Andrea

Andrea
Pengalaman Hari Pertama



Xander memanggil Kinanti untuk datang ke ruangannya melalui telepon setelah beberapa saat ia memberi waktu pada Kinanti untuk mempelajari jadwal kerja Xander hari ini.


Kinanti mengetuk pintu atasannya sebelum masuk ke dalam ruangan, setelah ia dengar sang bos memberi ijin masuk, Kinanti segera membuka pintu ruangan.


"Ada apakah bapak memanggil saya?" tanya Kinanti saat sudah berdiri di hadapan Xander.


"Apakah kamu sudah selesai mempelajari tugas yang saya berikan?" Xander melontarkan pertanyaan juga untuk menjawab tanya Kinanti.


"Sudah pak, dan ini saya baru saja menyelesaikannya." jawab Kinanti.


"Kalau begitu, temani saya rapat untuk hari ini sebagai permulaan kamu bekerja sebagai sekretaris saya, berkas rapat sudah berada di saya, kamu nanti cukup mencatat poin-poin penting yang kami kemukakan, saya percaya kamu. Jadi jangan mengecewakan saya di awal kerja kamu ini." Xander berpesan kepada Kinanti.


"Saya akan berusaha sebaik mungkin pak." jawab Kinanti pasti.


Kinanti menyadari kalau pekerjaan kali ini bukanlah keahlian juga tidak seperti yang diharapkannya, tetapi ia yang tidak diterima di bagian yang ia impikan dan justru diangkat sebagai sekretaris bos, harus berterimakasih karena bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya, untuk itu dia mau belajar untuk menguasai hal baru dalam pekerjaannya ini.


Kinanti mengikuti Xander menuju ruang rapat dewan direksi di Dans Company kota ini untuk pertama kali setelah bertukar kantor dengan kakaknya, Arshlan.


Rapat tidak begitu memakan waktu lama, dan Kinanti bisa menjalankan pekerjaan pertamanya dengan lancar.


Kinanti memberikan ringkasan hasil rapat yang baru saja ia ikuti kepada Xander, lalu ia segera kembali ke ruangannya.


"Cepat belajar juga dia, semoga aku tidak salah pilih dengan menjadikan dia sebagai sekretaris aku." Gumam Xander sambil mengamati hasil kerja Kinanti.


Beberapa jam kemudian, saatnya jam pulang kantor. Setelah membereskan pekerjaannya, Kinanti pun bergegas keluar ruangannya untuk pulang.


Dilangkahkannya kakinya dengan ringan menuju tempat di mana motornya terparkir, hari pertama dilaluinya dengan lancar, binar bahagia tersirat di wajah lelahnya.


"Wah! Anak baru yang sok rupanya." sebuah suara perempuan mengejutkan Kinanti yang sedang mengeluarkan motornya dari jajaran motor terparkir yang lain, karena petugas parkir tidak terlihat didekatnya saat ini.


"Maaf mbak?" nada suara Kinanti seolah menanyakan kenapa ia disebut sok.


"Saya tidak akan pernah lupa dengan wajah anda mbak, dan untuk ucapan anda tadi itu lebih tepat bila anda tujukan buat anda sendiri. Permisi." dengan tenang Kinanti menjawab perkataan seniornya itu, tanpa ada rasa takut hanya karena ia anak baru, dan segera ia menjalankan motornya meninggalkan seniornya dan dua orang temannya yang geram karena jawaban Kinanti.


"Ada ya, orang paling sok senior seperti mbaknya tadi, tapi ngatain aku sok. Memang aku sok apaan? Bukannya tadi pagi aku tanyanya juga sopan? Tapi dia sendiri yang bersikap tidak bersahabat, heh! Orang memang tidak akan bisa bercermin di tengkuknya sendiri." Kinanti berbicara sendiri sambil mengendarai motornya.


Ia begitu sebal dengan senioritas yang ditunjukkan karyawan lama tadi, padahal ia sudah bersikap sesopan mungkin di hari pertamanya bekerja, tetapi selalu saja ada yang tidak suka di manapun ia bekerja.


Tetapi Kinanti telah menetapkan hati untuk selalu tangguh menghadapi kerasnya kehidupan, ia hanya ingin mendapatkan pendapatan yang layak agar bisa membalas kebaikan om dan tantenya yang merawatnya beberapa tahun terakhir, karena ia kini sebatang kara.


Kedua orang tuanya telah beberapa tahun meninggalkannya karena sebuah kecelakaan, juga satu-satunya saudara kandung Kinanti yaitu adik lelakinya juga meninggal karena kecelakaan tersebut, dan Kinanti yang sebatang kara dibawa pulang oleh om dan tantenya karena ia tidak tega membiarkan Kinan hidup sendiri.


Om Danu adalah adik kandung dari bapak Kinanti, istri om Danu tante Diah yang mengusulkan agar Kinanti dirawat oleh mereka sepeninggal orang tuanya. Om dan tante Kinanti begitu baik kepadanya, tetapi sepupunya tidak menyukai kehadiran Kinanti di antara mereka, karena merasa kasih sayang orang tuanya menjadi terbagi, padahal mereka diperlakukan sama.


Bahkan Kinanti bukanlah anak yang suka ongkang kaki, karena saat kuliah ia juga bekerja agar meringankan beban om dan tantenya walaupun mereka bersikeras menentang apa yang Kinanti lakukan, tetapi dengan gigih Kinanti meyakinkan om dan tantenya agar diperbolehkan kuliah sambil bekerja, dan untung juga Kinanti mendapatkan beasiswa, jadi itu lebih meringankan biaya yang harus di keluarkan oleh om dan tantenya.


"Assalamu'alaikum, Kinan pulang!" seru Kinanti riang saat sampai di rumah.


"Wa'alaikum salam. Bagaimana pengalaman hari pertama kerja kantoran?" Sambut tante Diah.


"Macam-macam tan, untung si bos baik, jadi pengalaman pertama kerja ya lebih banyak menyenangkannya." Kinanti menjawab pertanyaan tantenya sambil mendudukkan badannya ke kursi ruang keluarga.


"Syukurlah, tante ikut gembira mendengarnya." kata tante Diah dengan lembut.


"Hati-hati sama sikap baik bos, siapa tahu dia baik karena ingin menjadikanmu istri kedua!" seru Hani sepupu Kinanti satu-satunya anak om Danu dan tante Diah.


"Han, jangan bicara seperti itu." tegur tante Diah dengan lembut pula, ia tidak mau dikatakan lebih membela Kinanti bila ia keras menegurnya, seperti yang selama ini selalu Hani rasakan, padahal itu karena ulah Hani sendiri yang bersikap kurang baik terhadap Kinan.


"Terima kasih perhatiannya Hani ku sayang, aku akan selalu berhati-hati." ucap Kinan dengan tulus sambil mengurai senyum, sedang Hani mendengaar jawaban Kinanti yang selalu sabar menghadapinya hanya berlalu dengan memasang tampang sebalnya.


...****************...