Andrea

Andrea
Misteri Masa Lalu



Andrea menuntun asisten rumah tangga Adis masuk ke dalam rumahnya.


"Bu, di mana orang tua Adis?" tanya Andrea lembut


"Mereka sedang ada urusan bisnis keluar negeri mbak, saya bingung bagaimana saya memberikan penjelasan kepada majikan saya kalau non Adis dibawa polisi." keluh wanita tua itu masih dengan raut ketakutannya.


"Saya akan bantu meringankannya bu, karena ini ada urusannya dengan saya." Andrea berusaha menenangkan perempuan tua itu.


"Tolong nona Adis ya non, dia sudah hidup penuh kesedihan selama ini, saya juga takut mendapat amarah majikan saya kalau sampai mereka tahu."


"Bu, tenang ya, beritahu saya kalau majikan anda pulang, ini kartu nama saya. Kalau majikan anda pulang dan Adis masih ditahan di kantor polisi, biar mereka menghubungi saya, siapa nama ibu?" tanya Andrea saat memberikan kartu namanya.


"Nama saya Rati non." perempuan tua itu menyebutkan namanya.


"Bi Rati yang tenang ya, saya akan usahakan Adis tidak ditahan, tapi itu semua tergantung keputusan pihak kepolisian." Bi Rati nampak lebih tenang mendengar penuturan Andrea.


"Baik non Andrea, saya sangat mengharap bantuan anda." kata Bi Rati sambil menggenggam tangan Andrea begitu erat. Bi Rati tahu nama Andrea dari kartu nama yang diberikan kepadanya.


"Ya sudah bi, kalau begitu saya pamit dulu, bibi jangan panik ya." Andrea mewanti agar bi Rati jangan terlalu memikirkan Adis, dan melihat bi Rati yang sudah lebih tenang ia pun segera berpamitan.


Di depan rumah Adis, Arshlan dan Arik terlihat saling menatap tidak suka.


***


Saat Andrea masuk kerumah Adis


"Apa yang telah kamu lakukan sampai Andrea harus terseret permasalahan antara kamu sama gadis tadi?!" tanya Arshlan datar menahan amarah karena permasalahan yang terjadi ada kaitannya dengan Arik.


"Salahkah saya tertarik dengan seorang gadis?" tanya Arik alih alih menjawab tanya Arshlan dia malah balik bertanya.


"Harusnya kamu peka dengan yang terjadi disekitar kamu." Arshlan seolah ikut menyalahkan Arik.


"Apa aku harus memaksakan hati kalau justru kebencian yang aku rasakan?!"


"Dan apa kamu sadar siapa gadis yang kamu sukai saat ini?!" seru Arshlan penuh penekanan, di sini Arshlan jadi tahu kalau Arik lah penyebab teror itu terjadi.


"Dia Andrea, gadis yang usianya beberapa tahun di atasku, seorang perempuan lajang, mapan juga mandiri." jawaban Arik menyulut emosi Arshlan, terlihat Arshlan mengepalkan erat tangannya karena menahan amarah atas ucapan Arik.


"Jaga batasan kamu, karena pada akhirnya kamu akan tahu siapa yang akan dipilih Andrea." perkataan Arshlan terdengar sangat percaya diri.


"Jangan merasa di atas angin bung, karena belum tentu mbak Andrea menjatuhkan pilihan hatinya kepadamu, kalau aku sudah menyaksikan sendiri akad pernikahan kalian, baru aku akan mundur dengan tangan terbuka." Arik tak mau menyerah begitu saja walaupun dia tahu, ada hubungan spesial antara lelaki yang ada di hadapanya itu dengan Andrea, gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu,


Kedua lelaki itu masih terlihat bertatap mata dengan sama-sama menahan amarah saat Andrea keluar dari rumah Adis.


"Ada apa ini?!" tanya Andrea saat melihat kedua lelaki itu masih saling mengunci pandangan mata mereka dengan tajam.


"Arsh! Arik!" seru Andrea karena tak ada yang menanggapi pertanyaannya. Akhirnya Arshlan yang memutus dahulu tatapan tajamnya kepada Arik dan mendekati Andrea. Diraihnya jemari Andrea agar memberinya ketenangan, dan Andrea pun terlihat tidak menolak perlakuan Arshlan, tapi itu justru membuat tatapan Arik semakin nyalang menahan amarah serta cemburu.


"Arik! kamu harus menjelaskan sesuatu kepadaku!" seru Andrea


"Tidak ada yang perlu dijelaskan mbak." kata Arik dingin.


"Harus!" Andrea menarik tangan Arik, mereka bertiga jadi bergandengan tangan keluar halaman rumah Adis, nampak security dalam posnya yang tadi tidak ada karena sedang ada keperluan keluar, terlihat heran melihat ketiga orang saling begandengan tangan dengan wajah tegang menahan amarah.


"Mas Arik.." sapa satpam itu, Arik menatap satpam dengan tatapan tajamnya, sehingga satpam itu memilih menundukkan mukanya karena lelaki muda yang biasanya ramah itu terlihat sedang marah.


"Sekarang ngomong!" seru Andrea kepada Arik.


"Ck! jangan di sini!" Arik membuang muka saat dilihatnya kedua sejoli di depannya masih mengaitkan jemari mereka dengan erat. Arik berjalan ke rumah sebelah rumah Adis.


"Pak! tolong bawa masuk motor saya sama motor teman saya itu!" perintah Arik pada penjaga rumah sebelah, nampak Andrea dan Arshlan menatap Arik penuh tanya.


"Jangan bengong, masuk sini!" Arik mengajak Andrea dan Arshlan masuk ke rumah sebelah di mana Arik memerintah security penjaga membawa masuk motor mereka. Lalu keduanya mengikuti ajakan Arik.


Arik mengajak mereka duduk di gazebo taman depan rumah Arik yang terbilang luas.


"Pak, tolong bibi suruh bawakan minuman dibawa ke sini!" kembali Arik meminta tolong kepada satpam itu saat dilihatnya sudah selesai memasukkan motor ke pekarangan rumah.


"Baik mas." satpam itupun dengan sigap melaksanakan apa yang Arik perintahkan. Ya, rumah Arik bersebelahan dengan rumah Adis, dan saat ini mereka berada di gazebo pekarangan rumah Arik.


"Sekarang apa yang harus aku jelaskan kepada mbak?" tanya Arik kepada Andrea. Datar.


"Ada masalah apa antara kamu dan Adis di masa lalu?" tanya Andrea memulai pertanyaannya.


"Itu privasi aku mbak, kalian tidak perlu tahu." jawaban Arik menyulut emosi Andrea.


"Rik, please! ini mengenai psikis seseorang dan orang itu Adis, tetangga kamu sendiri!" seru Andrea tertahan


"Aku tak peduli"


"Arik!" seru Andrea semakin kesal, dan bersamaan dengan itu ART Arik datang membawakan pesanan Arik, setelah selesai menaruh minuman dan camilan, perempuan setengah baya itu segera berlalu dari hadapan mereka.


"Ada masalah apa antara kamu sama Adis di masa lalu?" tanya Andrea lagi sangat berharap penjelasan dari Arik.


"Dia yang menyebabkan gadis yang aku cintai meninggalkan dunia ini" pelan suara Arik menjawab tanya Andrea.


"Kamu yakin akan hal itu?" tanya Andrea pelan meyakinkan Arik.


"Tentu saja aku yakin!" seru Arik dengan suara meninggi.


"Itu hanya pendapat kamu sendiri atau memang ada bukti-bukti yang mengarah ke Adis kalau ia penyebabnya?" Andrea masih belum yakin atas tuduhan Arik ke Adis.


"Ck! kenapa jadi cerewet banget sih mbak?!" seru Arik mulai jengah dengan pertanyaan Andrea, tapi disini Andrea mulai kurang yakin akan tuduhannya terhadap Adis.


"Besok kita harus mendengar penjelasan Adis tentang peristiwa itu." Andrea memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan Arik.


"Ogah!" sahut Arik dingin dan ketus.


"Kalau kamu tetap bersikeras seperti itu, bagaimana kamu bisa tahu kenyataan sebenarnya?! Berdasar analisaku, itu hanya tuduhan kamu sendiri, kamu tidak mencari tahu fakta yang sebenarnya tapi langsung menelan bulat-bulat yang terlihat di permukaannya saja, aku tidak mau tahu, pokoknya besok kamu harus mendengarkan penjelasan Adis, karena mau bagaimanapun kamu juga ikut andil dalam kejahatan yang Adis lakukan!" Andrea meninggikan suaranya.


"Aku tak mau menemuinya di penjara."


"Dia tidak akan di penjara, karena aku akan mencabut tuntutanku, karena aku tahu, ia butuh perhatian, bukan hukuman!" Andrea langsung menenggak habis minuman dingin yang ada di hadapannya setelah berkata penuh penekanan terhadap Arik. Ditariknya tangan Arshlan yang sedari tadi hanya menjadi pendengar perdebatan Andrea dan Arik.


Arshlan segera menghidupkan motornya dan segera berlalu meninggalkan pekarangan rumah Arik setelah Andrea duduk manis di jok belakang sambil berpegang pinggang Arshlan, meninggalkan Arik yang semakin kesal menyaksikan dua sejoli itu berlalu dari pandangan matanya.


"Damn!" teriak Arik penuh amarah, untung kedua orangtuanya sedang tidak di rumah


...****************...