Andrea

Andrea
Saling Goda dan Rumpi



Bisa diceritakan Dre?!"


"Bisa diceritakan Dan?!" kedua sahabat itu berbarengan bertanya saat Danisa melihat Arik dan Andrea merasa ada yang berbeda dengan Danisa.


"Tentang apa?!" tanya keduanya kembali berbarengan, Danisa melirik Arik sedang Andrea mengelus perut Danisa.


"Kenapa tidak cerita kalau calon ponakan aku sudah segede ini diperut kamuu..?!" Danisa hanya tersenyum dengan pertanyaan Andrea, begitupun Daniel.


"Ya kamunya tidak tanya" sahut Danisa cuek dan malah duduk dikursi Andrea.


"Ya aku tidak berani lah, itu hal sensitif say." sahut Andrea.


"Iya juga sih" Danisa hanya nyengir mendengar perkataan Andrea.


"Berapa bulan memangnya?"


"Empat jalan lima" jawab Danisa, kemudian Andrea memukul lengan Daniel.


"Tokcer juga kamu Dan" seru kepada Daniel.


"Sialan! tenaga kamu melebihi hulk tahu tidak sih Dre?!" terlihat Daniel meringis manahan sakit sambil mengelus ditempat Andrea memukul.


"Bodo amat" sahut Andrea pada Daniel konyol.


"Lalu bisa dijelasin Dre?" Danisa melirik Arik, dan nampaknya Andrea paham maksud Danisa.


"Teman baru, kemarin yang nolongin aku pas ban motor aku kempes." jawab Andrea, tapi mata Danisa seolah tidak percaya.


"Kenapa? Tidak percaya? Kamu pikir pacar baru? Enggak lah, kita baru kenal kemarin!" Danisa seolah di gas dengan nada bicara Andrea.


"Yah elaahh, aku enggak omong apa-apa loh padahal." kata Danisa.


"Mulut kamu memang gak ngomong, tapi mata kamu tuuhh, iih sebel pengen aku congkel tuh mata tak percaya kamu." kata Andrea setengah kesal.


"Ya biasa saja kali kalau memang tidak ada apa-apa." Danisa bicara dengan cueknya.


"Sumpah deh Dan, kalau enggak lagi hamil aku ajak gelud ini istri kamu!" seru Andrea pada Daniel.


"Apa bawaan orok kalian ya yang nyebapin Danisa Ngeselin, awas kalian hati-hati, nanti anak kalian ngeselin lohh." Andrea balik menggoda suami istri itu.


"Amit-amit jabang bayii..!" seru Daniel Danisa sambil mengelus perutnya dan juga menjitak pelan kepala mereka.


"Aku jitakin sini, biar kerasa!" kata Andrea.


"Bar-bar banget sih Dre!" seru Daniel


"Tahu tuh anak." sahut Danisa.


"Kalian juga kan penyebabnya." seru Andrea, sementara Arik hanya tersenyum melihat perdebatan mereka.


"Ngomong-ngomong siapa siapa namanya?"


"Tanya saja sendiri."


"Saya Arik mbak, mas." Arik berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan kepada Daniel dan Danisa untuk berkenalan dan keduanya pun bergantian menyebut nama masing-masing.


"Hmmm.. pasangan yang cocok sampai nama panggilan juga sama double Dan." seloroh Arik setelah mendengar nama pasutri tersebut.


"Kalian juga cocok loh, double A" goda Danisa, Arik hanya tersenyum mendengar candaan Danisa, sementara Andrea hanya memutar matanya malas.


"Sudah makan belum kalian? kalau belum pesan dulu sana, kasian keponakan aunty Dre kalau mamanya telat makan." kata Andrea sambil mengelus perut Danisa yang sudah kelihatan membuncit.


"Dedek sudah mamam aunty, jadi jangan khawatir." Danisa menirukan suara anak kecil saat menjawab Andrea membuat mereka tertawa.


"Kita sudah makan tadi Dre." kata Daniel "Eh btw sorry mau tanya, kalian pacaran?" lanjut Daniel bertanya kepada Andrea dan Arik.


"Sayang ngapain sih kepo banget urusan pribadi orang!" seru Danisa menyahuti pertanyaan Daniel.


"Bukan begitu sayang masalahnya tadi ada yang seperti cemburu gitu ke aku, untung kamu segera datang, jadi ada yang bisa senyum lagi tuh." Daniel berkata sambil tetap menatap Danisa tapi Andrea sangat tahu yang dimaksud Daniel, ia pun menatap Arik penuh tanya sedang yang ditatap hanya tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yah elah Dan, meskipun benar cinta tidak pandang usia tapi rasanya aku terlalu tua kalau harus jadian sama Arik, kasihan Ariknya Dan, maaf ya Rik tidak usah dengar yang mereka omongin." Andrea serius dengan kata-katanya.


"Kalau benar apa yang mereka katakan bagaimana mbak?"


Deg!


Jantung Andrea seolah berhenti berdetak, tapi selanjutnya detakannya semakin cepat.


"God! bisa gila aku. Urusan sama dua kakak beradik saja belum kelar malah ada lagi." Batin hati Andrea.


"Jangan dibuat serius kali mbak, mbak tahu sifat aku walau kita baru banget kenal." Arik berkata dengan senyum tersungging dibibirnya seolah tahu apa yang ada dibenak Andrea, tapi senyum itu lebih ke senyum kecewa,


"Sudah-sudah yuk, sekarang kita jalan saja, sudah tidak sabar nih mau menguras isi atm suami aku." Danisa memecah suasana agar tidak terlalu canggung, apalagi melihat Daniel yang membelalakkan matanya mendengar gurauan istrinya seolah mencairkan kecanggungan itu, lalu keempatnya pun segera berlalu dari resto itu, sambil jalan Andrea dan Arik bercerita bagaimana awal perkenalan mereka karena Danisa begitu penasaran, dan mereka juga bercerita tentang hal lain.


"Eh Dre, kamu pakai pelet apa sih kok cowok-cowok banyak yang pengen jadi orang yang spesial dihati kamu?" tanya Danisa saat mereka memilih pakaian dalam atas kemauan Danisa yang seolah tidak malu walau ada cowok lain yang baru dikenalnya, sementara Daniel dan Arik menunggu di luar karena merasa itu adalah privasi cewek.


"Ngomong apa sih Dan? sembarangan saja tuh mulut!" seru Andrea mendengar tanya Danisa.


"Ya habisnya kamu itu lebih banyak juteknya daripada ramahnya tapi tetap saja tuh cowok-cowok sibuk berebut hati kamu." Danisa bicara dengan keheranannya.


"Ya mungkin itu peletnya yang membuat mereka justru ingin dekat sama aku." seloroh Andrea dibalas tepukan dilengannya oleh Danisa.


"Benar-benar nih kamu bicara omong kosong." Danisa terkikik sambil menggelengkan kepalanya mendengar candaan Andrea.


"Eh, ngomong-ngomong bagaimana kabar kamu sama dua bersaudara sepupu suami aku itu?" lanjut Danisa bertanya.


"Yaahh begitulah, belum ada yang mengibarkan bendera putih deh kayanya." jawab Andrea dengan hembusan panjang nafasnya.


"Kuncinya ada di kamu Dre, jangan pernah memberi harapan."


"Sembarangan kalau bicara kamu Dan!" sahut Andrea


"Lah! kalau enggak trus kenapa mereka seolah nyaman sama kamu? dan sekarang nambah satu lagi tuh brondong ganteng."


"Dan, berapa lama kamu jadi sahabat aku? kita bahkan saling tahu busuknya kita, tapi baru berapa bulan jadi istri Daniel sudah melupakan semua tentang aku, duh Dan, Dan.. nelangsanya punya sahabat seperti kamu." Lagi-lagi perbincangan mereka yang serius diselipi candaan.


"Yaahh, orang baik pasti akan banyak yang menginginkannya Dre, ibarat bunga mawar, walaupun mekar ditengah semaknya yang berduri tetap saja banyak yang berebut untuk memetiknya, tidak peduli rasa sakit yang akan mereka dapat."


"Wisshhh.. filosofi kamu Daann.. benar-benar telah jadi seorang istri yang bersikap dewasa kamu." goda Andrea mendengar kata-kata Danisa yang ditujukan kepadanya, dan lagi Danisa hanya menepuk keras lengan sahabatnya itu.


Sementara Daniel dan Arik yang sabar menunggu para cewek berbelanja, mereka ngobrol dengan akrab layaknya orang yang telah lama kenal. Sama-sama mempunya wawasan yang luas membuat mereka mudah dekat dan saling akrab.


"Kamu suka Andrea ya?" tanya Daniel pada Arik.


"Siapa yang tak suka sama cewek seperti dia sih mas? tipe aku banget dia." jawab Arik jujur.


"Sudah tahu latar belakang dia?"


"Belum semua sih, cuma setahuku dia anak pemilik salah satu panti asuhan di kota ini." Daniel tersenyum mendengar jawaban Arik.


"Tapi kamu harus berjuang keras deh bro kalau mau mendapatkan hati Andrea, pasalnya saat ini tidak cuma kamu yang sedang merebut hatinya, saingan kamu sudah lama banget kenal Andrea tapi belum ada yang berhasil diterima." jelas Daniel membuat Arik menatapnya penuh tanya.


"Kenal mereka mas?" tanya Arik


"Kenal banget lah, mereka kakak beradik, sepupu aku sendiri. Kakaknya dulu sudah berhasil mendapatkan hati Andrea waktu Andrea menunggu kelulusan kuliahnya, sudah pernah menyatakan isi hatinya, tapi Andrea masih meminta waktu buat menjawabnya, tapi sayang saat Andrea sudah mantap menerima pernyataan cintanya, Andrea mendengar percakapan yang sangat melukai hatinya, padahal sejatinya sepupuku sudah sangat mencintainya, tapi Andrea sudah terlanjur sakit makanya dia sekarang menjadi cewek yang dingin, padahal dulu dia seorang yang sangat ceria, yahh aku ada andil perubahan dia juga sih." Cerita Daniel dengan penuh penyesalan.


"Sebenarnya rasa penasaranku begitu besar, kata apa yang dia dengar itu hingga membuatnya jadi berubah dingin, tapi itu privasi dia, dan dengan mas tidak menceritakannya secara mendetail itu berarti mas Daniel juga karena melindungi privasi mbak Andrea." Daniel tersenyum mengiyakan disertai anggukan kepalanya mendengar pernyataan Arik.


"Kalau sepupu mas yang satu lagi sejak kapan dekat dengan mbak Andrea?" tanya Arik.


"Sudah hampir setahun, mereka dekat karena jalinan kerjasama antar perusahaan, dimana mereka sering melakukan pertemuan intens, disana sepupuku mulai menaruh hati untuk Andrea, dan beruntungnya, kedua orangtua mereka sangat mendukung keduanya untuk bersatu, tetapi nampaknya Andrea yang belum bisa menerima sepupuku itu."Daniel kembali menjelaskan tentang lelaki disekitar Andrea.


"Berarti mereka sama-sama punya posisi penting ditempat kerjanya ya mas? buktinya mereka yang selalu bertemu untuk membahas kerjasama?" seorang Arik menjadi ingin tahu banyak tentang seseorang hanya karena urusan hati, padahal sejatinya dia bukanlah tipe orang yang suka ingin tahu tentang kehidupan pribadi orang lain.


"Yahh.. sepertinya begitu." bersamaan dengan itu Andrea dan Danisa telah selesai belanja dan sudah kembali ke tempat mereka mengobrol, dan kedua lelaki itu spontan menghentikan topik pembicaraan mereka.


...****************...