Andrea

Andrea
Mendapat Sidejob



"Nak, tolong temani tante dulu ya, tante masih ketakutan sekali" Pinta sang ibu sangat berharap kepada Andrea


"Iya tante. Kenapa tante pergi sendirian saja, tidak bawa driver atau ajak anak atau suami tante?" Andrea bertanya dengan rasa herannya


" Driver tante sedang kurang enak badan, Suami sama anak anak ada dikantor nak kalau jam segini, tante pikir akan aman aman saja bila tante pergi sendiri, karena kadang tante lebih suka pergi sendiri juga tidak apa apa." jelas sang ibu dan terlihat Andrea menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Mungkin ini cara Tuhan mempertemukan tante dengan gadis sebaik kamu, oh ya siapa nama kamu nak?" ucapan sang ibu membuat Andrea sempat tersipu lalu ia menjawab tanya sang ibu.


"Saya Andrea tante, kalau tante siapa namanya?" Andre bertanya balik


"Nama tante Mira." jawab sang ibu tadi.


"Oh ya, tante Mira sudah merasa tenang kan sekarang?" tanya Andrea.


"Iya nak, sudah tidak setakut tadi, tolong temani tante dulu ya nak." pinta tante Mira dijawab anggukan oleh Andrea.


kemudian mereka makan siang bersama setelah pesanan mereka datang.


Setelah selesai makan dan keadaan tante Mira sudah tenang, mereka melanjutkan ke niat awal yaitu mencari kebutuhan yang mereka cari, tante Mira minta ditemani Andrea selama berbelanja, ia sangat butuh teman setelah kejadian tadi, dan Andrea tak kuasa menolak karena ia teringat mama maupun ibu Rima, Andrea berpikir andai mereka yang mengalami hal seperti tante Mira.


Mereka selesai bervelanja, bahkan belanjaan Andrea dibayar oleh tante Mira.


"Nak Andrea, tolong tante lagi ya, tante minta ditemani pulang sampai rumah, tante masih merasa trauma dengan kejadian tadi." pinta tante Mira saat mereka keluar menuju tempat parkir.


"Oh ya tante, tapi sebentar saya telpon saudara saya dulu untuk membawa pulang motor saya." kata Andrea di iyakan tante Mira, lalu Andrea menelpon anak buah papanya untuk segera mengambil mobil Andrea di mall yang disebutnya.


Setelah sekitar lima belas menit menunggu, anak buah papa Andrea datang dan menemui Andrea dengan sikap biasa seperti yang diminta Andrea karena ia tidak mau tante Mira tau siapa dia sebenarnya. Ia memberikan kunci mobilnya kepada orang suruhannya, dan Andrea berpesan untuk selalu stanbye bila sewaktu waktu Andrea minta dijemput, dan dijawab anggukan tanda mengerti, kemudian anak buahnya itu berlalu dari hadapan Andrea.


"Mari tante kita pulang sekarang." ajak Andrea


"Kamu bisa setir mobil? kalau bisa kamu saja yang bawa mobilnya."


"Oh ya tante, saya bisa." jawab Andrea dan diserahkannya kunci mobil tante Mira kepada Andrea lalu keduanya segera pulang menuju rumah tante Mira.


Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sampai rumah tante Mira.


"Ayo nak Andrea masuk dulu." ajak tante Mira.


"Tidak usah tante, saya langsung pulang saja." tolak Andrea.


"Eehh, jangan menolak, tante masih ingin bicara sama nak Andrea." Lagi lagi Andrea tidak tega menolak, kemudian mereka masuk rumah, Andrea langsung diajak keruang keluarga oleh tante Mira.


"Duduk dulu nak, tante mau naruh tas dulu." Andrea mengangguk, tante Mira masuk ke kamarnya dan tak lama kemudian sudah kembali dan langsung duduk disamping Andrea.


"Nak, bagaimana kalau nak Andrea kerja sama tante sebagai teman tante bepergian sekaligus pengawal tante." Tawar tante Mira.


"Maaf tante, tapi saya sudah bekerja." Andrea menolak dengan halus.


"Memang kamu kerja dimana? Ehmm bagaimana kalah tante kasih kamu gajinya dua kali lipat dari tempat kamu kerja sekarang?"


"Ya, saya kerja apa saja yang penting halal tante." Andrea tidak mau terus terang tentang siapa dia.


"Kalau begitu mau ya kerja sama tante." harap tante Mira dengan sangat. Andrea nampak berpikir, ia tidak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin di kantornya, tetapi ia juga sulit untuk menolak keinginan orang yang ditolongnya tadi begitu saja.


"Ehmm.. kalau saya terima tawaran kerja dari tante, tapi hanya sebagai side job saja bagaimana tante? soalnya saya tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan saya yang sekarang, nanti pelanggan saya bisa pergi begitu saja tante." kata Andrea


"Ooh, kamu punya usaha sendiri?" tanya tante Mira.


"Iya tante, nerusin dari orang tua saja tante, kata papa biar saya bisa jadi pribadi yang bertanggung jawab, dan papa hanya dibalik layar saja, membantu disaat saya kesulitan menjalankan usaha." jelas Andrea


"Konveksi tante." jawab Andrea


"Waahh! sukses selalu ya nak, semoga dengan usaha yang ulet kamu bisa mendirikan pabrik garment." kata tante Mira diamini oleh Andrea, antara tante Mira maupun Andrea tidak sok ingin tahu maupun tidak memamerkan diri.


"Kalau begitu, kamu temani tante pada saat tante ada perlu keluar tetapi tidak ada yang bisa anterin seperti tadi, jadi kamu bisa tetap handel kerjaan kamu tapi kamu juga bisa temanin tante disaat benar benar butuh bantuan kamu, bagaimana?" tawar tante Mira


"Ehmmm, ya deh tante mudah mudahan saya bisa dan luang disaat tante butuh ditemani saya." Andrea akhirnya setuju kalau cuma menemani disaat tante Mira sangat butuh bantuannya itu berarti kerjaan utamanya tidak akan terganggu.


Pada saat Andrea hendak pamitan, suami tante Mira pulang dari kantornya.


"Sore ma." sapa Bapak tersebut


"Eeh, sudah pulang pa? biasanya sampe jelang malam baru pulang." sambut tante Mira.


"Iya, tadi habis tinjau proyek mau balik kantor tanggung, eh ada tamu rupanya, tamu anak anak ma?" tanya suami tante Mira saat melihat Andrea.


"Bukan pa, ini tamu mama, tadi mama hampir saja kena rampok, untung ada nak Andrea yang nolong mama."


"Apa ma? rampok? kok tidak memberitahu papa?!" seru suami ibu Mira terlihat panik


"Tadi mau kasih tahu papa tapi takut ganggu kesibukan papa, yang penting kan mama selamat, tapi tidak tahu tadi seandainya tidak ada nak Andrea, itu tumben keamanan mall bisa kecolongan begitu." jelas ibu Mira biar suaminya tidak begitu panik lagi.


"Syukurlah ma, tidak ada luka sedikitpun, terimakasih ya nak Andrea." kata suami ibu Mira sambil menjabat tangan Andrea.


"Ini kenalin suami tante, panggil om Yudha saja." tante Mira sekalian mengenalkan suaminya.


"Andrea om." sambil mencium punggung tangan om Yudha, Andrea menyebutkan namanya dan disambut senyum dan anggukan kepala dari om Yudha.


"Kenapa tadi cuma sendiri perginya ma? tidak bawa sopir atau pengawal pribadi?" tanya om Yudha yang masih sangat penasaran dengan kejadian yang menimpa istrinya.


"Iya pa, maaf tadi mama yang bersikeras tidak mau, mungkin kalau tidak begini mama tidak bertemu nak Andrea." tante Mira merasa bersalah tapi sekaligus gembira.


"Lain kali jangan begitu ma, kalau tidak bersama papa atau anak anak jangan pergi sendiri, berbahaya." nasehat om Yudha


"Lain kali mama tidak pergi pergi sendiri lagi pa, nak Andrea bersedia menemani mama." kata tante Mira sambil menepuk nepuk punggung tangan Andrea.


"Ehmm.. maaf tante om, Andrea mau pamit dulu, sudah sore nanti takut kemalaman." pamit Andrea saat suami istri itu selesai berbicara.


"Biar diantar sopir saja nak." kata tante Mira


"Oh tidak perlu tante, saya telpon teman saya saja." tolak Andrea


"Nanti kelamaan tidak kalau nungguin temannya?" tanya tante Mira


"Coba saya telpon dulu." Jawab Andrea sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu mencoba menelpon seseorang tak lama terlihat ia berbicara dengan orang diseberang telponnya.


"Teman saya bisa jemput saya kok tante, kebetulan dia ada didekat sini habis narik penumpang katanya." kata Andra


"Ooh ya sudah kalau begitu hati hati dijalan ya nak, nanti sewaktu waktu tante butuh teman tante telpon nak Andre." pesan tante Mira.


"Sekali lagi terimaksih karena telah menyelamatkan istri saya ya nak Andrea." kata om Yudha dengan sangat


"Iya om sama sama, sudah kewajiban saya selagi saya bisa membantu, ya sudah itu teman saya sudah datang." kata Andrea saat diluar rumah terdengar suara klakson mobil yang sangat dikenalnya.


Kemudian Andrea segera berlalu dari rumah tante Mira untuk pulang karena hari sudah semakin sore.


...****************...