
Intensitas pertemuan antara Andrea dan dua bersaudara Arshlan dan Xander kini sangat jarang, karena Arshlan yang menetap diluar kota untuk mengurus pekerjaan yang ada disana, sedang Xander yang masih satu kota dengan Andrea juga jarang bertemu karena kini Andrea lebih sering mengutus Randy untuk urusan kerja sama antar perusahaan keduanya.
Sebenarnya Xander ingin sekali untuk selalu bertemu Andrea, namun Andrea lebih memilih menolaknya karena Andrea berharap Xander menyadari perasaannya harusnya bukan untuk Andrea walaupun semua tahu bahwa perasaan tidaklah untuk dipaksakan.
Siang itu Andrea sedang berkutat dengan dokumen serta data laporan bulan ini, tiba-tiba terdengar getar dari ponselnya yang tergeletak disamping laptopnya,
"Hai Dan!" seru Andrea sangat gembira menyapa sahabatnya diseberang telpon saat tahu nama pemanggil yang tertera diponselnya. Lalu terlihat percakapan yang sangat hangat dan penuh tawa antara Andrea dan Danisa, sahabatnya yang lama tidak dijumpainya sejak Danisa menikah, setelah terlibat percakapan beberapa saat ditelepon, Andrea meletakkan kembali ponselnya tanda percakapan telah usai dan kini ia terpekur kembali dengan pekerjaannya diakhir bulan dan juga akhir pekannya. Setelah selesai memeriksa laporan-laporan, Andrea segera pulang tanpa menunggu waktu kerja berakhir.
"Mamaaa....!" seru Andrea menyapa sang mama yang sedang berkebun menanam bunga-bunga di halaman depan dibantu asisten rumah tangganya.
"Sudah pulang nak? tumben masih siang sudah pulang?" tanya mama Arini melihat anaknya pulang lebih cepat.
"Iya nih ma, kebetulan pekerjaan sudah selesai dan juga mumpung akhir pekan aku mau ke tempat ibu, kangen sudah lama tidak ketemu mereka semua" kata Andrea menjelaskan kenapa pulang awal.
"Ooh ya sudah sana segera siap-siap mumpung hari masih siang cepat berangkat saja supaya sampai sana tidak terlalu malam, tapi mama papa tidak bisa menemani kamu, tidak apa kan?"
"Iya ma, tidak apa-apa, aku kan sudah biasa kesana sendiri juga, ya sudah ma, aku berkemas dulu." Andrea segera masuk ke dalam rumah untuk bersiap pergi. Tak berapa lama ia sudah bersiap berangkat.
"Ma, Andrea berangkat ya." pamit Andrea sambil mendekat kearah mamanya yang masih sibuk berkutat dengan tanamannya.
"Loh, mau naik motor?" tanya sang mama saat melihat anak gadisnya menenteng helmnya.
"Iya ma, lagian akhir pekan pasti jalanan padat banget kalau bawa mobil, kalau pakai motor kan lebih enak tak terlalu lama nunggu antrian jalan." jelas Andrea.
"Ya sudah, hati-hati ya, jangan kebut-kebutan!" mama Arini memperingatkan, karena bila sudah mengendarai motor sportnya, jiwa rider Andrea suka tidak terkontrol.
"Iya mamaku sayang, tapi Andrea tidak janji." kata Andrea sambil mencium kedua pipi mamanya.
"Kamu itu" Andrea mendapat pukulan pelan dari mamanya dilengannya sementara Andrea hanya tertawa meringis geli. Lalu ia segera menuju garasi untuk memgambil motornya, setelah memanaskan sejenak motornya ia segera berangkat menuju kota tempat tinggal dimasa pendidikannya dahulu.
Sekitar satu setengah jam perjalanan, Andrea sudah mulai masuk ke kota tujuannya, tiba-tiba motornya mengalami kempes ban, untung saja dia tidak sedang dalam kecepatan diatas rata-rata, jadi Andrea masih bisa menguasai motornya tidak sampai tergelincir.
"Yaahh, kenapa juga mesti kempes sekarang" keluh Andrea, tapi untungnya dia berada ditempat yang lumayan ramai jadi kemungkinan untuk mendapatkan bengkel akan lebih mudah. Andrea menuntun motornya yang lumayan berat dengan kondisi ban kempis dan berharap segera menemukan bengkel terdekat, tiba-tiba ia merasakan tarikannya lebih ringan, saat ia menengok kebelakang karena heran ternyata ada yang membantu mendorong motornya dari belakang.
"Di depan tidak jauh lagi ada bengkel mas, biar saya bantu dorong, kelihatannya mas berat banget membawa motornya jadi saya bantu dorong saja, keingat kalau saya yang mengalami hal seperti ini." penolong Andrea menjelaskan kenapa ia membantunya saat terlihat tatapan heran dari Andrea, dan Andrea pun hanya mengangguk paham dengan penjelasan cowok yang menolong mendorong motornya itu. Tak berapa lama terlihat bengkel seperti yang dikatakan anak muda tadi.
"Iya.." jawab Andrea menahan geli karena dari tadi ia dipanggil mas. Ya, karena Andrea memakai helm fullface dengan masker menutup setengah wajahnya dan kaca mata hitam bertengger dihidungnya. Sebenarnya bila diperhatikan badan Andrea sangat kelihatan bentuk badan cewek, tapi mungki karena tertutup jaket yang lumayan besar jadi orang yang menolongnya hanya melihat badan atasnya saja, jadi dia mengira kalau Andrea seorang lelaki.
"Sepertinya mas, dari perjalanan jauh ya?" tanya cowok itu lagi.
"Iya dek, dari kota sebelah." jawab Andrea agak berteriak karena lalu lintas yang ramai membuat mereka tak bisa bicara dengan nada pelan. Dan mereka pun sampai dibengkel. Andrea segera menurunkan standar motornya dan segera membuka helm dan maskernya, karena merasa kegerahan membawa motor yang sangat berat, untung saja ada yang suka rela membantu untuk mendorong motornya.
"Loh!" seru penolong Andrea saat melihat wajah dibalik helm dan masker yang sedari tadi membungkus wajahnya.
"Maaf ya mbak, saya pikir mas-mas." Kata cowok itu saat Andrea selesai membuka helm dan juga jaketnya.
"Tidak apa dek, mbak maklum saja kok." kata Andrea hingga cowok itu tidak merasa malu lagi karena sedari tadi memanggil Andrea mas.
Lalu keduanya terlibat pembicaraan sambil menunggu ban motor Andrea diganti, terlihat dari penampilan cowok yang menolongnya sepertinya dia sedang melakukan olahraga sore.
"Kenapa tidak lanjut olahraganya? mumpung belum gelap ini" tanya Andrea saat cowok itu malah asyik menemaninya ngobrol, dan entah kenapa Andrea yang biasanya cuek dengan orang baru apalagi lelaki, kini bisa sangat akrab ngobrol bahkan tidak memperlihatkan wajah dingin dan datarnya.
"Kebetulan tadi sudah mau pulang mbak, tapi melihat orang yang keberatan dorong motor sendirian ya sudah saya bantu dulu, biar saat saya yang kesusahan ada yang bantuin juga." jelasnya. Ternyata ia baru saja lulus kuliah tapi saat Andrea menanyakan pekerjaannya karena ia hendak menawari pekerjaan bila cowok itu masih mencari-cari lowongan kerja, Andrea malah dibuat melongo karena cowok yang menolongnya itu ternyata sudah bekerja sebagai abdi negara, ia menjadi salah satu anggota angkatan bersenjata bagian darat. Andrea tak kuasa menahan kekagumannya.
"Ingat Andrea, dia seusia adik kamu." Batin Andrea menyadarkan dirinya sendiri, sambil menahan senyumnya.
"Oh iya mbak, dari tadi ngobrol kita belum kenal nama masing-masing, perkenalkan nama saya Alarik mbak panggil Arik saja, kalau mbak siapa?" tanya Arik
"Andrea." jawab Andrea sambil mengurai senyum manisnya, lalu Andrea memberikan kartu namanya saat dilihatnya motornya sudah siap untuk dikendarai lagi.
"Terimaksih bantuannya ya Rik, aku mau lanjut perjalanan, karena hari sudah sangat sore." pamit Andrea.
"Makan dulu yuk mbak, pasti lapar kan mbak habis dorong motor gede begini." ajak Arik dengan tulus.
"Maaf Rik, tidak bisa sekarang, mungkin besok saja ya, kamu bisa menghubungiku di kartu nama itu, bukannya aku menolak saat ini, tapi ibuku sudah menunggu kedatanganku, dan tak sabar ingin bertemu, karena sudah beberapa bulan aku tidak menjenguknya." Alasan Andrea rupanya bisa diterima Arik, dan akhirnya merekapun pulang ke tempat masing-masing.
...****************...