Andrea

Andrea
Penyesalan Arik Dan Dukungan Andrea



Adis selesai bercerita tentang kisahnya saat itu dengan Dinda. Arik yang mendengar sendiri rekaman yang Adis berikan tak kuasa menahan emosinya dan juga penyesalannya, ia begitu malu dengan Adis, gadis yang selama ini berusaha memperbaiki hubungan tanpa kenal menyerah walaupun selalu kebencian yang ia terima dari Arik.


Ditatapnya Adis dengan tatapan nanar dan berkaca-kaca, sementara Adis hanya bisa menundukkan wajahnya, ia tidak sanggup bila harus mendapat tatapan kebencian lagi dari Arik.


"Dis, aku harus bagaimana sama kamu? aku malu Dis selama ini sudah salah sangka sama kamu, maafin aku Dis" Arik membungkuk di hadapan Adis dengan suara parau karena menahan tangisnya.


"Al, kamu jangan begini, aku tidak pernah marah sama kamu walau kamu tidak pernah memperlakukanku dengan baik, aku hanya bisa memaklumi, siapa yang tidak marah melihat orang yang sudah membuat celaka orang yang sangat disayanginya selalu berkeliaran di depan matanya." kata Adis sendu dan tidak menyimpan amarah sedikitpun untuk Arik.


"Harusnya kamu marah sama aku Dis, kalau perlu pukul aku, itupun tidak seberapa dibandingkan sakitnya hati kamu atas perlakuanku." sesal Arik dengan penuh rasa bersalah.


"Buat apa Al, semua tidak akan membalikkan keadaan, sekarang aku merasa lega karena kamu sudah tahu kejadian yang sebenarnya." kata Adis dengan senyum tulus menghiasi bibirnya.


"Sekarang sudah jelas semuanya kan, sekarang kalian bisa kembali bersahabat baik seperti dulu, aku turut bahagia menyaksikan semua ini." Kata Andrea sambil mengusap punggung Adis yang duduk di sebelahnya, dan Adis spontan memeluk Andrea, Adis sangat berterimakasih berkat Andrea kesalah pahaman yang terjadi antar dia dan Arik bisa terselesaikan.


"Terimakasih sudah membantu mengembalikan kepercayaan Al sama aku mbak." kata Adis dalam pelukan Andrea.


"Sama-sama sayang, aku bahagia sekali melihat semua ini." Andrea mengeratkan pelukannya untuk Adis. "Arik, aku bangga sama kamu karena dengan jiwa besar mengakui semua kekhilafanmu dan meminta maaf dengan tulus kepada Adis atas kesalah pahaman kamu selama ini." Andrea menepuk pundak kiri Arik yang duduk di hadapannya.


Arik mendongakkan kepalanya saat mendapat support dari Andrea, terlihat matanya memerah menahan air mata penyesalan yang mengalir, juga menahan malu atas perlakuannya terhadap Adis.


"Ehmm kalau begitu aku pamit dulu ya, aku sangat gembira bisa membantu menhilangkan kesalah pahaman diantara kalian." Andrea bangun dari duduknya setelah berpamitan.


"Terimakasih banget ya mbak, aku tidak tahu kalau tidak ada mbak Andrea pasti aku akan membenci pada orang yang salah seumur hidupku." kata Arik masih dengan penyesalannya.


"Mungkin ini cara Tuhan untuk menjernihkan permasalahan di antara kalian, karena keberadaanku di sini juga karena kalian yang menyebabkannya." kata Andrea bijak.


"Ya sudah Rik, aku pamit. Semangat selalu ya, karena kamu yang sekarang mungkin type Dinda saat itu, andai Dinda masih ada pasti dia akan menyesal pernah mengatakan yang tak baik tentangmu, sekarang kalian hanya perlu mendo'akan Dinda agar ia tenang di alam sana." Adis dan Arik mengangguk menyetujui apa yang Andrea katakan.


Lalu Andrea berlalu dari hadapan Arik untuk pulang diikuti Adis di belakangnya, sedang Arik hanya memandang kepergian mereka dengan tatapan nanar tak mampu membendung air mata yang mendesak untuk keluar.


"Dis, aku langsung pulang ya." pamit Andrea.


" Nanti dulu mbak, ayo masuk rumah dulu." Kata Adis sambil menarik tangan Andrea untuk diajaknya masuk ke rumah.


"Duduk dulu mbak, aku buatkan minum dulu."


"Gak usah repot-repot Dis." kata Kyra pelan.


"Enggak mbak, cuma air ini" sahut Adis sambil berlalu masuk ke dalam, dan tak lama kemudian dia sudah kembali dengan nampan berisi dua gelas minuman dingin dan satu piring cake.


"Hmmm... menggoda banget sih Dis!" seru Andrea melihat apa yang dihidangkan Adis.


"Hmmm Dis, ini enak banget loh, kamu sendiri yang buat?" tanya Andrea sambil menikmati kue buatan Adis.


"Iya mbak, aku beberapa hari kedepan mau launching toko kue aku, tapi aku seakan tidak percaya diri dengan sambutan konsumen nanti, makanya aku meminta mbak sebagai salah satu orang yang aku minta pendapatnya tentang rasa dan penampilan kue buatanku ini." jelas Adis seakan meminta Andrea menilai makanan hasil buatannya.


"Ini enak banget Dis, aku rasa nantinya akan banyak pelanggan yang suka dengan kue buatan kamu ini, asal kamu tetap konsisten dengan takaran dan bahannya." Andrea mengungkapkan pendapatnya.


"Iya mbak. Ini contoh kue dan cake yang akan aku tawarkan ke calon konsumen aku." sahut Adis sambil memperlihatkan tabel makanan yang ada di buku menu.


"Wow! Menarik banget dis, beraneka macam dan rasa juga. Aku rasa kalau aku dekat, aku akan menyuruh bagian katering untuk sering pesan snack ke kamu saat ada rapat di kantor aku." kata Andrea yang diakhiri dengan kebengongannya sendiri, begitu juga Adis.


Andrea terbengong karena ia keceplosan bicara tentang siapa dia, dan Adis seolah tak percaya kalau Andrea orang yang sangat penting di kantornya, karena saat ia baca di kartu nama yang diberikan kepada bi Rati, hanya alamat rumah dan nomor telepon saja yang tertulis.


"Sebenernya mbak siapa sih?" tanya Adis heran.


"Loh, aku kan Andrea bagaimana sih kamu?" tanya Andrea balik.


"Bukan begitu maksudnya mbak, jangan membodohiku deh mbak." Kata Adis sambil mengerucutkan bibirnya karena jawaban Andrea. Dan Andrea yang melihat itu hanya tertawa, akhirnya ia menceritakan tentang siapa dia sebenarnya.


"Aku gak nyangka loh, seorang Dirut sekaligus ceo perusahaan besar dan terkenal akan meluangkan waktunya khusus buat aku." Adis tak kuasa menahan kekagumannya pada Andrea.


"Apaan sih Dis, aku pun dulunya juga anak panti."


"Tapi kan tidak dalam konteks yang sebenarnya mbak. Sebenarnya papa memaksaku untuk belajar bisnis agar kelak bisa membantu papa dan sebagai penerus papa, tapi aku merasa tidak sanggup karena aku pikir itu bukan bidang aku, aku lebih memilih bisnis kuliner, yang tadinya ditentang papa, tapi untunglah mama bisa meyakinkan papa untuk tidak menekanku lagi, tapi aku juga harus tetap belajar bisnis pelan-pelan. Dari kecil aku kurang perhatian papa mama karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya, untung aku punya bi Rati dan lainnya, jadi aku tidak memjadi anak liar kurang perhatian karena bi Rati selalu mengajariku tentang segala kebaikan." Pungkas Adis mengakhiri ceritanya.


"Dengan kamu mau menerima nasehat dan pelajaran hidup dari seorang bi Rati itu menandakan kamu adalah pribadi yang lembut dan rendah hati, apalagi kamu dari latar belakang keluarga seperti ini." Andrea mengungkapkan kekagumannya pada Adis, walaupun dari keluarga yang sangat berada tetapi ia jauh dari sifat sombong walau kadang ia bisa juga kelewat batas seperti yang sudah ia lakukan ke panti.


"Bagus kamu masih mau belajar tentang bisnis ayah kamu, karena berawal dari kamu mau buka usaha toko kue ini, itu juga merupakan salah satu sarana untuk belajar bisnis." Andrea sangat mendukung semua hal positif yang ada dalam diri Adis.


"Iya mbak, terimakasih segala nasehatnya, semoga mbak akan tambah sukses dengan pekerjaan dan kehidupan pribadi mbak." kata Adis mengungkapkan pengharapannya untuk Andrea.


"Aamiin. Terimakasih do'anya sayang. Ya sudah sekarang aku pamit pulang ya, semoga kamu sukses dan lancar dengan usaha kamu dan semoga persahabatan kamu dan Arik akan membaik kembali." harap Andrea.


"Aamiin. Terimakasih mbak."


"Sama-sama." sahut Andrea. Kemudian ia pun segera pulang dari rumah Adis.


Andrea merasa lega karena ia berhasil membuat Arik dan Adis berbaikan kembali, dan yang pasti ia sudah siap kembali aktif di kantornya lagi karena permasalahan di panti sudah terselesaikan.


...****************...