
Hari demi hari berganti, sejak kejadian Raisa menemukan Arshlan yang sedang mabuk, dan juga bertemu Andrea di mall saat sedang bermesraan dengan cowok lain, tidak ada tanda-tanda kalau Arshlan dan keluarganya membenci dia, berarti Andrea menepati kata-katanya, begitu pikir Raisa. Hingga satu bulan kemudian Raisa datang ke rumah keluarga Daniswara sambil menangis, ia mencari tante Mira yang ternyata sedang berkumpul lengkap di gazebo halaman belakang.
"Mamaa..!" seru Raisa langsung memeluk mama Mira.
"Loh Cha, ada apa datang langsung menangis?" terlihat raut khawatir di wajah mama Mira, sementara Arshlan terlihat muak yang ditahan, sedang Papa Yudha dan Xander hanya biasa saja.
"Kebetulan kalian semua ada di rumah, aku mau mengatakan sesuatu." Raisa masih menangis dengan air mata buayanya.
"Ya sudah tenangin dulu diri kamu, lalu cerita apa yang sedang terjadi sama kamu." ucap mama Mira dengan sabar. Raisa menarik nafas dan menghembuskan nafasnya panjang, setelah ia cukup tenang ia mulai bicara.
"Aku..." Raisa menggantung kata-katanya. "Aku hamil anak Arshlan ma, pa." Kata Raisa sambil tertunduk, reaksi mama Mira begitu terkejut, ia sangat shock dan langsung merasa sesak yang di deritanya kambuh.
"Mama!!" teriak semua lelaki kesayangan mama Mira sambil memdekatinya, papa Yudha dan Arshlan merangkul mama Mira dari kiri kanannya, sedang Xander berlutut di depannya, sambil memberikan segelas air agar mamanya bisa lebih tenang. Setelah beberapa saat mama Mira bisa menguasai dirinya lagi, ia sudah siap mendengarkan apa yang akan Raisa bicarakan selanjutnya.
"Mama sudah baikan, sekarang mama ingin mendengar kronologi dari awal tentang Icha"
"Tapi ma!" Xander terlihat masih sangat khawatir, dan seolah geram dengan Raisa yang tiba-tiba bicara seperti tadi, dan Arshlan terlihat santai.
"Tidak apa nak." mama mengusap lengan anak keduanya meyakinkannya bahwa mama sudah baik, dan Xander pun hanya mengangguk. "Ayo ceritakan awal mulanya Cha!" perintah mama dengan suara lembutnya.
"Bagaimana bisa dia hamil anakku, aku menyentuhmu saja tidak pernah." dengan santai Arshlan berkata lebih dahulu sebelum Raisa melanjutkan ceritanya.
"Sebulan yang lalu saat kamu sedang mabuk dan aku bawa pulang itu sayang." kata Raisa
"Tidak usah panggil aku sayang, jijik aku mendengar kata itu keluar dari mulut kamu." aura Arshlan kini terlihat dingin. Ia membisikkan sesuatu ke Xander lalu adiknya itu masuk kerumah dan tak lama keluar lagi membawa laptop milik kakaknya dan diletakkan di meja seberang gazebo.
"Biarkan dia melanjutkan cerita kejadiannya dulu nak." kata papa, dan Arshlan pun hanya buang muka.
"Lanjutkan Cha!" perintah papa Yudha.
"Waktu itu aku dan beberapa teman datang kesebuah nightclub untuk melepas suntuk, dan hampir tengah malam aku menemukan Arshlan duduk sendirian dengan kondisi mabuk berat, lalu aku berpamitan pada semuanya untuk membawa Arshlan pulang, salah satu temanku mengantarkan kami pulang. di kamar dalam kondisi mabuk ia berhalusinasi dengan cewek lain, hingga terjadilah hal itu." Andrea mengakhiri ceritanya sambil menangis.
"Apakah masih ada lanjutan ceritanya? kalau tidak sekarang aku yang mengutarakan bantahan." terlihat raut muka Raisa berubah walau tertutup tangis, namun Arshlan melihat perubahan itu, hingga ia menyunggingkan smirk tipis di bibirnya.
"Raisa, jangan kamu kira selama ini aku diam tapi tidak mengetahui kelakuan kotormu di luar sana." Arshlan memulai cerita dan nampak Raisa membelalakkan mata dan menggelengkan kepala tak percaya atas tuduhan Arshlan, akting.
"Tapi tidak perlu aku ceritakan, karena aku hanya mendapatkan foto yang dikirim orang-orang suruhanku, tapi tahukah anda nona Raisa?! saat kamu membawaku pulang, aku tidak sedang mabuk, aku melihat kamu datang bersama beberapa teman kamu, dan dengan salah satunya kamu begitu intim dan mesra, apakah aku cemburu? jawabanku TIDAK! karena aku tidak pernah ada rasa sedikitpun sama kamu kalau bukan karena paksaan mama yang telah termakan hasutan kamu, aku tidak akan sudi bertunangan sama kamu, itulah mengapa aku menangguhkan pernikahan yang tidak aku harapkan ini lama, karena aku ingin memperlihatkan pada mama siapa kamu, dan sekarang rupanya waktu yang aku tunggu, waktu yang tepat mengungkap jati diri kamu di 0balik topeng kamu yang sangat tebal itu.
"Kamu mudah percaya begitu saja? jaman sekarang orang mudah mengedit foto Arshlan." Raisa meremehkan Arshlan tapi lelaki muda itu tak peduli.
"Yaa mungkin kamu betul, nah sekarang lihat film hasil editanku, waaahh aku editor handal rupanya." kata Arshlan dengan tawa remeh.
Divideo yang ditunjukkan Arslan nampak Raisa dan seorang lelaki keluar dari ruang pemeriksaan kandungan.
"Aku sekarang hamil dua minggu bagaimana bila keluarga Arshlan tahu, aku bisa gagal jadi menantu keluarga itu. Kamu sih main gak hati-hati" percakapan yang terjadi divideo itu terlihat Raisa kesal pada sang lelaki
"Kamu kali yang lupa minum pil." sanggah sang lelaki. sampai di situ percakapan berakhir karena keduanya semakin menjauh.
"Saat itu aku sedang menjenguk mama yang sedang sakit, aku hendak keluar mencari makan dan tidak sengaja melihatmu keluar dari ruang periksa dan diam-diam aku video, ternyata rasa panikmu menutup waspada kamu sampai aku ambil gambar kalian sangat dekat pun kalian tidak menyadarinya." kata Arshlan, sementara yang lain hanya memperhatikan.
Divideo kedua terlihat disebuah nightclub yang didatangi Arshlan beberapa waktu lalu. Video berawal disebuah ruangan yang tidak terlalu ramai dengan hingar bingar musik, ruangan itu koridor menuju toilet dan penerangannya pun sangat bagus sehingga video yang tersimpan juga jelas.
"Sekarang waktunya kita jalankan rencana kita, terlihat dia sudah mulai mabuk, saat nanti dia benar-benar mabuk, kamu bawa pulang dia, dan setelah itu waktunya kamu beraksi." Raisa mengangguk dengan rencana cowoknya, lalu mereka pergi ke depan untuk memantau Arshlan, menunggunya sampai benar-benar mabuk.
Arshlan menekan tombol pause di laptopnya.
"Tahukah kamu? kalau saat itu aku sadar sesadarnya dan hanya pura-pura mabuk, bahkan saat sudah sampai di apartemen kamu, aku sama sekali tidak nafsu saat kamu membersihkan badanku dan berusaha membangkitkan gairahku, kenapa?? karena aku jijik sama kamu, dan aku menceracau mengucapkan nama cewek lain agar kamu semakin ilfeel sama aku, dan kamu pun keluar kamar saat aku pura-pura tertidur, dan setelah itu kamu mau menceritakan selanjutnya nona Raisa?" Arshlan menggantung ceritanya, terlihat muka Raisa memerah menahan panik juga kesal. Arshlan menekan tombol play dilaptopnya dan disana terpampang video tak senonoh antara Raisa dan cowoknya yang membawa mobil saat mereka pulang tadi.
"Hentikan!" seru mama dan papa bersamaan sambil memalingkan muka ke arah lain, dan Arshlan pun menghentikan puraran video itu.
"Kamu tahu? bahkan aku langsung keluar setelah kalian berdua tertidur karena kelelahan sehabis bercinta, aku merasa jijik sendiri berada di kamar terkutukmu itu yang aku pastikan sudah ratusan kali kalian jadikan tempat pergumulan mereguk dosa." Kata Arshlan sambil menutup laptopnya.
"Aku rasa sekarang aku tak perlu menunda lagi untuk mengakhiri pertunangan yang tidak aku harapkan ini, dan ingat! jangan pernah lagi kamu perlihatkan muka kamu di hadapan keluarga kami, kamu tidak akan bisa lagi menjebakku dengan rencana busukmu itu, selama ini bukannya aku tidak tahu, aku hanya menahan diri saja." Geram suara Arshlan menahan amarah, matanya yang memerah menatap tajam kepada Raisa.
"Lepas cincin itu, cepat!" bentak Arshlan, dan dengan raut ketakutan Raisa melepas cincin tunangan mereka, lalu Arshlan segara mengambil dan melemparkanya ke kebun dibalik pagar pekarangan mereka.
"Pergi!" usir Arshlan dingin
Dan dengan muka merah padam menahan malu dan kesal Raisa segera meninggalkan rumah tersebut dengan seluruh rencananya gagal total, Arshlan yang selama ini dikiranya bodoh ternyata menyimpan senjata yang mematikan untuk Raisa.
...****************...