
Kinanti sedang menunggu taksi online pesanannya di lobi kantor saat waktu pulang kantor, pagi tadi ia tidak membawa motornya karena motor tua itu harus kembali masuk bengkel.
Ia memesan taksi online karena sore itu hujan begitu lebat, ia sudah menunggu beberapa saat berharap hujan akan mereda dan ia akan pulang dengan ojek online saja, tetapi harapan tinggal harapan, hujan yang diharapkannya reda tetap saja tumpah ke bumi seakan masih enggan terbendung di langit.
Akhirnya ia memesan taksi online agar segera bisa kembali ke rumah dan segera beristirahat dengan nyaman di kamarnya tetapi kalau Hani tidak merecokinya.
Tiba-tiba cahaya kilat terlihat berkelap dengan cepat dan tanpa jeda langsung terdengar suara petir menyambar begitu kerasnya seakan hanya berjarak beberapa meter saja di depan gedung perkantoran itu.
Kinanti, hal yang sangat ditakutinya saat hujan adalah suara petir apalagi sekeras yang baru saja terjadi, seketika Kinanti berteriak tanpa sadar dan jatuh terduduk dengan ketakutannya, kedua telapak tangannya menutupi kedua daun telinganya dan air mata mengalir tanpa disadarinya.
Beberapa pegawai yang juga sedang menunggu hujan reda dan juga taksi online pesanan mereka nampak menatap Kinanti tak peduli, ada juga yang menatap sinis, mungkin dalam hatinya menganggap Kinanti mencari perhatian. Tetapi ada juga yang peduli dengan keadaan Kinanti dan segera mendekati Kinanti dan memeluknya dari samping agar Kinanti merasa lebih tenang, dan di waktu yang sama Security kantor itu pun mendekati Kinanti dan berlutut mensejajari Kinanti yang terduduk
"Neng, anda kenapa?" Tanya security yang saat itu berjaga di depan pintu lobi, Kinanti tidak menjawab pertanyaan security itu dan kembali menjerit saat kembali terdengan petir walau tidak sekeras tadi.
Security itu kini tahu apa penyebab Kinanti seperti itu, karena teriakan Kinanti barusan. Petugas keamanan dan pegawai yang bersimpati dengan kondisi Kinanti hendak membawa masuk Kinanti diruang tunggu lobi agar merasa lebih nyaman dan meminimalisir suara petir yang akan ia dengar lagi.
Bersamaan dengan itu Xander yang baru saja keluar dari lift melihat kejadian tersebut dan segera menghampiri Kinanti dan orang-orang yang menolongnya.
"Ada apa ini? Kinanti kamu kenapa?" tanya Xander terlihat sangat khawatir, apalagi dilihatnya air mata Kinanti memgalir tanpa ada suara tangis yang keluar dari bibirnya.
Kinanti tidak menjawab pertanyaan Xander karena rasa ketakutan yang masih menyelimutinya.
"Sepertinya nona ini takut dengan suara petir pak, tadi dia berteriak dan ketakutan seperti ini setelah mendengar suara petir yang sangat keras." Jelas pegawai yang menolong Kinanti dan diiyakan oleh petugas security. Terlihat Kinanti masih sangat ketakutan.
"Terimakasih semuanya, biar saya yang menolongnya." kata Xander pada penolong Kinanti, lalu mereka berlalu masih dengan rasa khawatir, karena sesekali masih menengok ke arah Kinanti.
"Kinan, kamu jangan takut lagi, kamu jangan khawatir, aku akan antar kamu pulang, aku akan jaga kamu supaya kamu tidak merasa takut lagi." kata Xander dengan lembut, tapi Kinanti masih juga belum bergeming dari rasa takutnya, Xander memeluk Kinanti dari samping berharap gadis itu segera lepas dari ketakutannya.
Dilihatnya mobilnya telah berada di depan lobi, ia pun segera beranjak dari duduknya, dibimbingnya tubuh Kinanti menuju mobilnya, dirasakan Xander tubuh Kinanti bergetar dan berjalan dengan tatapan kosongnya.
Para pegawai Xander yang tidak menyukai pemandangan itu seakan semakin benci dengan Kinanti karena beranggapan gadis itu tengah mencari perhatin dari Xander. Diam-diam Xander memperhatikan berbagai reaksi para pegawainya yang sedang memperhatikan keduanya dengan beragam reaksi, tapi akhirnya Xander tidak mempedulikan semua pandangan itu, kini ia fokus membantu Kinanti.
Driver pribadinya telah membukakan pintu untuk atasannya tersebut, Xander pun membimbing Kinanti memasuki mobilnya, kemudian ia mengitari mobilnya dan masuk ke mobil dari sisi yang lain dan duduk di samping Kinanti. Xander memrintahkan drivernya untuk segera meninggalkan tempat itu untuk mengantar Kinanti pulang.
Hujan berangsur mereda, suara petir yang tadi saling sambar kini hanya menyusaka gemuruh pelan dan masih di sertai kilat yang sering berkelip di ujung langit.
Kini Kinanti telah kembali menguasai kesadarannya, ia pun segera meminta maaf pada Xander karena telah membuat atasannya itu menjadi repot.
"P-pak, saya minta maaf k-karena telah membuat anda jadi repot s-seperti ini." kata Kinanti sungkan dan agak ketakutan menyadari ia kini tengah duduk berdampingan di dalam mobil mewah atasannya tersebut, ia pun beringsut agak menjauh tapi badannya telah mentok dengan sempitnya ruang antara ia duduk dan pintu mobil, Kinanti pun hanya menghembuskan nafasnya panjang, pasrah.
"Aku tidak merasa telah kamu repotkan, aku hanya tidak tega melihat kondisi kamu tadi." kata Xander dengan ekspresi di buat senatural mungkin, ia merasa lega akhirnya Kinanti telah menguasai kesadarannya kembali.
"Aku antar kamu pulang sampai rumah, dan aku tidak mau ada penolakan atau perdebatan." Kata Xander dengan tatapan khawatirnya.
"Tapi saya tidak apa-apa pak, saya hanya merasa tidak enak hati saja." kata Kinanti sambil menundukkan wajahnya, ia tidak berani membalas tatapan Xander, ia khawatir dengan perasaannya, ia takut jatuh cinta dengan pria beristri.
Dan ia pun tahu diri, andaipun atasannya itu masih lajang, ia pun harus bisa menepis perasaannya karena ia dan Xander diibaratkan langit dan bumi, Kinanti takut bagai pungguk merindukan bulan, padahal cinta tak memandang derajat dan kasta, tetapi Kinanti harus sadar diri.
"Buang jauh-jauh rasa tak enak hatimu, kamu telah membuatku begitu khawatir Kinanti, syukurlah sekarang kamu sudah lebih baik." tanpa sadar Xander mengangkat tangannya menuju kepala Kinanti, dibelainya rambut Kinanti dengan lembut sebagai penyalur perasaan leganya karena Kinanti sudah dalam kondisi baik.
Mata Kinanti membelalak sempurna merasakan perlakuan yang ia dapat dari Xander, hatinya kacau berkecamuk. Ada rasa besar hati, bahagia karena perlakuan lembut dan menenangkan dari Xander, tetapi ia pun tersadar kalau sebenarnya ini tak boleh, Xander milik perempuan lain yang saat ini mungkin tengah mengandung buah cinta mereka.
Xander pun akhirnya sadar dan dengan cepat menarik tangannya kembali, ia khawatir perlakuan spontannya itu justru membuat Kinanti semakin tidak nyaman.
"Eh, maaf. Aku tidak bermaksud lancang sama kamu." Kata Xander terlihat kaku karena takut Kinanti akan marah dengan perlakuannya. Tetapi Sebaliknya, Kinanti tidak bisa marah justru ia takut.
Kecanggungan pun melanda mereka, kini mereka larut dengan pikiran masing-masing hingga mereka telah sampai di simpang jalan yang membuat tujuan mereka bertolak belakang, karena rumah Kinanti harus menyimpang ke kanan dan rumah Xander ke arah kiri.
"Simpangan depan kita ke kiri pak!" perintah Xander pada sang driver. Kinanti yang menyadari kalau mereka berjalan ke arah rumahnya spontan bertanya kepada Xander.
"Rumah bapak ke arah sini juga ya pak?" tanya Kinanti penuh heran dan penasaran.
"Tidak, saya hanya ingin memastikan kamu pulang sampai rumah dengan selamat." jawab Xander dengan tatapan lurus ke depan membuat Kinanti kembali dibuat berdebar-debar hatinya, tetapi lagi-lagi Kinanti harus segera menginjak kebumi lagi, ia harus sadar akan kenyataan siapa Xander. Kinanti hanya memejamkan matanya karena ia seperti marasakan perih di sudut hatinya, karena harus menerima kenyataan siapa dia dan siapa Xander.
Begitu lamanya Kinanti memejamkan mata untuk meredakan debaran jantungnya hingga tak menyadari kalau mobil telah berhenti di depan rumahnya.
Xander yang menyadari Kinanti tak bergeming dari duduknya padahal mobil telah berhenti segera menengok ke arah Kinanti, dilihatnya gadis itu sedang memejamkan matanya.
Xander hendak menyentuh tangan Kinanti untuk memberi tahukan kalau mereka telah sampai di tempat tujuan Kinanti, tetapi yang ada justru Xander malah terpesona dengan kecantikan Kinanti.
Tanpa sadar Xander semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kinanti dan Xander pun telah melakukan hal yang begitu mengejutkan Kinanti dan membuat gadis itu sangat malu dan mungkin marah, karena setelah perbuatan Xander itu Kinanti spontan membuka matanya dan sekilas menatap Xander dengan kilatan yang susah di terjemahkan, dan tanpa berkata apa-apa Kinanti segera turun dari mobil Xander dan langsung berlalu untuk segera masuk ke dalam rumah.
Xander yang masih terkejut akan kenekatannya menyuruh sang driver untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
...****************...
Hallo readers semua, othor dah kembali lagi nih, semoga ke depannya bisa teratur update yaa.
Selamat membaca ya semuanya 🥰