
Keempat orang dewasa yang sedang berkumpul itu spontan menatap dalam-dalam kepada Andrea setelah merasa omongan Danisa hanyalah guyonan semata.
"Kenapa kalian menatap aku seperti itu sih?! Aku serasa menjadi tersangka tahu!" Seru Andrea jengah dengan tatapan menyelidik yang di tujukan kepadanya.
"Kamu hamil ya Dre?" Tanya Danisa lagi.
"Aku enggak tahu Dan, mana ada bulan madu baru kemarin pulang langsung jadi." sangkal Andrea
"Tapi kalian perginya sudah hampir dua minggu, siapa tahu saat pertama bibit premiumnya Arsh langsung berhasil membuahi sel telur kamu dan sekarang sudah berhasil menjadi calon sepupu Damian." beber Danisa tanpa filter.
"Astaga Dan, itu mulut enggak di saring kalau ngomong!" seru Andrea sambil membelalakkan mata tak percaya dengan omongan sahabatnya barusan. Andrea merasa malu karena ada ketiga lelaki di antara mereka.
"Bisa jadi omongan Danisa benar sayang, andai itu benar betapa bahagianya aku akan menjadi seorang ayah." sahut Arshlan begitu gembira.
"Kita tunggu bulan depan saja sayang, bagaimana dengan siklus bulananku, kalau memang nanti tidak tepat tanggal baru aku akan tes." Kata Andrea tidak terlalu antusias seperti Arshlan.
"Sepertinya kamu biasa saja menanggapinya sayang, kamu tidak bahagia akan menjadi orang tua?" tanya Arshlan saat mendengar tanggapan Andrea.
"Bukan begitu sayangku, aku sekarang tidak mau terlalu berbahagia, tapi aku juga belum mau untuk mengeceknya, karena pernikahan kita saja belum ada satu bulan, aku cuma tidak mau kecewa, jadi aku menahan diri saja." terang Andrea atas ucapan Arshlan.
"Benar juga perkataan kamu sayang, aku pikir kamu tidak bahagia langsung bisa hamil." ucap Arshlan sambil merangkul Andrea dari samping.
"Mana mungkin aku tidak bahagia atas anugerah yang Tuhan berikan, aku cuma tidak mau gegabah menanggapinya saja." jelas Andrea dan disambut anggukan mengerti dari semuanya.
***
Arslan tengah bersiap kembali ke kota sebelah untuk mulai aktif masuk kantor setelah hampir tiga minggu merilekskan pikiran dan sejenak istirahat dari kesibukan pekerjaannya.
"Sayang kok kamu kelihatan lesu begitu?" tanya Arshlan saat dilihatnya Andrea tidak bersemangat.
"Sepertinya aku masih berat buat pergi dari kota ini, biarlah aku di sini dulu ya sayang." pinta Andrea
"Lah, mana mungkin aku berjauhan sama kamu sayang, belum sebulan kita menikah masa iya harus eldeeran? Aku enggak mau." Arshlan menolak permintaan Andrea.
"Tapi sayang, aku benar-benar enggan buat kembali ke sana. Aku pasti balik ke sana lagi tapi tidak sekarang." kata Andrea sangat mengharap pengertian Arshlan.
"Tahu begitu aku tidak usah bertukar pekerjaan sama Xander." Arshlan nampak menyembunyikan rasa kesal.
"Kamu marah ya, ya sudah aku minta maaf. Maaf sudah buat kamu kesal, maaf sudah tidak menurut sama kamu." Kata Andrea dengan sendu merasa bersalah.
Arshlan melihat ke arah Andrea, di lihatnya Andrea tengah menundukkan mukanya, Arshlan pun mendekatinya dan mendekapnya lewat samping.
"Bukan begitu maksudku sayang, aku yang minta maaf karena telah buat kamu sedih. Aku tidak marah sama kamu kok." Kata Arshlan penuh sesal karena telah membuat perempuan yang sangat di cintainya bersedih.
Andrea belum mau mengangkat wajahnya, ia malah tambah merasa sedih mendengar perkataan Arshlan, bahkan tanpa ia sadari ait mata telah meleleh di pipinya.
"Astaga sayang, perkataanku sudah sangat menyinggungmu ya, sampai kamu menangis seperti ini?!" Arshlan terlihat panik saat menyadari Andrea menangis tanpa bersuara, kini hanya isaknya yang terdengar. Dengan serta merta Arshlan membawa Andrea dalam pelukannya, di dekapnya belahan hatinya itu begitu erat.
Arshlan seolah menyesali sikapnya beberapa saat lalu, tetapi ia juga merasa aneh. Selama ia kenal dengan Andrea, Perempuan itu bukanlah tipe orang yang mudah sensitif, justru Andrea yang Arshlan kenal adalah pribadi yang sangat kuat.
Beberapa menit berlalu, isak Andrea tak terdengar lagi. Andrea beringsut melepaskan diri dari dekapan Arshlan, kemudian dia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja yang ada di kamar mereka. Terlihat Andrea mengusap-usap layar ponselnya.
Andrea menempelkan benda kotak pipih itu ke telinganya, nampaknya ia sedang menelpon seseorang. Terlihat Andrea berbicara dengan seseorang di seberang telepon tanda panggilan di angkat. Pembicaraan itu sangat singkat karena terlihat Andrea telah meletakkan ponselnya kembali.
"Ayo sayang kita pergi sebelum kamu berangkat!" ajak Andrea sambil menarik tangan Arshlan, dengan serta merta Arshlan mengambil dompet juga ponselnya.
Andrea menyetir sendiri mobilnya dan tidak mau digantikan Arshlan. Ia mengendarai mobilnya menuju kantor Xander.
"Kita mau kemana sayang?" tanya Arshlan saat ia tahu kalau yang sedang di laluinya adalah jalan menuju kantor lamanya.
Sampai di halaman kantor Andrea menyerahkan mobilnya kepada petugas parkir kantor, ia berjalan dengan cepat melewati lobi kantor menuju lift khusus, sementara Arshlan hanya mengikuti di belakangnya seperti pengawal pribadinya.
Sesampainya di lantai paling atas, Andrea pun bergegas keluar dari lift diikuti Arshlan, beberapa pegawai yang kebetulan berpapasan dengan mereka langsung membungkukkan badan dengan hormat.
Saat Andrea tiba di depan pintu ruangan Xander, bersamaan dengan itu Kinanti juga keluar dari ruangan atasannya itu, spontan Kinanti membungkukkan badannya kepada Andrea dengan sopan, dan Andrea membalasnya dengan senyum ramahnya tanpa berkata-kata dan langsung masuk ruangan Xander.
"Selamat siang bapak Xander!" sapa Andrea saat sampai di depan meja Xander.
"Ada apa lagi... Loh mbak Andrea, bang Arshlan, aku pikir sekretaris aku balik lagi. Katanya kalian mau berangkat ke kota sebelah, apa ada yang ketinggalan sesuatu di sini bang?" tanya Xander sambil melihat kepada Arshlan, tetapi yang di tanya hanya mengedikkan bahunya tak mengerti.
Melihat reaksi Arshlan atas pertanyaannya, Xander paham kalau mereka datang karena mau Andrea.
"Ada perlu apa ke sini sebelum berangkat mbak?" tanya Xander.
"Aku mau makan ayam bakar." jawab Andrea
"Lalu kenapa malah kemari? Memang di sini penjual ayam bakar?" tanya Xander agak kesal mengingat setiap bertemu Andrea pasti kaya Tom and Jerry sekembalinya kakak beserta kakak iparnya pulang bulan madu.
"Di sini memang tidak menjual, tapi aku mau kamu yang beliin buat aku!" jawab Andrea dengan tatapan penuh harap.
"Bukannya ada bang Arshlan yang jadi suami kamu mbak, kenapa mintanya malah sama aku?!" kembali Xander melontarkan tanya dengan raut heran.
"Karena aku juga tidak tahu, aku tahunya hanya ingin makan ayam bakar yang dibeli sama kamu, dan aku sama suami aku tercinta pasti akan makan dengan lahap. Masih untung kamu cuma aku suruh beli di manapun yang terdekat sini, bagaimana kalau aku mintanya harus di restoran langganan aku yang di kota sebelah." kata Andrea menggebu-gebu setengah kesal dengan Xander.
"Ya beli saja sendiri sekalian kalian pulang ke sana." Sahut Xander menanggapi omongan Andrea.
"Xander! Tega banget sih kamu tidak mau nolongin aku!" Seru Andrea.
"Kan ada bang Arshlan, kenapa pula mesti aku?" jawab Xander kesal.
"Harus berapa aku bilang sih Xen?! Aku maunya kamu yang beliin!" Andrea kembali berseru tak kalak kesal.
"Enggak mau!" sahut Xander sambil kembali menekuni laptopnya.
"Arsh..." Andrea tiba-tiba sedih dan meminta pembelaan Arshlan, lalu Arshlan menggenggam jemari Andrea dan mengelus punggungnya pelan agar Andrea menjadi tenang.
Lalu ia beranjak menuju meja Xander, di angsurkannya ponsel milik Arshlan kepada Xander.
Xander menghela panjang nafasnya setelah membaca tulisan yang tertera di layar ponsel kakaknya.
"Baik mbak, aku beliin. Aku minta maaf sudah buatmu sedih." Kata Xander di hadapan Andrea, spontan terlihat wajah bahagia Andrea saat Xander akan memenuhi permintaannya.
"Oke! Jangan lama-lama tapi!" seru Andrea sambil mengacungkan telunjuknya sebagai tanda peringatan bagi Xander.
"Baik tuan putri Andrea." kata Xander sambil membungkukkan badannya, lalu segera menegakkan badannya untuk segera membeli yang Andrea mau.
"Satu lagi Xen! Kamu tidak boleh menyuruh siapapun, karena rasanya akan beda kalau bukan kamu yang beli." Tatapan tajam Andrea seakan peringatan bagi Xander.
"Baik tuan putri, sesuai perintah anda." jawab Xander dengan suara pelan tapi menahan kesal dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Kemudian ia segera pergi sebelum Andrea meminta hal aneh-aneh lagi.
Sementara Arshlan yang masih terheran dengan perilaku Andrea hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, karena ia tak mau kembali membuat Andrea tersinggung karena sedang sangat sensitif.
...****************...
Maaf jikalau ada typo ya gaes ya, soalnya suka terpikirkan cerita yang satunya 🤩
Happy reading 😘