
Xander siap bersaing dengan kakaknya untuk mendapatkan hati Andrea, apalagi mama Arini lebih mendukung Andrea untuk bersama Xander, maka terbukalah jalan yang lebar bagi Xander untuk menjadi bagian dari keluarga Abimana.
Pagi ini Xander sudah merapikan penampilannya untuk segera menuju kantornya, yah walaupun tidak dirapi-rapikan pun Xander pada dasarnya sudah rapi dan yang pasti tampan tentunya. Hari ini ia ada jadwal untuk bertemu Andrea membicarakan lebih lanjut tentang kerja samanya yang sudah berjalan hampir limapuluh persen.
Sampai di kantor, Xander berjalan dengan gagah menuju ruangannya, tak lama sang kakak Arshlan juga datang bersamaan dengan papanya, ia pun tak kalah tampan dengan sang adik.
Saat Arshlan dan papanya baru saja keluar lift dilantai tempat ruang kerja mereka berada, mereka berpapasan dengan Xander dan asistennya, mereka bersiap akan pergi.
"Mau kemana Xen, kok kelihatan terburu-buru mau pergi?" tanya sang papa.
"Iya pa, ada janji pertemuan pagi perihal kerjasama kerja kita dengan AAb Corp pa." jawab Xander.
"Dimana? Kantor mereka?" tanya papa Yudha lagi.
"Ketemu di proyek, mau tinjau lokasi lagi, mereka mau cek kualitas bangunan."
"Ooh ya sudah, segera berangkat."
"Pergi dulu pa, bang." pamit Xander diikuti asistennya.
Selepas kepergian Xander, Arshlan dan papanya masuk ke ruangan kerja papanya.
"Arshlan, dikantor ini kan sudah ada Xander bagaimana kalau kamu yang handle kantor yang ada dikota sebelah?" saran papa Yudha.
"Kenapa bukan papa saja, biar aku sama Xander yang disini pa?" Arshlan jelas keberatan, karena peluangnya untuk mendekati Andrea lagi dan menakhlukan hati mama Andrea sangat tipis.
"Mamamu lebih suka suasana disini."
"Ya sudah Xander saja."
"Xander lebih menguasai usaha yang disini sementara kamu sangat menguasai usaha yang disana, bagaimana usaha akan maju kalau bukan dipegang dengan orang yang lebih menguasai usaha dibidangnya, bisa-bisa malah hancur semua." Kata papa Yudha ada benarnya, itulah mengapa Xander yang menghandel perusahaan di kota ini sementara Arshlan lebih sering dikota sebelah.
"Begini banget sih nasib pejuangan cintaku." gumam Arshlan seolah meratapi perjuangan cintanya yang akan semakin sulit dan Xander yang pada dasarnya sudah mendapat lampu hijau dari mamanya Andrea pasti akan lebih mudah mendekati Andrea.
"Kenapa?" tanya papa Yudha yang mendengar gumaman anak sulungnya tersebut.
"Nak, percaya dengan sang maha pembolak balik hati, semua tidak ada yang tidak mungkin kalau Tuhan sudah berkehendak, walaupun kalian terpisah jarak dibelahan bumi utara dan selatan, kalau memang takdir kalian untuk bersama pasti pada akhirnya kamu yang akan memilikinya, begitupun sebaliknya. Setidaknya kamu tetap berusaha saat kesempatan itu terbuka, dan jikapun pada akhirnya usahamu tidak berakhir manis seperti impian hati kamu, itu berarti Tuhan tidak menjodohkan kalian, dan pasti Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang tepat buat kamu." panjang lebar papa Yudha menasehati Arshlan, ditepuknya pundak anak sulungnya itu untuk memberinya kekuatan, dan nampaknya Arshlan pun mengerti dan menerima nasehat papanya itu, dan tak lagi berat untuk kembali ke kota sebelah.
***
Andrea masih sibuk dengan tinjauan kerja lapangan bersama Xander, rupanya harapan Andrea tentang kualitas bangunan sudah sesuai dengan keinginannya, dan sampai sejauh ini belum ada komplain dari pihak Andrea.
Ponsel Andrea berdering saat Andrea sibuk berbincang dengan Xander dan Arsiteknya.
"Maaf pak, saya angkat telpon dulu." pamit Andrea pada Xander dan dijawab anggukan oleh lekaki itu.
"Hallo!" sapa Andrea. Dan kemudian terjadi perbincangan ditelpon antara Andrea dan si penelpon, tak lama, Andrea telah mengakhiri percakapannya, lalu ia kembali berbincang dengan Xander.
Hari hampir memasuki makan siang saat Andrea dan Randy bersiap hendak kembali ke kantornya lagi.
"Maaf bu Andrea, apa tidak sebaiknya kita makan siang sekalian? ini sudah hampir waktunya makan siang." Xander menawarkan Andrea untuk makan siang bersama.
"Ooh maaf bapak Xander saya sudah terlanjur menerima ajakan teman, kalau belum tentu dengan senang hati saya menerima ajakan bapak." Jawaban Andrea tentu buat Xander kecewa, tapi ia tak memperlihatkannya didepan Andrea.
"Kalau begitu lain waktu kita atur waktu lagi ya bu Andrea." Xander kembali menawarkan waktu luang.
"Tentu pak, kalau begitu kami permisi dulu." Andrea berpamitan dan berlalu pergi meninggalkan lokasi diikuti Randy. Mereka masuk mobil yang sudah siap untuk berangkat.
"Pak, kita langsung kembali ke kantor ya!" perintah Randy pada driver perusahaan.
"Ooh jangan langsung kantor pak, sebentar lagi makan siang, saya ada janji dengan teman, nanti anda berdua sekalian makan siang ditempat kami janji ketemu." kata Andrea dan dijawab anggukan oleh kedua bawahannya tersebut.
Tak lama merekapun telah sampai disebuah restoran tempat janjian Andrea dan temannya.
"Maaf pak Randy, saya tidak bisa mengajak anda berdua satu meja dengan saya, karena ada hal pribadi yang mau kami bicarakan." Andrea menghentikan langkah kedua bawahannya itu saat mereka masih mengikuti langkahnya, lalu Randy mengajak driver untuk duduk dimeja yang dekat dengan pintu masuk, sedang Andrea masuk agak jauh dimana ia telah ditunggu oleh seseorang.
...****************...