Andrea

Andrea
Efek Jera



Malam telah berlalu digantikan fajar menyingsing dan bergulir menuju siang, Xander telah siap memulai aktifitas rutinnya kembali, sudah beberapa hari ini ia bisa tenang menjalani pekerjaannya tanpa harus direcoki keribetan saat Andrea berkunjung ke kantornya hanya ingin dibelikan makanan.


Dan bila Xander menolak kemauan kakak iparnya itu karena kesibukan pekerjaan yang sedang dijalaninya, Andrea selalu bilang kalau Xander calon paman yang tega pada calon keponakannya, kalau sudah begitu mau tak mau ia harus mau melaksanakan keinginan kakak iparnya yang menurut Xander sangatlah konyol.


Pagi itu Xander memanggil asisten serta sekretarisnya untuk bersiap mengadakan kunjungan lapangan tempat terlaksananya proyek kerjasama perusahaannya dengan perusahaan lain.


Xander memerintahkan kedua orang yang langsung bekerja terhadapnya itu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, karena dalam sepuluh menit mereka harus segera berangkat ke tempat tujuan.


Pak Aris dan Kinanti telah bersiap di depan ruang kerja Xander menunggu atasan mereka keluar. Tak berapa lama Xander keluar ruangan dan langsung mengajak pak Aris dan Kinanti berangkat.


Sesampai di lokasi mereka di sambut oleh petinggi dari perusahaan rekanan mereka. Setelah berbincang sejenak, mereka melakukan cek lapangan untuk melihat sejauh mana perkembangan pembangunan gedung yang rencananya akan dijadikan sebagai gedung perkantoran tersebut.


Kinanti mencatat poin-poin penting dari percakapan antar dua pimpinan perusahaan yang bekerja sama tersebut.


Waktu istirahat sebelum mereka kembali ke kantor masing-masing, mereka sepakat untuk makan siang bersama, dan kini mereka tengah berada di sebuah restoran yang berdekatan dengan lokasi proyek kerja sama mereka.


Berada di sebuah meja yang besar, mereka yang berjumlah enam orang berada dalam satu meja yang sama. Pelayan telah menyajikan seluruh pesanan, tibalah kini mereka untuk segera makan bersama.


Tampak asisten dari rekan kerja Xander dan Kinanti mengobrol dengan sangat akrab, sebenarnya Kinanti hanya menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh orang tersebut.karena kalau mau diam saja takutnya Kinanti dikatakan sombong.


Tetapi menanggapipun ternyata bukan solusi bagus buat Kinan, asisten rekan kerja Xander tampak sangat intens memberi perhatian kepada Kinanti, bahkan ia mengambilkan beberapa potong lauk untuk Kinanti, padahal Kinanti sudah berusaha menolak.


Itu semua tak luput dari pandangan mata Xander, bahkan Kinanti yang merasa risih dan sungkan karena perhatian yang berlebihan dari orang yang baru pertama dijumpainya itu tertangkap pandangan tajam Xander.


"Pak Aris!" panggil Xander pada asistennya yang sedang lahap menikmati makan siangnya.


"Eh, iya pak Xander?" tanya pak Aris spontan menghentikan makannya dan menoleh ke arah Xander.


"Bayar bill makan siang kita ini ke kasir, kita harus segera kembali." kata Xander dengan tegas.


"Tapi pak Xander, bahkan anda belum separuh menghabiskan makan siang anda?" tanya sang rekan bisnis penuh heran.


"Tidak apa pak, saya ada perintah untuk menghadap CEO sekarang, jadi mohon maaf kami tidak bisa sampai selesai menikmati makan siang bersama anda semua." kata Xander mengungkapkan alasannya yang tentu saja itu hanya kebohongan yang Xander buat.


Xander tidak suka melihat asisten rekan kerjanya terlalu banyak perhatian kepada Kinanti.


"Oh begitu rupanya, kalau begitu sampaikan salam kami buat bapak CEO anda yang terhormat bapak Xander." kata sang rekan bisnis menyampaikan pesannya.


"Akan kami sampaikan pak, permisi kami pergi dulu." pamit Xander mewakili kedua orang bawahannya, lalu pak Aris dan Kinanti membungkukkan badan sebagai rasa hormat kepada klien bisnis mereka, tampak asisten klien bisnis mereka melambaikan tangan kepada Kinanti, Kinanti pun membalas lambaian tangan orang itu dengan canggung, tetapi belum sampai tangannya terangkat Xander menarik tangan Kinanti terlebih dahulu. Kembali, Xander menampakkan posesifnya entah itu bisa disadari Kinanti atau tidak.


Satu jam perjalanan, mereka telah sampai ke kantor kembali. Pak Aris langsung masuk ke ruangannya begitu pula Xander dan Kinanti.


Tetapi baru beberapa detik Kinanti menaruh tubuhnya di kursinya, telepon internalnya berdering, dan segera diangkatnya panggilan tersebut, rupanya sang direktur utama atasannya yang memintanya datang ke ruangannya.


Tanpa menunggu lama Kinanti menuju ruangan Xander, setelah mengetuk pintu Kinanti langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari atasannya tersebut


"Maaf pak, apakah ada tugas buat saya?" tanya Kinanti saat sudah di hadapan meja kebesaran Xander, dan terlihat atasannya itu sedang menekuni laptop di hadapannya.


"Tolong pesankan saya makanan dan minuman untuk dua orang, apa saja yang menurut kamu enak, tapi jangan yang pedas karena saya tidak suka makanan yang terlalu pedas dan jangan terlalu lama harus sudah ada di meja saya!." perintah Xander yang sempat membuat Kinanti terheran juga bingung, tapi ia dengan segera melaksanakan apa yang atasannya perintahkan.


Kinanti pun berlalu dari hadapan Xander setelah berpamitan setelah menerima perintah dari atasannya tersebut, dengan segera Kinanti menelpon kantin perusahaan tersebut, barangkali masih ada makanan yang bisa dipesan.


Kinanti menunggu di depan lift saat penjaga kantin mengatakan kalau pesanan sudah dalam perjalanan, dan tak berapa lama datang penjaga kantin membawa pesanan Kinanti.


Setelah membayar semua pesanannya Kinanti langsung berjalan menuju ruangan atasannya, Xander. Tetapi baru beberapa langkah ada yang menghadang jalannya dan menampik barang bawaan Kinanti hingga terjatuh dan berantakan di lantai.


"Astaga mbak!" seru Kinanti yang sangat terkejut dengan perlakuan yang baru saja ia dapatkan.


"Enak sekali kamu sudah waktunya kerja kembali malah pesan makanan, kamu mau kerja apa mau numpang makan?!" seru si pengganggu Kinanti yang ternyata seniornya yang tidak suka keberadaan Kinanti sejak pertama masuk dulu.


"Tapi mbak, ini..."


"Apa? Enggak usah banyak alasan kamu ya! Di sini bila sudah waktunya kerja dilarang keras sambil makan!" seru senior Kinanti.


Kinanti hanya diam mendengar omelan seniornya itu sambil memunguti pesanannya yang telah berantakan di lantai.


"Heh! Kalau ada yang ngomong itu di dengerin, malah di tinggal nyampah!" seru sang senior sambil mendorong bahu Kinanti ke belakang dengan keras hingga membuat Kinanti yang sedang jongkok membereskan makanan yang bercecer jatuh terjengkang dan jatuh terduduk, hal itu membuat celana Kinanti basah karena menduduki minuman yang tumpah ke lantai.


Cleaning service yang kebetulan lewat hendak membantu Kinanti membereskan kekacauan itu tapi dicegah oleh senior Kinanti.


"Mbak Kinan!" seru petugas cleaning service itu yang ternyata Gilang.


"Siapa suruh kamu bantu dia? Pergi kamu!" seru sang senior mengusir Gilang, tetapi Gilang tak bergeming ia terus saja membantu Kinanti membereskan kekacauan itu.


"Hey! Telinga kamu tidak mendengar perkataan saya? Kamu pergi biar perempuan sok cantik itu yang membereskannya!" sang senior terus saja mengintimidasi Gilang dan Kinanti dengan kata-kata kasarnya.


"Kalian tinggalkan saja biar orang yang banyak bicara ini yang membersihkannya! Dan setelah itu biar dia membereskan barang-barangnya untuk segera dibawanya pulang!" seru sebuah suara lain yang tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari mereka. Dan sontak membuat orang yang merasa paling senior itu terkejut saat mengetahui siapa si pemilik suara tersebut.


"Pak Xander, maaf anda salah sangka sama saya. Saya hanya ingin menegakkan peraturan di sini, kenapa malah saya yang harus membereskan kekacauan ini?!" protes senior Kinanti tak terima dan merasa dia yang paling benar.


"Kalau begitu biar petugas cleaning service yang membereskan dan kamu pergi ke ruangan kamu, bereskan barang-barangmu dan segera angkat kaki dari sini! Saya tidak mau citra kantor saya buruk hanya karena segelintir oknum seperti kamu, tak peduli sebesar apa prestasi kamu. Itu semua tidak berguna bila etika kamu nol." Perkataan Xander bagai sebuah tamparan bagi senior Kinanti.


"Tapi pak, saya bisa jelaskan semua!" perempuan itu berusaha menyanggah.


"Maaf, saya melihat sendiri apa yang telah kamu perbuat, dan itu tidak bisa saya terima. Dia membawa makanan pesanan saya karena saya terlambat makan siang, tetapi tanpa pertanyaan kamu langsung membuat pesanan saya berantakan, saya tidak suka kriminalitas di kantor saya, sekarang silahkan kamu angkat kaki dari kantor saya. Anda diberhentikan dengan tidak hormat karena arogansi anda!" seru Xander tanpa melihat pegawainya tersebut.


Dengan perasaan marah, sedih dan malu senior Kinanti masuk ke ruangannya untuk membereskan barang-barangnya sesuai perintah Xander.


Setelah itu Xander membawa Kinanti yang terlihat menangis menuju ruangannya, sementara Gilang membersihkan makanan dan minuman yang mengotori lantai tersebut.


Beruntung Xander tidak mempermalukan pegawainya dengan memberhentikan dengan tidak hormat di depan karyawan yang lain beserta bukti cctv nya atas dasar kemanusiaan.


Tetapi lain waktu Xander akan memperlihatkan itu semua di hadapan seluruh karyawannya agar tak ada lagi penindasan atas dasar senioritas seperti yang baru saja ia saksikan secara langsung di depan matanya.


...****************...


Selamat membaca semua...


Sorry bila jarang up di sini karena fokus yang di sana, walau kurang konsisten juga 😭


Tinggalin like komennya yaa, syukur vote n giftnya juga 🥰