Andrea

Andrea
Tidak Dikenali



"Apa maksud omongan kakak tadi?" tanya Andrea penasaran saat mereka makan


"Omongan yang mana?" tanya kak Andra balik


"Waktu kakak habis ngasih duit ke cewek tadi" jawab Andrea


"Ooh itu, apa yaa? kakak tiba tiba lupa" goda kak Andra


"Kakak iihh...!!" dipukulnya bahu kakaknya, sementara bibirnya mengerucut kesal kakaknya malah terbahak dengan tawanya.


"Udaahh bahasnya nanti dirumah saja, sekarang show time...!!! waktunya kita senang senang" kak Andra menarik tangan Andrea untuk berkeliling sebelum film dimulai setelah menghabiskan makan mereka.


......................


Empat hari sudah keluarga Abimana menghabiskan waktu di yayasan Kasih Ibu, waktunya mereka kembali untuk memulai kesibukan mereka yang tertunda.


Pagi ini mereka siap memulai aktifitas mereka lagi.


Kak Andra sudah berangkat ke Aussie dari pagi sehabis subuh, papa akan memgadakan kunjungan mendadak ke perusahaan bagian produksi tentu saja mama akan mendampingi papa.


Andrea, untuk pertama kalinya akan ke kantor papanya sejak terakhir kali ia datang waktu kelas 6 sekolah dasar.


Dengan langkah mantab Andrea memasuki gedung perkantoran milik papanya yang terbilang sangat besar.


Dia langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan Randy.


"Selamat pagi mbak, ada yang bisa kami bantu?" resepsionis menyambut dengan keramahannya.


"Saya mau bertemu dengan pak Randy, asisten pribadi bapak Abimana." Andrea mengatakan maksud kedatangannya.


"Apakah anda sudah ada janji?" tanya resepsionis lagi


"Sudah" jawab Andrea singkat.


Lalu sang resepsionis menelpon pak Randy bahwa ada yang mencarinya.


"Pak Randy bilang tunggu sekitar limabelas menit lagi karena sedang briefing mbak, silahkan anda menunggu kursu tunggu tersebut" tanpa protes Andrea menuju kursi tunggu dilobby kantor setelah mengucapkan terimaksih kepada resepsionis.


"Wow.. wow.. wow..!! dunia begitu sempit rupanya, sampai dimana saja aku nemuin kamu cewek pembawa sial!" tiba tiba seorang cewek menghampiri tempat Andrea duduk sambil berkata kasar, dan cewek tersebut yang tertabrak kak Andra di mall kota sebelah waktu berkunjung ke yayasan milik ibu Rima.


"Raisa" batin Andrea dengan smirk dibibirnya


Tak ditanggapinya ucapan Raisa, Andrea hanya menatap tajam ke arah Raisa.


"Biasa aja kamu, baru mau melamar kerja saja pasang wajah songong" kata Raisa dengan wajah songongnya.


"Dia yang songong malah nuduh songong" gumam Andrea tapi terdengar jelas oleh Raisa


"Jaga mulut kamu, aku pastikan kamu tidak diterima diperusahaan ini walau hanya jadi officegirl, karena aku yang jadi manager HRD disini" Bersamaan dengan itu muncul pak Randi dari lift dan sempat melihat keributan tadi.


"Ada apa ini?!" seru pak Randi dibelakang Raisa, sontak Raisa berbalik dan pak Randy memandang Andrea tapi sebelum Randy berbicara, Andrea mengedipkan matanya agar Randy tidak membuka jati diri Andrea saat ini.


"Eeh pak Randy, ini pak saya sedang menegur pelamar kerja, karena dia bersikap tak baik kepada saya" bohong Raisa.


"Penjilat" batin Andrea.


"Sebaiknya anda segera memulai pekerjaan anda bu Raisa, lihat sudah berapa lama anda terlambat" ucap Randy dingin sambil menatap arloji dipergelangan tangannya, sponta Raisa berlalu dari hadapan Randy sambil meninggalkan tatapan tajam pada Andrea, dan Andrea hanya tersenyum miring melihat kepergian Raisa,


"Mari nona Andrea" pelan suara Randy mengajak Andrea menuju ruangannya di lantai paling atas gedung ini.


"Pak Randy, saya ingin melihat data dari seluruh pegawai dikantor ini." Kata Andrea saat sudah sampai diruangannya.


Randy membuka file dilaptopnya dan memberikan data yang diminta Andrea.


"Data keungan tolong dikirim ke email saya, biar nanti saya cek dirumah saja, saya tidak mau menimbulkan kecurigaan bila saya disini terlalu lama, belum waktunya mereka semua tau siapa saya, kalau sampai ada yang berani menjilat saya saat saya datang, anda tau siapa yang pertama akan saya cari." tatapan tajam Andrea membuat Randy menelan salivanya dengan susah.


"Saya telah lama ikut dengan bapak, tentu saya tetap loyal walaupun itu kepada anda nona" kata Randy sungguh sungguh tak ada sorot culas dimatanya.


"Saya percaya anda pak" kata Andrea dengan mata tetap berada dilayar laptop.


Smirk.dibibit Andrea tersungging saat melihat data karyawannya atas nama Raisa Andini.


"manager HRD, penjilat handal" batin Andrea.


"mungkinkah ini yang dimaksud kakak tempo hari?" monolog Andrea dihatinya


"Baik nona" jawab Randy singkat.


"Pak Randy tidak perlu mengantar saya sampai bawah, saya tidak mau banyak mata menatap curiga kepada kita, terimaksih untuk hari ini pak" cegah Andrea saat tau Randy hendak mengikuti langkahnya.


"Baik nona, sudah tugas saya membantu anda, dan hati hati perjalanannya" kata Randy sambil mengangguk hormat, dan Andreapun membalas anggukan Randy kemudian berlalu dari ruang kerja papanya yang sebentar lagi akan jadi ruang kerjanya.


"Waahh..!! hebat banget cewek seperti kamu bisa masuk keruangan khusus CEO, apa jangan jangan kamu hendak menawarkan diri ke pak Randy ya?" kata Raisa dengan mulut pedasnya saat tau Andrea baru saja bertemu Randy di ruang CEO.


"Jaga mulut kotor kamu kalau ingin selamat!" kata Andrea dingin tidak terpengaruh dengan kata kata Raisa.


"Selama aku masih bisa berdekatan dengan orang kepercayaan CEO perusahaan ini, posisiku akan tetap aman" Seru Raisa tertahan karena tak ingin ada yang dengar.


"Waahh.. nampaknya kamu begitu dekat dengan salah satu dewan direksi diperusahaan ini ya nona Raisa Andini!" kata Andrea sambil membalik nametag yang tergantung dibaju Raisa


"Jangan sentuh dengan tangan kotormu!" Raisa menampik tangan Andrea agar tak menyentuh nametagnya lebih lama.


Tanpa mempedulikan Raisa lagi, Andrea segera masuk lift yang kebetulan terbuka untuk nenuju lobby utama, sebelum pintu lift tertutup nampak dalam pandangan Andrea Raisa sedang mengumpat kearahnya, dan Andrea hanya menanggapi dengan senyum miringnya.


Sampai lobby utama, Andrea berjalan dengan wajah dinginnya, nampak resepsionis yang menerimanya tadi mengangguk sopan kepada Andrea tanda penghormatannya terhadap tamu di kantor ini, sementara yang lain ada yang cuek ada yang sinis hanya karena melihat tampilan kausal Andrea.


" Muka muka penjilat" batin Andrea.


" Nona resepsionis, pertahankan reputasi anda" kata Andrea tetap dingin saat melewati meja resepsionis


"Terimakasih nona" Andrea masih bisa mendengar ucapan sang resepsionis walaupun pelan.


......................


Andrea pergi ke kantor hanya mengendarai sepeda motornya, karena ia tak mau terlihat mencolok kalau diantar sopir ataupun memakai mobil mewahnya.


Saat perjalanan pulang dijalanan yang lumayan sepi, Andrea melihat dua orang kejar kejaran, sepertinya telah terjadi pencopetan, tepat saat Andrea menyandarkan motornya si pencopet lewat dan spontan Andrea melintangkan kakinya, bugh! pencopet jatuh dan langsung diringkus oleh Andrea, bertepatan dengan sang pengejar sampai dengan nafas terengah engah.


Si pencopet berusaha berontak dan terlihat ketakutan.


"Ampun bang, jangan serahin saya ke polisi, saya begini karena terpaksa, ini baru pertama kalinya saya nyopet, ibu saya sakit saya tidak ada biaya untuk membawanya berobat" tangis sang copet dengan penjelasannya.


"Jangan membohongiku dengan karangan ceritamu dan tangis buayamu!!" gertak Andrea


"Sumpah demi Tuhan saya tidak bohong" jawab si pencopet


"Halaahh, jangan sok bawa nama Tuhan untuk menutupi kejahatanmu!" plak!


sebuah tamparan mendarat dipipi pencopet dari lelaki yang dicopet.


"Sabar sebentar mas, jangan main kasar dulu!" cegah Andrea.


"Aku akan melepaskan kuncianku, kalau kamu melarikan diri berarti kamu bohong, tapi kalau kamu diam berarti kamu benar, tapi kalau kamu benar benar melarikan diri, batu ini yang akan aku gunakan untuk ngelumpuhin kamu, dan selama ini sasaranku belum pernah meleset" Andrea menggertak dan dijawab anggukan oleh si pencopet, sementara yang dicopet menghela nafas dalam tanda tak mengerti jalan fikir Andrea.


Andrea melepas kunciannya pada pencopet tersebut, dan benar saja si pencopet tidak kabur, lalu Andrea membuka helmnya membuat kedua orang didepannya terperanjat kaget karena ternyata si pengendara motor sport besar itu seorang perempuan, sementara Andrea tidak peduli dengan keterkejutan mereka.


Andrea mengambil dompet dari tasnya, mengambil beberapa lembar uang


"Ini uang gunakan untuk membawa ibumu berobat, kalau kamu belum punya kerjaan tetap, datang ke alamat ini, mereka sedang butuh banyak pekerja, temui nama yang tertulis dikartu itu" terlihat sipencopet menangis haru, tak henti hentinya dia mengucap terimakasih dan meminta maaf kepada lelaki yang telah dicopetnya.


"Terimakasih mbak, saya akan gunakan pemberian mbak sebaik baiknya permisi mbak" pemuda itu hendak segera berlalu


"Tunggu! siapa namamu?!" tanya Andrea


"Haikal mbak" jawab pemuda itu.


"OK, cepat pulang, kasihan ibumu" si pemuda membungkuk hormat dan segera berlalu dari tempat itu.


"Ini laptop anda, lain kali hati hati saat membawa barang penting" Andrea memakai helmnya kembali setelah menyerahkan laptop yang berhasil diselamatkannya, dan segera menaiki motornya


"OK, terimakasih banget pertolongannya, ini sebagai ganti uang yang anda berikan kepada pemuda tadi sekaligus sebagai tanda terimakasih saya" lelaki itu menyerahkan segepok uang merah, tapi Andrea menolaknya.


"Terimakasih. Berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkan seperti pemuda tadi, permisi" tanpa banyak kata lagi Andrea segera memacu kembali motornya meninggalkan lelaki yang ditolongnya dengan kebengongannya.


"Cewek tangguh, tapi sayang dingin" gumam cowok itu, dan segera berlalu pergi.


...****************...