Andrea

Andrea
Penjelasan



"Sekarang kamu mau kemana kakak nurut aja" kata kak Andra saat dalam perjalanan membuat Andrea berseru kegirangan


"Asyiiikkk...!! Nampaknya ada yang sedang baik hati sama aku niihh..!!" seru Andrea menggoda kakaknya


"Kapan kakak gak pernah baik sama kamu dek? kamunya aja yang gak respon sama perhatian dan kebaikan kakak" jawaban kak Andra membuat Andrea jadi sewot dan itu malah membuat kak Andra semakin tergelak dengan tawanya.


"Adek kak Andra lucu banget sih kalau sedang ngambek beginii, iihh apalagi ini, uluh uluuhh lucunyaaa" goda kak Andra sambil mencubit pipi chubby sang adek, dan sontak aja membuat adeknya semakin sewot.


"Iya iya, gak usah diperjelas juga semua tau kalau Dre itu gendut kak, makanya cowok cowok juga ogah dekat dekat sama Dre, ada yang buat Dre melayang setinggi awan tapi akhirnya hanya dibanting langsung ketanah, sakit gak sih kak kalau begitu.


Bahkan seandainya nih, kak Andra bukan kakak aku, mana mau juga dekat dekat sma aku" tutur Andrea membicarakan ketidak percayaan dirinya lagi didepan kak Andra, dan sang kakak hanya menanggapi kata kata adiknya dengan helaan nafas dalam.


" Dek, dengar kakak ya! mulai sekarang kamu harus membangun rasa percaya diri kamu, angkat dagumu, tunjukkan pada dunia kalau kamu tidak mudah diremehkan, jangan insecure hanya karena badan kamu, kamu jadi lupa akan segudang talenta yang kamu punya. Badan bagus bisa dibentuk dek, tapi rasa percaya diri juga harus dibangun, kalau kamu susah untuk mendapatkan rasa percaya dirimu sendiri, biar kakak yang bantu kamu mendapatkannya" penuturan kak Andra benar benar dihayati oleh Andrea hingga perlahan merasuk ke sanubarinya, dan seolah mendapat suntikan energi ia bertekat untuk menunjukkan kepada dunia siapa Andrea, tanpa pertolongan kakaknya.


"Terimakasih kak, biar Dre sendiri yang membangun rasa percaya diri Dre, Dre akan tunjukkan kalau Dre bukan cewek lemah, agar dunia tidak gampang meremehkan Dre lagi" seru Andrea penuh semangat, dan itu membuat hati Andra lega melihat Andrea seolah mendapat energi baru.


"Ini baru Andrea adek kakak yang kakak kenal dulu." kata kak Andra gembira sambil menepuk pundak sang adik.


"Main ke tim**one yuk kak, lagi pengen seru seruan" ajak Andrea penuh semangat.


" Gak malu nanti dikatain anak kecil?" goda kakaknya.


" Bodo amat sama perkataan orang kak, kita gak ngerugiin mereka ini" sahut Andrea yang dibalas senyuman dan acungan jempol dari kakaknya.


......................


Andrea segera turun dari mobil kak Andra setelah mobil berhenti diparkiran sebuah mall, dengan rasa tidak sabar ia menunggu kakaknya turun dari mobil.


Keduanya berjalan beriringan sambil gandengan tangan menuju tempat permainan yang diinginkan Andrea


" Gimana dengan gym kamu dek? masih jalan?" tanya kak Andra disela perbimcangan sambil berjalan mereka


"Jarang main ke gym aku kak, males cuma sendiri, aku lebih sering keliling stadion aja tiap sore, tempatnya lebih dekat, ke gym jauh" jawab Andrea membuat kakaknya geleng kepala.


"Mulai sekarang rutinkan ke gym lagi, biar body ideal impian kamu segera terwujud, apalagi kamu tu gak yang gemuk banget, pasti gak lama akan terlihat hasilnya" saran kak Andra.


"Target turun tigapuluh kilo tu butuh berapa lama kak?" tanya Andrea.


"Rutinkan dulu latihan dan diet sehat kamu, bila sudah mulai berhasil turun, baru kamu targetkan, mudah mudahan yang kamu cita-citakan berhasil dengan cepat" terang Andra dan dibalas anggukan dari Andrea.


Sampai ditempat yang Andrea inginkan, mereka berdua memainkan banyak permainan dengan penuh tawa dan kegembiraan, hingga tak menyadari kalau ada sepasang mata yang mengawasi keduanya dari tadi.


"Istirahat dulu kak, capek!" seru Andrea saat permainan mereka berakhir, dan mereka duduk istirahat sambil meneguk minuman sebagai penghilang dahaga akibat banyak teriak dan tertawa.


"A-Arshh..!!" gumam Andrea tergagap melihat siapa cowok dihadapannya, sedang kan Andra cuek saja melihat kearah Arsh dengan tatapan tajamnya. Ia ingin melihat sejauh mana nyali cowok yang menyukai adeknya, dan ia juga ingin melihat sikap adiknya dalam menyelesaikan masalahnya.


Tapi Arsh merasa diremehkan dengan tatapan tajam kak Andra yang tak terbakar cemburu selayaknya cowok yang terinjak harga dirinya karena ada cowok lain yang mendekati ceweknya.


"Jangan menantangku, selesaikan masalah kalian!" perintah kak Andra yang melihat tatapan Arsh tidak suka kepadanya.


"Hehh! cowok macam apa yang tidak cemburu sama sekali mengetahui ada yang sedang mengancam hubungan mereka" Arshlan berkata menyulut amarah Andra, tapi Andra tak bergeming sama sekali.


Ternyata diam diam Andrea menyadari sesuatu, kenapa Arsh berubah sikap sama Andrea.


"Tunggu Arsh!" seru Andrea membuat kedua cowok itu spontan menoleh kearah Andrea.


"Apakah kamu belum masuk kembali kerumah dan sempat melihatku memeluk seorang cowok yang menghadang jalan kami waktu itu?" tanya Andrea penasaran


"Menurut kamu?" Arsh balik bertanya


"Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan, biar urusan cepat clear" sela kak Andra membuat Arshlan makin sewot.


"Apa susahnya jawab iya atau tidak sih Arsh?!" pinta Andrea.


"Iyaaa, tadinya aku mau nolong kamu, karena aku kira kamu dihadang oleh penjahat, gak taunya justru aku harus menyaksikan adegan yang gak sesuai ekspektasi aku" pungkas Arshlan sambil buang muka, tapi itu membuat kedua kakak beradik itu menahan senyum, karena ternyata Arshlan telah salah paham sama hubungan mereka.


"Tertawa saja terus kalian, bila itu buat kalian senang" ketus Arsh


" Arsh, boleh aku jelaskan sesuatu? tapi tekan emosi kamu dulu, biar kamu bisa mudah menerima penjelasanku" pinta Andrea dan dijawab anggukan oleh Arsh, lalu Andrea menepuk tempat duduk kosong disebelahnya, mengisyaratkan agar Arshlan duduk disebelahnya, dan Arshlan pun menuruti isyarat Andrea.


" Arsh.. kenapa waktu itu kamu tidak jadi menghampiriku dan malah berbalik masuk, dan juga kenapa kamu tidak minta penjelasan padaku langsung waktu kita ketemu dikampus, kamu malah marah marah gak jelas, banting pintu mobil dihadapan aku, aku jadi bingung karena sikap kamu yang gak mau terus terang, kamu melukai hatiku Arsh. Kalau kamu mau tau kenapa aku tidak langsung menerima ungkapan perasaan kamu, itu semata mata karena aku gak mau jadi bahan ejekan teman teman kamu terutama yang cewek, dan aku juga gak mau kamu juga diejek teman kamu hanya demi cewek seperti aku. Aku gak bisa menolak tatapan sinis mereka padaku waktu itu Arsh, walaupun mereka terlihat mendukung hubungan kita, tapi mataku tak bisa dibohongi dengan topeng mereka walau tidak semuanya begitu, aku tau dimana tempatku Arsh, untuk itulah kenapa aku butuh waktu untuk menjawabnya. Dan kalau kamu cemburu dengan cowok ini, kamu juga salah besar, dia kakakku, dia anak dari donatur tetap yayasan Kasih Ibu, dan dia sudah punya tunangan, jadi gak ada alasan lagi bagimu untuk mencurigaiku" pungkas Andrea setelah menjelaskan banyak kepada Arshlan.


"Masih curiga?" seru kak Andra tiba tiba


"Kalau masih curiga biar aku vicall sama cewek aku, kalau itu bisa menghapus curiga kamu sama Dre" sambung kak Andra menahan emosi, Andrea mengusap punggung tangan kakaknya agar bisa bersikap lebih tenang


"OK, aku percaya sama kamu, maaf kalau aku sudah berprasangka buruk pada kalian, kak Andra aku minta maaf, dan ijinkan aku buat mengenal Andrea lebih dalam lagi" Arshlan mendekat ke tempat duduk Andra sambil mengulurkan tangannya untuk meminta maaf, dan segera disambut oleh Andra sambil mengurai senyum tipis dibibirnya.


"Untuk teman temanku yang seperti kamu ceritakan tadi, tidak usah kamu ambil hati, untuk apa aku mempertahankan pertemanan yang tidak tulus, jadi kamu mau jawab sekarang tentang ungkapan hatiku tempo hari itu kan Dre?" tanya Arsh penuh harap, dan Andra hanya mampu menganggukkan kepalanya.


"Itu artinya kamu setuju?" tanya Arsh lagi untuk lebih meyakinkan, dan lagi lagi Andrea hanya mampu menganggukan kepalanya, dan itu cukup sebagai jawaban Andrea atas perasaan Arsh, dan spontan Arsh hendak memeluk Andrea


"Ehhmmm!!" seru suara kak Andra disebelah Andrea, dan itu membuat mereka berdua tersadar dan tertawa tertahan karena hampir lupa tempat.