
"Selamat pagi ma, pa!" sapa Andrea pada kedua orang tuanya di meja makan untuk sarapan.
"Pagi juga nak." sahut kedua suami istri itu bersamaan.
"Kok masih pakai piyama? tidak masuk kamu?" tanya papa Andrea.
"Tidak pa, Dre lagi pingin rebahan seharian." jawab Andrea dengan malas.
"Tapi jangan sering-sering biar tidak ditiru anak buah kamu." Sahut mama.
"Kalau mereka yang malas-malasan ya tinggal buka lowongan buat pekerja yang berdedikasi kan ma, iya gak pa?" Andrea bercanda sambil menaik turunkan alisnya ke arah papanya untuk menyetujui idenya.
"Ada-ada saja kamu itu Dre Dre." kata papa sambil mengelengkan kepalanya, sementara mamanya hanya memutar bola mata malas mendengar perkataan Andrea.
"pingin deh jalan sama mama papa, kan Andrea jarang jalan bareng, dari kecil sudah sering ditinggal berkelanan sama mama papa." Andrea mencurahkan isi hatinya sambil mengunyah sarapannya.
"Boleh, ayo pingin jalan kemana, kapan?" tanya mama Antusias.
"Ehmm, mama ada ide? ke mall terus bosen juga ma." Andrea meminta pendapat mamanya.
"Ke pasar tradisional yuk!" jawaban sang mama tak terduga.
"What?!" seru Andrea dan papanya bersamaan, dan bahkan papa hampir tersedak minumannya.
"Kalian kenapa? seolah mama tidak pernah kesana saja." tanya mama heran dengan reaksi anak dan suaminya.
"Emang tidak pernah kan maa." sahut Andrea.
"Kata siapa? kamu saja yang belum pernah lihat." kata mama
"Pernah, tapi sampai rumah ngeluhnya tidak selesai sehari." sahut papa Arga, dan Andrea tertawa mendengar perkataan papanya, sementara mamanya mengerucutkan bibirnya tak terima cerita masa lalunya yang tak seberapa dibeberkan kepada anaknya.
"Papa masih ingat saja sih." kata mama.
"Ya ingat lah, emang ngeluhnya tidak selesai seharian kan? masih mau mengulang lagi?" tanya papa.
"Sekarang pasarnya sudah diperbaiki, sudah tidak becek kaya dulu lagi saat hujan, soalnya susah dipasang konblok." jelas mamanya.
"Pantesan aja dengan antusias mengajak Andrea kesana." kata papa, sedang mama hanya senyum senyum saja.
***
Selesai sarapan Andrea dan mama Arini jadi pergi ke pasar tradisional, tentu saja papa yang jadi drivernya, Andrea tidak mau disopiri oleh driver mereka,
"Ayo berangkat!!" seru Andrea dari dalam rumah, sementara papa mama nya sudah menunggu di depan rumah
"Lohh, tidak ganti baju pasti tidak mandi, kirain lama tidak keluar itu karena mandi." mama Arini mengomentari Andrea yang masih memakai piyama yang sama.
"Biarin aja lah ma, Dre hari ini lagi pengen males ngejalanin rutinitas harian, lagi pengen gak kaya biasanya ajah."
"Hmmmhh...! Dre.. Dre..!" mama menghela nafasnya panjang.a
"Terserah kamu lah, ayo berangkat!" kata papa, kedua orang tua Andrea seolah tidak mengerti dengan jalan pikiran anak gadisnya.
Hampir dua jam mereka baru pulang dengan membawa barang belanjaan yang super banyak.
"Hello everybody i'm home! tolong bawain belanjaan aku dooongg..!" teriak Andrea dari luar dengan tingkah randomnya, tak lama keluar beberapa asisten rumah tangganya untuk melaksanakan yang dibilang anak majikannya.
"Ya ampun non, ini satu pasar diborong semua?!" Asisten rumah tangga nampak kaget dengan isi van yang penuh dengan belanjaan mereka.
"Yaa, gitu dehh, maaf ya aku langsung masuk, mau rebahan." pamit Andrea pada semua ART dan juga orang tuanya.
"Eehh non..!" salah satu ART memanggil Andrea hendak mengatakan sesuatu, tetapi tangan gadia itu melambaikan tangannya tanda tak mau diganggu kepergiannya,ia masuk kerumah sambil bersenandung riang...
"Waah.. ibu presdir imut juga kalau sedang dalam suasana hati yang seperti ini." sebuah suara mengagetkan Andrea
"Arshlan?!" seru Andrea menyebut nama pemilik suara yang mengagetkannya, raut mukanya langsung berubah dingin sementara Arshlan tetap pasang senyum manisnya.
"Ngapain kamu disini?!" tanya Andrea ketus.
"Dre, bicara sama siapa kamu kok ketus begitu?" tegur papa Arga yang mendengar suara ketus Andrea, Arshlan mendatangi papa Arga yang mendekat untuk bersalaman.
"Ooh tidak apa nak, ada perlu sama siapa ya?" tanya papa Arga.
"Mohon ijinnya om, tadi saya mendatangi kantor tapi ternyata Andrea tidak hadir jadi saya datang kemari."
"Ooh mau ketemu Andrea? silahkan tidak apa." ijin keluar dari papa Arga.
Tapi pa.." Andrea hendak menolak.
"Temui dulu, siapa tahu sangat penting" bisik papa sambil berlalu menuju ruang tengah.
"Om tinggal ke dalam dulu ya nak, capek habis dikerjain Andrea sama mamanya." kata papa Arga membuat Arshlan tersenyum geli, dan mendengar papanya menyuruh, Andrea pun terpaksa duduk menemuii Arshlan.
"Maaf kalau mengganggu waktu santai kamu Dre, tapi mama nanyain kamu terus." Andrea yang semula dingin berubah air mukanya saat Arshlan menyebut mamanya.
"Ooh God! kenapa saat aku ingin menghindar malah ia datang membawa nama mamanya?!" seru Andrea dalam hati.
"Bagaimana kabar tante Mira?" tanya Andrea agak melunak, tapi tetap dengan wajah dinginnya.
"Mama kurang sehat, sekarang sedang dirawat di rumah sakit, dia nanyain kamu terus dan memintaku untuk menjemput kamu." perkataan Arshlan membuat Andrea terlonjak dengan mata membulat, "Tadinya aku tidak tahu kalau yang mama maksud adalah kamu, setelah mama menunjukkan foto kamu dan alamat kantor kamu, aku baru tahu dan bergegas mencari kamu, tapi kata asisten kamu dengan perantara resepsionist bahwa kamu tidak masuk, dan aku minta alamat rumah kamu tadinya mereka ragu mau memberi alamat kamu, tapi karena aku bilang sangat urgent menyangkut nyawa seseorang akhirnya aku diberi tahu alamat kamu ini." jelas Arshlan membuat Andrea agak panik juga.
"Cuma demi alamat kamu bercanda sampe segitunya Arsh!" seru Andrea kurang suka memdengar Arshlan bawa bawa nyawa.
"Aku tahu Dre, tapi mama memang sempat drop karena sesak nafas yang dideritanya, dia nanyain kamu saat kondisinya mulai membaik" jelas Arshlan.
"Kenapa tante Mira malah cari aku bukannya calon menantunya sendiri, padahal aku kan tidak seakrab kalau sama Raisa seperti yang pernah Raisa pamerkan kepadaku?" Andrea tidak mengerti.
"Aku juga tidak tahu kalau masalah itu Dre, hanya mama yang bisa merasa." kata Arshlan.
"Dulu katanya dekat banget, tapi sekarang? apa itu cuma kamuflase Raisa saja?" Andrea seolah merasa kesal dengan Raisa juga Arshlan.
"Ayo Dre, tolong bantu aku demi mama." Arshlan menangkupkan tangan didepan dadanya memohon dengan sangat kepada Andrea.
"Baiklah, demi tante Mira aku mau, aku siap-siap dulu." Andrea beranjak dari duduknya hendak menuju kamarnya.
"Gak usah ganti baju juga gapapa Dre, begitu malah lucu." kata Arshlan menggoda Andrea yang masih memakai piyama gambar kartun, dan Andrea hanya memalingkan wajanya dengan cepat.
Setelah sekitar lima belas menit Andrea keluar sudah berganti baju dan wajah yang lebih fresh, niatnya untuk beemalas malasan seharian batal.
Mama Arini menemui Arshlan saat Andrea pamitan untuk berangkat, Arshlan langsung menuju mama Arini untuk mencium tangannya, tapi entah kenapa mama tidak mau disentuh oleh Arshlan.
"Jadi dulu kamu yang pernah menyakiti anak gadis saya?!" tanya mama Arini dengan wajah dingin dan garang.
"Mama!"
"Tante!"
Andrea dan Arshlan memanggil mama Arini berbarengan.
"Kalau tidak demi kesehatan mama kamu, saya tidak megijinkan Andrea pergi sama kamu." Tajam mama Arini menatap Arshlan.
"Saya minta maaf atas kesalahan saya dimasa lalu tante." Arshlan dengan gentle mengakui kesalahannya.
"Memang waktu kejadian sudah lama, tapi saya sebagai ibu masih merasa tidak terima karena anak gadis saya hanya dijadikan taruhan layaknya sebuah barang." Nada ketus dan dingin masih terdengar pada suara mama, tatapan tajam seakan hendak menguliti Arshlan, sedang Arshlan yang biasanya sangat berwibawa saat bertemu klien ataupun rekan kerja kini seakan tak berkutik.
"Maa, Andrea pergi dulu ya." Andrea berpamitan sambil mendekat kearah mamanya, dipeluknya tubuh mamanya
"Sudahlah maa, aku kan sudah tidak apa apa." Andrea berbisik sebelum melepas pelukannya, tapi justru Andrea pun mendapat tatapa tajam dari sang mama.
"Segera pulang kalau urusan sudah selesai, mama tunggu saat makan malam tiba harus sudah sampai ke rumah, kamu harus makan malam dirumah." nada yang tidak bisa diganggu gugat.
"Iya ma, Andrea mengerti, kami pergi dulu ma." pamit Andrea
"Terimakasih sekali karena sudah mengizinkan Andrea pergi bersama saya tante." Kata Arshlan saat akan berpamitan dan membawa Andrea bersamanya.
"Demi mama kamu yang sangat menyayangi Andrea, bukan karenamu." sahut mama Arini.
"Iya tante saya mengerti. Permisi tante." kata Arshlan sambil mengambil tangan mama Arini dan diciumnya dengan cepat hingga wanita paruh baya itu tidak sempat menepisnya, lalu keduanya pun segera berangkat menuju rumah sakit.
...****************...