Andrea

Andrea
Terkuak



Sore itu anak anak panti sedang ngobrol dan bersenda gurau diberanda depan saat mobil Arshlan masuk kehalaman yang cukup luas itu, melihat siapa yang datang anak anak menyambut Arshlan dengan antusias, mereka seolah berlomba untuk bersalaman kepada Arshlan yang datang bersama seorang sahabatnya. Sore itu Arshlan masih memakai pakaian kerjanya karena pulang kantor langsung mampir ke panti.


Andrea keluar menemui setelah seorang anak memberi tahunya bahwa Arshlan datang, dibelakangnya terlihat Danisa mengikuti langkah Andrea.


"Bagaimana keadaan kamu Dre, kamu ada yang sakit gak? aku khawatir banget loh baca pesan kalau kamu habis meringkus penjahat" cecar Arshlan saat melihat Andrea sambil memutari tubuh Andrea dan menelitinya apakah Andrea terluka atau baik baik saja.


"Aku baik baik saja Arsh, kan kamu bisa lihat sekarang kan kalau aku sehat sehat saja" Andrea tersipu sendiri menyaksikan kekhawatiran Arshlan, hatinya berbunga bahwa ia begitu berarti buat Arshlan, itu membuat Andrea lebih yakin bahwa ia lebih bisa diterima Arshlan daripada Raisa, dan ia yakin kalau orangtua Arshlan bukanlah orang picik yang memandang derajat orang dari segi penampilan dan ekinominya.


"Hey...! kok malah bengong." cubitan Arshlan dihidung bangir Andrea menyadarkan ia dari lamunannya.


"Yuk, duduk dulu, nanti aku ceritain kronologinya" Andrea mengajak Arshlan dan temannya untuk duduk, sementara Danisa tahu tahu sudah membawa nampan dengan empat gelas minuman serta camilannya.


"Oh iya, kenalin ini sahabat sekaligus sepupu aku Daniel , anak boss" Arshlan mengenalkan seseorang yang datang bersamanya tadi sambil berkelakar


"Bisa aja abang nih" sahut Daniel tersipu, sambik mengulurkan tangan kepada Andrea dan Danisa.


"Ini yang kamu bilang baik baik saja Dre?!" seru Arshlan saat menyadari lebam kebiruan dipipi Andrea,


"Cuma ini doang gapapa, kemarin langsung dikompres dan dioles salep sama ibunya Danisa" terang Andrea agar tak membuat Arshlan khawatir berlebih.


"Bener nih gapapa?" Arshlan meyakinkan kata Andrea sambil menekan lebam itu


"Jangan ditekan juga kali Arsh...!" Andrea bereaksi dengan sedikit berteriak sambil meringis menahan nyeri. Dan melihat itu mereka malah tertawa.


"Sekarang ceritakan semua sama aku" pinta Arshlan sambil menyeruput teh panas yang Danisa suguhkan, lalu Andrea menceritakan kembali yang dialaminya kemarin malam.


"Wow, hebat juga kamu!" seru Daniel sambil bertepuk tangan setelah Andrea selesai bercerita,.


"Hebat apanya? Itu bahaya Dan!" protes Arshlan


"Kalau gak hebat, gak mungkin Andrea bisa meringkus mereka." terang Daniel.


"Iya juga sih" sahut Arshlan


"Untung kamu tau kelemahan lelaki itu dimana, kalau gak, gak tau deh bagaimana kamu sekarang" lanjut Arshlan masih dengan rasa khawatirnya.


"Tentu saja Andrea tau titik kelemahan musuh, secara dia master jadi ya otomatis reflek ke titik lemah itulah" Danisa mengomentari perkataan Arshlan, dan Arshlan menatap kearah Danisa dengan membeliakkan matanya tanda minta penjelasan.


"Iya, Andrea ini pemegang sabuk hitam taekwondo sejak SMA, dan sampai sekarang dia masih aktif menekuni olahraga itu karena dia salah satu sabum di dojang yang dekat stadion itu" terang Danisa membuat kedua cowok itu seolah tak percaya.


"Gak ngira aku, sumpah" kata Arshlan sambil geleng kepala.


"Gak ngira karena aku gendut, begitu kan?!" seru Andrea sambil mengerucutkan bibirnya.


"Gak usah manyun gitu, ntar aku gigit tuh bibir" kata Arshlan membuat Andrea tersipu dan spontan mengatupkan bibirnya rapat.


"Maksud aku, kamu itu punya segudang talenta, tapi aku lihat kamu seperti kurang percaya diri dalam bergaul" jelas Arshlan.


"Itu dia, aku juga heran" sahut Danisa, sementara Daniel hanya menjadi pendengar sambil sesekali curi pandang ke Danisa.


"Aku insecure sama penampilan aku" jawab Andrea sendu


"Padahal dulu Andrea tu termasuk anak supel, gak minderan, tapi sejak kelas XII sampai mau wisuda ini, dia berubah jadi agak tertutup sama pergaulan" jelas Danisa


"Itu karena pernah ada yang mengolokku, dan kamu tau sendiri kan Dan, badanku bongsor gini sejak kelas XII, bahkan sampai kuliahpun gak ada tanda tanda menurun walaupun aku udah giat olahraga apa aja" keluh Andrea.


"Kenapa si pengolok gak kamu hajar aja waktu itu, secara kamu kan udah dapet sabuk hitam dari kelas XI?" protes Danisa


"Udah, tapi aku kalah gesit sama dia, karena dia teman satu dojang aku, dan kami satu angkatan, dari situ aku jadi lebih pendiam dan cenderung menyendiri" jelas Andrea.


"Udah melow nya, aku tau kamu udah nemuin jati diri kamu lagi, buktinya tadi di sanggar gym kamu dapat membungkam mulut besar Raisa tanpa ada kekerasan" Andrea menatap tajam ke Danisa sambil menggeleng lemah, mengisyaratkan agar jangan bercerita tentang kejadian itu, tapi terlambat, kata kata Danisa begitu jelas didengar Arshlan.


"Katanya sih calon menantu mama kamu" Danisa yang menyahut


"God! makin menjadi aja tuh cewek!" gumam Arshlan sambil menggeretakkan giginya, seolah menahan kesal, melihat itu Daniel yang duduk dekat Arsh terlihat mengusap punggung Arsh, agar Arsh tidak terbawa emosi.


"Kalian gak usah pedulikan omongan tu cewek, obsesi dia aja yang berlebihan" Daniel akhirnya buka suara setelah dari tadi hanya sebagai pendengar.


"Tapi nyatanya dia udah dekat banget sama orangtua Arshlan, dia ngasih liat foto saat berdua mama Arsh, tampak difoto itu mereka sangat dekat" kata Andrea


"Mama Mira emang begitu orangnya, beliau orang yang supel gak sombong, mungkin itu pintarnya Raisa aja memanfaatkan keadaan. Ya memang sih keluarga kami sama keluarga Raisa saling kenal" jelas Daniel yang hanya ditanggapi anggukan kepala oleh Danisa dan Andrea.


"Udahlah Arsh, kamu jangan terbawa emosi begitu sama Raisa, aku tadi bisa mengatasinya kok, emang sih tadi dia dan teman temannya mengintimidasi aku banget, tapi untung aku tidak terbawa arus permainan mereka, jadi mungkin mereka kesal karena gagal memanasi aku" Andrea berkata sambil megusap punggung tangan Arshlan agar ia bisa meredakan emosinya gara gara Raisa.


"Hmmmmhhh...!!! untung kamu bisa mengatasinya" kata Arshlan sambil membuang nafasnya kasar.


"Tapi aku gembira juga sih dengar cerita kalian, itu berarti kamu sudah bisa mengembalikan kepercayaan diri kamu yang hilang" lanjutnya dengan bibir mengukir senyum


"Aku pun tadi hanya bisa terbengong, gak nyangka Andrea sudah menemukan jati dirinya lagi setelah sekian lama" kata Danisa penuh kegembiraan.


"Heh!, kedip tu mata, sampe lalat nempel aja gak kamu rasain" seru Arshlan sambil menepuk tangan Daniel yang seolah sedang terpesona oleh seorang Danisa, ternyata diam diam Arshlan memperhatikan gelagat Daniel dari tadi, Daniel hanya tersipu malu tak bisa berkata kata sementara Danisa berlagak cuek padahal dalam hati senyum sendiri.


Terkihat senja mulai merangkak, Arshlan dan Daniel pun berpamitan setelah memastikan kalau Andrea baik baik saja.


......................


Malam minggu, Andrea diajak nonton film oleh kak Andra, yah maklum, kak Andra sedang LDR dengan kak Eira yang sedang melanjutkan study S2 nya dinegara tetangga.


"Yaahh.. kok action sih kak" protes Andrea saat mengetahui film yang dipilih kakaknya.


"Trus mau kamu apa? Romantis?" tanya kak Andra


"Ogah!" sahut Andrea cepat.


"Ya udah nurut aja kalo gitu" kata kak Andra dan Andrea hanya bisa pasrah dengan film pilihan kakaknya.


Satu jam lebih film berakhir, Andrea dan kak Andra masuk kafe di mall tersebut untuk mengisi perut mereka yang keroncongan, mereka memilih tempat yang paling sudut, agar tidak terganggu hilir mudik pengunjung lain.


Tak berapa lama pesananpun datang, mereka berdua pun segera menikmati makanan yang telah tersaji dihadapan mereka.


Ditengah makannya, Andrea samar samar mendengar suara cowok yang begitu dikenalnya, dia menengok kesamping dan ternyata benar, Arshlan dan Daniel duduk jarak satu meja dengannya, Arshlan tidak tau keberadaan mereka karena memang meja yang ditempati Andrea terhalang dekorasi kafe.


Andrea hendak memanggil Arshlan tapi urung karena ia mendengar kata kata Arshlan pada Daniel yang sungguh menyinggung harga diri Andrea sebagai seorang cewek, rupanya diam diam kak Andra juga mendengar apa yang dibicarakan Arshlan dan sepupunya tersebut. kak Andra mengusap punggung tangan Andrea agar bersabar dan menunggu obrolan kedua cowok itu selesai.


Saat pesanan Arsh datang mereka langsung menghentikan obrolannya, dan saat itu juga kak Andra menarik tangan Andrea untuk pergi dari tempat itu, tepat dimeja Arshlan dan Daniel, kak Andra menghentikan langkahnya, melihat ada orang yang berdiri terdiam didekat mejanya, Arshlan dan Daniel mendongakkan kepala mereka, dan betapa terkejutnya mereka melihat kak Andra dan Andrea yang berdiri didekat meja mereka.


Terlihat Andrea terisak menahan tangis dan kak Andra menatap nanar penuh amarah kearah Arshlan, tanpa banyak kata kata, kak Andra memberikan beberapa bogem mentah ke wajah tampan Arshlan, sontak Arshlan terjatuh dari tempat duduknya, lalu Daniel berdiri hendak menolong sepupunya itu.


Sementara pengunjung lain ada yang berusaha menenangkan Andra dan ada juga yang berusaha menolong Arshlan, dan manager kafe pun segera mendatangi mereka


"Bercanda itu ada batasannya, tapi kalau memainkan perasaan seorang perempuan, itu brengsek namanya!" seru kak Andra kepada Daniel.


"Dan buat kamu, mulai sekarang jauhi adik saya!" gertak kak Andra kepada Arshlan yang masih meringis menahan sakit.


sebelum pergi, kak Andra memberikan beberapa lembar ratusan ribu dan kartu namanya kepada manager kafe


"Ini sebagai ganti kerugian atas kekacauan yang saya buat, kalau masih kurang hubungi saya, itu kartu nama saya" kata kak Andra dingin dan segera berlalu dari tempat itu sambil merangkul bahu Andrea


...****************...