidak sopan bila ia hanya menyebut nama saja hanya karena posisi pekerjaan lelaki itu di bawah Kinanti.
“Sebagai ucapan terima kasih saya, karena mas Gilang sudah menyelamatkan saya dari keterlambatan, nanti siang saya traktir mas Gilang makan siang ya, tidak boleh menolak. Ehm.. tapi kira-kira ada yang marah tidak ya?” Tanya Kinanti khawatir kekasih atau istri Gilang kalau tahu mereka makan siang bersama.
“Tidak apa mas, lagian mas Gilang sudah baik sama karyawan baru ini, tidak usah khawatir juga karena tidak akan ada yang marah, oke kawan?” Kinanti meyakinkan Gilang bahwa tidak akan ada yang marah hanya karena mereka makan siang bersama.
“Baiklah kalau mbak Kinan memaksa, tapi kalau ada yang marah jangan salahkan saya ya?” Gilang tetap merasa khawatir. Dan mendengar itu Kinanti hanya mengacungkan jempol tangannya.
“Jam kerja sudah di mulai kenapa kalian masih mengobrol?!” Terdengar teguran dari belakang mereka, dan sontak mereka menengok ke sumber suara.
“Selamat pagi bapak Xander.” Kinanti dan Gilang berbarengan menyapa sang atasan.
“Jangan sia-siakan waktu hanya untuk hal yang tidak penting, sekarang segera mulai pekerjaan kalian!” perkataan Xander yang tegas membuat Kinanti dan Gilang segera berlalu menuju tempat kerjanya masing-masing setelah membungkuk hormat kepada atasannya itu.
Jam istirahat tiba, Kinanti segera berlalu dari ruangannya menuju ruang OB berkumpul untuk memenuhi ajakannya pada Gilang pagi tadi. Dengan rasa tidak enak, Gilang mengikuti paksaan Kinanti diiringi tatapan kawan sesama OB yang menatap Gilang penuh tanya, seolah mengerti tatapan kawan-kawannya Gilang hanya angkat bahu sambil berjalan mengikuti Kinanti menuju kantin.
Setelah mendapat makan siang yang mereka inginkan, Kinanti dan Gilang mencari meja yang masih kosong untuk mereka duduk, kebetulan meja kosong berada di ujung pojok ruangan kantin, ternyata meja mereka bersebelahan dengan Xander yang juga tengah menikmati makan siang di kantin bersama asistennya.
Kinanti dan Gilang membungkuk hormat kepada atasannya itu sebelum mendudukkan badan mereka, walau ada sedikit rasa canggung karena bersebelahan duduk dengan pemilik perusahaan. Tetapi kecanggungan itu lama-lama sirna karena mereka telah asyik makan sambil mengobrol.
Rupanya Kinanti sangat cocok berbicara dengan Gilang, walau ini baru pertama kalinya mereka mengobrol karena baru tadi pagi mereka kenal tetapi seakan mereka telah mengenal lama.
Begitu asyiknya Kinanti berbicara dan saling cerita dengan Gilang sampai ia tidak menyadari ada seseorang yang menatapnya sangat tajam, tapi tak berlangsung lama, karena orang itu lebih memilih pergi dari tempat tersebut.
Kini Kinanti sudah mulai merasa nyaman bekerja di tempat baru karena telah mempunyai teman, walaupun pekerjaan mereka beda bagian tetapi mengenal Gilang yang sangat asyik diajak mengobrol membuat Kinanti tidak merasa begitu asing lagi dengan pekerjaannya.
Kinanti pun mencoba untuk melakukan apa yang Gilang nasihatkan untuk tidak menghiraukan karyawan lain yang tidak menyukainya, karena Kinanti bercerita kalau banyak karyawan perempuan yang kurang menyukainya sebagai karyawan baru.
“Tidak usah pedulikan sikap mereka yang tidak suka dengan kehadiran mbak, yang penting kerjakan pekerjaan mbak Kinan, dan atasan puas akan kinerja mbak Kinan. Mungkin mereka Cuma iri karena mbak terlalu cantik bagi mereka.” Ucapan Gilang di akhir nasihatnya membuat Kinanti tersipu.
“Apaan sih Lang? Enggak begitu juga kali, tapi terima kasih nasihatnya ya, yang penting pekerjaanku beres dan atasan puas dengan kinerjaku.”
“Nah begitu lebih enak mbak, bekerja tanpa beban pikiran gara-gara orang yang tidak suka kita. Ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu, karyawan lama menggonggong mbak Kinanti tetap berlalu.” Perkataan Gilang membuat mata Kinanti membelalak geli, lalu di pukulnya lengan Gilang.
“Ada-ada saja kamu. Ya sudah aku ke ruangan dulu, waktu istirahat hampir habis.” Pamit Kinanti.
“Terima kasih traktirannya ya mbak, sering-sering juga boleh.” Seru Gilang dan hanya di acungi jempol tangan Kinanti yang sudah berlalu menuju ruangannya.
...****************...