
"Katakan kepadaku pengawal yang sudah berani merayu Andrea! Atau jangan-jangan kamu hanya mengada-ada?" seru Xander menyelidik kepada Kinanti.
"Tidak pak, saya tidak mengada-ada, tadi pagi saat saya keluar ke kantin tanpa ijin bapak, saya melihat bu Andrea sedang berangkulan mesra dengan pengawalnya yang sering ia ajak ke kantor pak." Kinanti menjelaskan pada Xander apa yang dilihatnya tadi pagi.
"Pengawal yang sering diajak datang ke kantor?" tanya Xander mengulang perkataan Kinanti.
"Benar pak, tentunya bapak tahu siapa pengawal itu karena tiap datang ke kantor bu Andrea selalu dengan orang yang sama dan lelaki itu selalu ikut masuk ke ruangan bapak." perkataan Kinanti membuat Xander semakin berpikir untuk mengingat saat Andrea datang ke kantor untuk merecokinya.
Dan seingat Xander Andrea datang selalu hanya denga Arshlan, tak ada orang lain yang ikut masuk ke ruang kerjanya selain mereka berdua.
"Dari mana kamu menarik kesimpulan kalau lelaki yang bersama Andrea itu adalah pengawalnya?" tanya Xander yang mulai mengerti ada kesalah pahaman dalam pikiran Kinanti.
"Karena lelaki itu selalu berjalan di belakang ibu Andrea pak." jawab Kinanti masuk akal, tetapi Xander malah menahan senyumnya agar tak lepas dari bibirnya.
Xander kini tahu, bahwa pengawal yang dimaksud Kinanti adalah Arshlan.
Karena tiap Andrea dan Arshlan datang tak pernah berjalan mesra layaknya suami istri, karena Andrea kalau datang ke kantor hanya ingin merecoki ketenangan Xander.
Kehamilannya menjadi alasan Andrea meminta makanan yang diinginkannya kepada Xander. Untuk itulah kenapa Andrea tak pernah berjalan beriringan dengan Arshlan saat di kantor Xander, karena Andrea tak sabar menyuruh Xander mencarikan makanan yang diinginkannya saat itu.
"Lalu menurut sepengetahun kamu, siapa suami Andrea?" tanya Xander yang sudah merasa kalau Kinanti akan menunjuknya sebagai suami Andrea.
Xander sengaja tak memakai embel-embel mbak saat menyebut nama Andrea, karena ia sudah merasa kalau Kinanti telah salah paham padanya.
"Kenapa anda malah tanya saya pak? Bapak sengaja pura-pura amnesia untuk melancarkan niat bapak terhadap saya?" pertanyaan Kinanti dengan penuh percaya dirinya.
"Wow! Kamu tidak malu bertanya seperti itu pada saya? Percaya diri banget kamu." Xander menyunggingkan smirknya sengaja membuat Kinanti bertekuk lutut dengan perkataannya sendiri.
"Karena sikap dan perlakuan bapak membuat saya bicara sepercaya diri itu!" sahut Kinanti tertahan dan tatapan yang menantang Xander, ia merasa di permalukan.
"Itu karena kamu yang mengundangku." Kata Xander tegas namun juga tertahan, dan di balasnya tatapan tajam Kinanti tak kalah tajam.
"Lempar batu sembunyi tangan, anda mempermalukan saya hanya untuk menyembunyikan apa yang ada dalam isi kepala anda sebenarnya." Kinanti terlihat mulai marah.
"Tapi kamu memang tertarik dengan saya kan?" tanya Xander sambil menyelami mata Kinanti, karena di situ akan ia dapat jawabannya.
"Itu dulu saat saya belum tahu kalau anda sudah beristri, tapi sekarang..." perkataan Kinanti terhenti.
"Sekarangpun masih, tetapi kamu memilih mengalah karena status saya yang ada di pikiran kamu." Xander memotong perkataan Kinanti.
"Kalau bapak sudah tahu itu jawabannya, kenapa anda malah betah di sini bersama saya, berilah perhatian kepada istri anda agar ia tak mencari perhatian lelaki lain!" nasihat Kinanti membuat Xander benar-benar ekstra menahan tawa. Xander pun hanya memejamkan matanya rapat-rapat agar bisa menahan rasa ingin tertawanya.
Dan di saat yang sama tersengan pembawa acara meminta suami ibu hamil Andrea untuk segera duduk mendampingi istrinya karena acara akan dimulai.
"Itu bapak sudah di panggil karena acara akan di mulai." Kinanti memperingatkan.
"Aku ingin kamu juga mendampingi Andrea." pinta Xander membuat Kinanti membelalakkan matanya tak percaya.
"Saya tidak mau, karena saya tidak mau menyakiti hati saya dan ibu Andrea tentunya." tolak Kinanti.
"Percayalah, tak akan ada yang terluka." Xander meyakinkan Kinanti. Xander berupaya agar Kinanti mau menemani Andrea padahal dalam hatinya ia ingin memberikan kejutan kepada Kinanti.
"Tetapi saya yang terluka pak." jujur Kinanti.
"Saya minta maaf, sudah membuatmu dalam situasi seperti ini." Xander menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya sebagai permintaan maaf yang amat sangat, dan Kinanti pun akhirny luluh.
Acara yang sempat tertunda beberapa saat karena menunggu Arshlan yang masih dalam perjalanan pulang dari pertemuan dadakan yang kliennya ajukan.
Kinanti berdiri tertegun di depan pintu saat melihat Arshlan berjalan memasuki ruang acara. Dam Xander yang bergegas keluar hampir saja menabrak Kinanti.
"Pak, i-itu pengawal yang saya maksud." Kinanti berkata pelan kepada Xander yang ada di belakangnya sambil menatap ke arah Arshlan yang sedang menyalami para tamu.
"Pantas saja, dia lebih tampan daripada saya." Xander menanggapi denga santai laporan Kinanti.
"Pak, itu..." Kinanti tak jadi meneruskan ucapannya saat Arshlan sudah hampir tiba di depan mereka.
Kinanti justru salah fokus dengan kemeja batik yang dipakai lelaki itu yang bermotif dan warna sama persis dengan kain yang dipakai oleh Andrea.
Arshlan menyalami Kinanti, dan Kinanti hanya bisa tertegun saat menyaksikan interaksi Xander dan lelaki yang dianggapnya selingkuhan Andrea tersebut.
Kinanti menatap Xander penuh tanya.
"Apa? Itu lelaki yang menjadi selingkuhan Andrea?" tanya Xander meminta kepastian Kinanti, dan Kinanti hanya mengangguk penuh ragu. Entah kenapa Kinanti merasakan wajahnya mulai memanas menahan malu yang mulai di sadarinya.
"Yakin?" tanya Xander lagi, dan Kinanti malah menggelengkan kepalanya, lalu ia menundukkan kepalanya dan memainkan jemarinya karena ia merasa telah salah sangka.
Xander menarik pelan pergelangan tangan Kinanti, di ajaknya Kinanti menjauh dari tempat ramai itu. Xander mengajak Kinanti duduk di gazebo belakang rumah tetapi masih bisa mendengar rangkaian acara melalui pengeras suara speaker aktif.
Kinanti tak berani mengangkat wajahnya, ia masih menunduk dengan tajam karena malu.
"Butuh penjelasan?" Tanya Xander lembut dan Kinanti hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Oke, sebelum aku memberi penjelasan, aku mau tanya. Apa yang membuatmu berpikir kalau mbak Andrea itu istriku dan suaminya itu pengawalnya?" tanya Xander.
"Karena saya melihat interaksi bapak dengan bu Andrea seperti sepasang suami istri, saat pertama melihat bu Andrea datang sendiri saya langsung berpikir beliau istri bapak, dugaan saya semakin kuat saat saya melihat bapak bersikap manja saat berada di lobi kantor. Dan saya juga pernah melihat bapak mengantar ibu Andrea ke dokter kandungan, saat saya hendak menyapa bapak, ternyata anda berdua diajak ke ruangan lain oleh dokter.
Dan saya menganggap suami bu Andrea seorang pengawal karena saat mereka datang ke kantor, mereka berjalan tidak selayaknya suami istri, bu Andrea selalu berjalan mendahului suaminya." jelas Kinanti mengenai kesalah pahamannya.
"Oke, sekarang akan ku perjelas. mbak Andrea datang sendiri karena menyusul suaminya yaitu kakak saya bang Arshlan namanya, yang telah lebih dulu datang ke kantor. Dan saat kamu melihat saya bermanja seperti anak kecil saat di lobi, itu karena saat itu aku pura ngambek sama kakakku, yang saat itu sedang menemui pak Aris.
Saat kamu melihat saya mengantar mbak Andrea ke dokter kandungan, itu karena suaminya yang juga kakak saya sedang dalam perjalanan, dan saya mengantar duluan karena takut ketinggalan dokter kalau harus menunggu bang Arshlan sampai rumah.
Dan bila mereka datang tidak selayaknya suami istri pada umumnya, itu karena mbak Andrea tak sabar menyuruhku umtuk membelikan makanan yang ingin dimakannya. Karena saat awal kehamilannya, mbak Andrea mau makan hanya bila aku yang membelikan, karena ia tidak mau suaminya meninggalkan dia untuk mencari makanan, alasan dia itu ngidamnya dia.
Sudah jelaskan penjelasan saya? Atau masih ada yang ingin kamu ketahui?" tanya Xander mengakhiri penjelasannya.
"Saya sudah jelas pak, saya jadi merasa malu, terutama kepada bapak, maafkan saya pak." Kinanti kembali menundukkan wajahnya.
"Sudahlah, lupakan semua. Sekarang semua sudah jelas kalau itu hanyalah kesalah pahaman kamu saja, untungnya baru saya yang mengetahuinya." Xander membesarkan hati Kinanti.
"Terima kasih pak." kata Kinanti.
"Sama-sama. Ya sudah, itu pak ustadz sedang mendo'akan ibu hamil dan calon anaknya, kita aamiinkan dulu." kata Xander sambil mengangkat kedua tangannya mengharap keberkahan akan selalu menyelimuti keluarga Daniswara terutama untuk ibu Hamil Andrea dan bayi yang dikandungnya.
Kinanti pun mengamini setiap ucapan do'a yang terlontar dari sang ustadz dengan khidmat.
...****************...
Selamat membaca para readers tercinta, tinggalin like dan komen kalian ya, agar othor semakin bersemangat 🥰