Andrea

Andrea
Bara Dalam Hati



"Ma, mama tahu siapa Xander?" tanya Andrea selepas Xander meninggalkan ruang kerjanya.


"Tahu, dia salah satu petinggi Dan's Company kan? yang bekerja sama dengan perusahaan kita membangun gedung baru." jawab mama Arini pasti.


"Berarti mama tahu kan kalau Xander adik dari Arshlan?" tanya Andrea


"Ya, ada masalah?" tanya mama balik


"Mama bersikap berbanding terbalik dengan keduanya. Kenapa mama bisa sebaik itu dengan Xander sementara dengan Arsh mama seolah begitu membencinya?" Andrea berharap penjelasan.


"Karena Xander tidak pernah melukai hati mama." mama Arini menatap tajam Andrea.


"Ayolah ma, itu hanya cerita masa lalu, toh aku baik-baik saja kan ma? aku tidak dirugikan sama sekali dengan kejadian itu."


"Lalu bagaimana dengan hati kamu?" tanya mama.


"Jujur aku hancur ma, tapi itu sudah berlalu, bahkan aku sudah memaafkan kesalahan dia." Andrea berkata kenyataan


"Tapi bagi mama itu akan selalu menjadi luka yang sukar untuk sembuh, perasaan mama sebagai ibu begitu terinjak dan tersakiti saat anak gadisnya diperlakukan sebagai bahan taruhan untuk sebuah kedudukan, tidak! mama tidak bisa menerima itu." kenang mama Arini sambil menerawang masa lalu Andrea.


"Ma, Tuhan pasti ada rencana terindah buat Andrea dengan adanya kejadian itu." Andrea berusaha membuat mamanya menerima kejadian yang telah berlalu, sementara papanya memang telah bisa memaafkan kejadian itu saat Andrea sudah bisa memaafkannya, sekarang ia hanya ingin sebagai pendengar dahulu agar istrinya itu bisa merasa lega dengan mengeluarkan kemarahan yang terpendam selama ini, dan papa Arga sangat bersyukur karena Andrea benar-benar sudah bisa memaafkan walau pernah sangat tersakiti, karena jika hati masih menyimpan dendam tidak akan baik untuk kesehatan mental.


Papa yang melihat kesedihan mendalam yang dirasakan mama Arini hanya bisa menenangkan istrinya itu dengan mengusap punggung mama Arini untuk memberinya kekuatan.


"Segala hal butuh proses ma, tapi proses akan lebih cepat selesai bila ada usaha yang keras pula." Kata papa Arga dan mama Arini pun paham dengan kata yang diungkapkan suaminya itu, dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Semoga mama bisa." mama Arini tak sanggup membendung air matanya lagi, ia merasa sangat sakit saat anaknya disakiti, bagi mama luka lama dihatinya seolah susah untuk terobati, papa Arga memeluk mama untuk memberinya support dan Andrea pun ikut memeluk mamanya.


"Terimakasih untuk limpahan kasih sayang mama untuk Andrea ma, begitu terlukanya mama saat anak mama ini diperlakukan tidak semestinya, tapi jangan lagi menyimpan dendam ya ma, Andrea tidak mau mama dalam tekanan masa lalu Andrea, sudah ya ma, berusaha buat memaafkan ya ma, biar hati mama tidak tergerogoti dengan amarah." perkataan Andrea yang berbaur dengan isakan untuk mamanya ditanggapi pelukan yang sangat erat dari mamanya.


"Mama akan berusaha nak, tapi jangan paksa mama untuk tergesa-gesa, biarlah waktu yang akan mengiringi perubahan mama." Andrea mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda ia tidak akan memaksa lagi mamanya untuk berubah secara drastis, ia menghargai pendapat mamanya.


Andrea mengurai pelukannya dipandangnya wajah perempuan yang telah melahirkannya yang masih terlihat cantik diusia setengah abad lebih, diusapnya airmata mamanya,


"Maaf, Dre buat mama menangis." sesal Andrea.


"Tidak nak, jangan merasa bersalah, kamu juga benar. Kamu hanya berharap mamamu ini melanjutkan hidup dengan mental yang sehat tanpa memendam dendam." Papa yang menjawab penyesalan Andrea dan ditanggapi anggukan dan senyuman yang nyaris patah menahan tangisan, dan akhirnya mama dan anak itu kembali tenggelam dengan pelukan penuh haru. Papa yang menyaksikan itupun tak mampu menahan haru, diusapnya sudut luar matanya yang nampak berair dengan ibu jari tangannya, kemudiam diusapnya punggung juga kepala kedua perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya tersebut, dan merengkuh keduanya dalam pelukan yang begitu erat.


...****************...


Like, comment please!!