
Xander telah duduk di singgasananya, ia ingin menyaksikan langsung interview sekaligus seleksi yang dilakukan stafnya, karena calon pegawai yang akan direkrut salah satunya akan menempati posisi sebagai sekretarisnya.
Interview dimulai, tidak begitu banyak pelamar yang datang karena interview dilakukan secara bertahap dan berbeda bagian, Xander hanya mengamati pelamar calon sekretaris yang akan bekerja langsung dengannya.
Beberapa orang ada yang masuk kriterianya, tapi ada juga yang lebih cocok di bagian lain sesuai pengamatan yang ia lakukan.
setelah beberapa jam, tibalah mereka untuk mengumumkan siapa saja yang diterima dan di bagian apa mereka diterima bekerja, tetapi ada pula beberapa orang yang gagal seleksi.
"Saya memilih gadis ini untuk jadi sekretaris saya." Kata Xander sambil menunjuk salah satu cv pelamar kerja yang berhasil lulus seleksi.
"Tetapi dia tidak melamar sebagai sekretaris pak." Kata salah satu staf HRD menginterupsi pilihan Xander.
"Saya yang akan bekerja bersama dia, dan saya sudah memilih dia untuk jadi sekretaris saya dan tidak boleh ada bantahan lagi." Xander menggunakan hak vetonya, tak ada lagi staf yang berani menginterupsinya, toh andaipun nanti pilihan Xander tidak sesuai pekerjaan dengan keahliannya, itu bukan kesalahan mereka, karena atasan mereka sendiri yang telah menentukan pilihannya.
"Baiklah bapak Xander, tetapi andai nanti pilihan bapak kurang terampil mengatasi pekerjaan, itu adalah risiko yang harus Anda terima pak." Salah satu staf HRD mencoba mengingatkan Xander.
“Saya tahu itu, terima kasih sudah memperingatkan saya, segera umumkan, dan berikan penjelasan pada calon sekretaris saya!” Perintah Xander dan segera berlalu dari ruangan tersebut.
Selepas kepergian Xander, para staf HRD segera memanggil satu persatu pelamar kerja untuk memberikan pengumuman diterima atau tidaknya mereka di kantor itu.
Pelamar kerja yang dipilih Xander tampak kebingungan karena ia diterima kerja tapi tidak seperti yang ditulisnya dalam surat lamaran kerjanya, tetapi apa pun pekerjaan yang sudah tampak di depan matanya akan ia jalani dengan sungguh-sungguh demi masa depannya.
“Anda bisa mulai masuk kerja besok nona, silakan datang tepat waktu, bekerjalah dengan baik dan sungguh-sungguh.” Pesan staf yang memberikan keputusan dari hasil wawancara tadi.
“Baik, terima kasih pak.” Kata calon karyawan itu, lalu segera keluar ruangan setelah dipersilahkan oleh staf yang memberitahukan hasil wawancara.
***
“Ya ampun, untung sampai tepat waktu. Si merah pakai acara mogok segala di hari pertamaku masuk kerja.” Keluh seorang gadis yang terengah karena habis berlarian dari tempat parkir menuju kantornya.
Dia segera bertanya resepsionis ruangan yang akan ditujunya dan mengatakan bahwa ia karyawan baru, dan resepsionis itu menunjukkan bahwa ruang yang dimaksud berada dilantai lima, lantai teratas gedung Dans Company.
Terlalu lama menunggu antrean lift yang akan membawanya ke lantai lima, gadis itu tak sabar untuk menunggu. Akhirnya ia memutuskan melalui tangga darurat, terbiasa hidup dengan bekerja keras tak menyurutkan langkahnya menyusuri tangga demi tangga yang begitu tinggi menuju lantai lima.
“Anggap saja ini sebagai olahraga.” Pikir sang gadis.
Setelah beberapa menit menyusuri tangga, gadis itu sampai di lantai tujuan dengan nafas ter engah-engah, dengan langkah sedikit gontai segera ia berjalan tergesa agar tidak terlambat di hari awal kerjanya.
“Maaf mbak mau tanya, saya karyawan baru dan ini hari pertama saya masuk, di manakah ruangan bapak Xander Daniswara ya mbak?” Tanya sang gadis dengan sopan.
“Ada urusan apa anak baru menanyakan ruang bapak Xander?” Alih-alih menjawab, karyawan lama itu malah bertanya balik dengan raut kurang bersahabat.
“Saya yang akan menjadi sekretaris beliau mbak.” Jawab gadis itu dengan sopan.
Mendengar jawaban sang gadis, karyawan tadi memperhatikan penampilan orang yang di hadapannya itu dengan sangat detail, dari ujung kepala sampai ujung kaki tak luput dari pandangannya.
“Berani sekali kamu jadi sekretaris pak Xander sedangkan penampilan kamu hadeehh, nggak banget!” ketus perempuan itu.
“Saya hanya tanya ruangan bapak Xander, tapi kenapa anda malah menilai penampilan saya? Permisi.” Gadis itu segera berlalu dari hadapan orang yang menilai penampilannya saat dilihatnya security melintas di pandangan matanya, tanpa merasa takut akan senioritas yang ditunjukkan karyawan lama tadi.
Sementara karyawan yang merasa lebih lama bekerja di kantor itu seperti tidak dihormati oleh pegawai baru, padahal itu karena ulah dia sendiri.
Sekretaris pilihan Xander sudah berdiri di depan ruangan Xander karena kata office boy yang baru saja membersihkan ruangan Xander, pemilik ruangan belum datang.
Tak berapa lama Xander datang dari lift khusus, dilihatnya gadis yang akan menjadi sekretarisnya mulai hari ini.
“Hai kamu!” seru Xander mengagetkan sang gadis yang sedang menekuni ponselnya.
“Eh!” Seru gadis itu sambil toleh kiri kanan meyakinkan kalau dirinya yang dimaksud.
“Iya kamu, kenapa malah tolah-toleh?”
“Eh, ya ada apa ya pak?” tanya gadis itu, dia belum tahu kalau lelaki di hadapannya adalah atasannya, tapi juga sekaligus khawatir karena ia sudah dua kali bertabrakan dengannya dan bila terlihat orang lain akan membuatnya malu, untung tiap mereka bertabrakan tidak ada yang melihatnya.
“Ikut ke ruangan saya!” perintah Xander.
“Tapi saya menunggu atasan saya pak.”
“Siapa atasan kamu?”
“Kata staf HRD kemarin saya akan jadi sekretaris bapak Xander.” Jawab Kinanti polos.
“Ikut saya!” Perintah Xander belum bergeming dari tempatnya berdiri.”
“T-tapi pak..?” Kinan pun tetap bertahan.
“Ikut ke ruangan saya sekarang atau detik ini juga kamu saya ganti dengan orang lain dan kamu tidak jadi bekerja di kantor ini!” Xander meninggikan volume suaranya sambil berlalu meninggalkan Kinan dengan ancamannya dan langsung masuk ke ruangannya.
“Astaga! Bapak Xander! Aku tidak mau dipecat sebelum bekerja!” Seru Kinan dan segera mengikuti Xander dengan tergesa.
“Maaf pak Xander, saya tidak tahu kalau anda adalah...” Kinan tidak melanjutkan perkataannya.
“Tidak mengapa saya memaklumi kamu.” Begitu bijaksananya Xander menghadapi sekretaris barunya yang terlihat begitu polos.
“ Terima kasih bapak Xander.” Ucap Kinanti lega karena kebaikan sang atasan.
“Selamat bergabung di kantor ini, selamat datang sebagai sekretaris saya yang baru saudari Kinanti.”
“ Terima kasih pak, mohon bimbingannya karena kemarin saya melamar kerja dan tes wawancara bukan di bagian ini.”
“Jangan sungkan bertanya bila ada hal yang belum kamu ketahui.” Saran Xander.
“ Baik pak, tentu.” Jawab Kinanti mantap.
“Ruangan kamu di sebelah kiri ruangan saya ini, silakan mulai pekerjaan kamu, di meja ada jadwal yang harus kamu pelajari saat ini juga.” Perintah Xander setelah memberi penjelasan.
“Baik pak, permisi.” Pamit Kinanti dengan membungkukkan badannya dan segera berlalu dari hadapan Xander menuju ruangannya yang diberitahukan Xander dan masih dengan degup jantung yang masih begitu cepat saat tahu siapa yang menjadi atasannya.
...****************...
Diteruskan saja ya readers tercinta, mohon terus dukungannya yaaa 🙏🥰