Andrea

Andrea
Mendadak Dilamar



Andrea dan Danisa sudah selasai bersiap, tinggal menunggu Xander datang menjemput. Sebenarnya mereka ingin datang sendiri dengan mengendarai motor, tapi Xander melarang, akhirnya mereka ikuti saja maunya Xander.


Mereka asyik berbincang sambil menunggu jemputan yang belum juga datang padahal waktu janjian sudah lewat walau belum lama.


"Aku tu datang kesini niatnya mau kangen- kangenan sama ibu, sama adik-adik, tapi kenyataannya adaa aja hal yang buatku pergi terus." keluh Andrea pada Danisa yang ada disampingnya.


"Tidak apa-apa nak, kamu sudah menyempatkan main dan nginep disini saja ibu dan semua yang disini seneng banget kok." jawab bu Rima yang yang baru keluar dan tidak sengaja mendengar percakapan kedua gadis itu.


"Aahh ibu, terimakasih banget bu, ibu dari dulu memang selalu pengertian sama Dre" Andre bangkit dari duduknya berjalan menuju ibunya dan langsung memberikan pelukan dan ciuman dipipinya.


"Sama- sama nak." ibu Rima balas mencium Andrea, dan bersamaan dengan itu ada dua mobil masuk halaman rumah.


"Yang satu siapa tuh?!" tanya Andrea kepada Danisa dan ia hanya mendapatkan kedikan bahu dari sahabatnya tanda ia juga tidak tahu seperti Andrea


Xander turun dari mobilnya dan segera memghampiri ketiga wanita yang ada diberanda, kemudian pintu mobil yang satu lagi juga terbuka ternyata Daniel sang pemgemudi mobil tersebut, dan juga segera berjalan mengikuti Xander.


"Bu, minta ijinnya terimakasih Andrea diperbolehkan pergi bersama saya" Ucap Daniel setelah mencium tangan ibu Rima dan Daniel pun ikut meniru apa yang Xander lakukan.


"Iya gapapa nak, tapi nanti pulangnya jangan terlalu larut ya" pesan ibu Rima dijawab anggukan oleh semua.


"Kok ada Daniel juga?" tanya Andrea


" Dia mau jemput Danisa" jawab Xander


"Ogah, siapa yang suruh dia jemput aku, aku bareng Andrea saja" tolak Danisa mentah mentah. Andrea jadi merasa tidak enak dengan Daniel.


" Dan, gapapa, hargailah orang yang baik dan perhatian sama kamu" nasehat ibu Rima membuat Danisa terpaksa mengiyakan ajakan Daniel.


Setelah berpamitan kepada ibu Rima, keempatnya segera berangkat menuju tempat diadakannya acara.


Mereka sampai disebuah restoran mewah yang dibooking full oleh keluarga Xander. Banyak keluarga besar Daniswara yang sudah datang.


"Xen, awas jangan sampai lupa menyebut namaku Andhara, bukan Andrea" pesan Andrea kepada Xander saat mereka turun dari mobil, begitupun Andrea berpesan pada Daniel dan Danisa.


"Iyaa, aku ingat, tapi kadang kalau otak lagi blank suka keceplosan, gimana dong?" tanya Xander


"Ya udah, seandainyapun emang harus ketahuan sekarang juga aku udah pasrah aja deh, toh buat apa terus bersembunyi" Andrea sudah bersiap diri andai memang nanti akan ketahuan siapa dirinya sebenarnya.


"Tapi aku yang gak rela Dre" gumam Xander samar terdengar oleh Andrea


"Ngomong apa kamu Xen?"


"Gak, gak ngomong apa apa kok, yuk aku kenalkan ke mama dan keluarga lain" ajak Xander pada Andrea.


"Aku akan kamu kenalkan sebagai siapa kamu? padahal kemarin aku bilang ke Arsh kalau kamu pacar aku" Andrea merasa kemarin terlalu gegabah memgaku sebagai pacar Xander kepada Arshlan, sekarang dia kebingungan kalau Xander mengenalkannya sebagai pacar dihadapan keluarga besarnya.


" Ya pacarku lahh" sahut Xander


"Gila apa? itu kan cuma sandiwara didepan Arsh" protes Andrea


"Kamu kemarin yang memulai" debat Xander dan Andrea seolah tak terima, ia mengerucutkan bibirnya tanda kesal dengan perkataan Xander


"Gak usah manyun begitu, atau nanti aku cium tuh bibir" goda Xander sontak membuat Andrea segera menutup bibirnya dengan jemarinya, dan itu membuat Xander tak bisa menahan tawa.


Sementara itu antara Danisa Daniel juga sedang terlibat adu mulut, Danisa yang dari awal.tak mau barengan dengan Daniel terlihat masih ngomel ngomel didalam mobil, Daniel hanya memandang Danisa dengan senyum yang sulit diartikan.


" Kamu semakin cantik tau gak kalau judes begitu" Daniel memyela Danisa yang sedang menggerutu tak berkesudahan, mendengar perkataan Daniel, Danisa langsung diam dan memandang kepada Daniel yang sedang menatapnya, Danisa jadi merasa kikuk dan salah tingkah. Karena jengah, Danisa hendak turun dari mobil Daniel, tapi sebelum tangan Danisa meraih handle pintu, Daniel mengunci semua pintu.


"Mau kamu apa sih Dan, buka! aku mau turun" seru Danisa marah.


Daniel meraih jemari Danisa dan sang pemilik hendak melepaskan genggaman Daniel, tapi tak berhasil karena genggaman Daniel lebih kuat dari tenaga Danisa.


" Sakit tau Dan, lepas!" seru Danisa.


" Tenang Dan, lihat aku dulu, dengerin aku!" seru Daniel tak kalah dari Danisa, lalu Danisa pun hanya bisa menurut.


" Danisa, menikahlah denganku" tembak Daniel tiba tiba


"What?!" seru Danisa dan langsung terdiam, otaknya seolah blank dengan ucapan Daniel yang tiba tiba, bahkan mengajak pacaran saja belum pernah ini langsung mengajak menikah.


"Aku serius Dan, aku tidak mikirin pacar, aku ingin langsung menikah dengan gadia yang aku cintai" terang Daniel dengan rasa percaya dirinya.


"Matamu tak bisa bohong Dan, sejak lama setiap aku menemuimu untuk menanyakan segala hal tentang Andrea, mata itu menyimpan pesona tersendiri dalam tangkapan pikiranku, kamu boleh menganggap aku terlalu percaya diri, tapi memang itu yang kurasa, sejak awal kita bertemu saja, aku tau kamu diam diam curi pandang ke aku, tapi karena ulah konyolku kamu seolah olah juga membenciku, tapi itu cuma dibibirmu, katakan jika aku bohong, katakan Dan!" Daniel mengungkapkan semua yang jadi perhatiannya selama ini, karena Daniel juga sudah mempunyai ketertarikan sejak awal bertemu Danisa.


"Aku gak ada rasa sama kamu" sahut Danisa dengan mata sedikit sendu


"Gak apa kamu bilang gak ada rasa, aku sumpahin semoga saja selamanya gak ada yang ada rasa sama kamu" Daniel pura pura marah dan hendak membuka pintu mobil.


"Eehh..jangan!! tarik kembali sumpahmu Daniel!!" seru Danisa sambil membekap mulut Daniel, lalu Daniel melihat Danisa yang masih membekap mulutnya, lalu mata Daniel memgisyaratkan agar Danisa menyingkirkan tangannya, tapi Danisa tidak paham.


"Apa?!" seru Danisa. Daniel masih tetap menggunakan mata sebagai isyarat


"Apa sih?!" tanya Raisa lagi


Cup!


Bibir Daniel mengecup jemari Danisa yang masih menempel dibibirnya, sontak Danisa menarik tangannya, sambil tersipu.


"Kenapa aku harus menarik sumpahku? Kalau kamu benar tidak menaruh hati padaku, sumpah itu tidak akan berlaku kok" kata Daniel


"Ehmm.. masalahnya apa yang kamu katakan tadi benar" Danisa berkata lirih


"Bicara itu yang jelas, tadi aja bentak bentak" Daniel masih dalam mode pura pura marah


" Iyaa, aku suka sama kamu, aku ingin benci kamu tapi aku gak bisaa..!!" seru Danisa dan terlihat wajah Daniel mengurai senyum


"Berarti, rasaku bersambut kan?" Daniel meyakinkan, dan Danisa hanya menganggukkan kepalanya.


"Yes!! thanks God, terimakasih Danisa" ucap Daniel lalu mengecup jemari Danisa.


"Gak usah dikecup, tanganku bau terasi" Danisa membanyol


"Mau bau apapun bodho amat, kalau sedang gembira karena jatuh cinta, sebau busuk apapun terasa bau wangi" kata Daniel menggombal


"Belajar ngegombal dari mana kamu?" tanya Danisa.


" Dari mana mana" jawab Daniel sekenanya, dan mereka tertawa bersama.


"Turun yuk! nanti Andrea nyariin aku" ajak Danisa.


"Yuk!!" kata Daniel.


"Eh, sebentar Dan!" tahan Daniel


"Ada apalagi?" tanya Andrea.


"Tolong ambilin kotak yang ada dilaci bawah dashboard depan kamu itu" tunjuk Daniel ke arah laci, Andrea pun menuruti Daniel dan segera membuka laci dashboard, diambilnya kotak kecil yang dimaksud Daniel, lalu menyerahkanya pada Daniel.


Kotak dibuka, didalamnya ada kotak lagi yang lebih kecil, Danielpun membuka kotak kecil tersebut, didalamnya ada sebuah cincin bermata berlian, lalu disodorkannya kotak itu kedepan Danisa,


"Danisa, please.. menikah denganku" kata Daniel sedang Danisa membelalakkan matanya seolah tak percaya.


" Dan.. Dan.. ini terlalu cepat." kata Danisa


"Justru aku ingin dipercepat" sahut Daniel


Plaakk!!


Danisa menepuk Pundak Daniel, sedang Daniel hanya meringis sambil tersenyum, lalu ia mengambil cincin dari kotaknya kemudian ia sematkan ke jari manis kiri Danisa.


"Terimaksih mau menerimaku Dan" Daniel mencium jemari Danisa dan gadis itu hanya mampu menganggukkan kepalanya.


"Gak jadi turun?" tanya Danisa setelah beberapa saat saling diam berpandangan.


"Kalau itu maumu" jawab Daniel hendak menghidupkan mobilnya


"Enggaakk!! kasihan Andrea kalau aku tinggal, kawan macam apa aku emangnya?" seru Danisa


"Kalau kamu tanya aku, aku tanya siapa?" Daniel menggoda Danisa


"Entahlah. Udah yuk turun!" ajak Danisa dan Daniel segera membuka kunci pintu mobilnya, dan keduanya turun untuk berbaur dengan semua keluarga besar Daniswara.