Andrea

Andrea
Cobaan Hati



"Mama kamu kelihatan benci banget sama aku Dre." Keluh Arshlan saat mereka diperjalanan.


"Mungkin mama masih terlalu sakit hati atas peristiwa kita dimasa lalu, hati seorang ibu tidak akan mudah melupakan bila anaknya diperlakukan tidak semestinya" kata Andrea.


"Apakah penyesalanku dan permintaan maafku tidak bisa diterima Dre?" Sesal Arshlan.


"Aku bisa menerimanya kan? tapi mama? Aku tidak yakin." jawaban Andrea membuat Arshlan makin diliputi rasa bersalah.


"Sudahlah tidak usah kamu fikirkan, toh kamu juga gak sering ketemu mama juga, jadi gak akan buat rasa bersalahmu semakin menumpuk."


"Bagaimana tidak akan sering ketemu? aku kan calon menantunya."


"Whaaat..?!!" Andrea berseru tak menduga kalau Arshlan akan berkata seyakin itu.


"Tidak usah kaget begitu Dre."


"Hah! Sejak kapan seorang Arshlan yang elegan jadi seorang yang norak begini? over confident." Andrea berkata dengan tersungging smirk dibibirnya.


"Cinta bisa merubah orang menjadi seperti apapun Dre"


"Omong kosong! Maaf Arsh, aku tidak mau berurusan sama calon suami orang, aku takut sama calon istri kamu, wraawww..!!" Andrea mengaum sambil memperlihatkan cengkeraman kukunya diudara, menyamakan jika Raisa segalak singa.


"Ck! aku paling malas bahas itu" Arshlan tidak bersemangat.


"Apalagi aku, andai aku bukan atasan dia, sudah pasti aku akan jadi sasaran empuk kemarahannya, orang yang suka semena-mena sama orang lain apalagi sama bawahan, bahkan sama orang lain pun dia akan melakukan apapun untuk kepentingan pribadinya." Andrea membeberkan sifat Raisa seperti apa yang pernah dialaminya jika bertemu Raisa.


"Apa karena saking bencinya kamu sampai tak ada sedikitpun kebaikan yang bisa kamu sampaikan tentang Raisa?" Arshlan beranggapan bahwa Andrea sedang memprovokasinya.


"Karena aku bicara fakta apa yang pernah aku alami langsung sama dia, tidak ada manipulasi sama sekali, tidak ada untungnya aku mengada-ada, maaf bapak Arshlan yang terhormat bila saya telah membicarakan sedikit sifat buruk calon istri anda, tapi satu pesan saya, anda perlu waspada dan cari tahu tentang dia bila anda tidak percaya apa yang saya ucapkan, jangan terlalu memganggap remeh orang yang sangat baik didepan anda,belum tentu dia baik dibelakang anda." Andrea turun dari mobil Arshlan yang telah terparkir diarea rumah sakit, dan meninggalkan Arshlan begitu saja, dan nampak Arshlan bergegas mengejar langkah Andrea.


Saat Andrea akan bertanya dengan suster jaga, Arshlan yang sudah sampai didekatnya langsung menarik tangannya dan membawanya ke ruang perawatan mamanya.


Tante Mira terlihat sangat gembira dengan kedatangan Andrea, langsung disuruhnya gadis itu mendekat dan dipeluknya dengan penuh rindu, papa Arshlan yang melihat interaksi tersebut sangat terharu, ia berharap dengan bertemu Andrea, istrinya akan segera pulih kembali kesehatannya.


Arshlan memilih keluar dari kamar mamanya dirawat, ia ingin ke kantin membeli makanan untuk mengisi perutnya yang dari pagi belum terisi makanan. Arshlan melihat orang yang sangat dikenalnya keluar dari rumah sakit tersebut, dan diam-diam mengambil gambar dengan kameranya.


Arshlan kembali ke ruang rawat mamanya dengan membawa beberapa bungkus makanan dan minuman untuknya dan untuk Andrea juga papanya.


Diruang rawat, mamanya Arshlan sangat antusias dengan adanya Andrea seakan jadi imun booster baginya.


"Tante, Andrea boleh tanya tidak?"


"Silahkan mau tanya apa?" jawab tante Mira


"Tapi janji tidak.boleh marah." harap Andrea dan tante hanya mengangguk


"Kenapa saat ini tante tidak manggil Raisa tapi malah Andrea, bukannya dia calon menantu tante?" tante Mira tersentum dengan pertanyaan Andrea.


"Kamu kan juga calon mantu tante buat Xander." jawaban tante Mira hampir membuat Andrea tersedak ludahnya sendiri dan ia berusaha menguasai keadaan dan dia tidak membantah atau mengiyakan jawaban tante Mira tadi, dan pada saat tante Mira berkata seperti itu, Arshlan baru saja masuk ruang rawat inap mamanya, ia sempat terkejut juga tetapi dia pun tidak bicara apapun agar kondisi mamanya segera membaik, tetapi jelas terlihat air mukanya yang berubah, ia langsung duduk dekat papanya yang sedang menekuni laporan kantor yang dikirim asistennya, sementara Arshlan langsung makan tanpa gairah.


"Dre, sambil makan ini" Arshlan menyodorkan makanan dan minuman yang dibawanya dari kantin.


"Terimakasih." jawab Andrea sambil menerima pemberian Arshlan, dilihatnya air muka Arshlan yang berubah jadi murung.


***


Menjelang sore Xander datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan mamanya.


"Sore semua!" sapa Xander sambil masuk ruang rawat.


"Sore.." jawab semuanya.


"Loh Dre, ada kamu juga?" Xander nampak terkejut dengan adanya Andrea.


"Iya." jawab Andrea singkat.


"Dari kantor Xen?" tanya papa


" Tidak pa, tadi habis ada pertemuan dengan klien dekat sini, mau balik kantor tanggung jadi kesini saja pa, sekalian mau tahu kondisi mama." Xander menjawab pertanyaan papanya sambil berjalan mendekati sang mama, lalu diciumnya pipi mamanya.


"Bagaimana kondisi mama sekarang ma?" tanya Xander


"Sudah jauh lebih baik nak, karena hampir seharian ditemani nak Andrea mama jadi merasa lebih sehat." kata tante Mira sambil mengelus tangan Andrea dengan lembut, dan Andrea hanya menanggapinya dengan senyum tipisnya.


Arshlan yang sedang duduk dekat papanya nampak kurang suka dengan keakraban yang terlihat didepan matanya.


"Maaf ma, tadi mama Andrea berpesan harus pulang sebelum sore, jadi biar Arshlan antar pulang sekarang, mumpung Xander sudah disini." Kata Arshlan hanya agar Andrea dan Xander tidak lama-lama berinteraksi.


"Nanti saja lah Arsh, tunggu sampai makan malam, mumpung semua kumpul sekalian aja Icha kamu telfon biar dia bisa makab malam disini." tante Mira sangat berharap terlaksananya momen langka tersebut.


"Tapi tante, Arsh benar, tadi mama bilang sore harus sudah pulang, saya takut kena marah mama kalau tidak menuruti kemauan mama." Andrea membenarkan ucapan Arshlan.


"Yaahh, sayang sekali." terlihat raut kecewa diwajah mamanya.


"Lain kali kalau tante sudah sehat kita agendakan lagi tante, sekarang kalau terlalu ramai malah takut ganggu tante, dan khawatir dimarahin dokter dan suster kan tante." Andrea memberikan pengertian pada tante Mira, dan wanita setengah baya itu pun akhirnya mau mengerti.


"Xen, antar Andrea pulang" perintah mamanya


"Xander capek ma, baru saja datang ngurus kerjaan, biar Arshlan saja, tadi datangnya juga sama Arshlan."


"Gapapa juga kok bang, demi Andrea gak ada capeknya buat aku." kata Xander dan terlihat Arshlan kurang suka dengan perkataan adiknya.


"Sudah, biar abang kamu saja Xen, kamu istirahat dulu." papa mereka akhirnya angkat bicara, dan hal itu membuat Arshlan merasa senang karena adiknya tak akan berani membantah papanya. Dan Xander pun hanya pasrah dengan perintah papanya, lalu Andrea dan Arshlan berpamitan pada semua.


"Dre pulang dulu ya tante, lekas sembuh biar kita bisa jalan-jalan kembali." kata Andrea mampu membangkitkan semangat tante Mira.


"Iya, hati-hati dijalan ya nak Andrea. Arsh, bawa mobilnya jangan ngebut hati-hati saja." pesan tante Mira.


"Iya maa." jawab Arshlan lalu segera mengajak Andrea keluar dari ruang rawat mamanya untuk segera diantarkan pulang agar tidak terkena marah mama Andrea kembali.


Dalam fikiran seorang Arshlan kini terselip rasa bimbang untuk melanjutkan pertunangannya dengan Raisa, tapi dia pun punya cobaan lain lagi, yaitu mamanya yang ingin menjodohkan Andrea dengan Xander, dan ia berharap itu tak akan pernah terjadi, Arshlan ingin menjadi egois dengan tidak mempedulikan perasaan adiknya yang ia ketahui juga menyimpan rasa yang sama untuk Andrea bila diteliti dari ucapan dan gerak geriknya selama ini saat bersama Andrea, tapi andaipun ia menang dengan keegoisannya ia harus pintar untuk mengambil hati mama Andrea yang ternyata sangat tidak menyukainya karena kesalahan masa lalu yang pernah dilakukannya kepada Andrea.


Arshlan harus menguatkan hati bila semua harapannya tidak bisa terealisasi sesuai ekspektasi hatinya.


...****************...