Andrea

Andrea
Pengintaian



"Pak Randy, handel pekerjaan saya, saya untuk sementara ambil cuti kerja, saya ada keperluan yang sangat penting, ini mengenai keselamatan semua penghuni panti asuhan ibu saya." Kata Andrea saat datang di pagi hari pertama sejak ia memutuskan bekerja dari rumah karena kondisi papanya yang ada dirumah sakit, dan sekitar delapan hari setelah meninggal papanya, yah, Andrea tidak masuk kantor sekitar dua mingguan lebih.


"Baik bu Andrea, saya akan bekerja maksimal untuk sementara menghandel pekerjaan anda." jawab Randy


"Jangan mengirim atau menelpon saya kalau tidak mendesak dan tidak begitu penting, saya yang akan menghubungi anda kalau saya membutuhkan sesuatu." pesan Andrea tegas pada asistennya.


"Siap bu Andrea."


"Ingat pak Randy, pertajam insting anda selama saya tidak berada dikantor, saya sangat percaya akan dedikasi anda selama ini, anda sangat setia terhadap papa, dan anda pun tidak ada pilihan lain saat ini selain setia dan loyal terhadap perusahaan ini dan saya sebagai pengganti permanen papa, dengan tidak ada lagi papa bukan tidak mungkin akan ada yang berkonspirasi untuk menjatuhkan saya." kilat tajam pandangan Andrea saat bicara begitu menggidikkan nyali lawan bicaranya.


Dan saat ini yang ada dihadapan Andrea hanya Randy seorang, dalam angannya tak ada niat sedikitpun untuk mencoba berkonspirasi guna menjatuhkan Andrea, baginya keluarga Abimana adalah perantara yang membuatnya berada diposisinya saat ini, limpahan materi dan sebuah kepercayaan yang diberikan keluarga Abimana adalah hal yang harus ia bayar mahal dengan mendedikasikan kesetiannya, karena ia tak ingin menghancurkan hidupnya jika mendukung petinggi perusahaan yang ingin menggulingkan Andrea selepas kepergian CEO AAb Corp untuk selamanya.


"Anda bisa mengandalkan saya bu Andrea." tegas Randy membalas tatapan tajam Andrea, dan iti bukan berarti Randy menantang Andrea, justru itu menjadi bukti kalau ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Terimakasih pak Randy, saya pegang perkataan anda. ya sudah saya permisi sekarang, karena saya mau berangkat saat ini juga." Akhirnya Andrea berpamitan


"Silahkan bu Andrea, semoga urusan anda segera selesai dangan lancar, agar anda bisa segera masuk kantor kembali." kata Randy penuh pengharapan.


Karena bagaimanapun sangat berat mendapat kepercayaan menghandel penuh pekerjaan boss nya itu apalagi dengan jangka waktu yang masih belum tentu, tetapi sebagai orang yang sangat dipercaya sejak boss utamanya yaitu bapak Arga Abimana masih hidup dan menjadi pimpinan diperusahaan itu, Randy akan sepenuh hati menjalankan amanat yang dipikulkan kepadanya.


Dengan diantar Randy sampai lobi utama Andrea yang sudah ditunggu driver langsung menuju mobil yang sudah siap terparkir didepan lobi dan segera meluncur pergi setelah sang boss masuk ke dalam mobil.


Andrea langsung menuju kota sebelah, dia akan memulai rencananya untuk menangkap siapa pelaku teror panti asuhan.


Mama Arini telah pergi terlebih dahulu bersama ibu Rima


Setelah dua jam lebih perjalanan, Andrea tiba di panti asuhan, dan ia langsung diberitahu tentang barang bukti teror yang setiap hari dikirim ke panti, dan Andrea diberikan bukti yang masih ada karena baru dikirim subuh tadi. Ia begitu geram dengan hal itu.


"Apa aku hanya sedang berhadapan dengan anak kecil? haahh gak ada kerjaan banget." gumam Andrea menyaksikan kotak berisi tulisan ancaman dengan bercak-bercak cairan merah seperti darah, tetapi setelah Andrea cek lebih teliti itu bukan darah sebenarnya.


"Sehari sampai berapa kali ada kiriman seperti ini?" tanya Andrea pada penghuni panti.


"Saat awal kemarin sampai dua kali kak, tapi beberapa hari terakhir ini hanya tiap pagi." jawab salah satu adik asuh Andrea uang paling besar.


"Ini sebenarnya kalau dibiarkan akan berhenti dengan sendirinya, tapi aku tak mau keadaan panti jadi tidak tenang." kata Andrea kepada adik asuhnya.


"Lalu bagaimana kak, apa kita harus lapor polisi?"


"Belum perlu, kakak akan berusaha mencari tahu, dan kakak sangat berharap kakak sendiri yang akan menangkap pelakunya." jelas Andrea.


"Masih ada waktu, kakak mau pergi dulu ada barang yang harus kakak cari, tolong bilang ke ibu dan mama kakak, kalau kakak pergi keluar sebentar ya." pesan Andrea kepada adiknya itu.


"Ya kak, hati-hati." Andrea mengangguk menanggapi perkataan adiknya, lalu ia segera berlalu dari halaman panti untuk menuju suatu tempat.


Sekitar setengah jam berlalu, Andrea sampai ke sebuah toko cctv, dia akan memasangnya di setiap sudut panti agar bisa memantau semua aktifitas luar panti untuk segera mengetahui pelaku misterius yang meneror panti selama ini.


Setelah selesai mendapatkan apa yang ia cari, Andrea segera pulang beserta ahli yang akan memasang perangkat tersebut, sesampai dipanti segera dipasangnya perangkat-perangkat tersebut.


Andrea mengecek semua posisi kamera melalui monitor, semua bagian luar panti bisa dilihatnya, setiap sudut dari depan sampai belakang rumah dipasang alat pemantau itu jadi kemungkinan tertangkapnya seluruh aktifitas sekitar panti sangat besar.


Diisturahatkannya tubuhnya yang sejak pagi kurang istirahat, Andrea berbaring ditempat tidurnya setelah sebelumnya menyetel alarm agar ia terbangun pada jam yang sudah ia tentukan, ia meminta salah satu adiknya yang besok tidak ada jadwal sekolah karena tinggal menunggu hasil pengumuman kelulusan, untuk menjaga monitor cctv diruang tengah.


Pada pukul tiga pagi, alarm di ponsel Andrea berbunyi, dibukanya matanya saat telinganya mendengar suara alarm, setelah kesadarannya pulih ia segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya agar merasa segar dan tidak diserang kantuk kembali, setelah itu ia segera menuju ruang monitor dimana adiknya masih terlihat terjaga.


"Eh kak Dre sudah bangun?" tanya adik asuhnya itu yang terlihat agak mengantuk.


"Iya, maaf kalau kakak terlalu lama ya." kata Andrea agak kasihan dengan adiknya yang harus begadang.


"Tidak apa kak, demi panti kita tenang kembali." kata adiknya membuat Andrea terharu bangga.


"Bagaimana? apa terlihat ada yang mencurigakan?


"Sejauh ini aku tidak melihatnya kak, tapi maaf kak, tadi sebelum kakak datang aku sempat tertidur tapi cuma sebentar banget." sesal adik asuh Andrea karena sempat lalai menjalankan tugasnya.


"Tidak apa, sekarang kamu istirahat dulu sana, terimakasih sudah bantu kakak." Andrea menyuruh adiknya untuk tidur.


"Sama-sama kak, ya sudah aku istirahat dulu." pamitnya dan setelah dijawab anggukan oleh kakaknya, anak itu segera berlalu dari ruang monitor.


Sampai menjelang subuh Andrea belum melihat hal mencurigakan, lalu diputarnya rekaman yang tersimpan terlihat aman-aman saja sampai saat rekaman menunjuk di waktu pukul tiga kurang, ada gerakan mencurigakan direkaman cctv yang dilihatnya, dalam tayangan terlihat gestur mencurigakan dari seorang lelaki dengan jaket dan penutup kepala hitam, disekitar nampak masih sangat sepi, lelaki itu meletakkan kotak di depan pintu pagar sebelah dalam.


"Ini pasti saat Dio tertidur tadi, jadi dia tidak tahu kalau pelaku sangat jelas terekam kamera, aku harus lebih banyak membuka mata, malam ini aku terlalu lelah, jadi aku terpaksa minta tolong Dio menjaga monitor." gumam Andrea berbicara sendiri.


Ia melangkah menuju pintu keluar hendak memeriksa sesuatu yang diletakkan oleh lelaki yang tertangkap kamera pengintai.


"Mau kemana nak, hari masih sangat gelap, apa orang itu sedang menuju kemari?" tanya ibu Rima yang sudah terbangun dan melihat Andrea hendak keluar rumah.


"Dre habis cek rekaman kamera pengintai, sekitar jam tiga tadi ada lelaki yang meletakkan sesuatu didalam pintu pagar bu, Dre mau melihatnya." jelas Andrea.


"Kenapa tadi adik kamu tidak melaporkan sama kamu?"


"Dia tadi ketiduran bu, aku juga belum bangun." jawab Andrea


"Tidak nanti saja lihatnya nak, kalau hari sudah agak terang?" tanya ibu Rima merasa khawatir karena hari masih sangat gelap menjelang masuk waktu subuh.


"Dre sudah penasaran sekali bu, aku lihat sekarang saja." terlihat semangat menggebu penuh penasaran dari perkataan Andrea.


"Biar ibu temani." kata ibu Rima dan di iyakan Andrea, lalu keduanya melangkah keluar menuju gerbang pagar depan, disana benar terdapat sebuah kotak, Andra membukanya menggunakan sebatang kayu walau agak kesulitan akhirnya kotak kardus itu terbuka dan terlihat isinya, sama seperti yang dikirim yang sudah-sudah.


"Gemes banget pengen meringkus itu orang!" geram Andrea dengan suara menahan amarah, lalu diambilnya korek dari saku jaketnya guna membakar kotak kardus itu, setelah habis terbakar ia dan ibu Rima masuk ke rumah bersamaan dengan Adzan subuh yang mulai terdengar dimana-mana.


...****************...